[CERPEN] KISAH USANG karya Marissa Widyan Septa

[CERPEN] KISAH USANG karya Marissa Widyan Septa

KISAH USANG

Oleh : Marissa Widyan Septa

 

Aku tahu cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran

Pelajaran tempat saling mendewasakan

Aku sudah lama dalam perjalanan

Akupun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah benar-benar menemukan

Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru

Sampai akhirnya angin mendorongku dan menyadarkanku

Terhadap seseorang yang telah gagal menipu hati dan membodohi

Kepada, seseorang yang dulu pernah menjadi penyeimbangku.

Aku menuliskan sebuah cerita ini didalam ruangan favoritku, disudut ruangan meja baca dengan ditemani lampu baca yang mulai hangat terasa di permukaan pipi. Ini hanya sebuah goresan ketika aku sedang lelah, bosan dan muak dengan skripsiku yang tak kunjung selesai. Cukup lama aku duduk dimeja baca didalam kamarku ini sebelum menuliskan cerita ini aku baru saja lepas memperbaiki skripsi yag sudah sampai ketahap akhir.

Aku tutup buku catatan yang sering kubawa berisi sajak yang barusan aku goreskan dan memasukkannya kembali kedalam tas yang didalamnya sudah tersusun rapi garapan skripsiku yang siap dikonsultasikan esok hari kepada dosen pembimbingku.

Meja telah rapi, jam sudah menunjukan pukul Sembilan lewat lima puluh menit, aku bergumam didalam hati “Seperti biasa jika besok ada jadwal konsultasi maka harus tidur dibawah pukul sepuluh malam, supaya tidak terlambat menemui dosen pembimbingku yang terkenal disiplin itu”. Setelah meja telah rapi, tumpukan buku referensi telah kususun tanpa sengaja terlihat oleh mataku sebuah buku karangan Brian Krisna yang berjudul “Merayakan Kehilangan” yang belum sempat aku baca, sebenarnya aku punya hubungan erat dengan yang namanya buku fiksi seperti Novel dan malah yang tersusun rapi dirak buku kamarku kebanyakan novel bukannya buku untuk referensi kuliah.

Seperti biasanya kebiasaan membacaku harus ditemani secangkir teh hangat, kebetulan hujan juga turun, tidak terlalu lebat disertai angin yang menerpa pohon mangga yang membuat nada minor diterpa angin. Teh hangat telah selesai dibuat dan aku membaca lembar demi lembar, halaman demi halaman. Aku pernah membaca suatu perkataan sasatrawan yang aku lupa namanya, ia megatakan bahwa “Karya sastra yang berhasil adalah karya sastra yang membuat pembacanya masuk kedalam alur cerita” dan aku mengalami ini ketika membaca “Merayakan Kehilangan”. Dan terlintas dipikiran adalah seeorang yang pernah mengisi hari-hariku dan kamulah yang tiba-tiba muncul didalam pikiranku ketika aku sedang membaca buku Brian Krisna “merayakan kehilangan” ini, aku merasa harus merayakan kehilangan kamu meskipun cerita itu sudah berlalu tiga tahun yang lalu.

Sebelum menceritakan kisahku ini izinkan aku untuk memperkenalkan namaku, namaku Septa teman-teman biasa memanggilku “Ta” karena kebiasaan orang Pontianak memeanggil nama seseorang hanya memanggil kata terakhir dari sebuah nama seseorang, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota khatulistiwa atau sering disebut Pontianak jurusan pendidikan, boleh dikatakan apabila aku sudah lulus nanti akan menjadi seorang guru, walaupun aku tidak yakin menjadi seorang guru yang menjadi contoh murid-muridku kelak. Aku aktif di organisasi intrakampus dan tergabung didalam unit kegiatan mahasiswa dalam bidang kesenian teater kampus yang disebut Komuter singkatan dari Komunitas Teater. Inilah yang membuatku banyak berkomunikasi dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang lain seperti Mapala, Pramuka dan UKM lain yang berada di kampus. Sedangkan Mapala mempunyai tempat khusus dihatiku, karena aku juga suka dengan yang berbau petualangan dan naik gunung, inilah yang membuatku sering gabung dan ngobrol dengan anggota Mapala kampus dan ikut kegiatan mereka untuk sekedar sharing dan menyalurkan hobi, dan kebetulan letak sekretariat UKM kami berdampingan. Kedekatan itu membuatku mengenal seorang laki-laki yang boleh dikatakan menonjol diantara anggota Mapala yang lain, dia bernama Wirdan. Sebenarnya wirdan adalah adik tingkat satu tahun dibawahku dan kami berbeda jurusan. Awal kedekatan kami pada saat aku mengikuti latihan rutin Wall Climbing para anggota Mapala. Pada saat itu aku hanya duduk melihat mereka latihan. Dan tiba-tiba :

“Mau coba ?

Suara itu memecahkan lamunanku pada saat memperhatikan para anggota Mapala memasang Safety atau perlengkapan keselamatan untuk panjat tebing.

Hah?

Iya, mau coba panjat?

Gimana ya, aku belum pernah panjat Wall setinggi ini

Yah kamu harus coba, pasti ketagihan hehehe

Dengan senyum khasnya aku sedikit agak malu melihat sudut bibirnya ang tersenyum itu. Selang beberapa lama, aku dipanggil.

“Hey Ta”

Salah satu anggota Mapala yang sudah kukenal memanggilku, ia adalah Andi,

“Oke aku kesana

Membawa perasaaan senang sedikit takut aku memberanikan diri untuk mencoba panjat tebing yang ada dipelataran belakan kampus ini. Dan yang membuatku aagak canggung, pada waktu itu Wirdan sendir yang memasangkan peralatan safety kepadaku, ia sendiri yang menjelaskan kepadaku tentang On Belay, Slag dan lain sebagainya dan yang membuatku semakin senang, ia sendiri yang menungguku dibawah sebagai seorang Belayer.  Mulai saat itu hubungan kami semakin dekat, aku mendapatkan Kontak nya atau nomor handphone nya dari Andi. Aku memberanikan diri untuk sekedar bertanya tentang aktiftas Mapala mereka, dan Wirdan tetap saja bersikap baik dengan mengajakku untuk ikut. Hingga kami berdua menjalin hubungan yang tidak biasa atau boleh dikatakan berpacaran.

Ia mengungkapkan perasaannya setelah aku mengikuti latihan mereka dan menemani Wirdan membereskan peralatan dan sepertinya teman-teman yang lain sengaja meninggalkan kami berdua.

“Ta, aku ingin ngomong sesuatu dengan kamu”

“ngomong apa?

“aku rasa dengan kedekatan kita ini aku suka sama kamu”

Bagaikan halilintar masuk ketelinga, aku terdiam dan bergumam didalam hati, “ternyata dia juga suka, dan perasaan kami sama. Wirdan sempat mengalihkan lamunanku setelah aku diam cukup lama.

“dijawab nanti juga nggak apa-apa kok ta,

“Iya! Aku juga suka dengan kamu Dan.

 

Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulutku tanpa berfikir terlebih dahulu, tanpa mempertimbangkannya dengan logika dan perasaan, iya, kami resmi berpacaran. Sejak saat itu hari-hari kuliahku sedikit berwarna dan kuakui aku bersemangat untuk ke kampus sembari untuk melihat wirdan.

Hingga suatu saat setelah hubunganku dengan Wirdan agak renggang dan kurang berkomunikasi dikarenakan aktifitasnya naik gunung yang sudah pasti tidak terdapat sinyal. Semuanya berubah setelah ia pulang dan mengajakku untuk ngobrol berdua, pada saat itu pula harapan hancur, aku seperti dipermainkan ketika ia mengatakan mau mengakhiri hubungan ini karena dengan alasan bahwa kamu tidak bisa mencintaiku dan semua yang kamu lakukan selama kita bersama hanyalah sebuah rasa iba.

“ gimana ? seru ndaki Pangrango?

“ya serulah, kami bertemu banyak pendaki dari kampus lain dan komunitas Outdoor lain disana dan bertukar pengalaman. Seperti biasa aku seneng melihatnya dan mendengarkannya bercerita.

“Ta, aku ingin kita temenan aja ya, jujur aku belum bias menumbuhkan Rasa Cinta dengan kamu, awalnya au pikir rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya dengan kedekatan kita, namun nyatanya tidak ta, aku harap kamu mengerti. Aku harap kamu bias memaafkanku.

“jadi yang kamu katakana selama tiga bulan ini bohong?

“bukan begitu ta.

“ah, sudahlah ! Tanpa menghiraukan omongannya aku meninggalkannya dan memutuskan untuk pulang, padahal hari ini ada briefing membahas pementasan kami sebulan kedepan. Yang bisa kulakukan hanya menangis setelah sampai kedalam kamar dan berfikir betapa aku pernah menjadi orang yang sangat bodoh dan percaya dengan semua cinta palsu yang pernah kamu berikan. Jika kamu membaca ini mungkin kamu juga akan sadar dengan apa yang aku katakan dan semua itu benar adanya. Kadang aku berfikir mau dibuang kemana perasaan yang sudah terlanjur tumbuh ini dan mencoba mengingat kebersamaan kita walaupun hanya berselang tiga bulan. Hingga aku berkata sendiri didalam hati dan menuliskan kebersamaan kita didalam buku catatanku.

Tahukah kamu, kamu satu-satunya orang yang pernah aku bangga-banggakan didepan kedua orangtuaku. Dan menjadi satu-satunya orang yang aku harapkan yang menjadi penutup dari penjalan kisahku. Tapi semua itu pupus setelah kamu melepasku begitu saja. Sungguh menyedihkan ketika aku mengetahui semua itu, masih selalu ingat dengan semua yang kau ajarkan denganku, tentang menjadi orang yang sabar dan kuat ketika menjadi seorang pemimpin. Kamu selalu menjadi orang yang setia mendengarkan keluh kesahku dalam kondisi apapun. Kamu orang yang selalu marah ketika aku tidak berani bertanggung jawab dari kenyataan. Pernah sekali kau membentakku ketika aku ingin menyelesaikan masalah dengan caraku. Aku langsung terduduk hingga tak mampu berbicara lagi, kamu seolah-olah pada saat itu obat penenang yang sangat aku butuhkan.

Setelah itu aku sengaja menyambangi sekretariat karena khawatir berjumpa dengan wirdan yang biasanya nongkrong di depan sekre, kalau kekampus hanya ketika mengikuti kuliah di kelas, ketika aku berjalan menuju tempat parkiran, terdengar suara orang memanggil,

“kamana ta buru-buru amat, amat aja nggak terburu-buru hehe

“oh, kamu di, ada apa

“aku Cuma nanya, kok seminggu ini gak pernah ikutan kita latihan lagi. Biasanya kamu nanyain kapan jadwal latiha lagi,

“aku lagi males di, banyak tugas kuliah

“iya aku paham, kalian baru putus ya?

“nah itu kamu tahu, aku males ketemu dia

“aku denger Wirdan sudah pacaran dengan orang lain ta.

“ oh ya? Bagus deh. Aku pulang dulu ya di.

Kembali aku benar-benar marah ketika aku mendengar kamu sudah memiliki kekasih baru dari teman dekatmu, dan kau melupakan janji yang pernah kamu buat sendiri. Oh, mungkin saat itu kau hanya ingin menyenangkanku saja. Setelah itu kita seperti tidak saling mengenal dan tak saling tegur sapa.

Aku benci setiap aku pergi seorang diri, semua orang menanyakan perihal tentang kamu yang padahal aku sudah tidak ingin tahu sedikitpun tentang kamu. Tapi lingkungan kita yang membuat aku susah melupakan mu, padahal saat itu kau sudah bahagia dengan kekasihmu yang baru. Dan aku masih bodoh dengan menyimpan cinta yang amat dalam padamu.

aku suka senyum-senyum sendiri ketika melihat pemberitahuan di facebook tentang moment yang kita yang telah berlalu, momen dimana kamu sering mengunggah foto kebersamaan kita dan menandainya di akun facebookku. Dan juga menyadarkan aku bahwa, dulu aku pernah jatuh cinta dengan seorang penipu.

Tak lama setelah itu kau putus dengan kekasihmu dan aku masih berharap masih bisa memperbaiki hubungan denganmu. Kita kembali dekat seperti biasa dan kau mengajakku bertemu keluargamu ketika nenekmu sedang dirawat dirumah sakit. Tahukah kamu perasaanku pada saat itu, aku sangat sangat merasa bahagia dan juga sedih. Mengapa setelah kita putus kamu masih mengajakku bertemu dengan keluargamu ? ah.. aku menjadi orang bodoh lagi..

Setelah kejadian itu kita masih berkomunikasi seperti biasa sampai pada suatu saat aku mengetahui bahwa kau sudak memili kekasih baru lagi. Seketika itu airmataku tak bisa kuajak kompromi, aku benci harus menteskan butiran-butiran air mata kebodohan lagi. Pada saat itu aku benar-benar membencimu dan berjanji tidak ingin mengenalmu lagi. Bahkan menegurmu aku sudah tak sudi, tapi kamu masih berusaha seperti kau biasa saja dan tak pernah terjadi apa-apa. Saat itu kau baru saja pulang dari tempatmu berlibur, kau membawakan buah tangan yang dulu pernah kau janjikan padaku ketika kau bilang ingin menyeberangi pulau jawa. Dan bodohnya lagi aku menerima pemberianmu, setelah itu ku lihat sosial mediamu penuh dengan foto-fotomu dengannya bahkan foto saat kita bersama sudah kau hapus.

Aku mencoba berdamai dengan hatiku, mencoba mengikhlaskan semua tentang kamu dan mencoba menjalin kisah dengan orang baru. Namun semua orang yang dekat denganku, semuanya masih saling terkait dengan duniamu yang juga sangat aku cintai. Dan itu membuat aku terpaksa harus sering bertemu dan melihatmu. Pada saat itu aku benar-benar merasa bodoh, aku menerima mereka hanya dengan alasan agar aku bisa melihatmu dari dari dekat.

Setelah kejadian ini sempat terfikir olehku untuk tidak membuka hati lagi. Namun aku harus bersemangat dengan hidupku dan izinkan aku untuk menuliskan rangkuman kisah ini, benar kata seorang pujangga “Jangan pernah menyakiti hati seorang penulis dan pujangga, atau kau akan abadi didalam karyanya”. Setelah menutup bacaanku kembali kumengambil buku catatanku dan membuka lembaran kosong, menuliskan tanggal hari ini di sudut kiri atas halaman kosong, hingga membuka luka dan menuliskan :

“Aku jadi teringat pada suatu kejadian, dimana kau bersama dengan teman-teman pecinta alammu sedang latihan dan disitu aku menemani. Menunggu dan melihat kau sedang berlatih, padaa saat itu kamu menawarkan ku untuk mencoba sesuatu yang memang aku juga sangat menyukainya. Kau menunggu dibawa sambil menjagaku kalau-kalau aku terjatuh. Aku juga teringat ketika kau sedang bersama dengan teman-teman sekolahmu melakukan hal yang sama dan aku disitu menemanimu. Aku masih malu-malu saat kau berpura-pura bangga mengenalkanku bahwa aku ini kekasihmu. Maaf jika kau berkata kau hanya berpura-pura karna bagiku memang itu yang terjadi.

Mendengar kau putus dengan kekasihmu, teman-temanku memberitahu hal tersebut padaku. Entah harus merasa senang atau sedih tapi pada saat itu aku benar-benar merasa senang karna kau akhirnya merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang benar-benar kau cintai.

Namun semua aktivitasku masih selalu berhubungan dengan kamu, membuat semua orang terdekat kita sering memojokkan ku denganmu. Aku berusaha sebisa mungkin mengontrol emosi bahagiaku agar kau tidak tau betapa aku masih benar-benar berharap kau mau memperbaiki hubungan denganku. Sampai pada suatu saat aku benar-benar lelah dengan semua permainanmu, permainan yang seolah-olah didepan teman-teman kau masih mau kembali padaku dan seolah-olah akulah yang bersalah padamu. Ku akui kau cerdas dalam memutar balikkan fakta, aku tidak tau apa alasan sesungguhkan.

Sampai saat ini aku masih benar-benar malas untuk menjalin hubungan yang serius setelah denganmu. Aku menajadi orang yang sama sepertimu, PENIPU. Yaaa..aku menjadi penipu untuk orang yang mendekatiku, seolah-olah aku suka dan mau dengannya padahal aku hanya melampiaskan kesalahammu pada mereka. Jahat,yaaa aku menjadi orang jahat karnamu.

Saat ini aku benar-benar rindu dengan semua yang pernah kamu lakukan untukku. Rindu saat kau mengabariku ketika kau hendak pergi kesuatu tempat yang tidak ada sinyal telepon, rindu saat membuatkan makanan untukmu, rindu saat kau memasangkan umpan cacing dipancingku karna aku tidak berani memasangnya, rindu saat kita bertengkar karna hal-hal sepele, rindu saat kau khawatir denganku, dan rindu saat kau memberikan salam jabat tangan khas darimu. Aku rindu semua tentang kamu, meski kau pernah menipuku agar membuatku bahagia.

Terimakasih sudah pernah datang, terimakasih sudah pernah membuatku jatuh cinta. Aku pernah bahagia bertemu denganmu, dan aku tak akan pernah menyesal. Mungkin, kita hanya sebuah kebetulan yang direncanakan tuhan untuk saling belajar. Sesuatu yang berjalan hanya beberapa bulan, namun bisa bertahan begitu lama.

Maaf, aku tak bermaksud menuliskan keburukanmu. Aku hanya meluapkan segala unek-unek yang selama ini aku pendam agar tidak pernah ada dendam dan kebencian lagi untukmu dan ketika suatu saat kita bertemu aku ikhlas dan telah memaafkan semua kesalahan yang pernah kau buat padaku. Begitu juga kamu, kuharap semua kesalaha yang pernah kubuat dulu sudah kamu maafkan dan kita sama-sama bahagia dengan cerita kita masing-masing.

Tulisan pengalamanku ini selesai dan kutup buku catatanku, kulihat jam dinding telah menunjukan pukul dua belas malam, dan hujan pun sepertinya telah berhenti, aku harus tidur besok jangan sampai telat konsultasi dengan dosen pembimbingku. Rebahan di kasur membuatku sedikit lega, sebelum istirahat sengaja aku memutar lagu Raisa-Mantan Terindah tepat seperti liriknya yang mengatakan. Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu, dihati ini hanya engkau mantan terindah, dan aku teringat kutipan dari Novel Karangan Paulo Cuelho “The Alchemist” bahwa rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali”, yakinlah bahwa setiap kali jatuh aka ada yang membantumu bangkit hingga kau tidak akan terjatuh lagi ditempat yang sama.

 

Pontianak, 16 Mei 2017

*) Penulis adalah Mahasiswa semester akhir IAIN Pontianak dan Aktivis Komunitas Santri IAIN Pontianak

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: