[CERPEN] Aku Diano

Aku Diano. Bermain bola adalah hobiku sejak aku kelas lima SD. Bahkan sekarang seperti sudah mendarah daging hingga usiaku 20 tahun. Namun, ada satu kejadian yang memaksa hobiku ini berpisah dariku. Kakiku diamputasi 2 hari yang lalu. Aku tersambar motor berkecepatan tinggi. Tidak tanggung-tanggung, aku tertabrak tepat di pusat ban depannya. Aku terpelanting 3 meter ke tepi jalan. Syukur aku masih sadar dan merasa bahwa aku jatuh di tempat yang tepat, bukan di tengah jalan. Kakiku terpaksa dipisah dari tubuhku. Tidak tanggung-tanggung, yang diamputasi adalah kedua kakiku. Aku menangis seharian kemarin. Aku merasa sudah tiada guna kuhidup di dunia. Aku menangis dan merenung. Aku mencoba menghibur diri dengan bersyukur masih deberi kesempatan hidup tapi apalah arti hidup bila terus menyusahkan orang lain? aku sempat berniat mati saja hari itu. Pisau buah sudah berada di tangan kananku. Ingin melakukannya tetapi aku takut. Aku takut kematianku memperparah diriku. Aku sadar masih banyak dosa. Aku berpikir, mungkin ini jadi titik balikku untuk bertaubat. Setidaknya aku memastikan akan mati dalam keadaan sudah kembali padaNya.

Hari ini adalah hari kedua setelah tragedi mengenaskan itu terjadi. Aku mulai berusaha tersenyum, meski aku menyadari bahwa senyum tidak melegakan sedikitpun. Aku masih merasa terjerembab dalam penyesalan. Andai saja aku tidak berusaha mengambil layangan putus itu. lagipula layangan itu hanya seharga lima ribu rupiah. Tidak sebanding dengan resiko yang terjadi. Dan kini aku menanggug resiko itu. Entah mengapa air mataku kembali berair melihat ibuku dan ayahku juga tersenyum saat aku berpura-pura tersenyum.

 

Maaf ibu, ayah. Aku lagi-lagi merepotkan dirimu.

 

Di saat aku menangis melihat orangtuaku, adikku datang membawa sebuah buku. Itu buku favoritku berjudul “Syarat Pertama Menjadi Orang Besar adalah Membumi.”

Buku itu aku dapatkan dari penulisnya langsung dan dihadiahi olehnya tanda tangan tepat satu halaman setelah cover. Adikku selalu tahu apa yang kubutuhkan di saat aku jatuh. Ada saja kelakuannya yang tidak aku sangka sebelumnya. Seringkali ia menjadi penghibur di saat suasana rumah sedang tidak baik.

 

Ini buku kakak” adikku menyodorkan buku dengan sunggingan senyum khasnya.

 

Aku berterima kasih pada adikku karena sudah memberi perhatiannya padaku. Aku menggenggam buku ini. Aku membuka lembaran yang sudah agak lusuh di bagian tepinya. Aku selalu menaruhnya di tas sekolah. Buku ini sudah sering kehujanan dan tertindih buku-buku sekolahku yang lebih berat bobotnya. Alhasil buku ini terdapat lipatan di sana sini dan kusam di bagian depannya. Tapi selalu menarik untuk dibaca. Aku sebenarnya tidak terlalu suka membaca, karena buku ini punya cerita tersendiri saja maka aku jadi suka membaca buku.

Seminggu berselang setelah kakiku diamputasi, aku masih terbaring di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa aku belum sembuh total. Luka bekas amputasi masih belum mengering. Sekitar dua minggu lagi baru aku sudah boleh pulang tetapi dengan syarat kondisi jiwaku sudah stabil. Dua minggu bukanlah waktu yang sebentar. Entah aku harus menghabiskan waktuku dengan cara apa. Setelah selesai menyampaikan yang harus aku ketahui, dokter keluar mengajak ibuku. Mereka berbincang sesuatu yang tidak ku ketahui. Mungkin berbicara mengenai diriku yang harus selalu diberi semangat atau apalah aku tidak terlalu peduli. Aku memilih kembali membaca buku favoritku. Dua puluh halaman lagi aku akan segera menyelesaikannya. Cerita di dalam buku ini aku baca sembari membayangkan bagaimana kisah ini bekerja. Entah aku seperti dibuat hipnotis oleh  buku ini. Setiap kalimat yang tertulis seperti ada daya tarik. Aku berpikir, setiap kalimatnya sepertinya cocok dijadikan quotes dan sangat inspiratif untuk disebar di media sosial. Membaca buku ini aku merasakan bahwa hidupku baik-baik saja. Aku hampir lupa bahwa kedua kakiku telah tiada. Aku tidak ingin memikirkan bagaimana aku sepulang dari rumah sakit ini. Pasti akan sangat memilukan. Hanya bisa tidur di kasur, duduk bersandar bantal kasur, dan kegiatan metabolism tubuhku harus didampingi orang rumah. Aku tidak ingin berpikir lebih jauh. Masa depanku terlihat cukup mengerikan dan aku berusaha menepisnya dan kembali membaca buku.

Buku favoritku ini telah selesai kubaca dalam waktu singkat saja, hanya tiga puluh menit. Sekarang sudah pukul dua siang. Adikku berjanji kan ke rumah sakit sepulang sekolah. Aku bergumam seharusnya ia sudah tiba di sini sebab ia pulang sekolah pukul 11 siang. Hari ini juga tidak ada les di jadwalnya. Pintu kamar ruang rawatku terketuk. Ini pasti adikku dan benar saja ia datang. Membawa bungkusan kotak berlapis Koran. Bungkusan itu mengingatkanku akan tukar kado di sekolah. Ia datang (lagi) dengan sunggingan senyum yang sama. Tangannya menjulur padaku dengan bungkusan Koran itu.

 

Ini untuk kaka” ujarnya

 

Aku berterima kasih sekali pada adikku yang masih memberi perhatian pada kakaknya. Ini sudah beberapa kali ia selalu memberiku hadiah. Aku membukanya dengan perlahan. Berharap hadiah ini adalah sesuatu yang indah, entah apa. Dan alhasil ia ternyata menghadiahiku sebuah buku. Di buku tersebut terdapat notes di sana bertulis kata mutiara yang indah. Bentuk tulisannya juga sangat bagus dengan ukiran yang sangat apik. Aku sedikit terenyuh akan kata-kata itu. tertulis di sana.

 

Khairunnas anfauhum linnas

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”

 

Aku tersenyum kepada adikku satu-satunya. Ia selalu memberi motivasi padaku setiap aku merasa dunia ini kelam, seakan segera memangsa siapa saja yang tidak punya semangat.Aku selalu berdoa kepada Allah semoga adikku selalu diberi keberkahan dalam hidupnya. Tidak terasa air mataku menetes. Pipiku becek. Membaca kata-kata dalam tulisan itu, membuatku berpikir bahwa hidup ini adalah memberi manfaat. Sepertinya adikku lebih dewasa sebelum waktunya. Ia seakan mengerti bahwa dirinya harus dipenuhi manfaat dan kehadirannya membawa keceriaan. Aku berpikir, kebermanfaatan apa yang harus dilakukan oleh orang yang tidak sudah tidak memiliki kaki? Aku masih punya anggota badan lainnya. Apabila aku tidak bermain bola dan bermain layangan lagi, setidaknya aku bisa menulis dengan tanganku tentang kisah seseorang tiada kenal letih meraih cita-citanya menjadi pesepakbola professional kelas dunia atau menjadi pilot yang ahli menerbangkan pesawat. Aku tersadar bahwa diri ini masih punya manfaat dan diri ini tidak boleh mati sia-sia.

Tentang Penulis

Prasetyo Aji Laksono. Kelahiran Jakarta, 7 Mei 1997. Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia jurusan Antropologi Sosial tahun 2015. Presiden Asrama Rumah Kepemimpinan Regional Jakarta, Ksatria UI angkatan 8. Alumni SMAN 39 Jakarta 2015. Mulai menulis karya sastra sejak awal tahun 2015. Menyelam dunia menulis dan menuangkannya di halamaninspirasi.co/prasetyoajilaksono

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to [CERPEN] Aku Diano

  1. Pingback: #BC Kopdar : Review Cerpen Aku Diano, PAL – DEARLANGIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>