Bentuk member-kan atau memper-kan

Orang mempertanyakan, mana bentuk yang betul diantara bentuk memberhentikan dengan memperhentikan.

Kedua bentuk kata di atas dianggap betul. Hanya bentuk pertama kita katakan bentuk baru, artinya bentuk yang lebih banyak digunakan dalam Bahasa Indonesia dewasa ini, sedangkan bentuk yang kedua bentuk yang didasarkan pada kaidah bahasa Melayu.

Mari kita perhatikan deretan bentuk kata kerja di bawah ini:

Berdagang – memperdagangkan/diperdagangkan – perdagangan;
Berjuang – memperjuangkan/diperjuangkan – perjuangan;
Bertemu – mempertemukan/dipertemukan – pertemuan;
Berkembang – memperkembangkan/diperkembangkan – perkembangan;

Berdasarkan kesejajaran bentuk-bentuk yang Anda lihat di atas, maka berhenti menghasilkan bentuk memperhentikan/diperhentikan yang berarti ‘membuat jadi berhenti’ dan ‘dibuat jadi berhenti’, dan bentuk kata benda perhentian yang berarti ‘tempat berhenti’.

Dalam kalimat:
Ali sudah berhenti dari jabatannya.
Ali sudah diperhentikan dari jabatannya.
Pemerintah memperhentikan Ali dari jabatannya.

Dalam bahasa Indonesia dewasa ini:
Ali sudah berhenti dari jabatannya.
Ali sudah diberhentikan dari jabatannya.
Pemerintah memberhentikan Ali dari jabatannya.

Lalu di samping bentuk-bentuk di atas ini, ada pula bentuk pemberhentian yang artinya ‘hal berhenti’ yang tidak terdapat padanannya dengan bentuk asli dalam bahasa Melayu. Misalnya dalam kalimat Pemberhentian Ali dari jabatannya itu sudah ditetapkan oleh pemerintah dengan surat keputusan.

Dalam bahasa Melayu, kata pemberhentian itu berpadanan dengan kata pemecatan, atau pelepasan.

Bedanya ialah, bahwa kata pemecatan mengandung makna yang kurang halus dibandingkan dengan kata pemberhentian, sedangkan kata pelepasan memberi asosiasi pada makna ‘dubur’.

Kalau kita katakan diberhentikan dengan hormat, masih dapat kita ungkapkan dengan bentuk asli sesuai dengan kaidah bahasa Melayu diperhentikan dengan hormat. Tetapi jika dikatakan dipecat dengan hormat timbullah makna yang mengandung kontradiksi; dipecat tetapi dengan hormat, jadi kurang serasi.

Alasan kedua ialah bahwa bentuk diberhentikan beranalogi kepada bentuk diberangkatkan. Kata diberangkatkan, memberangkatkan, pemberangkatan, keberangkatan, merupakan bentuk yang paling singkat untuk menyatakan makna seperti yang dimaksudkan oleh kata itu. Tidak ada bentuk lain yang lebih singkat atau sama singkatnya yang dapat menggantikan bentuk-bentuk itu, yang juga mengandung makna yang sama dengan kata-kata bentukan itu.

Kalau kata diberangkatkan berterima dalam bahasa Indonesia modern, mengapa bentuk diberhentikan harus ditolak? Bagaimana dengan kata diberlakukan?

-          Peraturan itu mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari tahun yang lalu.

Bentuk diberlakukan tidak dapat digantikan oleh bentuk diperlakukan (jika kita analogikan pada bentuk-bentuk sejajar dalam bahasa Melayu yang disebutkan mula-mula dalam uraian ini) sebab diperlakukan mengandung makna yang lain.

-          Saya tak mau diperlakukan seperti anak kecil.

-          Perlakukan mertua terhadap menantu seperti itu kurang pantas rasanya.

Demi makna yang kita perlukan yang terkandung pada kata-kata bentukan baru itu yaitu diberhentikan, diberangkatkan, diberlakukan, maka bentukan-bentukan baru ini dapat kita terima, walaupun bentukan seperti itu tidak dapat kita kembalikan kepada kaidah bahas Melayu sebagai bahasa asal bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia memang bukan bahasa Melayu. Masih banyak bentukan baru dalam bahasa Indonesia dewasa ini yang tidak kita jumpai dalam bahasa Melayu. Meskipun demikian, perlu kita ingat bahwa analogi dalam bahasa sifatnya tidak mutlak. Artinya kita tidak dapat membentuk sebanyak-banyaknya kata baru berdasarkan analogi saja tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Contoh lain: dari kata yang sudah ada dewa-dewi dan putra-putri dibentuk orang kata baru seperti mahasiswa-mahasiswi, pemuda-pemudi, saudara-saudari; tetapi kata bapak tidak dapat kita jadikan bapak-bapik sebab sebagai lawan kata bapak sudah ada kata ibu. Jadi, di sini kita lihat bahwa analogi tidak mutlak sifatnya. Hanya kita gunakan bila perlu benar.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar karangan J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>