[CERPEN] Aku Lapar Karya Leo

[CERPEN] Aku Lapar Karya Leo

Aku Lapar

Dia terbaring di kasur dengan tangan dan kaki terikat, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada cahaya, hanya pantulan pecahan kaca yang sesekali menyilaukan mata. Langit-langit  tampak biasa saja. Debu dan kotoran di mana-mana. Tak ada desiran angin, ataupun ringkikan hewan kecil. Hanya kesunyian yang mengisi, entah sudah berapa lama dia terkurung di dalam kamar itu. Tak ada yang tahu pasti, bahkan oleh dia sendiri.

Tampak sebuah teralis besi yang menutupi satu jendela besar pada satu sisi kamar, di sebelah kanan rak buku yang telah lapuk akibat dimakan jamur. Sinar matahari tak akan mampu menembus tirai yang telah diganti dengan papan yang dipaku dari luar.

Masih terikat – masih terbaring, perlahan ia palingkan wajahnya dan memandangi seisi kamar. Tak ada satu barang pun, selain kasur, cermin setengah pecah dan rak buku yang sudah lapuk itu. Tak ada keramik ataupun karpet pada lantai yang disemen secara serampangan. Dinding berlapis cat warna putih polos. Sangat sukar menggambarkan kondisi ruangan tanpa penerangan yang memadai.

Kamar itu mungkin pernah ditempati oleh pemuda seusianya. Tapi sisa-sisa jiwa muda tampaknya telah dimusnahkan. Satu-satunya yang tersisa hanyalah sesosok tubuh kurus yang terbaring di atas kasur dengan tangan dan kaki yang terikat rantai besi.

Rio tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya dan sedang berada di mana dia sekarang. Mengapa dia bisa berada di sana, mengapa dia terbaring di kamar itu dengan tubuh yang terikat pula.

Mungkin seseorang telah membiusnya lalu mengurungnya di dalam kamar itu selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Atau mungkin saja telah terjadi kecelakaan lalu dia mengalami koma. Entahlah, semua kesimpulan itu hanya akan membuatnya sakit kepala. Akhirnya ia mencoba untuk mengosongkan pikirannya.

Setidaknya dia harus mencoba untuk melepaskan dirinya dari jeratan rantai yang telah mengikatnya itu. Dia tidak ingin terbaring di dalam kamar busuk itu untuk selama-lamanya. Kondisi tubuhnya saat ini masih terlalu lemah. Begitu juga dengan kondisi mentalnya.

Langkah awal yang dia lakukan, pertama-tama ia mencoba untuk menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Rasanya begitu kaku, rantai besi sialan itu benar-benar tak bisa dilonggarkan. Dalam kondisi tubuh yang masih setengah sadar, sulit baginya untuk memusatkan kekuatan pada kaki dan tangannya.

Setelah beberapa kali mencoba sambil memejamkan mata dan berdoa, ia berhasil melonggarkan ikatannya. Perlahan-lahan ia menarik-narik rantai tersebut ke kiri dan ke kanan lalu dengan gerakan setengah memutar, hingga jeratan rantai itu pun berhasil terlepas menyisakkan bekas lecet kemerahan dengan rasa perih yang sungguh menyiksa. Tapi rasa lapar seolah menutupi itu semua.

Tak dapat menahan rasa laparnya lebih lama, Rio meletakkan sikunya pada kasur lalu perlahan membangkitkan tubuhnya. Ketika mencoba bangkit, urat-urat di persendian tubuhnya menimbulkan sensasi serasa ditarik-tarik yang sangat menyakitkan. “Ya Allah, sakit sekali!,” pikir Rio. Tubuhnya mengejang setiap kali ia mencoba untuk bergerak. Tapi Rio terus mencoba, mengumpulkan sedikit tenaganya, mencoba berdiri sejenak lalu terduduk karena kehabisan tenaga.

Rio masih tampak terkejut dengan kondisi tubuhnya yang kurus dibalik pakaiannya yang sudah lusuh dan compang-camping. Benar-benar mimpi buruk. Bagaimana bisa ia terbangun dengan kondisi tubuh seperti ini?. Rasanya sangat sulit untuk dipercaya dan benar-benar tidak masuk akal.

“Sungguh hal yang sangat mustahil, dalam hati Rio bertanya-tanya. Apakah tuhan telah mengutukku?.” Di dalam otaknya seolah dipenuhi dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang takkan terjawab.

Akan tetapi belum saatnya dia mencari jawaban atas kondisi anehnya itu. Satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah mencoba meloloskan diri. Setelah berhasil berdiri ia turunkan kakinya sampai menyentuh lantai. Permukaan lantai yang kasar menimbulkan rasa tidak nyaman pada telapak kakinya, bagai tertusuk serpihan paku, rasanya sungguh menyiksa.

Dia berjalan terhuyung-huyung di kegelapan sambil meraba dinding mencari jalan keluar. Rasa sakit di sekujur tubuh seolah memperlambat pergerakannya. Dengan bersusah-payah ia menggapai gagang pintu lalu menariknya dengan sekuat tenaga. Perlahan pintu itu terbuka dengan disertai bunyi berdecit yang menyakitkan telinga. Ia melangkah keluar mendapati sebuah lorong yang begitu panjang dan juga gelap, tapi tak segelap kamar yang mengurungnya.

Ia langkahkan kakinya perlahan menyusuri koridor sambil menjaga keseimbangan tubuh supaya tidak terjatuh. Hanya terdapat satu pintu pada lorong itu, yang terbuat dari kayu yang berwarna gelap senada dengan warna dinding. Mencoba membukanya demi mendapatkan beberapa petunjuk dan pemahaman atas kejadian yang dialaminya itu.

Akan tetapi kebutuhan untuk segera menuntaskan rasa laparnya itu benar-benar telah mengalahkan rasa penasarannya. Ia harus segera mengisi perutnya dengan makanan, jika tidak segera makan ia bisa saja mati.

Dan dalam kondisi ruangan yang hanya dipenuhi dengan kegelapan ia hanya bisa meraba dan mendengus ke segala arah. Wangi aroma masakan melayang merasuk ke dalam hidungnya, merusak konsentrasinya, membuat usus dalam perutnya seolah berputar-putar, memelintir perutnya yang kosong. Air liurnya menetes tak terkendali.

Untuk mencapai sumber aroma, ia harus melewati dua puluh anak tangga. Benar-benar penderitaan yang tak ada habisnya. Berjalan pada permukaan tangga yang curam di kegelapan – benar-benar seperti di neraka. Tubuhnya yang lemah tak kuasa mempertahankan keseimbangan. Ia nyaris terjatuh dan membentur pinggiran tangga.

Sesampainya Rio di lantai bawah, ia dudukkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam, mengembalikan tenaga yang terkuras lalu terpincang-pincang mencari ruang makan. Dia melewati beberapa pintu kayu yang sama dengan langit-langit dan dinding-dinding tanpa cahaya.

Melangkah ke satu-satunya ruangan yang bercahaya dengan pintu yang terbuka. Makanan tersaji di depan mata, di atas meja besar bentuk persegi panjang.

Ada delapan kursi tapi tak terlihat tanda-tanda penghuni rumah. Nampak susunan sendok, garpu dan serbet yang masih tertata rapi, menandakan bahwa makanan belum tersentuh. Dari posisi tempat duduk yang masih nampak rapi dapat dipastikan belum ada satu orang pun yang mengisi ruangan tersebut kecuali sang koki ataupun pelayan yang juga tak menunjukkan tanda-tanda keberadaan mereka. Lantas untuk siapa makanan sebanyak itu?.

Tapi rasanya pertanyaan itu tidak akan terjawab dalam waktu dekat. Rio segera menduduki kursi, meraih makanan terdekat yang bisa dijangkau dengan tangannya dan segera memasukkannya ke dalam mulut tanpa peduli ada sendok dan garpu, merobek potongan daging tanpa bantuan pisau lalu menelannya bulat-bulat dan meminum segelas besar air putih demi melegakan rasa lapar dan hausnya itu.

Setelah perutnya terisi penuh, Rio berdiri sejenak lalu duduk kembali sembari menarik nafas karena kekenyangan.

Tiga puluh menit kemudian rio berlari menaiki tangga. Melewati lorong gelap yang tadi ia lewati, meraih gagang pintu menuju kamar yang sama lalu menutupnya rapat-rapat. Tanpa pikir panjang ia pun tertidur kembali.

 

 

 

Tentang Penulis :

 

LEO, memilikki nama lengkap Leo Christianto. Lahir di Sangasanga 13 Oktober 1989 Kab. Kutai Kertanagara. Pendidikan Formal dimulai dari SD 009 Sangasanga selama 4 tahun, lalu pindah ke SD 020 Mangkupalas Samarinda Seberang. Setelah lulus kembali melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Sangasanga dan SMA Negeri 1 Sangasanga.

 

Hobi : Membaca dan Menulis Puisi

 

Saat ini penulis masih bekerja sebagai Karyawan Honorer di salah satu Instansi Pemerintah. Awal menulis sejak dibangku SMP.

 

Apabila ingin berinteraksi dengan penulis, dapat melalui Facebook: Leo Christianto, Twitter: https://twitter.com/ChristiantoLeo, Handphone: 082156825498 atau e-mail: leochristianto01@gmail.com.

 

Terima kasih telah membaca buku ini dan sampai berjumpa lagi di karya-karya saya yang selanjutnya.

 

Salam hangat untuk semua pembaca.

 

 

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: