Akhiran -if dan -logi

Akhiran -if

Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, kita jumpai bentuk-bentuk bersaing. Yang dimaksud ialah dua bentuk sama-sama dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa mewakili satu makna.

Misalnya:

Produktif dan produktip

Aktif dan aktif

Positif dan positip

Anda mungkin bertanya, manakah bentuk yang betul atau bentuk yang baku diantara kedua bentuk di atas. Bentuk dengan akhir /f/ ataukah bentuk dengan akhir /p/? Mari kita teliti bunyi ketentuan yang terdapat dalam buku Pedoman EYD.

-ive, ief menjadi –if

Descriptive, descriptief –> deskriptif

Demonstrative, demonstratief –> demonstratif

Maksudnya, kata dari bahasa Inggris yang terakhir –ive, yang semakna dan mirip bentuknya dengan kata dari bahasa Belanda yang berakhir –ief, dalam bahasa Indonesia menjadi kata dengan akhir –if. Jadi, v dan f yang dilafalkan dengan (f) itu ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf f. Jangan dijadikan atau diganti dengan p. Bentuk-bentuk: aktip, positip, demonstratip, produktip, eksekutip, legislatip bukanlah bentuk-bentuk yang baku. Semua kata yang sudah disebutkan itu haruslah berakhir dengan –if, bukan –ip.

Huruf f dalam abjad bahasa Indonesia dewasa ini sudah ditetapkan sebagai salah satu huruf dari abjad bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, huruf/fonem/f/tidak perlu lagi diganti dengan huruf/fonem/p/, kecuali pada beberapa kata yang sudah melembaga, artinya yang dari dahulu dibentuk dan ditulis dengan p; misalnya pikir, paham, perlu yang dipungut dari bahasa Arab fikr, fahm, dan fardlu. Kata-kata itu tidak perlu lagi dikembalikan kepada bentuk dengan f (fikir, faham, ferlu) sehingga kita tidak usah lagi menulis difikirkan – memfikirkan, difahami – memfahami, melainkan dipikirkan – memikirkan, dipahami – memahami.

Demikian juga kata-kata seperti variasi, universitas, vanile, survai jangan dijadikan pariasi, unipersitas, panile, surpai. Dalam mengindonesiakan kata-kata asing, sebaiknya ejaan Indonesia tidak terlalu besar bedanya dengan ejaan bahasa aslinya.

Akhiran –logi

Kata-kata yang berakhir dengan –logi dalam bahasa Indonesia kita pungut secara utuh dari bahasa Inggris yang berakhir dengan –logy atau dari bahasa Belanda yang berakhir dengan –logie.

Perhatikan bentuk-bentuk berikut:

Inggris: technology, physiology, analogy

Belanda: technologie, physiologie, analogie

Indonesia: teknologi, fisiologi, analogi

Melihat bentuk Indonesia, ktia dapat mengambil kesimpulan bahwa kata-kata itu kita pungut dari bahasa Belanda. Bunyi /i/ seperti yang ada dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Belanda ditulis dengan ie. Jadi, -gie Belanda kita Indonesiakan menjadi –gi dengan lafal (g) seperti pada kata-kata gigi, gitar, gila, pergi. Jangan melafalkannya seperti lafal Belanda yang cenderung pada bunyi /kh/.

Kata teknologi kita tuliskan dengan k bukan dengan h. Jadi, bukan tehnologi, melainkan teknologi; bukan pula tehnik, melainkan teknik. Kata physilogy/physiologie kita jadikan fisiologi karena dalam bahasa Indonesia tidak ada bunyi /f/ yang dilambangkan dengan huruf ph.

Karena pengaruh lafal bahasa Belanda, masih sering kita dengar orang melafalkan –gi seperti pada kata-kata contoh di atas bukan dengan bunyi /g/ yang jelas, melainkan dengan bunyi /g/ seperti dalam bahasa Belanda. Kata energi jangan ditulis dan diucapkan enerji atau enersi, melainkan dengan lafal (g) yang jelas seperti kata pergi.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar karangan J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>