Koalisi Cinta yang Pecah

“Mayang, aku sedang galau,” ucap Rizka tiba-tiba, mengagetkan Mayang yang sedang menikmati santapan bakso Mang Ujang favoritnya. Namun kekagetan itu hanya sekejap, karena setelahnya, Mayang langsung melanjutkan melahap bakso Mang Ujang, butir demi butir.

Bukannya apa-apa, Mayang sudah bosan mendengar keluhan dari Rizka. Hampir setiap hari Rizka merasakan kegalauan karena hal-hal sepele. Kemarin saja dia galau hanya gara-gara salah pakai kaos kaki, yang menurutnya tidak matching dengan tas yang dibawanya. Kemarinnya lagi, dia galau gara-gara kucing saudaranya yang ada di provinsi seberang mati. Iya, kucing saudaranya! KUCING! Belum lagi minggu lalu, Rizka mendadak galau gara-gara gak sengaja mendengar lagunya NOAH diputer di radio. Makanya, kalau sekarang Rizka cerita dia sedang galau, Mayang sudah mulai bosan mendengarnya. Hanya saja, Mayang memang selalu ada untuk Rizka. Mayang adalah sahabat yang baik bagi Rizka.

“Iiih, Mayang kok diem aja sih? Aku beneran lagi galau nih.” Rizka pantang menyerah.

“Emang kucing siapa lagi yang mati hari ini, Ka?” Akhirnya Mayang menanggapi juga, meskipun konsentrasinya masih ke daging bulat yang ada di depannya.

“Ini masalah Reno, kayaknya dia lagi marah deh sama aku,”

Apa? Reno? Nah, ini berita baru nih! Batin Mayang mendadak girang mendengar pengakuan Rizka. Mayang memang sudah sejak dulu suka sama Reno, tapi Reno malah jadian sama Rizka. Dan sejak mereka jadian dua tahun yang lalu, tak pernah sekalipun mereka ada masalah. Dan kali ini, tiba-tiba Rizka merasa Reno marah sama dia? Berita bagus! Pikir Mayang lagi. Seperti yang dikatakan di awal tadi, Mayang adalah sahabat BAIK Rizka.

“Bentar, aku habisin baksoku dulu, gak sampe lima menit kok, Ka!” Meskipun sudah tidak sabar untuk mendengar cerita dari Rizka, tetap saja satu porsi bakso Mang Ujang tidak boleh disia-siakan.

Setelah Mayang selesai, Rizka pun langsung memulai ceritanya.

“Jadi ini bermula ketika kita lagi pacaran bareng kemarin, May. Kita duduk-duduk berdua di burjo gitu. Reno sempet muji baju yang kupakai, katanya aku jadi keliatan fresh gitu. Terus setelah nasi telurnya dateng, kita makan bareng deh. Suap-suapan gitu. Abis itu dia sempet bilang gaya makanku seks…”

“WOY BAGIAN KAYAK GITUNYA DI-SKIP AJA WOY!”

“Hehe, iya May, santai. Aku kan pengen bikin kamu mupeng dulu,” goda Rizka sambil menjulurkan lidahnya ke arah Mayang. “Iya deh, sekarang serius.” Rizka melanjutkan. “Jadi waktu itu kita ngeliat ada koran tergeletak gitu. Terus kita baca bareng. Nah, di situ ada berita tentang calon presiden gitu.”

***

“Wah, Prabowow itu keren ya, Yang? Dia punya visi yang keren gitu.” Reno membuka percakapan.

“Emang sayang jagonya Prabowow ya?” sahut Rizka.

“Wah, iya dong, udah aku jagoin sejak tahun 2009 kemarin, Yang! Sayangnya dia malah jadi cawapres. Emang kenapa, Yang?”

“Kalau aku sukanya sama Jokowew, hehe. Abis dia sederhana banget. Suka blusukan juga. Deket gitu sama rakyatnya.”

Mata Reno terbelalak mendengar pengakuan Rizka. “Yang bener, Yang? Ahh, kerenan juga Prabowow. Jokowew mah, cuma disetir sama partainya aja!”

“Yee, apaan, lihat dong Prabowow, menjaga istri aja gak bisa, mau jagain rakyatnya, wlek!”

“Eh, jangan salah ya, perusahaan Prabowow tu banyak. Jokowew punya apa?”

“Jokowew juga punya perusahaan mebel. Wlek!”

“Ahh, perusahaannya Prabowow lebih keren. Visi misinya juga lebih keren Prabowow!” Reno mulai naik pitam.

“Enggak, pokoknya Jokowew lebih keren!”

“Prabowow!”

“Jokowew!”

“Prabowow!”

“Jokowew!”

“Asep!”

Reno dan Rizka bingung. Kata ‘Asep’ bukan keluar dari mulut mereka. “Iya, nama saya Asep, bukan Prabowow apalagi Jokowew, A’, Teh.” Ternyata si Aa’ burjo.

“Ahh, terserah kamu aja lah, Yang!” bentak Reno dengan keras. Lalu langsung pergi begitu saja.

Rizka pun panik, seumur-umur mereka pacaran, baru kali ini mereka bertengkar. Dan Rizka baru tahu kalau marah, Reno akan menghukumnya dengan… tidak bayarin makan.

***

“Gitu May ceritanya. Aku bingung, emang salahku di mana ya? Kok segitunya dia marah? Apa dia suka sama Prabowow sampai segitunya?” Air mata Rizka tumpah.

Mayang yang dalam hati berharap mereka putus pun, tetap saja mencoba menghibur sahabatnya dan mencoba memberi saran. “Udah Riz, itu bukan gara-gara kamu bela Jokowew, kok,” ujar Mayang.

“Loh, kok gitu, May?”

“Iya, dia marah bukan gara-gara kamu bela Jokowew kok. Dia cuma marah karena kamu ngebentak-bentak dia di depan banyak orang, sampai Aa’ burjo aja bisa denger kan?”

“Oh iya, jadi dia marah gara-gara sikapku ya May? Bukan gara-gara pilihan politikku?”

“Hahaha, Reno kan udah dewasa, Ka. Masak iya dia marah sama orang cuma gara-gara beda pilihan presiden? Enggaklah. Dia marah gara-gara sikapmu. Besok minta maaf aja, pasti udah selesai ini masalah.”

Mayang dan Rizka pun berpelukan. Rizka merasa beruntung memiliki teman sebijak Mayang.

Dalam hati, Rizka bersyukur Reno tidak marah gara-gara pilihan politiknya. Karena sampai kapan pun dia tidak akan mau meninggalkan pilihannya pada Jokowew. Mendingan putus daripada ganti pilihan capres, batin Rizka.

***

“Gue gak percaya, bisa-bisanya dia ngebela Jokowew! Pokoknya kalau dia belum ganti capres pilihannya, gue gak akan pernah mau ketemu sama dia lagi!” Teriak Reno sambil mukulin bantal dengan sarung bergambar Pevita Pearce di kamarnya.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>