Bayangan Wedhus Gembel

Taman Sari, masih indah seperti saat pertama kali aku datang ke sini. Bangunan tua dan kokoh yang telah lama berdiri ini memang menjadi salah satu kebanggaan Keraton Yogyakarta. Saat memasukinya, kita serasa kembali di waktu kerajaan Yogyakarta masih berdiri megah dan menjadi satu-satunya pemerintahan yang diikuti oleh rakyat Yogya. Kita serasa berada di masa lampau, di mana mobil-mobil belum mengambil alih jalanan, dan masyarakat belum dipusingkan dengan kenaikan BBM. Berjalan di Taman Sari, memberikan sebuah sensasi tersendiri untukku.

Konon, taman sari adalah tempat pemandian para selir dan juga permaisuri keraton. Di dalamnya, ada dua buah kolam renang. Aku yakin, di sini lah permaisuri dan para selir membersihkan diri dan menikmati segarnya air yang menerpa tubuh yang sudah penuh keringat. Ada dua kolam renang, yang satu untuk permaisuri, dan yang satunya lagi untuk para selir. Cukup adil, mengingat status permaisuri adalah istri sah dari sang Ngarso Dalem. Di antara dua kolam renang itu, ada sebuah menara yang cukup tinggi berdiri. Kata orang-orang sekitar, itu adalah tempat Sultan berisitirahat sambil melihat istri dan selir beliau mandi. Biasanya, Sultan akan melemparkan bunga ke kolam renang yang dipakai para selir. Barang siapa yang mendapatkan bunga itu, maka dia akan mendapatkan kehormatan untuk menemani Sultan malam itu.

Sekali lagi, berada di Taman Sari, membuat aku merasa kembali ke masa lampau.

Namun bukan hanya itu yang membuat aku bahagia berada di tempat ini sekarang. Memang, Taman Sari sangatlah indah dan membuat aku nyaman. Tapi ada alasan lain yang membuatku bahagia berada di tempat ini. Itu karena ada ‘dia’, lelaki penakluk hatiku, prince of charming with his white horse, yang menemaniku dalam suka dan duka.

“Kamu suka tempat ini?” Kataku padanya.

‘Dia’ tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya mengangguk dan tersenyum manis.

Ah, senyummu membuat aku semakin jatuh cinta padamu.

***

Ah, tak kusangka hari ini datang juga, akhirnya aku bisa pergi ke Pasar Malam Sekaten bersama ‘dia’, lelaki pujaanku. Pasar Malam Sekaten adalah sebuah acara rakyat Yogyakarta yang diadakan untuk menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Pasar Malam ini biasanya diadakan sebulan penuh bahkan lebih untuk memperingati kebesaran Nabi orang Islam yang konon namanya telah diagungkan tidak hanya di bumi, tapi juga di langit itu. Dan sebagai Keraton yang menganut agama Islam, tentunya memperingati maulud Nabi Muhammad bukanlah hal yang asing.

Kupacu motorku sampai di depan Kos ‘dia’, lelaki pujaanku. Dan seperti yang sudah kuduga, ‘dia’ sudah menungguku dengan gaya cool yang menawan. Aku terpaksa mengantarkannya dan memboncengkannya. Itu dikarenakan ‘dia’ masih cedera setelah menjadi relawan Merapi di tahun 2010 silam. ‘Dia’ terluka hebat karena menolong orang lari dari amukan Wedhus Gembel yang mengerikan. ‘Dia’ cedera hebat dan harus beristirahat selama 7 bulan sampai akhirnya bisa sembuh dan berjalan lagi. Namun sampai sekarang, ‘dia’ masih tidak bisa naik motor lagi. Bagiku tak masalah, aku rela menjadi tukang ojeknya, asalkan ‘dia’ bersamaku. Aku rela jadi apapun, asal dia jadi milikku.

Kuparkir motorku di depan kosannya. Lalu kuhampiri ‘dia’ dengan penuh semangat. Lagi-lagi ‘dia’ kelihatan ganteng hari ini. Dengan memakai kemeja lengan panjang berwarna krem bermotif kotak-kotak dan dipadankan dengan celana jins hitam yang standar, ‘dia’ terlihat keren. Apalagi saat melihat rambut spikey-nya yang tidak terlalu panjang dan sedikit acak-acakan, membuat wajahnya terasa pas dengan tubuh kekar bertinggi 180cm-an yang ‘dia’ miliki.

“Hehe, sudah lama nunggu ya? Maaf yank, tadi mandinya antri dulu sama mbak Rina.” Aku berasalan sambil menyalahkan mbak Rina, kakak perempuanku yang paling baik.

Lagi-lagi, ‘dia’ hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan, sambil menghampiriku. ‘Dia’ memang lelaki paling baik di dunia. Sudah tiga tahun kita berpacaran, dan tak pernah sekalipun dia marah dan membentak padaku. Dan sekarang, walaupun aku yakin ‘dia’ sudah lama menunggu, ‘dia’ tidak menunjukan sedikitpun kekesalannya padaku. Ah pangeranku, kamu memang yang terbaik.

Dengan Honda Beat biru produksi tahun 2009, aku dan ‘dia’ berjalan menembus dinginnya malam, dengan kehangatan cinta kita.

***

Entah karena ramalan atau badai matahari, yang pasti kondisi cuaca di tahun 2012 ini benar-benar tidak menentu. Kadang hujan deras tiga hari berturut-turut, kadang juga panas sekali di seminggu berikutnya. Dan itu terjadi, bahkan di awal tahun 2012 ini! Untungnya, malam ini tidak hujan. Entah karena pengertian Tuhan atau apa, yang pasti aku senang sekali. Aku berjalan-jalan bersama ‘dia’ di bawah cerahnya langit malam Yogykarta.

Sekaten benar-benar Pasar Malam yang hebat. Ratusan atau bahkan ribuan orang berkumpul di satu tempat, -alun-alun utara Yogyakarta- dengan penuh semangat, dan itu terus terjadi selama sebulan tanpa henti. Ratusan penjual mencoba mencari untung di pasar ini, dan kudengar, keuntungan mereka setiap Pasar Malam Sekaten diadakan itu sampai pada angka belasan juta!

Lampu warna-warni menjadi pemandangan yang lazim di sini. Suara yang saling bersahut-sahutan dari berbagai wahana juga menjadi hiasan tersendiri untuk menyambung keramaian. Bianglala atau komedi putar yang beraneka ragam juga terlihat di Sekaten, membuat Sekaten semakin terlihat indah. Saat kita lewat di depan wahana rumah hantu, asap kemenyan menyapa kita dengan bengisnya. Membuat aku menutup hidung dan bergegas, dan ‘dia’ tetap sama, menggenggam tanganku dengan erat.

Sekaten memang tempat yang indah, namun karena ada ‘dia’, Sekaten menjadi tempat yang jauh lebih indah.

Kami berhenti di depan salah satu bianglala, dan entah kenapa, aku merasa ingin menaikinya. “Kita naik ini yuk?” Kataku padanya.

‘Dia’ mengangguk dan tersenyum.

Kami langsung menghampiri loket dan  meminta karcis. ‘Dia’ maju duluan, lalu setelah melihat harga tiket itu, ‘dia’ menoleh dan melihatku. Aku mengerti, mungkin dia tidak membawa uang yang cukup untuk membeli tiketnya. ‘Dia’ memang bukan anak orang kaya, ‘dia’ selalu hidup pas-pasan, dan baginya, hidup di Yogya adalah sebuah perjuangan.

Aku membeli dua tiket seharga sepuluh ribu rupiah itu dengan riang. Dan setelah kudapatkan tiketnya, kami langsung beranjak antri untuk masuk ke dalam Bianglala.

Begitu waktunya tiba, aku dan ‘dia’ langsung bergegas untuk masuk. Begitu semangatnya ‘dia’, sampai ‘dia’ menyerobot masuk tanpa tiket. Namun sepertinya bapak penjaga tiket mengetahui kalau ‘dia’ bersamaku. Karena Bapak itu langsung melihatku dan meminta tiket kepadaku. Kuserahkan dua tiketku dengan buru-buru, dan aku langsung masuk ke dalam salah satu kereta di Bianglala.

Kulihat tatapan aneh dari bapak Penjaga Tiket. Ah tak apalah, mungkin dia iri dengan kemesraan kita berdua. Pikirku.

Melihat pemandangan Sekaten dari atas Bianglala adalah hal terindah yang dapat kulakukan saat ini. Melihat Sekaten yang berwarna-warni oleh lampu pasar yang gemerlap dari ketinggian yang terus berubah, membuat hati menjadi senang.

Dari atas Bianglala, kita melihat kerumunan orang-orang yang berjalan entah kemana arahnya. Melihat barisan orang yang antri di depan kios para penjual, sambil mengutak-atik telepon seluler mereka. Kita juga sesekali mengintip rumah setan dari atas, tapi kita tak pernah bisa melihatnya secara jelas.

Namun sekali lagi, semuanya indah, karena aku bersama ‘dia’.

‘Dia’ terus memandangku, menggenggam erat tanganku, dan menebar pandangan yang membuat hatiku bergetar. Aku benar-benar menikmati saat-saat ini. Aku ingin semuanya terus seperti ini.

***

Akhirnya putaran penuh kebahagiaan di Bianglala berakhir juga. Tiba saatnya kita harus meninggalkan kereta di bianglala dan kembali berjalan menyusuri jalanan Sekaten yang gemerlap. Kubukakan pintu untukmu, dan kamu pun keluar dengan tenang.

Saat kita keluar, kulihat sekali lagi tatapan aneh dari Bapak Penjaga Tiket. Dia terus memandang kami dengan penuh tanda tanya yang terlihat di matanya. Tapi aku tak ambil pusing. Entah kenapa, bagiku sudah terlalu biasa aku melihat pandangan aneh dari orang-orang disekitarku.

Banyak orang yang suka memandang aneh kepada kami. Kemarin di Taman Sari, saat aku dan ‘dia’ memadu kasih di pinggiran kolam renang, beberapa orang memandang kami dengan heran. Saat aku menjemput ‘dia’ di kosannya, teman-temannya pun memandang kami dengan tatapan yang aneh. Saat itu, aku berkesimpulan, mungkin ‘dia’ sedang ada masalah dengan teman-teman kosannya.

Yang jelas, selama ini aku tidak pernah ambil pusing dengan pandangan aneh orang terhadap aku dan ‘dia’. Mungkin orang menganggap kita bukan pasangan yang serasi. Mungkin orang menganggap ‘dia’ terlalu baik untukku. ‘Dia’ dengan tubuh tinggi tegapnya, mungkin terlihat tidak lazim jika berjalan bersamaku yang mungil ini. Entahlah…

Yang kutahu, aku cinta ‘dia’, dan aku tak peduli dengan pandangan orang-orang…

***

Akhirnya, hari ini harus berakhir juga. Setelah semalaman bersenang-senang dengan ‘dia’ di Pasar Malam Sekaten, kini aku sudah kembali di rumah.

Kuparkir motorku di dalam rumah yang sudah sepi dan gelap karena lampu sengaja dimatikan. Aku bergegas menuju kamar karena sudah lelah. Saat melewati ruang tengah, kulihat mamah sedang menonton televisi. Dan entah kenapa, saat mamah menyadari kehadiranku, dia langsung beranjak dan menuju ke arahku.

“Habis dari mana kamu, Nana?” Beliau bertanya kepadaku dengan nama panggilanku.

“Habis maen bareng sama Mas Ramdhan, Mah.” Kujawab dengan penuh senyum, perlambang kegembiraan hatiku saat ini. Siapa yang tidak senang? Jika kita baru saja menghabiskan waktu yang indah bersama pacar kita?

“Mas Ramdhan? Ramdhani?” Selidik Mamah setengah teriak. Entah kenapa, aku merasakan sedikit hawa kemarahan di sana. Aneh sekali.

“Iya donk Mah, emang mau siapa lagi? Pacar Nana kan Cuma satu, hehe.” Jawabku dengan setengah bercanda.

“Astaghfirullah! Kamu kenapa masih belum sadar tho Na?” Tanya Mamah, dan kali ini dengan kemarahan yang terlihat jelas. Walaupun nada sedih lebih banyak terasa dari suaranya barusan.

“Mamah kenapa sih?!” Kulepaskan kebingunganku. Aku benar-benar tidak paham dengan sikap Mamah sekarang ini.

“Ramdhan itu kan…”

PLUK! Belum sempat Mamah menyelesaikan kata-katanya, Ayah sudah datang memeluk Mamah. Ayah memeluk Mamah dengan lembut namun penuh kekuatan. Lalu samar-samar kudengar Ayah berbisik pada Mamah, “Jangan sekarang Mah, ini sudah malam dan Nana pasti sudah capek. Lebih baik kita bicarakan besok saja. Saat kita semua sudah segar dan pikiran lebih jernih. Besok kan hari Ahad, jadi kita sama-sama libur.” Bisikan lembut yang sebenarnya membuat aku iri. Aku juga ingin dia berbisik lembut kepadaku seperti itu.

Kulihat anggukan pelan Mamah. Dan beberapa tetes air mata yang keluar. Beliau menangis? Batinku.

“Kamu besok jangan kemana-mana dulu ya Nana? Ayah dan Mamah ingin bicara.” Kata Ayah padaku, sambil tersenyum manis.

“Tentang apa Yah?” Jawabku, aku memang tidak mau kalau hanya diperintah, aku harus tahu alasan aku bicara dengan mereka besok.

“Tentang Ramdhan.” Kata Ayah, kali ini tanpa senyum. Lalu Ayah dan Mamah pergi meninggalkan aku, menuju kamar mereka.

***

Aku tak tahu kenapa Ayah dan Mamah bersikap aneh malam ini. Bagiku, mereka terlihat seperti tidak setuju dengan hubunganku dengan ‘dia’. Padahal, kebersamaanku dengan ‘dia’ sudah memasuki usia tiga tahun lebih. Tapi kenapa? Kenapa sikap mereka berdua tiba-tiba aneh seperti itu?

Aku tidak mau tinggal diam. Aku mencintai ‘dia’, dan aku yakin ‘dia’ adalah yang terbaik untukku! Aku tidak akan menyerah oleh kemarahan orangtuaku.

Besok, akan kulawan kehendak mereka untuk memisahkan kami berdua. Akan kulawan!

***

Pagi yang cerah, dan kita sekeluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Ada empat orang di ruangan ini. Ayah, Mamah, Mbak Rina, dan Aku. Aku duduk di samping Mbak Rina, lalu Ayah dan Mamah duduk di depan kita berdua.

“Kamu sudah makan Na?” tanya Ayah. Basa-basi.

“Sudah!” Jawabku mantap. Aku melihat Ayah cukup kaget dengan jawabanku barusan. Tidak biasanya aku menggunakan nada keras ketika berbicara dengan orangtuaku. Bagaimanapun, mereka sudah mengajariku dengan baik, bahwa berbicara dengan nada keras ke orangtua itu bisa menjadi dosa, bahkan, dalam beberapa kasus, bisa menjadi dosa besar.

Tapi untuk kali ini aku yakin, ini bukanlah dosa besar.

“Wah, semangat sekali hari ini kamu Na?”

“Udahlah Yah, gag usah basa-basi lagi. Ayo segera kita mulai pembicaraan yang sebenarnya!” Kataku, masih dalam nada yang tinggi.

Ayah terhenyak kaget. Lalu kemudian terlihat berpikir. Dan beberapa saat kemudian, beliau terlihat mulai mengambil nafas dan bersiap untuk memulai pembicaraan.

“Begini Nana sayang, Ayah tahu kamu masih sangat mencintai Ramdhan. Tapi Nana harus ingat…”

“Pokoknya, apapun yang Ayah katakan, Nana bakal tetep menjalin hubungan dengan Mas Ramdhan.!’

“Loh?”

“Nana tahu, pasti Ayah sama Mamah mau menentang hubungan Nana sama Ramdhan kan?”

“Bukan begitu Nana…”

“Udahlah Yah, Nana gag tahu apa alasan Ayah sama Mamah kok tiba-tiba menentang hubungan Nana sama Mas Ramdhan, tapi Nana bakal tetep bertahan!”

“Bukan begitu nduk…” Kali ini Mamah yang angkat suara.

“Bukan begitu apanya? Mamah tuh udah kelihatan banget kalo mau gag setuju sama hubungan kita. Padahal Mamah harusnya sudah tahu, kalo aku cinta banget sama Mas Ramdhan!”

“Mamah tahu, karena itu yang Mamah maksud bukan…”

“Masih gag ngaku juga Mah? Nana itu udah gede, udah 21 tahun! Nana tahu apa yang kalian pikirkan! Dan kalian juga harus tahu apa yang Nana pikirkan! Nana udah serius sama Mas Ramdhan. Nana gag main-main dan ingin menikah sama Mas Ramdhan!” kali ini, suaraku sepertinya tidak terkontrol.

Hening. Tidak ada yang berkomentar lagi. Kulihat Mamah menangis tersedu-sedu. Begitu pula Mbak Rina. Ayah hanya diam, dan terlihat berpikir lagi.

“Na, bisakah kamu biarkan Ayah bicara dulu? Bisakah kamu dengarkan dulu apa yang mau Ayah katakan?” kali ini Ayah ambil suara.

“Nana udah tahu apa yang mau Ayah bicarakan, kenapa Nana harus dengerin lagi?”

“Na…!”

“Pokoknya Nana gag akan mengalah!”

“Na…!”

“Titik!”

“Nana! Mas Ramdhan itu sudah meninggal!”

Ahh…

“Dia menghilang saat menjadi relawan Tagana di peristiwa meletusnya Merapi kemarin!”

Tidak, kalian salah…

“Sudah satu tahun lebih dia menghilang, dan kamu tahu itu.”

Aku tahu, dan kamu tidak tahu apa-apa…

“Mungkin kamu mengira dia sudah ditemukan, karena melihat berita di berbagai media yang telah menemukan salah satu relawan yang pernah hilang. Ternyata relawan itu selama ini dirawat di Boyolali dan terus koma, sehingga tidak dapat dihubungi keluarganya. Tapi itu bukan Ramdhan!”

Tidak, tidak, tidak, Mas Ramdhan sudah lama ditemukan…

“Sudah seminggu ini kamu terus berhalusinasi akan kehadirannya. Tapi pada kenyataannya, dia itu tidak ada. Dia hanyalah bayanganmu, bayangan yang tersapu oleh wedhus gembel. Sadarlah, Nana!”

BRUKK!

Aku sempat merasakan tubuhku terjatuh ke lantai. Namun kemudian aku tidak tahu apa-apa lagi. Yang kutahu hanya…

Gelap.

***

 Garebeg Muludan, sebuah upacara kebudayaan Yogyakarta yang terkenal. Ini adalah simbol kedermawanan keraton yang menjadi pengayom rakyat Yogyakarta, sekaligus sebagai simbol penghormatan untuk Nabi besar Muhammad SAW. Di upacara ini, Sultan beserta para pengawalnya akan keluar menyapa rakyat Yogyakarta dan membagi-bagikan gunungan yang dipercaya akan menjadi simbol kemakmuran. Gunungan yang berisi hasil bumi itu akan diambil oleh rakyat Yogykarta, dan kemudian ditanam di sawah dan ladang mereka. Hasilnya dipercaya bakal membuat hasil bumi Yogykarta menjadi lebih subur.

Dan saat acara Garebeg Muludan diadakan, suasana ramai dan penuh sesak pasti akan terjadi. Begitupun saat ini. Karena itulah, aku hanya melihat dari kejauhan.Aku tidak ingin membahayakan tubuh kecilku dengan ikut berdesak-desakan di dalam keramaian yang menggila itu.

Terlebih lagi, saat ini, bukan upacara ini yang menjadi perhatianku. Aku lebih senang memperhatikan kekosongan hatiku. Kekosongan hatiku tanpa ‘dia’ yang ada disampingku.

Alhamdulillah, Allah yang maha besar masih menyelamatkanku dari kegilaan yang berlarut-larut. Cinta kepada sesama manusia memang sangat rapuh, hanya cinta kepada Tuhan lah yang pantas kita pertahankan mati-matian. Karena sesama manusia, pasti akan mati meninggalkan kita, atau kita yang meninggalkan mereka.

Seperti ‘dia’, yang kini telah meninggalkan aku. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa tanda perpisahan apapun, dan tanpa do’a apapun. Hanya meninggalkan.

Memang benar, ‘dia’ telah tiada. Aku tak tahu, apakah tertelan Wedhus gembel yang katanya melesat dengan kecepatan tinggi dibarengi hawa luar biasa panas itu, atau mungkin terjatuh saat melarikan diri di daerah Kaliurang yang curam, atau bahkan mungkin meninggal karena serangan jantung. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Bagiku, itu hanyalah sebatas bayangan wedhus gembel sekarang.

Perlahan-lahan, kucoba untuk mengikhlaskan kepergiannya. ‘dia’ yang telah memberi warna hebat dalam hidupku. ‘dia’, yang membuatku bersemangat mengenakan jilbab. ‘dia’, yang selalu berjanji akau segera melamarku dengan kesederhanaan. ‘dia’, lelaki yang mungkin dikirimkan Tuhan untuk menjadikanku lebih baik. Namun sekarang, ‘dia’ tidak lebih dari sekedar bayangan wedhus gembel bagiku. Bayangan yang terus menghantuiku.

Wedhus gembel adalah sebutan dari masyarakat sekitar merapi untuk awan panas yang keluar dari Merapi ketika sedang erupsi. Bentuknya sekilas indah jika dilihat dari jauh, namun begitu mendekat, kita tak akan sempat untuk menghindari kengerian panas yang dibawanya. Seperti itulah bayangan Mas Ramdhan yang ada di pikiranku sekarang. Sekilas terlihat indah, namun kengerian akan mendatangiku jika aku tak segera pergi meninggalkannya.

Mas Ramdhan, aku mencintaimu, dan karena cintaku padamu, aku akan melupakanmu, dan menjalani kehidupanku yang lebih baik. Semoga kamu selamat dari siksa kubur, Mas.

Dan tiba-tiba, bayangan wedhus gembel itu muncul lagi. Aku melihat ‘dia’ duduk-duduk di pinggir jalan Malioboro dengan kursi roda dan tangan yang terbalut perban.

Ya Allah, mengapa kau harus munculkan bayangan ini lagi ya Allah? Kumohon, cukupkanlah bayangan wedhus gembel ini, dan hilangkanlah dari pikiranku.

Yogya, 29 Maret  2012

 

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>