Cerpen “Air Mata Emak”

Cerpen “Air Mata Emak”

Air Mata Emak
Karya Latif

tik..tik..tik….
Detak jam terus berlalu, rasanya mata ini sudah jenuh melihat jam di tangan. Emak masih sibuk di belakang dengan rutinitas mencuci lantai papan tetangga.
Maklum, kami tinggal didaerah perairan dan rata rata rumah di kampung kami berupa rumah rumah panggung dari bahan papan.
Menjelang Ramadan dan Lebaran setiap tahun, emak banyak order dari tetangga untuk mencuci lantai papan.
Air sungai sudah penuh kuisi dalam baskom, untuk menyiram kotoran dari lantai yang dicuci emak. Keringatku yang menetes karena lelah mengangkut air dari sungai, tak sebanding keringat emak.
Tetesan keringat terus meluncur deras dari raut muka emak. Emak masih saja tetap semangat meskipun kutahu emak letih, namun emak pandai menutup letihnya dengan senyum lebar kepadaku.
Azan Ashar terdengar berkumandang, jam sudah menunjukkan pukul 15.25 WIB. Emak masih mencuci lantai, dan seperti biasa aku pergi ke masjid salat berjamaah. Hati ini tak tega tinggalkan emak sendiri, apalagi nanti emak yang angkut air sungai ke baskom.
“Nak, sudah azan. Pergilah ke masjid, biar emak yang angkut air ke baskom”.
“Zidan salat di rumah aje berjamaah same emak. Biarlah Zidan bantu emak dulu”.
“ Yelah, Nak. Sebentar lagi emak selesai. Kite jamaah aje nanti ye”.
Alhamdulillah, akhirnya emak selesai juge cuci lantai tetangga. Kalau sudah selesai emak biasanya diberi upah Rp 25.000.
Meskipun dengan upah kecil, yang kuanggap tak sebanding dengan tenaga dan keringat emak. Namun, emak tetap mensyukurinya, tidak pernah mengeluh.
“Macik Yah!”
Terdengar suara memanggil nama emak. Kami pun menoleh ke belakang, ternyata majikan emak.
“Ini upah cuci macik, upahnya dipotong karena Macik lambat mencucinya”.
Kesal dan sedih berkecamuk dalam hatiku, seenaknya saja majikan tersebut memotong upah emak dari Rp 25.000., menjadi Rp 20.000. Namun, tak sedikit pun kekecewaan tampak diwajah emak. Emak tetap senyum mengambilnya.
“Terima kasih, Bu Yani. Kami balek dulu. Assalamualaikum…”.
“Ya, walaikumsalam”.
Hatiku geram dengan majikan tersebut, emak lempar salam dengan sopan, die jawab dengan ketus. Akhirnya, kami pun balek ke rumah untuk berisitirahat dan salat Ashar berjamaah.
Tiba tiba langkah kaki ku terhenti mendengar suara cemoohan yang menyakitkan hati aku dan emak”.
“Hhmm.., dasar si miskin”.
Seakan tak mendengar, emak terus melangkah sambil memegang tanganku meninggalkan rumah majikannya. Ingin rasanya kuhentikan langkah kakiku untuk memaki dan memarahi majikan emak itu.
Namun tanganku terus dipegang emak, dan mengiring diriku ke luar dari rumah majikannya. Ekspresi emak biase saje seakan tak berpengaruh terhadap ucapan majikannya tersebut.
Sepanjang jalan emak tak bersuara, meskipun sesekali aku mempertanyakan, mengapa emak melarangku memarahi majikannya itu.
Ekspresi diwajah emak pun tetap seperti tadi, seakan tak mempersoalkan cemoohan majikannya. Akhirnya kami tiba di rumah untuk beristirahat sejenak dilanjutkan makan siang dan salat Ashar berjamaah.
Seperti biasa kalau salat di rumah aku jadi imam, karena abah kerja di suatu kota. Alhamdulillah, selesai juga kewajiban kami sebagai mukmin dengan melaksanakan salat.
Kuputar tubuhku menghampiri emak, untuk mempertanyakan cemoohan majikan emak yang terus terngiang ditelingaku. Ekspresi wajahku tiba tiba muram melihat emak beruraian air mata.
“Mak, ngape emak menangis?”
“Tak ape, Nak. Emak memang tak sekolah. Tak pandai baca tulis, dan abah hanya tamat SD. Harapan emak dan abah pade Zidan. Emak berharap Zidan kuliah yang tinggi agar jadi orang, biar nasib kita berubah tidak miskin lagi.
Mak sengaja larang Zidan tadi, sebagai anak emak, emak tak mau Zidan tak sopan dengan orang tue. Marah pun Zidan dengan majikan emak, tak bise mengubah nasib kite. ”
Hatiku tersentak. Kuusap air mata emak dengan jemariku, kutak ingin emak menangis dan sedih. Air mataku pun menetes, karena terbawa rasa melihat emak menangis.
Emak benar, marah tak mengubah nasib kami yang miskin. Aku janji pade emak, kelak jadi orang sukses dan membanggakan emak dan abah. Emak tersenyum.
Hati ini senang sekali melihat emak tersenyum. Kucium kenang emak dan peluk erat tubuh emak. Aku tak mau emak menangis karena nasib kami miskin, dan terus dihina tetangga.
Malam ini tak seperti biasa, emak tidur lebih awal. Jam baru menunjukkan pukul 20.30 WIB. Biasanya kalau jam begini emak ngajarkan aku ngaji. Kutatapi wajah emak yang mulai berkeriput, mata emak cekung karena letih seharian bekerja.
Tangan kanan emak menopang wajah, tangan kiri emak melengkung menyentuh tikar , kedua kaki emak seperti orang mencangkung.
“Ya Allah, berikan emak dan abah umur panjang yang berkah. Jadikan aku sebagai anaknya yang bisa membanggakan dan membahagiakan orang tuaku ya Allah”.
Tak terasa air mataku menetes sedih melihat emak. Kuambilkan selimut menutupi tubuh emak yang mengigil. Kucium kening emak curahan sayangku pade emak.
Diriku tersentak, dan ingat kalau emak dan aku belum makan malam. Mau bangunkan emak, tak tega. Emak baru tidur, karena letih. Aku ingin makan malam bersama emak.
Sambil menunggu emak bangun, aku ngaji dekat emak dengan nada pelan agar emak tak terbangun dari tidurnya.
Lantunan ayat Maryam (19:14) memberikan kesan mendalam kepadaku tentang bakti kepada orang tua, “dan seorang yang berbakti kepada orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”.
Tak terasa air mataku berlinang teringat atas pembangkangan yang aku lakukan terhadap emak, aku tak mau jadi anak durhaka.
“heek…heek…”
“heek…heek..”
Ternyata tangisanku membangunkan emak. Kuhapus airmataku agar emak tak tahu kalau aku menangis.
“Zidan, ngape engkau nangis, Nak?”
“Ape yang terjadi? Jangan buat emak risau!”
Tak ada maksud buat emak risau, akhirnya aku ceritakan semua pada emak. Emak pun hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata karena haru.
“Zidan tuh anak emak yang baek, siape bilang anak durhaka? Zidan tetap seperti ini aje yeh, agar dapat emak handalkan”.
Itulah air mata terakhir emak. Sudah 12 tahun berlalu, kini Zidan emak sudah jadi anak sukses.
Air mata emak tak sia-sia untuk Zidan, kini air mataku yang menetes dipusara emak. Zidan rindu emak, rindu dekapan dan belaian emak.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: