Berpikir Seperti Herbivor, Menulis Seperti Karnivor

Menulis (terutama fiksi) adalah pekerjaan yang unik. Tulisan ini akan memberi tahu mengapa. Dan bagaimana sebagai penulis sebaiknya kita bersikap.

Dalam ilmu biologi, lazimnya hewan-hewan bertulang belakang memiliki dua buah mata. Herbivor (kata baku yang diakui oleh kamus Indonesia adalah Herbivor, bukan Herbivora), memiliki karakteristik mata yang melebar. Dua buah matanya berada di muka bagian kanan dan kiri, sehingga dia bisa melihat 360 derajat. Sedang karnivor (sama, kata baku yang diakui oleh kamus Indonesia adalah Karnivor, bukan Karnivora), memiliki karakteristik mata yang tajam. Dua buah matanya terletak di depan, sehingga dia bisa melihat jauh ke depan.

Keuntungan hewan herbivor dengan pandangan 360 derajatnya adalah dia bisa melihat sekeliling. Pandangan yang lebih luas membuat dia bisa bersiaga jika ada pemangsa yang datang mendekat.

Sedang keuntungan hewan karnivor dengan pandangan lurus ke depan adalah dia bisa melihat mangsanya dari jauh. Pandangan tajam, membuat dia bisa fokus mengejar mangsa yang berada di depannya.

Rupanya, dalam dunia kepenulisan, menggabungkan dua prinsip yang saling bertentangan itu akan sangat membantu.

Seperti yang sudah saya utarakan di depan, bahwa menulis adalah pekerjaan yang unik. Mengapa unik? Karena penulis dituntut untuk memiliki pemahaman luas, sangat luas bahkan, mengingat dia harus membayangkan sebuah dunia yang utuh, dengan banyak sekali tokoh, cerita, dan konflik di dalamnya. Sedang di saat bersamaan, penulis dituntut untuk mengetahui dengan jelas, bagaimana dunianya akan berakhir. Satu alur yang tepat untuk menggabungkan banyak tokoh, cerita, dan konflik di dalamnya.

Karena itulah, seyogyanya, penulis harus berpikir layaknya herbivor yang memiliki pandangan 360 derajat. Dalam berpikir, penulis harus melihat gambaran besarnya dengan utuh. Bahkan apa yang ada di dalam pikiran penulis, sudah seharusnya jauh lebih banyak daripada karya yang kemudian ditulisnya.

Penulis dengan pengetahuan yang luas, pemahaman ideologi yang lebih majemuk, serta pandangan hidup yang lebih holistik, pastilah memiliki kompetensi yang lebih untuk mencipta sebuah karya sastra dengan makna yang luar biasa. Sebaliknya, penulis dengan cara berpikir yang itu-itu saja, pada akhirnya akan menghasilkan karya sastra yang itu-itu saja.

Sialnya, dalam proses menulis, ada sebuah proses pengerucutan yang harus dihadapi oleh setiap penulis. Adalah sebuah kemustahilan, jika hasil tulisan mencakup lebih luas dibanding apa yang ada di dalam pikiran penulisnya. Yang ada hanyalah, apa yang ada di dalam kepala penulis, terkebiri oleh susunan huruf yang terbatas, terkungkung dalam barisan paragraf yang tersederhanakan. Dan mau tak mau, penulis dituntut untuk fokus dalam menulis.

Masalahnya, fokus dalam menulis bukanlah setelan default otak manusia. Joe Vitale, dalam bukunya Hypnotic Writing, menuturkan bahwa setiap kali menulis, ada dua kepribadian yang muncul dari dalam diri kita. Yang pertama adalah kepribadian yang menulis dan ingin mencipta karya baru. Sedang yang kedua adalah kepribadian yang mengkritik dan meragukan karya baru (bahkan sebelum karya itu benar-benar jadi). Sialnya lagi, kepribadian yang dominan adalah yang kedua.

Artinya, di tengah-tengah proses menulis yang kita lakukan, kita cenderung untuk mengkritik tulisan kita sendiri. Belum lagi ditambah ketakutan-ketakutan yang muncul dari jiwa kita sendiri. Itulah faktor besar, mengapa kita sulit sekali menyelesaikan sebuah naskah. Karena kita sudah menjelek-jelekkan karya kita sendiri, bahkan saat belum benar-benar jadi.

Untuk itulah, penulis harus menulis seperti karnivor. Fokus pada satu tujuan, dan menyelesaikannya.

Ingat kata kuncinya: selesai. Perkara bagus atau buruk itu tak jadi soal. Toh, belum ada yang membacanya selain kita bukan?

Yang penting adalah jadi dulu. Untuk penyempurnaannya, kita bisa melakukan self editing

Itulah tadi sedikit opini saya terkait kebiasaan baik yang bisa dibawa penulis. Belajar dari hewan, karena alam adalah guru terbaik bagi kita.

Semoga bermanfaat.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Berpikir Seperti Herbivor, Menulis Seperti Karnivor

  1. Iznaen says:

    Tiap kali menulis, saya pribadi cenderung menghapus tulisan itu sebelum dia selesai. Seperti yang disebutkan dalam artikel ini, kita cenderung memberi kritikan pada tulisan kita, bahkan sebelum dia menjadi tulisan yg utuh. Memang kita perlu menulis seperti karnivor, yang fokus ke depan, agar tulisan kita selesai. Baru setelah itu kita bisa menimbang-nimbang, apakah karya kita layak dibaca publik atau tidak

  2. PIPIT PITRIANI says:

    menarik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>