Bentuk Kontaminasi “mengenyampingkan” dan “dipelajarkan”

Di bagian depan buku ini sudah saya singgung tentang masalah kontaminasi dengan mengemukakan beberapa contoh. Kontaminasi atau dengan istilah lain disebut kerancuan tidak hanya terjadi pada susunan kalimat, melainkan terjadi juga pada susunan kata dalam sebuah frase, atau susunan morfem-morfem dalam sebuah kata. Namun, lebih sering kita lihat atau kita jumpai kalimat yang rancu susunannya daripada frase atau kata bentukan.

Kerancuan susunan kata baik dalam frase atau kalimat disebabkan oleh kesalahan orang memadu dua unsur yang berpasangan. Misalkanlah bahwa unsur A selalu berpasangan dengan unsur B dan unsur C dengan unsur D. Pasangan A dan B serta pasangan C dan D selalu merupakan pasangan yang tepat. Tetapi, bila pasangan itu bertukar, misalnya A dengan D dan C dengan B, maka pasangan itu dikatakan menjadi kacau. Kontaminasi atau kerancuan susunan kalimat sudah Anda lihat contohnya pada uraian saya yang terdahulu. Kali ini saya akan mengemukakan kepada Anda contoh susunan kata dalam frase dan susunan morfem pada kata bentukan yang rancu.

Anda mungkin sudah sering menjumpai bentuk mengenyampingkan dalam tulisan. Bentuk itu bukanlah bentuk yang tepat. Bila kita ubah bentuk itu menjadi bentuk yang biasa disebut bentuk pasif (dalam hal ini dengan imbuhan di-kan), maka bentuk itu menjadi dikesampingkan. Dengan jelas dapat kita lihat bahwa bentuk dasar kata bentukan itu ialah kesamping (terdiri atas dua morfem yaitu ke dan samping). Karena diberi awalan dan akhiran sekaligus, dengan perkataan lain karena kedua morfem itu diapit sekaligus oleh awalan dan akhiran, maka dituliskan serangkai: dikesampingkan.

Sudah saya sebutkan di atas bahwa bentuk dasar kata bentukan dikesampingkan ialah kesamping. Demikian juga halnya dengan bentuk “mengenyampingkan” yang saya katakan kurang tepat tadi. Apabila bentuk dasar yang berhuruf/berfonem awal /k/ diberi awalan meng-, maka huruf/fonem awal itu luluh.

Misalnya:

Meng + kotor + -kan : mengotorkan
Meng + kait + -kan : mengaitkan
Meng + kesan + -kan : mengesankan

Yang mengalami peluluhan hanyalah fonem/huruf awal bentuk dasar itu. Huruf atau fonem yang lain tidak berubah. Pada bentuk mengenyampingkan kita lihat bahwa bukan hanya /k/ sebagai fonem awal yang luluh ke dalam ng. melainkan fonem /s/ di tengah bentuk dasar kesamping juga luluh ke dalam ny. Perhatikan contoh bentukan ketiga dari ketiga kata bentukan yang saya kemukakan di atas. Bentuk dasarnya kesan. Diberi meng- dan –kan menjadi mengesankan. Hanya huruf/fonem awal /k/ yang luluh dalam ng; huruf/fonem /s/ di tengah kata kesan itu tidak berubah, tetapi tetap /s/. Mengapa pada bentuk meng + kesamping + -kan /s/ pada kesamping diluluhkan ke dalam ny? Jelas ini suatu kesalahan. Karena bentuk yang salah itu tampaknya lebih tinggi frekuensi pemakaiannya daripada bentuk yang tepat mengesampingkan, kita namakan kesalahan itu suatu salah kaprah.

Lain halnya bila huruf/fonem /s/ itu terletak pada awal kata atau menduduki posisi awal kata. Dalam bentuk aktifnya, awalan meny- yang muncul dan /s/ luluh ke dalam ny.

Misalnya:

Meny + samping + -kan: mengenyampingkan
Meny + senang + -kan: menyenangkan
Meny + sisih + -kan: menyisihkan

Bentuk rancu mengenyampingkan timbul karena dua bentuk yang tepat yaitu mengesampingkan dan menyampingkan digabungkan dari bentuk pertama diambil menge- dan dari bentuk kedua diambil –nyampingkan. Hasilnya ialah bentuk kontaminasi (rancu): mengenyampingkan.

Saya kemukakan lagi contoh bentukan kata lain yang rancu yang frekuensi pemakaiannya tidak setinggi bentuk pertama itu: dipelajarkan. Dalam kalimat: Di sekolah itu dipelajarkan juga bahasa Arab. Bentuk ini adalah bentuk yang dikacaukan dari dua bentuk yang tepat: dipelajari dan diajarkan. Dari bentuk pertama diambil dipel- dan dari bentuk kedua diambil –ajarkan. Hasilnya ialah dipelajarkan yang rancu tadi. Dalam bahasa Indonesia, tidak dikenal bentuk dipelajarkan atau mempelajarkan.

Perhatikan pemakaian bentuk yang tepat dalam kalimat di bawah ini:

Di sekolah itu diajarkan juga bahasa Arab.
Di sekolah itu dipelajari juga bahasa Arab oleh murid-murid.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang benar karangan J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>