Cerpen: Biaya Peluang

Membuat sebuah pilihan itu bukan tentang benar atau salahnya. Membuat sebuah pilihan adalah tentang kesiapan hati untuk tidak menyesali pilihan yang diambil…

***

Hari in benar-benar indah. Rasanya aku tak ingin hari ini berakhir. Semua karena kamu, Mas Andri. Keindahan ini muncul tanpa kuharapkan, bersamaan dengan kemilau sinarmu yang datang menerpa hatiku. Dalam derasnya hujan kota Yogyakarta siang tadi, engkau yang menemaniku berjalan dari perpustakaan pusat 1 UGM menuju tempat parkir motor tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata pengakuan perasaanmu padaku.

Aku tahu usia kita sudah tidak muda lagi. Tidak seharusnya aku terbuai bahagia hanya karena kata-kata manis penuh cintamu. Kita sudah sama-sama berkepala dua, bahkan kamu sudah sarjana. Kita sama-sama sudah sering merasakan pahit manisnya cinta. Pacaran kekanak-kanakan bukanlah pilihan yang tepat lagi bagi kita. Kata-katamu tadi siang, haruslah berasal dari keseriusan untuk melanjutkan hubungan pada pernikahan, bukan sekedar rayuan gombal ala anak-anak SMA.

Tapi, entah kenapa aku tidak peduli dengan semua itu. Aku belum tahu, apakah pengakuan cintamu yang kubalas dengan anggukan kecil tadi siang adalah sebuah tanda keseriusan, atau justru sebaliknya, hanyalah sebuah awal permainan seperti kebanyakan laki-laki. Aku belum tahu…

Yang kutahu saat ini Mas, aku bahagia kamu mengatakannya padaku. Aku cinta kamu Mas Andri…

***

 Aku serius Dik Mira. Aku serius dalam setiap ucapanku tadi siang. Hanya saja, aku tahu, sekeras apapun aku mencoba mengatakannya padamu, kamu tidak akan begitu saja percaya. Kamu sudah dewasa, sebentar lagi akan menyusulku, menjadi seorang sarjana ekonomi. Dan tentu saja, kamu sudah tidak mudah percaya lagi dengan rayuan gombal laki-laki yang baru saja mengatakan cinta padamu. Aku tahu itu. Karena itulah, aku tidak mengucapkan keseriusanku ini padamu. Aku akan membuktikannya, kelak, seiring dengan perjalanan waktu. Karena aku tahu, kamu butuh bukti, bukan janji.

Sebenarnya aku benar-benar ingin melamarmu sekarang, tapi aku belum bisa. Aku merasa belum memiliki Maisyah [1] yang cukup. Aku memang sudah wisuda, namun aku memutuskan untuk kembali kuliah. Dan aku sedang mencari tempat yang tepat untuk melanjutkan studiku. Aku merasa ilmu yang kudapat sekarang belumlah cukup. Dengan ilmu yang masih sangat dangkal ini, aku merasa belum bisa memberikan apa-apa untuk negeriku dan kamu. Karena itulah, aku akan terus belajar. Tunggu aku ya, Dik!

***

Hari ini pun, kamu berwajah sangat manis Dik. Dengan kemeja hijau kotak-kotak dan rok hitam yang elegan, kamu berjalan layaknya seorang peragawati. Rambut hitam lurusmu kamu ikat dengan rapi hari ini, membuat tubuh proporsionalmu semakin terlihat indah dan menawan.

“Aku nervous nih Mas!” katamu padaku. Membuatku tersenyum kecut. Justru orang lain lah yang akan nervous jika berhadapan dengan wanita secantik dirimu.

“Kenapa nervous segala Dik? Ini kan baru interview HRD, kamu pasti bisa kok!” Ucapku sok memberi semangat.

“Tapi kan ini pertama kalinya aku ikut wawancara kerja setelah lulus. Rasanya agak aneh gimanaaa, gitu Mas, hehe.” Tawa kecilmu itu, membuat aku jatuh cinta setiap saat.

“Udahlah, anggep aja wawancara biasa Dik. Kan kamu udah sering diwawancara saat part time dulu. Minimal udah ada pengalaman lah.”

“Iya juga sih! Bener juga kamu Mas!”

Kubukakan pintu mobilku untuknya. Walaupun aku tahu dia bisa membuka pintu mobil sendiri, namun bagi lelaki, membukakan pintu mobil untuk seorang wanita pujaan adalah sebuah kebanggaan. Membuatku merasa gentle dihadapanmu.

“Terus Mas Andri sendiri gimana? Beneran gag mau nyari kerja dulu? Pembukaan S2 nya udah mulai belum sih? Mas Andri mau daftar di mana?” Kamu memberondongku dengan berbagai pertanyaan itu di dalam mobil, dan itu membuatku sedikit malas.

“Tenang Dik, Mas udah ngumpulin berkas kok, bentar lagi diwawancara, semoga diterima, hehe.”

“Di mana Mas?”

“Rahasia, nanti kalau udah keterima, baru Mas kasih tahu. Adik yang sabar ya. Sekarang kamu fokus aja dulu sama wawancaramu nanti.”

“Huu, pelit nih Mas Andri!” Katamu sambil memasang bibir manyun. Bahkan, dengan bibir yang manyun seperti itu, kamu tetap terlihat cantik.

Hening.

“Terus, kapan Mas mau lamar aku?” Dan setelah ketenangan yang cukup lama, tiba-tiba kamu membuat sebuah pertanyaan yang begitu menohok.

Aku diam beberapa saat, mencoba memikirkan kata-kata yang pas, sambil membuat efek dramatis di hatimu.

Lalu pelan-pelan kubuka mulutku. “Adik capek nungguin Mas?”

Entah kenapa, aku melihat sedikit mimik terkejut di wajah manismu.

***

 “Adik capek nungguin Mas?”

Kata-katamu barusan benar-benar membuatku terkejut Mas Andri. Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir begitu? Tahukah kau, betapa besarnya rasa percayaku padamu. Setelah semua yang kau lakukan selama enam bulan hubungan kita ini? Hubungan cinta yang bahkan memberiku kekuatan untuk menyelesaikan skripsi yang sepertinya tak mungkin kuselesaikan sendirian ini?

Aku percaya kamu lebih dari apapun Mas. Dan aku tak akan lelah menunggumu…

Aku menanyakan perihal lamaran, bukan karena aku lelah menunggumu, tapi hanya karena aku sudah merasa tidak sabar untuk menjadikanmu pasanganku yang sah. Itu saja!

Asalkan ada kepastian darimu, akan kutunggu lamaranmu sampai rambutku beruban!

“Enggak kok Mas! Adik gak capek nungguin Mas! Gak akan pernah!” Ujarku setengah membentak padamu Mas. Aku benci saat kamu tidak percaya diri seperti ini.

“Kalau gitu Adik sabar ya. Nanti, akan tiba waktunya Mas melamar Adik, dan kita bertemu di pelaminan sambil mengucapkan sumpah setia.”

“Iya, Adik bakal terus nungguin Mas.”

Lalu kamu tidak berkata apa-apa lagi. Hanya tersenyum. Tampan…

***

APA-APAAN INI??

Bagaimana mungkin kamu tega melakukan hal ini padaku Mas Andri?

Sebelum denganmu, aku sudah tiga kali pacaran, dan dari ketiganya, tidak ada yang memutusku lewat pesan singkat di telepon selular. Apa kamu gila?

Kamu yang telah menjadi pelitaku selama 7 bulan ini? Kamu yang menjadi alasanku untuk segera lulus dari kuliah. Kamu yang memberiku semangat dalam memasuki dunia kerja yang keras. Kenapa tiba-tiba meninggalkan aku, memutuskan aku lewat SMS, dan pergi kuliah ke luar negeri tanpa pamit padaku? Apa salahku padamu Mas?

“Lupakan saja dia Mir, dia itu sama saja dengan cowok-cowok di dunia ini. Suka mempermainkan wanita, nanti kalau udah ngerasa  gak butuh, langsung dibuang gitu aja. Dia itu gak pantes buat elo tangisin!” Desi, sahabat baikku sejak di bangku kuliah menasehatiku. Dia bilang kamu itu sama saja dengan pria-pria berengsek di luar sana Mas.

Tapi itu karena Desi tidak mengenalmu Mas. Karena itulah dia bisa berkata seperti itu. Dia tidak mengenalmu yang mengucapkan kata-kata cinta penuh ketulusan kepadaku. Dia tidak mengenalmu yang setiap hari memberiku semangat untuk menyelesaikan skripsi. Dia tidak mengenalmu yang bahkan rela ikut terjun ke lapangan membantu penelitianku. Dia tidak mengenalmu yang menghabiskan waktu untuk menemaniku berziarah ke makam ayahku. Dia tidak mengenalmu Mas!

Tapi aku mengenalmu. Dan aku tahu, kamu bukan pria seperti itu. Kamu adalah lelaki terbaik yang pernah kukenal. Aku tidak pernah merasa memiliki ikatan yang kuat dengan pacar-pacarku yang dahulu. Namun denganmu, aku merasakan ikatan itu sangat kuat. Dan itu membuatku yakin akan dirimu.

Hanya saja, seberapa kuat pun aku berusaha mempertahankan perasaan ini, pada kenyataannya, yang dikatakan Desi adalah kenyataan. Kamu tidak kembali lagi padaku, meninggalkanku sendiri di dalam kegelapan. Ya, pada kenyataannya, kamu telah pergi. Dan aku tidak tahu, apakah kamu akan kembali atau tidak.

Mungkin benar kata Desi, aku harus melupakanmu…

***

 “Saya terima, nikahnya Mira Indriyani, SE binti Muhammad Abduh dengan mas kawin…”

Tak terasa, tetes air mata membasahi pipiku karena kata-katamu barusan, Mas Arif Setiabudi, pujaan hatiku sekarang yang telah dengan sempurna menggantikan posisi Mas Andri yang telah meninggalkanku dengan penuh keangkuhan.

Ya, kini aku telah menikah dengan orang lain. Mas Arif Setiabudi, seorang wiraswasta yang dengan gagah langsung melamarku dengan penuh kerendahan hati. Dia langsung melamarku, tidak ada proses pacaran, tidak ada proses tunangan, hanya lamaran. Entah kenapa, aku merasa yakin dengan sikapnya. Mungkin karena pengalaman pahitku bersama Mas Andri, membuat aku merasa apatis dengan pacaran dan segala janji-janji busuknya. Sehingga saat ada seorang lelaki normal yang melamarku, aku langsung merasa yakin dengan orang itu.

Aku percaya engkau akan menjadi imamku yang hebat, Mas Arif!

Setelah proses Ijab Qabul selesai, kita langsung melanjutkan ke proses resepsi. Di dalam gema suara do’a yang terpanjat dari para hadirin, aku dan Mas Arif melakukan salah satu prosesi yang cukup penting di dalam keluarga kami, yaitu sungkem[2]. Kami meminta ijin kepada orangtua kami untuk melanjutkan kehidupan kami dalam rumah tangga yang baru. Rumah tangga yang dipersatukan oleh indahnya agama islam. Sebuah hubungan yang tidak ada di dalamnya kecuali ridha Allah dan kasih sayangNya.

Sebuah hubungan yang telah lama kuimpikan…

Dan kini aku telah meraihnya, tapi tidak denganmu, Mas Andri, melainkan dengan Mas Arif, imamku yang telah mengambilku dari tempat yang kelam di dunia, dan membawaku ke dalam cahaya rumah tangga yang sah dan menjanjikan kebahagiaan.

Ya Allah, berkahilah rumah tangga dan cinta kita…

***

Tak terasa, sudah dua tahun aku meninggalkan Indonesia. Dengan segala daya dan upaya, akhirnya kuselesaikan studiku di Jepang. Kini aku seorang lulusan S2!

Di Jepang, aku belajar tentang ekonomi, terutama Koperasi. Adalah sebuah kebetulan yang bagus juga ketika di Jepang banyak Koperasi susu yang maju dengan pesat. Sehingga aku bisa belajar langsung dari para praktisi koperasi. Yah, walaupun di waktu kuliah S1 dulu, aku juga sudah merasakan langsung dinamika koperasi yang ada di koperasi mahasiswa kampusku, tetap saja pengalaman di Jepang menimbulkan banyak ketakjuban.

Dan sekarang, setelah semuanya kulalui, aku semakin mantap dengan pilihanku. Aku tidak akan menjadi menara gading di Indonesia ini, aku akan turun ke masyarakat, dan membantu kemajuan koperasi-koperasi kecil yang ada di tanah air. Namun tentunya, sebelum bisa menjadi pemberi saran yang baik, aku harus benar-benar merasakan pahit manis bersama koperasi dulu. Karena itulah, aku berniat untuk membentuk koperasi baru bersama teman-temanku. Prinsipnya hampir sama dengan wirausaha, jalani dulu baru belajar. Kalau kelamaan belajar, nanti tidak akan jalan-jalan.

Ah, memang hasratku yang tiba-tiba meninggi ini harus memakan korban. Dik Mira, wanita cantik yang telah mengambil hatiku, harus kukorbankan. Sejak awal aku memang berniat untuk terus di Jepang sampai aku lulus, tidak pulang ke Indonesia, dan hanya berkonsentrasi pada studiku. Karena itulah, aku memutuskan untuk melepasmu, Dik Mira.

Sebenarnya aku sempat bimbang, benarkah aku harus meninggalkanmu? Jika pertanyaan itu ditujukan ke hatiku, tentu jawabannya adalah tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu. Kalau bisa, aku ingin mengajakmu ke luar negeri, kalau bisa aku ingin terus berada di sampingmu, menjagamu.

Sejujurnya, aku masih terus bimbang akan keputusanku. Sampai Nano, sahabatku, mengatakan sesuatu kepadaku waktu itu.

“Lu yakin mau nerusin hubungin lu nDri?” tanyanya waktu itu, penuh selidik.

“Insya Allah No. Gue gak pengen ninggalin dia. Rasanya aneh kalau gak ada dia.” Jawabku yakin. Waktu itu.

“Trus kalian mau LDR-an gitu?”

“Ya, mau gimana lagi.”

“Coba Lu pikir baik-baik deh nDri.”

“Apanya No?”

“Gini deh. Guee omongin gampangnya aja. Dia itu gak mungkin lu ajak ke luar negeri kan?”, kubalas dengan anggukan, “Nah, sekarang gue tanya, Lu enggak kasihan lihat dia jadi cewek kesepian yang enggak jelas pasangannya di mana?”, lagi-lagi, kubalas dengan anggukan pertanda setuju, “Makanya itu, apa enggak lebih baik kalau lu lepas hubungan ini aja. Dengan begitu, dia gak akan terbebani dengan cintanya ke kamu. Dan, jika dia emang udah pengen nikah, dia bisa nikah dengan laki-laki yang ada di dekatnya. Laki-laki yang nyata!”

“Tapi No…”

“Ahh, udahlah nDri. Udah sering kok seorang lelaki sengaja memutuskan hubungan dengan kekasihnya, demi tidak menyiksa si perempuan dengan ketidakpastian. Lu itu bakal pergi lama nDri, dan Mira juga gak mungkin ikut sama kamu!”

“Emangnya gak bisa kuomongin baik-baik dengan Mira?”

“Kalau lu ngomongin baik-baik, Mira pasti bakal bilang gak papa dan pengen nungguin Lu. Tapi kan Lu tahu, cewek gak akan kuat pada saat waktu sudah bergulir nantinya. Tinggalin dia nDri, biarin takdir yang menuntun kalian berdua!”

Itulah, karena percakapan itu, akhirnya aku memutus Mira lewat SMS, pergi meninggalkannya tanpa kabar apapun. Hanya pergi. Dan aku tahu, Mira pasti sedih karena perlakuanku ini. Mira pasti merasa aku adalah seorang bajingan tengik yang mempermainkannya. Tapi tak masalah, ini yang terbaik buat kami.

Dan sekarang, kudengar Mira sudah punya suami. Bahkan kata Desi dia sudah hamil. Aku sedih, tapi juga turut bahagia untuk mereka. Arif adalah lelaki yang beruntung, dia mendapatkan Mira. Dia memang bukan lelaki biasa, dia bisa mengajak Mira untuk memakai jilbab. Walaupun memang, pada akhirnya, hidayah adalah milik Allah, tapi pasti ada usaha dari Arif untuk mengajak Mira mengenakan jilbab. Arif juga mampu menafkahi Mira dengan baik.

Dia lelaki yang hebat, pantas untuk Mira…

Insya Allah, aku ikhlas. Semoga bahagia, Mira. Aku sudah tidak mempunyai hak untuk memanggilmu Dik lagi.

Aku jadi teringat pada pelajaran ekonomi saat SMA dulu, mungkin ini apa yang disebut dengan biaya peluang. Di mana aku harus mengorbankan salah satu hal yang sangat ingin kuraih, demi meraih sesuatu yang lain.

Yogyakarta, 5 April 2012



[1] Harta untuk melamar seorang perempuan dalam islam

[2] Kegiatan memohon restu/do’a/maaf kepada orang yang lebih tua, biasanya dilakukan sambil berlutut dan mencium tangan orang yang lebih tua

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>