Cerpen “Huwus-Huwus” Karya Fajar Laksana

Cerita pendek pekan ini, kita tampilkan karya dari salah satu mahasiswa Sastra di Universitas Gadjah Mada asal Mojokerto. Sebuah karya yang unik dan menggugah. Semoga sahabat dapat menikmatinya seperti saya. :)

HUWUS-HUWUS

 “Setiap hendak menuju suatu tempat, kuberangkatkan dahulu hatiku agar ketika sampai di tempat yang kutuju, tidak ada rasa ragu !”

Setelah itu dia berhenti sejenak, mengambil sebuah bolpoin dan kertas putih kosong yang tergeletak di atas meja. Ada mendung bergelayutan di kelopak matanya, membiru abu-abu. Terlalu sering ia mengelabui kondisi fisiknya dengan bantuan kafein atau obat-obatan penambah stamina tertentu.

Kertas putih kosong itu hanya dipandangi, sedangkan giginya menggigit keras ujung bolpoin. Lampu yang remang-remang mendapat bantuan dari sorotan cahaya bulan yang menjalari bingkai-bingkai jendela, samar memang, tapi cukup untuk membantu penglihatan. Kemudian ia berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke meja barang bukti. Satu persatu benda-benda aneh yang berada di dalam plastik itu ia amati.

“Dimana kamu berada saat itu ?”

“Saya menunggu Lastri di lampu merah perempatan Kaliurang. Kami bersepakat untuk bertemu tepat pukul tujuh malam, tapi…..”

“Jawab saja apa yang saya tanyakan !”

Jawaban dingin itu seketika membuatku merinding. Mungkin aku memang salah, karena terlalu panjang lebar dalam memberikan jawaban.

Kemudian ia mengambil sarung tangan dan memakainya. Tiga buah paku yang berada di dalam plastik ia keluarkan. Matanya memicing tajam mengamati dan mempelajari tiga buah paku itu satu persatu. Kepalanya berkali-kali menggeleng, beberapa kali mengangguk, seperti sedang diberitahu oleh seseorang atau sesuatu.

Intel yang satu ini memang sama sekali tidak menyenangkan, tidak humanis, sama sekali tidak menghormati tamu. Tidak ada suguhan makanan apapun yang ia siapkan untuk menyambutku. Kuamati terus tingkah lakunya sedari tadi yang sama sekali tidak kumengerti. Seperti meminum kopi sekaligus ampasnya, bersiul-siul menembangkan Wonderful Tonight gubahan Eric Clapton, menghitung suara tokek, dan masih banyak lagi tingkah laku yang aneh-aneh. Meskipun begitu, ketenangan yang ia tampilkan sangatlah nyata.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ia duduk kembali dengan menyandarkan kepala. Matanya terpejam, pikirannya mengembara mengumpulkan pecahan-pecahan tanda yang diharap bisa mengantarkannya pada satu kesimpula absolut. Hampir lima belas menit ia tak membuka mata. Kusadari cara berpikir seperti itu mirip sekali dengan metode mind palace. Sebuah usaha untuk menghimpun suatu peristiwa dengan cara mengulang di dalam pikiran melalui tahap konsentrasi nol terlebih dahulu. Mengingat kembali segala obyek yang terdapat di suatu tempat.

Metode yang kuanggap hanya sebuah mitos dari kisah Sherlock Holmes itu ternyata benar-benar bisa diterapkan. Tepat dua puluh menit ia terpejam, perlahan kemudian ia membuka matanya sambil mengaum bak singa. Alhasil, prasangka luar biasa yang kutujukan terhadapnya buyar seketika.

“Jadi bapak ini tadi tertidur ?”

“Iya, maaf.”

“Tidak masalah kok pak. Toh sudah tiga hari bapak belum tidur.”

“Baru kali ini saya mendapat kasus yang sedemikian rumit. Sebuah kasus yang benar-benar tidak masuk akal.”

“Jadi bapak menyerah dalam menangani kasus ini ?”

“Hei, saya tidak berkata demikian ! Sekarang kamu saya tanya. Bagaimana bisa tiga buah paku berada di dalam perut seorang gadis ?”

“Tiga buah paku di dalam perut Lastri ?!!”

“Melihat kondisi jasad korban yang tidak berdarah atau menderita luka memar maka petugas forensik melakukan rontgen untuk mengetahui kondisi organ dalam korban. Ketika rontgen dilakukan, barulah diketahui adanya tiga buah paku di dalam perut korban !”

“Cukup pak, saya datang kemari hanya untuk memberi kesaksian mengenai hubungan saya dengan Lastri, tidak lebih ! Maka jangan seret-seret saya ke sebuah situasi yang memaksa saya untuk berkabung !”

Intel berbadan tegap itu diam. Aku juga diam. Diantara kami tidak ada kata maupun kalimat yang keluar. Hanya tokek yang berani bersuara. Proses investigasi forensik yang diceritakan tidak membuatku merasa lega, yang terjadi malah sebaliknya, aku kembali berkabung. Atas kehilanganku, kebingunganku, ketololan dan kesepianku.

Kabar kematian Lastri yang kudengar dua hari yang lalu masih berusaha kutolak. Seorang gadis berambut pendek dengan bentuk tubuh yang nyaris sempurna itu belumlah pantas untuk mendapat kado surga dari Tuhan. Sebab masih banyak sekali kesepakatan antara aku dan dia yang belum tuntas.

Sehari sebelum kematiannya aku dan Lastri masih banyak berbicara mengenai masa depan. Saksi dari perbincangan itu adalah Monumen Serangan Umum Satu Maret. Di bawah sebaran cahaya lampu-lampu kuning dan sebuah pohon besar tempat kami duduk bersebelahan sembari menyandarkan punggung.

“Saat hujan turun mana yang kamu pilih, jas hujan ataukah payung ?”

“Ehm, kenapa kamu menanyakan hal seperti itu, Las ?”

“Tidak kenapa-kenapa, pengen tahu aja.”

“Jas hujan.”

“Benar-benar tidak romantis ! Kenapa kamu memilih jas hujan ?”

“Lebih privasi saja. Dengan jas hujan kita bisa berbuat apa saja di dalamnya tanpa diketahui oleh seseorang.”

“Tapi payung kan lebih romantis !”

“Romantis kalau hanya untuk dipamerkan bukan romantis namanya melainkan krisis keromantisan !”

Mendengar jawabanku ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Renyah tawa dan lesung pipi yang dimilikinya membuatku ingin segera mengatupkan mulutku pada mulutnya. Sayangnya menyadari akan kondisi tempat yang ramai dengan pengunjung tidak memungkinkan bagiku untuk melakukannya. Sesegera mungkin kubatalkan niat buruk yang sempat hinggap di kepala saat itu.

Sehari setelah kematiannya kepercayaanku pada garis Tuhan perlahan mulai luntur. Janji yang kami anggap suci ternyata sama sekali tidak bagi sudut pandang Tuhan. Kabar akan kematiannya kuketahui keesokan harinya melalui BBM, tepat di pagi hari setelah Lastri tak datang saat aku menunggu di perempatan Kaliurang untuk berangkat menikmati malam minggu di suatu gardu pandang.

Tubuhnya tergeletak di kasur kamar kos-nya. Wajahnya tersenyum manis, tidak ada darah dan memar saat kudatangi kos-nya. Kesepian memang sudah menjadi kebiasaanku, tapi untuk kesepian yang satu ini bukanlah bidang kesepianku. Langkahku gontai menyusuri gang jalan kecil, orang-orang berkerumun tanpa menghiraukan garis pembatas polisi. Kuputuskan untuk meninggalkan lokasi karena polisi memerintahkan seluruh orang yang menonton untuk pergi. Sengatan matahari memperparah kesedihanku.

Lastri adalah seorang introvert, ia jarang bercerita mengenai latar belakang keluarga maupun persoalan yang dihadapi. Sikap yang tertutup tersebut ternyata tidak menghalangi hubungan kami. Lalu menganai kabar akan kematiannya, kesulitan selanjutnya ialah mengabari orang tuanya. Lastri tidak pernah cerita mengenai orang tuanya, siapa mereka dan apa pekerjaan mereka.

Pada sebuah tiang listrik aku bersandar, orang-orang masih lalu lalang untuk melihat pameran jasad Lastri. Mungkin karena terlalu banyak makan tontonan pertunjukan yang semakin lama semakin tidak dipahami dan terkesan jauh dari realita maka bisa jadi orang-orang ingin melihat pertunjukan yang benar-benar realistis, kematian Lastri contohnya.

Dari dalam saku kuambil sebungkus kretek sekalian koreknya. Dari belakang tiba-tiba seseorang menepuk pundak. Saat menengok, terjadilah situasi yang benar-benar ganjil.

“Lastri ?! Kamu ? Lalu siapa yang di sana, di dalam kamar kos-mu? Atau kamu…?”

“Ssstttt… Jangan katakan pada siapa-siapa mengenai keberadaanku. Dua hari lagi aku akan menghubungimu !”

Masker motor yang menggantung di lehernya segera ditutupkan pada mulutnya. Aku hanya menganga. Panasnya matahari, suara bising mesin pembangun hotel, asap-asap kendaraan dan gaduh sirine mobil polisi membuatku mengalami fatamorgana.  Tidak masuk akal dan tidak perlu dimasukkan akal. Tubuh yang lelah, kurang makan dan kurang minum memang bisa membuat seseorang terkena halusinasi.

“Kenapa denganmu nak ?”

“Tidak apa-apa pak.”

“Kamu teringat dengan dia ya ? Maaf kalau saya memintamu datang malam-malam begini ke kantor. Maklum, saya merasa sudah sangat dekat dengan kesimpulan sehingga tidak bisa mengontrol ambisi untuk merampungkan kasus ini.”

“Bukan masalah pak. Eh, anu pak. Apa mungkin Lastri meninggal karena guna-guna ?”

“Bisa jadi, tapi saya tidak sepaham dengan pemikiran klenik yang seperti itu.”

“Maaf pak kalau saya tidak memberitahu bapak sebelumnya. Pada hari ditemukannya jasad Lastri, saya sempat melihat Lastri.”

“Apa ? Jangan bercanda kamu ?!”

“Sungguh pak ! Sebenarnya saya juga tidak percaya dengan apa yang saya alami !”

“Klenik memang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Kebal peluru, menghilang, kerasukan dan guna-guna, memang sangat lekat dengan masyarakat. Tapi untuk ucapanmu barusan, saya tidak bisa mempercayainya ! Saya seorang intelijen dan saya harus rasional dalam menangani sebuah kasus, sekalipun kasus itu melibatkan klenik !!”

Karena sikap superior yang ditunjukkan padaku, kuputuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan menganai perjumpaanku dengan Lastri di hari kematiannya.

Bapak intel terlihat gusar, mondar-mandir tidak jelas. Mungkin karena pernyataanku yang tadi membuatnya semakin pusing. Kasus yang ia rasa hampir diselesaikan ternyata masih menyisakan sebuah potongan. Kedua telapak tangannya mengusap wajah berulang-ulang.

“Benarkah yang kamu katakan tadi ?”

“Saya tidak berani bersumpah, tapi saya memang sungguh melihat Lastri di hari kematiannya.”

“Lantas siapa dan jasad siapa yang ditemukan ?”

“Mungkinkah ada yang memiliki kemampuan untuk menyerupakan diri dengan orang lain ?”

“Jangan melibatkan klenik !!”

Wajahnya memerah saat membentakku melarang untuk tidak berbicara mengenai klenik. Jujur aku merasa kasihan dengannya. Tiga hari bergelut dengan kasus yang unik tentu membuatnya lupa pada anak dan istri di rumah. Karena rasa simpati kutawarkan sebuah solusi.

“Dimana jasad Lastri sekarang pak ?”

“Di kamar mayat.”

“Bagaimana kalu kita melihatnya ?”

“Boleh juga idemu. Baiklah, ayo !”

Kami berdua menuju ruang mayat. Saran yang kuberikan rasanya benar-benar mengerikan. Sebuah ruangan yang dihuni oleh orang-orang mati akan kami datangi, tepat pada malam hari. Rumah sakit benar-benar hening, membuat kami cepat sampai di ruang mayat yang kami tuju. Seorang penjaga mengantarkan kami, lampu kamar mayat dinyalakan. Tiba-lah kami di depan jasad Lastri. Intel yang mengantarku sama sekali tidak terlihat takut. Dengan hati-hati ia buka perlahan-lahan kain penutup. Dorrr… Tiba-tiba suara tembakan terdengar, penjaga kamar mayat melarikan diri. Sebuah lubang besar di kening intel membuatku takut.

Tubuh intel menimpa jasad Lastri, dan kemudian beringsut jatuh ke lantai, kain penutup jasad Lastri terseret karena tergenggam oleh tangan intel. Wajah asing terlihat di balik kain penutup, wajah yang sama sekali tidak kukenal. Dari belakang gorden jasad sebelah, muncul seseorang.

“Lastri ?!!”

“Intel itu telah membunuh ibu angkatku. Seorang intel busuk yang juga memiliki bisnis gelap penjualan narkoba. Aku sendiri telah diajari olehnya cara untuk menghilangkan rasa ragu. Maka untuk membunuhnya tidak ada keraguan sedikitpun dalam diriku.”

“Lalu bagaimana kamu dan siapa…..?”

“Yang mati adalah mayat yang kurias semirip mungkin denganku dengan paku yang sudah kumasukkan sebelumnya. Dan aku baru saja membunuh papa-ku !”

TAMAT

Mojokerto, 21 Juli 2016

 

BIODATA PENULIS

Nama               : Fajar Laksana

TTL                 : Mojokerto, 12 November 1995

Alamat            : Ds.Modopuro, Kec.Mojosari, Kab.Mojokerto RT.01/RW.06 61382

Status              : Mahasiswa Aktif Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Nusantara Fakultas Ilmu Budaya

No.Telp           : 085730718300

 

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>