Cerpen “Duhai Sang Waktu” Karya Ariqy Raihan

Duhai Sang Waktu

“Satu-satunya hal yang akan kusesali adalah ketika datang masanya aku harus membalikkan badan dan tak ada siapapun disana.”

Duhai, Sang Waktu. Ada sebuah perihal yang hendak kukatakan padamu. Bukan hujan yang selama ini kurindukan, ataupun langit senja yang selama ini kunantikan. Aku bahkan tidak akan membahas tentang jalan gelap yang selama ini kutapaki.

Waktu. Jika memang awal adalah permulaan, dan akhir adalah penyelesaian, apakah benar, penyesalan itu ada?

Waktu. Jika memang rindu itu menyesakkan, dan kehilangan itu menyakitkan, apakah benar, penyesalan itu ada?

Waktu. Apakah aku nyata?

Aku takut. Ketika kaki sudah tak lagi berjalan di atas lorong kehidupan, yang sedari dulu kuragukan. Apakah kehidupan itu nyata? atau hanya sepetik bait semu, yang ketika dilatunkan, akan membawa siapapun ke alam mimpi?

Aku takut. Mendayung sendiri di lautan harapan, namun tidak ada siapapun disana. Menembus kegelapan, berharap ada seseorang yang akan menyambut di depan sana. Entah, di tengah samudera ataupun di bibir pelabuhan kelak. Aku hanya takut, kesepian ini abadi.

Waktu. Apakah benar, kesempatan itu ada?

Aku berdoa. Andaikan kamu adalah sisi ter-logis di semesta ini, mudah untuk-Mu melemparkanku balik ke masa lalu. Menghapus masa sekarangku. Memulai kembali perjalanan, mengukir kembali masa sekarangku. Mungkin saja, masa depanku akan berubah. Andaikan, kesempatan itu ada. Dan Kamu benar-benar percaya padaku dengan memberikannya.

Waktu. Aku rindu padamu. Apakah benar, Kau adalah sisi tak logis dari semesta ini?

Waktu. Aku ingin bertemu. Apakah benar, Kau adalah sesuatu yang nyata?

Aku berharap. Waktu mau hadir disini bersamaku. Duduk berdua di bangku taman sebelah rumahku, saling berkisah tentang perjalanan kita. Karena satu-satunya perbedaan adalah, perjalananku adalah cerita yang Kau tentukan arahnya. Sementara perjalananmu adalah menentukan cerita untuk orang-orang sepertiku.

Waktu. Mengapa tak sekalipun Kau menjawab pertanyaanku?

Apakah Kau sudah lelah, menentukan cerita perjalananku? Apakah Kau kini membenciku?

Waktu. Aku mohon, jangan diam seribu bahasa. Aku hanya butuh teman seperlayaran kembali. Mendayung masa lalu untuk mengarungi masa depan yang entah, ada apa di sana.

Jika memang Waktu itu ada, aku takut tak ada lagi harapan bagiku untuk mendapatkan kesempatan. Ya, kesempatan untuk menyesali segalanya. Atas hal yang tak pernah logis bagi semesta ini.

Karena, pelayaran ini tak pernah benar-benar mencapai muara yang dinantikan.

Bogor,

Jumat pertama, Desember 2015

di dalam Kegelapan yang abadi.

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>