Akhiran –i atau –wi dari Bahasa Arab

Di bawah ini saya akan membicarakan akhiran dalam bahasa Indonesia yang kita pungut dari bahasa asing. Sebuah morfem terikat dari bahasa asing (dalam hal ini imbuhan awalan atau akhiran) baru dapat kita katakan menjadi imbuhan bahasa Indonesia apabila sudah banyak dipakai membentuk kata lain yang kata dasarnya bukan lagi bahasa asing yang sama dengan asal imbuhan itu.

Umumnya imbuhan asing itu kita ambil secara utuh dengan bentuk dasar yang dilekatinya. Jadi, kita tidak mengambil imbuhannya saja. Misalnya, bentuk demonstrasi dan demonstran kita pungut secara utuh dari Bahasa Belanda demonstratic dan demonstrant, lalu kita sesuaikan dengan ejaan kita baik ucapan maupun tulisannya. Demikian juga bentuk-bentuk lain seperti itu: imigrasi, imigran, transmigrasi, transmigran; semuanya kita pungut secara utuh. Kita tidak memungut dari bahasa Belanda akhiran –si, -asi, atau –an.

Selama imbuhan asing itu belum kita pakai membentuk kata-kata baru dengan bentuk dasar lain yang bukan berasal dari bahasa yang seasal dengan imbuhan itu, selama itu pula imbuhan itu masih tetap dianggap atau dipandang sebagai imbuhan asing. Namun, ada beberapa imbuhan asing yang sudah menjadi porduktif dalam bahasa Indonesia. Beberapa di antaranya akan kita bicarakan di bawah ini.

Dalam bahasa Indonesia, kita kenal kata-kata dengan akhiran –i atau –wi seperti badani, insani, alami, duniawi. Di samping itu, kita mengenal juga kata-kata badan, insan, alam, dunia. Jadi, ada dua macam bentuk yang kita pungut dari bahasa Arab yaitu bentuk dasar dan bentuk dengan akhiran –i atau –wi.

Akhiran –i atau –wi dari bahasa Arab itu bukan dua akhiran atau dua macam akhiran, melainkan satu akhiran karena kedua-duanya mewakili satu morfem. Perbedaan bentuknya itu timbul karena lingkungan yang dimasukinya berbeda. Bila kata dasar berakhir dengan konsonan, dalam contoh di atas /n/ dan /m/ maka akhiran yang muncul ialah –i, sedangkan bila bentuk dasar itu berakhir dengan vokal /a/, maka yang muncul ialah –wi. Bandingkan dengan awalan me-, mem-, meng-, meny-, dalam bahasa Indonesia atau awalan ber-, be-, bel- yang disebut alomorf karena mewakili satu morfem. Bentuk berbeda, tetapi fungsi gramatikalnya sama.

Melihat penggunaan akhiran –i atau –wi dalam bahasa Indonesia dewasa ini, kita dapat mengatakan bahwa akhiran itu sudah menjadi akhiran bahasa Indonesia karena akhiran itu sudah dilekatkan pada bentuk-bentuk dasar lain yang tidak berasal dari bahasa Arab. Kita mengenal bentuk bahasa Indonesia surgawi, manusiawi, bahkan  agamawi dan tatabahasawi. Bentuk-bentuk dasar berakhiran –wi itu bukan dari bahasa Arab, melainkan kata Indonesia yang berasal dari bahasa Sanskerta.

Belum saya sebutkan makna akhiran –i atau ­–wi itu. Akhiran ini mempunyai makna ‘mempunyai sifat’. Penderitaan badani artinya ‘penderitaan yang bersifat badan’, misalnya bila seseorang beroleh hukuman badan; badan alami, artinya ‘bakat yang bersifat alam’. Itu sebabnya surgawi dan manusiawi artinya ‘mempunyai sifat surga’ dan ‘mempunyai sifat manusia’.

Sepatah kata yang sering dipakai dewasa ini, tetapi salah pembentukannya ialah kata gerejani. Agaknya bentuk ini dianalogikan kepada bentuk insani dan badani yang bentuk dasarnya insan, badan. Jadi, akhiran yang melekat pada bentuk dasar itu ialah –i bukan –ni, sedangkan pada gerejani ialah –ni. Akhiran –ni yang dipungut dari bahasa Arab tidak ada. Kata-kata itu berasal dari bahasa Arab insaniyyun, badaniyyun. Kata rohani berasal dari rohaniyyun, bukan bentuk dasar roha diberi akhiran –ni.

Kata gereja berasal dari bahasa Portugis berakhir dengan vokal /a/. Analogi yang tepat ialah bentuk duniawi (dunia+wi). Jadi, bentukan yang tepat ialah gerejawi seperti contoh lain surgawi (surga+wi) manusiawi (manusia+wi).

Kata-kata bentukan dengan akhiran –i atau –wi rupanya masih akan bertambah. Dalam kebutuhannya, akan muncul kata-kata bentukan baru dengan akhiran itu. Sebaiknya dalam bentukan kata baru digunakan analog yang tepat.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar karangan J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>