Cerpen “Jika Boleh” Kiriman dari Ariqy Raihan

Jika Boleh

Kita seharusnya ada di sini. Menikmati pertunjukan berdua sembari menderai tawa. Menyaksikan rindu dan perasaan berpadu menjadi sebuah kisah perjalanan yang ditampilkan di layar lebar; menyaksikan seksama tiap detik berlalu dalam kebersamaan kita. Bagaimana tiap detik yang kita hampar dalam kehidupan; canda, tawa, sedih, marah, dan segalanya.

Kau pasti sudah akan mengacak-acak rambut ikalku karena gemas mungkin saat aku merekam momen ketika kau bersedih hati di sudut taman itu. Saat aku diam-diam mengaku sedang sibuk di hari ulang tahunmu padahal ketika itu aku sudah lama bersembunyi di balik pintu belakang rumahmu untuk memberi surprise. Dan kau hanya mengirimkan pesan teks tentang pertemuan sedih di taman itu.

Kita berkelakar dalam sunyi; kau tertawa dan aku tersenyum. Dan sepi mengerang karena imajinasi yang terlalu jauh. Bagaimana jika kau pergi ke suatu tempat kautak bisa bertambah tua dan kau melihat orang yang kau tinggalkan tumbuh dalam kesepian, mengenal kehidupan. Hingga akhirnya satu per satu dari mereka pergi meninggalkanmu. Saat keadaan berbalik dan kau harus melihatnya dengan matamu sendiri.

Dan kini lihatlah bangku-bangku kosong yang menjemukan di dalam teater pertunjukan kita. Saat perihal-perihal seharusnya menjadi sesuatu yang tidak nyata. Ketika mata menatap memori-memori yang berteriak lirih karena sudah mulai usang dimakan kesepian. Atau keramaian jalan raya di tengah kota yang menjadi bising bagi orang-orang di sudut perkantoran yang pikirannya berkecamuk oleh retorika; hidup yang dijalani dan keinginan yang tak bisa diingini.

Jika boleh memilih aku akan berhenti pada pemberhentian bernama hampa. Ketika seorang bapak menasihati anak lelakinya untuk menjadi kuat; ada kehidupan yang kelak menantinya. Saat rindu mulai memasung pasak di jantung kepergian. Saat sebungkus aksara menjadi hidangan di pagi hari. Membunuh kantuk dan mengajak pergi. Menembus keheningan di jantung sunyi. Pada derai mata yang tumpah di antara rinai hujan.

Apakah aku adalah keengganan yang kau paksakan?

Resah ini mengendap bersama debu-debu di perabotan yang lama tak terjamah. Jauh dari basah hujan yang memilin dinding-dinding kusam. Aku di sana dan berbicara. Namun dimensimu memang bukan untukku. Bibirku kelu dan mataku sendu. Saat bibirmu memucat pasi dan aku menatapmu tanpa bisa berbuat apa pun. Kita terjatuh dalam batas-batas yang tak diingini.

 

Di mana kau sekarang? Apakah kau sudah menemukan teater yang kau impikan? Aku pikir hanya aku seorang yang menamai teaterku dengan namamu. Agar orang-orang tahu seberapa besar perasaanku padamu. Agar aku bisa mengingatmu, saat arloji menunjuk pukul sebelas malam dan aku akan menutup teater sembari menengadahkan kepalaku ke atas; namamu.

Aku tertawa dan kau menangis. Begitu sebaliknya. Percuma mencoba menjadi sama. Toh, dimensi kita memang berbeda. Sejenak kau akan segera melihat sekat berbatas realita ini; aku adalah tiada yang kauingini Dalam pekat malam. Namun aku terlalu bodoh untuk mengerti.

Sampai kapan pun aku akan berkelakar pada diriku sendiri. Mencumbu dalam dekapan sunyi. Di mana pun itu; bangku taman, kantin-kantin kampus, ramai pasar hingga di dunia yang tak pernah ada, aku akan selalu menjadi ketiadaan. Entah sesiapa di sana, tetap saja aku tidak pernah ada. Bagimu, bagi mereka, bagi siapa pun yang bisa menghela napas. Aku, sebuah kegagalan.

Kini, semua itu hanya menjadi ilusi. Kepulan asap dari rokok-rokok yang ditelan para lelaki, wanita, yang menyungging senyum pada sesiapa di sepanjang setapak jalan raya dengan pendaran lampu abadi. Tenggelam dalam samudra kenangan dan menyalak di dasar bernama sepi.

Kau menghilang, tak kembali, dan memberiku sunyi. Kau sudah tak ada lagi di sini.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>