9 Tahun untuk Selamanya

Muhammad Agfian

Kenapa utang dan sahabat harus berada di dalam dunia yang sama? Itulah pertanyaan yang sedang berkecamuk di dalam kepala Ronal saat ini. Kondisinya sekarang membuat Ronal berharap bahwa tidak seharusnya sahabat dan utang berada di dalam dunia yang sama. Seharusnya ketika menciptakan semesta dan seisinya, Tuhan memilih antara menciptakan sahabat atau utang. Harus salah satu! Karena ketidakmauan Tuhan memilih, sekarang para manusialah yang harus dihadapkan pada pilihan sulit itu. Begitu kira-kira pikir Ronal.

Ronal sedang pusing, bulan depan adalah ulang tahun Indri, gebetannya sejak beberapa bulan lalu yang menurut Ronal bagaikan bidadari, bidadari yang harus mandi tiap hari. Ronal ingin memberikan kado terindah untuk Indri. Hanya saja, seperti barang indah lainnya, harga kado yang direncanakan Ronal ini super mahal. Dan dia memerlukan tambahan uang dari tabungan yang dimilikinya sekarang.

Setelah melakukan penelitian pada berbagai sumber keuangan yang mungkin masuk dalam waktu cepat, Ronal menemukan bahwa Fahri, sahabatnya, ternyata masih meminjam uang sebesar 200 ribu yang dirasa sudah sangat cukup untuk menutupi kebutuhan Ronal.

Masalahnya, utang itu sudah ada sejak satu tahun yang lalu, dan dari gelagatnya, sepertinya Fahri tidak berniat untuk membayar utang itu. Atau bahkan, yang lebih buruk lagi, dia lupa kalau masih punya utang sama Ronal.

Kenyataan itu membuat Ronal mengalami dilema. Dia sudah melihat banyak sahabat yang bertengkar gara-gara penagihan utang yang tidak terencana dengan baik. Seperti temannya, Rayyan yang harus kehilangan sahabat sejak SD gara-gara menagih di saat yang tidak tepat, yaitu ketika si sahabat baru saja dipecat dan sekaligus bercerai dengan istrinya yang juga mantan bosnya.

Belajar dari pengalaman Rayyan, Ronal sadar bahwa dia harus ekstra hati-hati jika ingin menagih utang pada Fahri.

Fahri sendiri bukanlah sahabat sembarangan bagi Ronal. Dia adalah sohib kental Ronal sejak SMA. Semua pengalaman gila Ronal semasa SMA hampir semuanya dilewati bersama Fahri. Membolos waktu jam pelajaran Bahasa Inggris karena merasa tidak kuat iman melihat gurunya yang super seksi, makan di tempat mahal agar bisa melihat banyak wanita cantik lewat untuk kemudian “didiskusikan”, naik gunung, dan banyak hal gila lainnya dilakukan oleh mereka berdua. Dan persahabatan itu sudah bertahan sampai sekarang keduanya sudah sama-sama memulai karir.

Hampir sembilan tahun.

Ya, kalau dipikir-pikir lagi, persahabatan kita sudah hampir sembilan tahun! Itu adalah waktu yang sangat lama! Mana mungkin persahabatan yang sudah terjalin selama itu akan hangus hanya gara-gara uang 200 ribu rupiah? Hellooo…

Ronal mencoba memupuk keyakinannya.

***

Bro, gimana? Uangnya udah ada belum?

Fahri membaca chat dari Ronal dengan perasaan malas. Pasalnya dia tidak menyangka sahabatnya itu akan menagih utangnya saat ini. Fahri bukannya tidak mau membayarnya. Dia ingin membayar utang itu. Tapi karena dulu-dulu tidak pernah ditagih sama Ronal, membuat Fahri selalu menaruh kebutuhan membayar utang itu dalam prioritas paling akhir. Akibatnya, karena selalu ada kebutuhan yang dirasa lebih penting, pembayaran utang Fahri pun selalu tertunda.

Dan sekarang, saat tiba-tiba Ronal menagih, waktunya sedang teramat tidak tepat. Pasalnya, Fahri sudah mempunyai rencana untuk membelikan kado pada gebetannya, Indri, bulan depan. Dan rencana itu membuat alokasi dana untuk membayar utang menjadi kosong. Fahri harus memilih antara membayar utang kepada Ronal (yang menurutnya bisa sedikit ditunda) dengan memberikan kado ulang tahun pada gebetannya yang hanya setahun sekali.

Tentu saja –dengan mengesampingkan segala nilai moral tentang persahabatan yang dipercayainya- Fahri memilih untuk membeli kado.

“Kita sudah berteman selama sembilan tahun, gue yakin Ronal pasti mau mengerti dan memberikan tambahan waktu buat gue bayar utangnya. Mana mungkin persahabatan selama sembilan tahun rusak gara-gara gue sedikit menunda bayar utang, kan?” Fahri melakukan pembenaran terhadap tindakan yang akan dilakukannya.

Dan benar saja, Fahri sudah mantap untuk menunda bayar utang ke Ronal. Dan sebagai sahabat yang baik, Fahri akan menyampaikan keputusannya ini secara langsung kepada Ronal. Bukan lewat chat tapi melalui mulut. “Ini adalah berita yang harus dibicarakan secara langsung,” ucap Fahri dalam hati.

***

“Woy, dateng juga lu! Gue kira lu nggak jadi dateng. Udah setengah jam gue tunggu, sampai sekarang gue udah menyibukkan diri, haha!” ujar Ronal kepada Fahri yang baru saja datang.

“Yaelah, nunggu di kos apa susahnya sih? Lagian elu menyibukkan diri apaan? Cuman nonton bokep gitu juga!” balas Fahri santai. Dia sudah hafal dengan kebiasaan sohibnya ini.

Keduanya tertawa.

Fahri pun duduk bersila santai di kamar kos sederhana milik Ronal. Meskipun sebenarnya kamar itu lebih mirip kandang kecoa dan laba-laba.

“Emm, jadi gimana bro? Hehe.” Dengan sangat berhati-hati, Ronal mencoba membuka percakapan “terlarang” itu dengan Fahri. Dia sangat berhati-hati, takut melukai perasaan Fahri.

Mendengar pertanyaan Ronal, Fahri juga jadi gugup. Dia berpikir untuk menyampaikan kabar buruknya dengan cara yang seaman mungkin. Takut Ronal akan bereaksi keras. “Emm, jadi gini bro…” Fahri sengaja menggantung kata-katanya.

“Jadi gini apanya?” Dan Ronal pun terpancing dengan suksesnya.

“Emm, gimana ya gue ngomongnya,” celetuk Fahri dengan masih bermain gantung-gantungan kata, yang sukses membuat Ronal membelalakkan mata, tanda bahwa dia menunggu kata-kata dari Fahri selanjutnya. “Waktunya lagi nggak pas banget bro!” lanjut Fahri dengan mantap, setelah dia menemukan kata yang menurut dia pas.

“He? Waktunya nggak pas gimana? Lu lagi ada kebutuhan mendesak ya?”

“Ya begitulah bro. Gebetan gue mau ulang tahun dan gue pengen ngasih hadiah yang spesial gitu deh. Tapi yaa, harganya agak mahal, hehe.”

“Ecieeeee, gaya amat lu sekarang pake ngasih kado ulang tahun segala? Sejak kapan lu jadi so sweet gini? Haha!” Meskipun agak kecewa, tapi Ronal ternyata bisa cukup menerima alasan dari Fahri itu. Dia merasa cukup mengerti apa yang dirasakan oleh Fahri, dan bisa memakluminya.

“Ya begitulah bro. Dia spesial banget menurut gue. Dia nggak hanya cantik kayak Kadek Devi, tapi juga lucu, dan yang pasti, seneng naik gunung. Hehe.”

Ronal cengar-cengir sendiri mendengar penjelasan dari Fahri itu. Soal cewek yang suka naik gunung, mereka memang memiliki kesamaan pandangan: cewek yang suka naik gunung itu seksi, pake banget.

“Maap banget ya bro. Bukannya gue ngeremehin utang lu, cuman ulang tahun ini kan momen yang spesial banget, gue nggak pengen kehilangan kesempatan gitu aja. Bulan depan gue janji, pasti gue bayar deh!” janji Fahri dengan penuh kesungguhan.

Meskipun kecewa dan pusing mencari sumber dana yang baru untuk kebutuhannya, Ronal merasa bisa menerima alasan Fahri. Seorang sahabat akan mendukung sahabatnya yang sedang jatuh cinta, itulah kepercayaan Ronal. “Siip, sante aja bro! Gue paham kok! Malah gue doain deh semoga elo bisa dapetin tuh cewek spesial, haha!”

Fahri berbinar mendengar jawaban dari Ronal itu. Ronal emang beneran sohib gue yang paling keren! I Love You, Ron! Fahri menembak Ronal dalam hati. Dalam bayangannya, ketika dia ngomong I Love You, dia ngomong itu sambil bawa bunga dan berlutut. Cukup, Fahri. “Woaaaa! Thanks bro!” pekik Fahri bahagia kepada Ronal.

Ronal Cuma senyum-senyum melihat letupan semangat dari Fahri. Sekarang dia yakin, temannya ini benar-benar sedang jatuh cinta.

“Betewe, siapa tuh lucky girl, bro? Gue kenal dia?” selidik Ronal dengan nada menggoda.

“Hemm, kayaknya elu kenal deh bro. Kita pernah ketemu waktu makrab komunitas pecinta gunung di Jogja kemarin.”

“Oh ya? Tapi gue pasti lupa deh, soalnya makrab kemarin perhatian gue cuman tertuju pada satu cewek, haha. Tapi coba sebutin namanya, mungkin bakal bantu gue inget.”

“Indri.”

“Indri?”

“Iya, Indri. Lu inget nggak? Harusnya sih elu inget, soalnya kita sempet ngobrol lama bertiga.”

Ronal menelan ludah. “Indriana Septiastuti yang dari Magelang itu? Yang pake jaket The North Face merah itu?”

“Iya, dia. Hehe, cantik kan?” Fahri nyengir santai tanpa melihat ekspresi tak percaya dari Ronal.

“Lah, bukannya dulu kita udah sepakat kalau Indri itu jatah gue buat deketin? Lu lupa?”

Boom! Fahri benar-benar melupakan detail terpenting dari percakapan menyenangkan mereka bertiga waktu itu. Fokus pada rasa cinta yang tumbuh secara simultan di hatinya membuat dia lupa, bahwa setelah Indri berpamitan pulang, Ronal mengatakan betapa tertariknya dia pada gadis itu, dan Fahri pun mendukung Ronal untuk mendapatkannya.

“Iya kah? Tapi kan 3 bulan sejak peristiwa itu, elu sama sekali nggak ada gelagatnya ngedeketin dia, Nal? Makanya gue mikir buat ngedeketin dia, karena sepertinya elu sama sekali nggak make a move.

“GUE MAKE A MOVE KAMPRET! Cuman dianya emang agak susah dideketin dan pengen segalanya berjalan santai. Makanya perkembangan hubungan kita lamban banget, tapi gue make a move. MALAH, ALASAN GUE NAGIH UTANG KE ELO ITU JUGA BUAT BELIIN DIA KADO!”

What? Jadi untuk pertama kalinya dalam 9 tahun ini, kita ngejar cewek yang sama?”

“YA, DAN ITU NGGAK PENTING SEKARANG! ELU UDAH NGELANGKAHIN GUE, DAN SEKARANG ELU NGGAK MAU BAYAR UTANG BUAT BELIIN DIA KADO?”

“Hei, gue nggak tahu kalau lu juga mau beliin dia kado kali.”

“Sekarang lu udah tahu kan? Sini mana duit gue, gue mau beliin dia kado!” Ronal mulai bersikap kasar.

“Eh, anjing, biasa aja dong mintanya, gue cuman pinjem 200 ribu doang, nggak minta elu kasih tunjangan hidup. Mintanya nggak perlu pake nada seolah elu minta sama babu elu!” Dan Fahri terpancing emosi mendapati sikap kasar dari Ronal itu.

“Terserah! Yang penting mana duit gue?”

Mendengar sikap Ronal yang makin kasar itu, Fahri makin tak tahan. Dan demi harga diri yang sudah semakin terluka oleh tingkah –mantan-sahabatnya itu, Fahri langsung membuka dompet dan melemparkan uang 200 ribu ke lantai.

“Makan tuh duit!” Sambil beranjak pergi, Fahri melempar tatapan tajam pada Ronal yang sepertinya sedikit terhenyak oleh balasan sikap kasar Fahri.

Fahri meninggalkan kos Ronal dengan perasaan kesal yang meluap. Dan Ronal termenung di kamar, dengan sedikit penyesalan yang muncul, namun tertutup oleh emosi.

9 tahun persahabatan terjalin, utang dan wanita menghancurkannya.

***

Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang berharga baginya, dimensi waktu serasa tidak pasti lagi. Kadang waktu berjalan cepat sekali, kadang waktu berjalan terlalu lama. Dan bagi Ronal, tanpa adanya Fahri, waktu saat ini berjalan begitu cepat.

Peristiwa di kos hari itu masih membekas bagi keduanya sampai sekarang. Tak terasa, bagi Ronal, sebulan berlalu dengan cepatnya. Tidak ada hal menarik yang terjadi. Yah, dalam 9 tahun terakhir, segala kejadian menarik selalu dia alami bersama fahri.

Tanpa adanya teman seru yang selalu menemaninya nongkrong di angkringan sehabis lelah bekerja seharian, Ronal merasa hari-harinya sekarang hanyalah kantor-kasur-kantor-kasur saja. Dia menyesal sudah bersikap kasar pada Fahri tempo hari itu. Saking menyesalnya, dia bahkan merasa tidak nyaman membeli kado untuk Indri, dan akhirnya dia memang tidak benar-benar membelikan Indri kado apapun.

Ronal memilih untuk lebih banyak merenung dan menutup diri dari interaksi sosial. Sekarang pun, dia hanya duduk-duduk sendirian di kafe murah dekat kosnya. Kafe yang biasanya dia datangi bersama Fahri untuk sekedar melihat perempuan cantik yang lewat, dan untuk kemudian “didiskusikan” seperti biasa.

Malam ini Ronal melihat banyak perempuan cantik lewat, dan dia tidak terlalu peduli.

“Hey.” Terdengar suara yang familiar memanggil Ronal. Dia memejamkan mata sekejap sambil berharap itu benar-benar suara yang didengar. Ronal pun membalikkan wajah dan… Dia melihat Fahri di hadapannya.

“Oh, hey,” balas Ronal dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin. “Ngapain lu di sini? Baru kencan ya? Hehe.” Tawa dibuat-buat yang garing.

“Enggak, mau ketemu lu aja. Tadi ke kos dan angkringan Pak Man elu nggak ada. Jadi gue pikir elu pasti di sini. Hehe.”

Jawaban yang tidak terduga.

“Boleh gue duduk?” tanya Fahri.

Ronal mengangguk. Bingung.

“Jadi, gimana kabar elu?” tanya Fahri lagi.

“Ya, biasa aja, nggak ada yang benar-benar spesial,” jawab Ronal masih dengan datar. Dia masih bingung.

“Emm, elu udah tau kalau Indri baru aja jadian sama temen kuliahnya?”

“Oh itu, ya gue tahu. Nggak kaget sih gue, mereka emang deket. Meskipun dulu Indri bilang tuh cowok bukan tipenya, hehe.”

“Haha, iya. Tuh cowok emang rasanya terlalu cemen buat Indri. Masak rafting aja nggak berani? Apalagi model rambutnya…”

“Bener banget, belah tengah gitu! Dia hidup di zaman kapan sih? 90an? Atau dia ngerasa mukanya mirip David Beckham?”

Keduanya tertawa rendah. Tawa asli pertama setelah beberapa tawa palsu di awal tadi.

“Maafin gue, Ri…” Dengan segala keberanian yang ada, Ronal berusaha menembus benteng rasa gengsi yang tebal itu dan meminta maaf duluan. “Gue nggak seharusnya teriak-teriak gitu ke elu. Gue nggak seharusnya mendadak jadi emosi gara-gara elu ternyata juga ngedeketin Indri. Gue… huft, gue seharusnya tahu elu lebih penting daripada uang 200 ribu dan cinta yang belum jelas juntrungannya.”

“Haha, sante aja kali. Gue juga salah kok. Gue seharusnya tanya dulu ke elu, masih ngedeketin si Indri nggak. Gue juga seharusnya jadiin prioritas bayar utang ke elu sebagai prioritas utama sejak awal.”

Life without you is suck, man,” ujar Ronal dengan gaya sok bule.

“Haha, iya gue tahu. Gue juga ngerasa hidup gue sebulan ini lempeng-lempeng aja. Gue tersiksa saat gue ngeliat cewek super cakep dan nggak ada temen yang bisa diajak ngobrol tentang itu.”

“Ya, karena itulah satu-satunya yang bisa kita lakukan ketika lihat cewek cakep. Kita nggak berani kenalan dan nyapa dia, dan kita cuma berani ngomongin dia di meja kita. Haha!”

Keduanya tertawa lepas.

Ronal beranjak bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Fahri. Fahri pun ikutan bangkit, dan dua sahabat ini berpelukan secara jantan.

9 tahun persahabatan, dan utang apalagi wanita tidak akan bisa menghancurkannya.

“Lu tahu bro, gue pernah baca di twitter, ‘persahabatan yang terjalin lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar akan bertahan selamanya’ dan gue rasa gue percaya sama tweet itu,” ujar Ronal lirih.

“Ya, mungkin kita bisa mulai merencanakan tanggal pernikahan anak kita mulai sekarang.”

“Anjing lu, nggak segitunya juga kali maksud gue.”

“Haha!”

***

Setelah hampir 1 menit berpelukan.

“Emm bro, mungkin kita bisa ngelepasin pelukan kita? Gue ngerasa ada yang sedang bermain hangar di bawah. Dan kita nggak mau orang-orang ngeliat kita dengan aneh kan?”

“Iya, ayo kita lepasin pelukan kita. Dan mungkin setelah ini kita harus segera mencari pacar cew…”

“Deal! Yang penting sekarang udahan dulu pelukannya!”

Jogja, 2014

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>