Biografi Muhammad Yamin

Dilahirkan di Sawahlunto, Sumatra Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903. Meninggal di Jakarta pada tanggal 26 Oktober 1962.

Sejak masa mudanya aktif dalam pergerakan kebangsaan. Pernah menjadi ketua Pengurus Besar Jong Sumatranen Bond, Indonesia Moeda, Partindo, Parpindo dan lain-lain. Pelopor penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa modern yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Penganjur dan pengamal yang produkif untuk menulis dalam bahasa Indonesia, baik prosa maupun puisi, mulai sekitar tahun 1920. Kumpulan sajaknya Tanah Air yang ditulis berkenaan dengan peringatan lima tahun berdirinya JSB terbit tahun 1922, merupakan buku puisi pertama dalam bahasa Indonesia. Dalam kumpulan sajak itu, ia masih menyanyikan pulau tempat kelahirannya, Andalas, sebagai “tanah airnya”, tetapi dalam kumpulan sajaknya yang terbit tahun 1928 menyambut kongres Indonesia Moeda yang berlangsung di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 berjudul Indonesia, Tumpah Darahku, ia bersemboyan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh” dan merupakan oda bagi persatuan dan kejayaan Indonesia Raya.

Kecuali menulis sajak, Yaminpun menulis drama yang berlatar belakang sejarah umpamanya Ken Angrok dan Ken Dedes (1930) dan Kalau Dewi Tara Sudah berkata …. (1930). Dia memang mempunyai minat yang luar biasa terhadap sejarah nasional. Drs. R. Moh. Ali dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia (Jakarta 1961), menyebut Mr. Muhammad Yamin sebagai “Petutur-penyelidik Sejarah Indonesia dan satu-satunya perumus masalah-masalah Sejarah Indonesia dengan gaya-kepribadian yang khusus bersifat Indonesia-centris (h.182). Dengan fantasi seorang romancier. Yamin menulis tentang Gadjah Mada, (1948), Pangeran Dipanegara (1950) dan lain-lain.

Kecuali terhadap sejarah dan sastra, iapun mempunyai minat yang besar terhadap politik dan hukum, terutama hukum adat dan hukum Internasional. Mengenai lapangan-lapangan tersebut, dari kalamnya telah lahir: Sapta Dharma, Proklamasi dan Konstitusi, Revolusi Amerika, Irian Barat Wilayah Republik Indonesia, Pembangunan Semesta dan lain-lain. Adapula ia menterjemahkan hasil sastra asing ke dalam Bahasa Indonesia, antaranya buah tangan Rabrindranath Tagore: Menantikan surat dari Radja dan Di dalam dan di luar rumah tangga dan buah tangan William Shakespeare: Julius Caesar.

Dalam jaman penjajahan Belanda, ia selalu menjadi pengacara. Dalam jaman penjajahan Jepang, ia menjadi penasehat Sendenbu-Sendenka Jakarta. Dan sesudah merdeka berkali-kali ia menjadi menteri dalam negeri dalam berbagai kementrian berbagai kabinet, antaranya sebagai Mentri PP dan K, Mentri Kehakiman, Mentri Penerangan, Mentri Urusan Khusus. Diapun memberi kuliah di berbagai universitas yang banyak didirikannya tatkala dia menjadi mentri P.P. dan K. Ia juga menjadi Ketua Dewan Perancang Nasional.

Diambil dari buku: Membicarakan Puisi Indonesia karangan Ajip Rosidi

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Biografi Muhammad Yamin

  1. Pingback: [Puisi] Kemegahan oleh Muhammad Yamin | SastraNesia

  2. Pingback: Informasi Mengenai Bulan Bahasa | SastraNesia

  3. Pingback: 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>