Arti Kata Pujangga dan Bujangga

“Mungkin aku, bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.” Kita tentu ingat salah satu lirik lagu ini. Ya, kata-kata ini merupakan petikan dari lirik lagu Bukan Pujangga yang dinyanyikan secara enerjik oleh grup musik Base Jam.

Kita tidak akan membahas lagu itu.

Yang akan kita bahas sekarang adalah kata pujangga itu sendiri. Kata ini sering digunakan dalam berbagai kesempatan, dan mungkin karena pernah dijadikan judul lagu, kata ini menjadi populer. Dan kata pujangga memiliki ‘teman’ yang bunyinya mirip dengannya, yaitu kata bujangga.

Kata bujangga, berbeda dengan pujangga, relatif tidak terkenal. Atau bahkan, mungkin Anda baru mendengarnya sekarang? Tidak apa-apa, Anda bukan satu-satunya orang yang mengalami hal itu. Kata bujangga memang masih terkesan asing di telinga kita. Namun, tidak ada salahnya jika kita mencoba menela’ah arti kata dari dua kata pujangga dan bujangga ini.

Inilah arti dari kata pujangga dan bujangga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

1. pu·jang·ga n 1 pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa; 2 ahli pikir; ahli sastra; bujangga;
– Baru angkatan dl kesusastraan Indonesia yg muncul sekitar tahun 1930-an dng ditandai oleh semangat kebangsaan dan semangat mengejar kemajuan, dipengaruhi oleh aliran romantik dan individualisme;
– gereja orang kudus (baik pria maupun wanita segala zaman, yg dihargai secara khusus krn ajaran yg dikemukakan benar, mendalam, dan sangat bijaksana);

ke·pu·jang·ga·an n perihal (yg bersifat, berciri) pujangga; segala sesuatu mengenai pujangga (karang-mengarang susastra)

2. bu·jang·ga n 1 pendeta; petapa; orang cerdik pandai; 2 pengarang syair (sajak dsb); ahli sastra; pujangga;

ke·bu·jang·ga·an n perihal bujangga (spt pengarang, pendeta); kesusastraan; kepujanggaan

Dari kedua pengertian di atas, bisa kita simpulkan beberapa hal:

Bahwa pujangga dan bujangga memiliki arti yang relatif sama, namun memiliki sebuah perbedaan kecil. Pujangga lebih kepada kecerdikan kata-kata, sedang bujangga adalah cerdik dalam aspek pemikiran kehidupan.

Jadi, bisa dibilang, bahwa bujangga sudah pasti pujangga, sedang pujangga belum tentu bujangga.

Dalam sastra lama pun, kata bujangga juga pernah digunakan oleh Sanusi Pane yang tertuang dalam puisinya yang berjudul “Sajak“.

This entry was posted in Kamus and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>