Beruntungnya Kita Memiliki Bahasa Indonesia

Tulisan ini ditulis oleh Agfian Muntaha yang merupakan salah satu penulis tetap di Sastranesia. Gagasannya untuk tulisan ini muncul, setelah dia membaca beberapa literasi yang menunjukan, betapa beruntungnya orang Indonesia memiliki bahasa Indonesia. Mengapa? Mari kita simak bersama.

Pagi ini, ditemani secangkir coffemix yang terlalu manis, saya membaca sebuah blog yang cukup menarik. Dalam blog yang ditulis oleh mahasiswa rantau di luar negeri itu, dia menceritakan betapa kerennya India. Mengapa India keren? Karena meskipun terdiri dari berbagai suku dan agama, serta memiliki bahasa yang beraneka ragam, mereka tetap berdiri sebagai salah satu bangsa yang besar di dunia. Di India, kemiskinan dan hedonisme terbilang sukses berjalan berdampingan. Meskipun tingkat kemiskinan masih besar dan menganga, India tetaplah India, yang pesawatnya tinggal beberapa langkah lagi mendarat di planet Mars.

Pencapaian yang besar bukan?

Tapi kali ini, bukan masalah itu yang ingin saya perbincangkan. Semua orang tahu biaya 60 Juta Euro yang dikeluarkan India untuk pesawatnya adalah sebuah terobosan besar bagi negeri itu dan dunia. Tapi, yang membuat saya tertarik adalah bahasa yang digunakan di India.

India, seperti yang sering kita dengar, menggunakan bahasa Hindi sebagai bahasa utama negaranya. Tapi, tahukah anda bahwa tidak semua orang India bisa berbahasa Hindi? Yang saya tahu, orang India memang tidak diharuskan menguasai bahasa Hindi, tapi boleh juga bisa berbahasa Inggris.

Kenyataan itu membuat surat kabar di India pun terbelah, ada yang berbahasa Hindi, ada pula yang berbahasa Inggris (dengan logat yang menghibur untuk kita).

India adalah negara yang mirip dengan Indonesia. Mereka memiliki banyak suku dengan bahasanya masing-masing, dan ternyata, mereka tidak memiliki satu bahasa khusus yang dimengerti oleh semua orang.

Hal sulit itu juga terjadi di Malaysia, di mana kita tahu, bahasa Melayu di sana cukup riuh dan sesak bercampur dengan bahasa Inggris yang –bagaimana mengatakannya?– cukup kacau. Kenapa kacau? Karena bahasa Inggris di Malaysia tidak menggunakan grammar seperti yang biasa ada pada bahasa Inggris, entah itu versi American ataupun British. Ya, kacau.

Di Kanada pun seperti itu. Mereka menggunakan bahasa Inggris, Prancis, dan juga ada bahasa asli di sana. Membingungkan? Iya.

Swiss, dan beberapa negara eropa yang lain pun seperti itu.

Lalu untuk Amerika Serikat dan Inggris, bukankah mereka hanya menggunakan satu bahasa saja? Ya, hal itu terjadi karena sejak awal mereka adalah negara yang homogen. Inggris diisi oleh orang Inggris, dalam satu pulau Britania Raya. Sedang Amerika? Ya, isinya adalah orang Inggris yang kreatif dan meninggalkan tanah kelahirannya. Saya mohon, jangan tanyakan tentang keberadaan suku Indian di Amerika, terlalu kejam untuk membahas eksistensi mereka di tanahnya sendiri.

Nah, setelah membahas berbagai bahasa di negara-negara itu, bagaimana dengan Indonesia?

Seperti kita tahu, Indonesia memiliki ratusan (mungkin ribuan) suku yang ada. Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak sekali suku dan ras yang berbeda, adalah tantangan besar untuk menyatukan Indonesia dalam satu cara berkomunikasi yang searah.

Untunglah, pada tahun 1928, para pendahulu kita mengikrarkan sumpah maha suci yang menjadi penuntun kita dalam membentuk sebuah negara: Sumpah Pemuda!

Dengan sumpah pemuda, kita menciptakan satu bahasa yang menjadi konsensus seluruh suku yang tercerai berai ini. Dengan sentuhan Melayu, Jawa, Sunda, dan suku-suku lainnya, serta serapan dari bahasa Arab, Inggris, dan Belanda, muncullah bahasa yang masih sangat muda ini: bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia ini murni tercipta dari dunia modern yang sudah tersentuh teknologi literasi. Akibatnya, perubahan terasa sangat cepat pada bahasa ini, dan -seperti objek-objek modern lainnya- simpel untuk dipelajari.

Kini, kita dapat menjejak ujung barat Indonesia, hingga berkeliling Raja Ampat di ujung timur dan tetap dapat berbicara dengan penduduk setempat menggunakan bahasa Indonesia. Memang ada sebagian masyarakat yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi tetap saja kita akan menemukan orang yang bisa dan paham bahasa Indonesia di sebuah tempat, bukan?

Dalam dunia media pun, kita cukup menggunakan bahasa Indonesia, dan semua audience sudah dituntut untuk memahaminya. Surga macam apa ini?

Ya, kita beruntung memiliki bahasa Indonesia. Sayangnya, kita sering lupa dengan kemewahan yang kita miliki ini.

Selamat menikmati bulan bahasa, sahabat.

This entry was posted in Bahasa and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>