[Cerpen] Hancur Lebur

rakk!! Tamparan keras dari ayahku mendarat mulus mengenai pipi hitam penuh lukaku. Namun aku tak membalas, menangis, apalagi lari meninggalkan layaknya anak cengeng yang tak berdaya saat di hajar oleh ayahnya. Kubiarkan wajahku menjadi bulan-bulanan dari berbagai serangan ayahku. Walaupun sakit tak terkira terus menimpa wajahku, tetap saja aku hanya diam. Sudah tidak ada gunanya bagiku untuk melakukan pembelaan dan argumentasi apapun. Bagi ayahku, ibuku, kakakku, dan aku sendiri, apa yang kulakukan sudah cukup untuk membuat aku pantas diperlakukan seperti ini.

“kau pikir ini lucu??”, bentak ayahku dengan keras terhadapku. Di seberang lain dari sudut mataku, kulihat ibuku menangis di dalam pelukan kakakku. Aku masih diam dan bingung untuk memberikan perhatian kepada yang mana. Dan belum selesai lamunanku berakhir, tiba-tiba bogem mentah dari ayahku yang makin keras secara telak menghantam hidungku. Ibuku menjerit histeris. Kakakku memeluk ibuku lebih kencang. Dan aku, jatuh tersungkur sambil memegangi hidungku yang mungkin berdarah. Dan benar saja, aku memang mengeluarkan darah. Namun ayahku seakan tidak peduli dengan hal itu.

“dikeluarkan dari sekolah karena mabuk di kelas? Kau pikir kau ini siapa hah?”, bentak ayahku lebih keras. “jagoan kelas? Preman penguasa seantero sekolah??”

Aku masih diam. Tidak mau mengeluarkan kata-kata lagi. Toh, aku dan semua orang di ruangan itu tahu, apapun jawabanku, tidak akan pernah memberikan kepuasan pada ayahku. Dan memang begitulah, jawaban apa lagi yang dapat kuberikan? Tidak ada.

Satu jam setelah kejadian itu, ayahku masih mencecarku dengan pukulan-pukulan kuatnya. Memang, diusianya yang baru menginjak 40an, memukuli remaja ingusan sepertiku bukanlah hal yang terlalu sulit dan melelahkan. Apalagi aku sama sekali tidak melawan. Bukannya aku takut, atau berusaha menghormatinya. Aku hanya malas meladeni beliau. Tidak akan gunanya berkelai dengan ayah sendiri. Apalagi di hadapan ibuku dan kakakku. Aku tak ingin membuat ibuku menangis lagi. Ayahku? Persetan dengannya. Aku tidak terlalu peduli dengan beliau. Walaupun aku tahu, beliau membesarkanku juga dengan jerih payah. Hanya saja, aku cuma merasa muak padanya. Hanya muak saja, tak dapat kuketahui alasannya mengapa bisa begitu.

Namun ternyata, ayahku mulai lelah untuk terus menghajarku. Setelah sedikit memberi nasihat yang aku sendiri tidak begitu jelas apa maksudnya, dia menyuruhku untuk masuk ke kamar. Dan dengan senang hati, kulakukan hal itu. Ku naiki tangga dengan tubuh agak gontai karena bekas dipukuli dengan hebat. Layaknya maling kampung yang ketauan oleh warga dan dihajar seketika.

Sesampainya di atas, langsung kubuka pintu kamarku dan kututup lagi, kurebahkan diriku di kasur bersprei motif Lazio-tim sepakbola favoritku- dan perlahan mulai kupejamkan mata. Dan dalam waktu yang tak begitu lama, akhirnya aku terpejam. Mungkin karena tubuhku memang sudah sangat lelah dan capek menerima berbagai pukulan dan tendangan itu.

***

Setelah dikeluarkan dari sekolah, kuputuskan untuk tidak mencari sekolah baru lagi. Aku lebih memilih untuk hidup bebas bersama teman-teman gengku agar bisa lebih menikmati hidup. Lagipula, setiap hari dirumah semakin membuatku malas untuk hidup. Tiap hari kerjanya hanya dimarahi oleh ayahku saja. Brengsek! Lebih baik aku minggat dari rumah saja. Kuutarakan niatku itu kepada keluargaku, dengan dalih agar aku lebih mandiri. Dan anehnya, mereka tidak mempersulit niatku itu. Mungkin karena mereka sudah muak melihat wajahku yang sudah penuh piercing dan juga tubuhku yang kurus kering karena terlalu banyak merokok dan minum-minuman keras serta penuh dengan guratan indah hasil dari seorang seniman tattoo hebat yang kupanggil Acing. Sebuah tubuh yang sudah tidak menggambarkan bahwa aku masih berusia 18 tahun. Namun aku tidak peduli. Yang penting aku menikmatinya. Toh, semua teman-temanku sudah menerimaku dengan apa adanya. Sehingga beginilah aku akhirnya, seorang anak jalanan bebas yang tiap hari kerjanya hanya mengamen, nongkrong, ngrokok, dan minum-minuman keras.

“hahahaha, hari ini gue dapet 30.000! lumayan, buat beli Ciu di tempatnya pak Man!”, celoteh Probo. Sohib dekatku yang memang doyan banget buat minum ciu. Dasar, lidah desa. Dia tidak akan doyan jika dicekoki oleh Jack Daniel ataupun Vodka.

“dasar, segitu ajaw udah sok… trus ntar lu mau makan apa?”, balasku dengan sinis. Mengingat aku sudah tau pasti jawabannya apa.

“ya biasa dunk, minta punya lu bro, iya gag ? hahaha!!”, balasnya sesuai dengan dugaanku.

Setelah bercakap-cakap menuju kamar bersama, akhirnya kami membuka pintu kontrakan rumah Joni. Kontrakan tempat aku menumpang selama ini. Saat aku masuk, kudapati 6 orang temanku sedang asik ngefly dengan cimeng kesukaan mereka. Timbul hasratku untuk ikut pesta kecil-kecilan ini.

“Ayo Bo! Kita serbu mereka!! CIAAAAA….!!”, selorohku pada Probo diikuti dengan sebuah sikutan kecil tanda untuk memberi ajakan. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, kita berdelapan asik mengikuti acara ini. Pesta akbar para sampah masyarakat.

***

Pukul delapan malam. Aku baru ingat kalau aku ada kencan dengan Rina. Pacarku di SMA dulu yang masih setia sampai sekarang. Dengan keadaan masih sedikit mabuk dan acak-acakan, kuambil air dan langsung saja kulanjutkan dengan mandi. Rasanya sungguh segar. Dan setelah merasa lebih ganteng dari biasanya. Aku berpamitan dengan teman-temanku untuk segera berangkat ke pesta yang lain. Pesta berdua dengan sang pacar.

Bermodalkan uang 200ribu yang sudah kutabung sejak ngamen minggu kemarin, aku merasa siap utuk berfoya-foya lagi malam ini. Kutinggalkan kontrakan kecil dan kumuh milik Joni, lalu dengan motor pinjaman milik ayahnya Rudi, aku lagsung meluncur menuju Solo Super Mall. Salah satu mall terkemuka di kota Solo ini.

***

Malam yang indah, jalan-jalan di dalam mall kemudian dilanjutkan dengan makan malam yang romantic berdua di HIK depan Mall sungguh asik. Aku merasa bagaikan sudah berada di surga kenikmatan cinta malam ini.

Dan saat perjalanan pulang, setelah megantarkan Rina kembali ke kos-kosannya yang cukup bebas, aku kemudian merenungi nasibku. Sambil membawa sebotol bir bintang di samping bengawan Solo. Salah satu sungai terbesar di pulau Jawa. Aku lantas berpikir, bahwa hidupku sekarang sangatlah sempurna. Sehingga membuatku menyesali kebodohanku dulu yang mau saja disuruh sekolah oleh orang tuaku. Toh, di sekolah aku tidak mendapat apa-apa sama sekali. Kecuali Rina dan teman-teman rusak lain tentunya. Haha.

Dan beginilah, aku masih sangat merasa bahwa hidupku sangatlah sempurna. Tak ada yang dapat merenggutnya sekarang ini.

***

Akhirnya aku hampir sampai pada kontrakan sekitar jam 11 malam. Namun alangkah kagetnya aku ketika melihatnya. 3 mobil polisi berada di depan rumah itu. Dan kulihat Probo, Joni, Endro, dan teman-teman lainnya diborgol oleh polisi-polisi brengsek itu! Wadefak! Apa yang sebenarnya terjadi??! Namun aku segera tanggap, mereka ketauan nyabu! Shit! Kalau aku ke sana sekarang, pasti aku akan ditangkap juga! Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang?

Kuputar otakku. Kucari celah yang mungkin tidak ada. Tapi akhirnya kuputuskan juga sebuah keputusan yang mungkin cukup bodoh. Aku harus kembali ke tempat Rina. Ya, tidak ada pilihan lain!!

Sial, sial, sial!! Aku terus mengumpat dalam hatiku. Aku tidak mungkin kembali ke tempat orang tuaku. Tidak ada harapan di sana. Sekarang, kontrakan Joni pun sudah disatroni oleh polisi. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Untunglah, ya untunglah aku masih memiliki Rina. Sang pujaan hati yang aku yakin sekarang bisa kuandalkan. Setidaknya untuk sekedar tempat persembunyian sementara sampai masalah ini selesai.

***

Akhirnya, sampai juga aku di Tipes. Daerah tempat kos-kosan Rina. Kulihat pintu masih terbuka di sana. Dengan mobil Avanza silver yang terparkir di depannya. Aku tak tahu milik siapa mobil itu. Aku belum pernah melihatnya. Tapi aku tek perduli. Langsung saja kubuka kamar tamu kos itu dan bergegas menuju kamar Rina. Berharap untuk segera bercerita dengannya tentang masalah yang kualami.

Tapi…. Aku sungguh terkejut melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Kulihat Rina dan seorang lelaki dalam keadaan hanya tertutup selimut sedang melakukan hubungan biadab yang tak pernah kusangka sama sekali. Sekali lagi kukatakan-namun kali ini tidak dalam hati- BRENGSEKKK!!

Kulihat kedua hewan itu lekat-lekat saat mereka melonjak kaget mendapati kehadiranku. Aku tak tahu siapa cowok itu. Dan aku juga tidak mau tahu lagi. Tanpa sadar, kulihat sebuah gunting besar yang dulu sering dipakai oleh Rina untuk menggunting berbagai macam kertas untuk mengerjakan tugas sekolahnya.

Aku tak dapat menahannya lagi. Tanpa satu patah kata pun, kuraih gunting itu. Kutusukkan tepat ke perut si cowok. Si cowok yang masih lemas tak punya kesempatan untuk menghindar. Dia pun langsung jatuh tersungkur tak berdaya. Dan langsung kucabut gunting itu dari perutnya.

Rina menjerit histeris. Namun aku tetap tak bergeming. Dan lagi-lagi, tanpa satu patah kata pun. Kutusukkan gunting itu tepat ke perut Rina juga. Tanpa dia sempat bereaksi apa-apa. Kulihat mata memelasnya saat darah keluar perlahan dari perut indahnya yang tak berbusana. Aku terus menatap matanya dan terus. Hingga akhirnya, aku menitikkan air mata. Dan mungkin, aku mulai sadar dengan apa yang telah kulakukan. Sial! Aku benar-benar gila!!

Aku langsung lari tunggang langgang meninggalkan kos-kosan itu. Beberapa teman kos Rina keluar dan heran melihatku yang berlumuran darah. Aku tak menghiraukan mereka. Aku memilih untuk segera berlari menuju motor pinjamanku.

Kupacu motorku untuk berada langsung ke rel kereta api terdekat. Di sana, kuparkir motorku. Kuambil langkah berat dan gontai menuju ke tengah rel itu. Ditengah perjalanan pendek yang terasa lama itu, aku sempat merenung. Apa lagi yang kumiliki di dunia ini? Semua sudah hilang. Keluarga, teman-teman, dan juga cinta yang menghianati. Apa gerangan yang menyebabkan seperti ini.

Akhirnya, aku sampai juga ditengah rel. Kurebahkan diriku untuk tertidur ditempat itu.

Dari kejauhan, kudengar suara kereta api yang makin mendekat. Semakin lama, semakin dekat. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menghiraukannya lagi…. Aku tidak mau, ini sudah cukup. Biarlah semuanya terambil dariku.

Aku sudah…

Lelah…

Solo, 15 December 2009

Sebuah siang yang cerah di kasih ibu

Inspired by Superman Is Dead’s song : “The Broken Song”

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>