Bentuk “mempertanyakan” Sebagai Bentuk Baru

Bentuk kata mempertanyakan memang merupakan bentuk kata yang boleh dikatakan baru dalam Bahasa Indonesia karena dahulu bentuk ini tidak dipakai. Kata bentukan dengan bentuk dasar tanya yang biasa dipakai hanyalah menanyakan dan menanyai, atau dengan awalan ber- yaitu bertanya. Namun, baik bentuk menanyakan maupun bentuk menanyai artinya tidak sama dengan arti mempertanyakan. Perhatikan contoh pemakaiannya di bawah ini:

-          Adik menanyakan jawab soal itu kepada Kakak.

-          Pak Guru menanyai Amat tentang asal-muasal timbulnya perkelahian itu.

-          Kami masih mempertanyakan kebenaran berita itu.

Pada kalimat contoh pertama, yang ditanyakan ialah jawab soal (obyek), sedangkan pada kalimat contoh kedua, yang ditanyai ialah Amat (orang yang berkepentingan). Kalau bentuk menanyai pada kalimat contoh kedua kita ubah menjadi bentuk menanyakan, maka perlulah ditempatkan kata kepada di depan Amat: Pak Guru menanyakan kepada Amat tentang asal-muasal perkelahian itu.

Tentang pemakaian akhiran –i atau –kan sering tampak kacau. Artinya, alih-alih menggunakan akhiran –i, orang menggunakan akhiran –kan, demikian juga sebaliknya. Pada umumnya, terutama seperti contoh pemakaian di atas, kata dengan bentukan me-kan diikuti oleh obyek penderita (yang dikenai pekerjaan itu), sedangkan kata bentukan dengan imbuhan me-i diikuti oleh obyek pelaku (orang yang berkepentingan).

Perhatikan:

-          Meminjamkan buku, tetapi meminjami Siti (buku)

-          Mengirimkan surat, tetapi mengirimi Ibu (surat)

-          Menawarkan barang, tetapi menawari pembeli (barang)

Kita kembali kepada bentuk mempertanyakan. Seperti terlihat dalam contoh pemakaiannya pada kalimat ketiga di atas, kata itu memang mengandung arti yang lain daripada dua bentuk yang sudah kita bicarakan itu yaitu menanyakan dan menanyai. Kata mempertanyakan bersinonim dengan kata mempersoalkan atau meragukan, menyangsikan.

Mempertanyakan kebenaran berita itu sama artinya dengan ‘mempersoalkan kebenaran berita itu’. Bentuk-bentuk menanyakan dan menanyai diturunkan langsung dari bentuk dasar tanya, lalu diberi imbuhan me-kan atau me-i, sedangkan bentuk mempertanyakan diturunkan dengan melalui kata bertanya: tanya-bertanya-mempertanyakan.

Bandingkan dengan bentuk-bentuk berikut:

Temu – bertemu – mempertemukan
Dagang – berdagang – memperdagangkan
Tengkar – bertengkar – mempertengkarkan

Jadi, berdasarkan contoh perbandingan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bentuk mempertanyakan sejajar dengan bentuk bertanya. Kalau kita masih mempertanyakan sesuatu berarti kita masih ingin bertanya tentang sesuatu itu. Kalau itu menyangkut benar tidaknya hal itu, berarti kita masih meragukan atau masih menyangsikan kebenarannya. Itu sebabnya kata mempertanyakan dapat juga berarti ‘meragukan’ atau ‘menyangsikan’.

Dalam bahasa Indonesia, memang banyak kata baru atau bentukan baru yang muncul yang dahulu tidak kita temukan dalam bahasa Melayu (bahasa Indonesia dahulu). Kita menumbuhkan swadaya bahasa kita untuk memenuhi kebutuhan kita tentang pengertian-pengertian baru yang belum terungkapkan dalam bahasa kita. Kita berusaha memperkaya bahasa kita dengan kata baru atau bentukan baru, dengan mencari padanan untuk kata-kata asing, atau kalau tak ada, kata asing itu kita Indonesiakan dengan memperhatikan lafal dan ejaan bahasa kita. Bentuk-bentuk seperti memberangkatkan, memberhentikan, menyerahterimakan, memutarbalikkan, dan bentuk-bentuk gabung yang diberi imbuhan ke-an seperti ketidakberesan, ketidakmantapan, ketidakseragaman memang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia dahulu, tetapi sekarang kita perlukan karena bentuknya yang singkat tetapi pengertiannya tepat.

Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu risau dengan banyaknya kata baru dewasa ini, baik kata itu dipungut dari bahasa asing maupun dipungut dari bahasa-bahasa daerah. Kita juga jangan terlalu risau dengan munculnya bentukan-bentukan baru, asal saja bentukan kata baru itu masih tetap didasarkan pada kaidah bahasa kita. Bahasa Indonesia masih tumbuh dan berkembang terus. Yang perlu kita jaga ialah bahwa pertumbuhan dan perkembangannya itu tetap teratur dan mematuhi kaidah bahasa yang masih berlaku.

Diambil dari buku Inilah Bahasa Indonesia yang benar oleh J.S. Badudu.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>