[CERPEN] Ladang dan Pemakaman

oleh Rian Harahap

Orang sekampung sibuk menangis. Membentur-benturkan kepalanya. Ada yang ke besi padat, tiang rumah, bahkan ke seonggok kotoran. Darah mengucur membasahi lantai-lantai putih, bercorak merah saga. Mereka terkutuk oleh sebuah dahaga, kehilangan jiwa dalam raga. Darah itu pun mengalir seiring hujan membelok ke gorong-gorong sebesar lubang penjajah zaman jepang, menyusuri hingga tapal batas lautan lepas. Keheningan laut biru itu pun berubah jadi laut merah. Setiap kubiknya, tercipta dari ribuan atau puluhan ribu benturan ke tiang-tiang besi. Laut memerah dan membanjiri negeri seberang, orang-orang negeri seberang tenggelam.

***

“Apa alasan Anda? Ya, alasan Anda membunuh semua orang di kampung Anda?”

“Saya tidak membunuhnya Bapak Hakim, mereka membunuh dirinya sendiri?”

Hakim itu pun terpelongo, ini adalah pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama setelah sepuluh kali dipertanyakan. Ia masih belum percaya dengan gerak-gerik pemuda tanggung yang duduk di kursi pesakitan itu. Wajahnya yang tak seperti seorang terdakwa, tidak menunjukkan dirinya sebagai seorang kriminal sejati. Setidaknya tanda bahwa ia memang seorang berandal, tak melekat dari bentuk luarnya. Wajahnya bersih, mungkin setiap hari ia mencukur kumis dan jenggotnya, tak ada bekas luka. Dalam pikiran hakim tersebut masih bergentayang, kecenderungan pemuda ini seorang pembunuh berdarah dingin.

“Baiklah, saya tutup pertanyaan disini, tapi Anda tetap dihukum karena Anda satu-satunya orang yang hidup dan tersisa dari tragedi kematian masal di kampung tersebut.”

“Ya Pak Hakim”

“Vonis Anda, hukuman mati karena Anda melakukan kejahatan besar dan tidak mengakuinya”

“Saya terima, maaf satu lagi, saya akan ceritakan apa yang membuat orang sekampung bunuh diri”

Seketika, keluarga orang kampung yang datang dari negeri lain itu terdiam. Suasana gaduh yang senang menyambut hukuman mati, menyusun hening. Palu pun tak jadi diketuk, hakim membenarkan duduknya seakan siap untuk mendengarkan kesaksian lain dari pemuda tanggung ini. Kontan pula cuaca diluar seakan mendukung pengakuan-pengakuan yang akan dibeberkan. Suasana menjadi mendung dan gerimis. Pelan-pelan pemuda itu beranjak dari kursinya serta meminta penjaga membuka borgol yang membelenggu kedua tangannya. Kedua penjaga itu pun bingung, namun raut wajah hakim membuat mereka menyakukan kembali borgol miliknya. Pesakitan ini tak akan lari, pikirnya.

“Siapa aku? pertanyaan besar di kepala orang-orang yang membenciku. Mengapa hanya aku yang bisa kembali, lantas dimana ratusan orang yang berada di kampung itu? Aku akan menjawabnya! Kampung kami memang tersohor. Di negeri ini, kampung kami menjadi langit dan kampung-kampung lain tahu betul itu. Alasannya disini hidup kami serba berkecukupan. Tak pernah terbersit di kepala kami. Siulan-siulan memanggil untuk keluar dari kampung. Disini semuanya ada, dan kami yang punya. Disinilah semuanya dimulai, ketika kami tahu tanah kami kaya. Nenek moyang dan tetua adat kami dahulu punya pesan yang kami lupa awal dan akhir kalimatnya. Seolah-olah kami sengaja membuat permanen lupa di kepala. Gerakan serentak itu pun menular ke anak cucu kami. Kami semakin kaya, hidup semakin jauh dari bumi. Di langit semuanya ada, mulai dari hujan sampai ke awan. Kami tak perlu lagi bumi. Bagi kami bumi itulah mengajarkan kami sampai ke langit. Menjadi hartawan yang tak habis-habis timbunan emasnya.”

“Kampung itulah kampung kami. Di bawah tanah kami, ada ladang-ladang minyak. Kami orang minyak. Kampung minyak, semua yang kami punyai paling tidak sedikit berminyak. Rumah kami dari minyak, kendaraan mewah kami dicipta dari berkubik-kubik minyak. Jangan sangka minyak kami, bisa habis? Tidak minyak kami tak akan habis. Pernah suatu ketika orang pandai datang menengok ladang-ladang minyak kami. Dia pun menelan ludahnya dalam-dalam. Ia merasa takjub dengan kedalam dan kehitaman berlian di tanah kami.”

“Orang-orang di kampung pun tertawa, mereka senang dengan segala tukaran tawa dari orang pandai. Bisa dibayangkan, orang pandai itu hanya bisa duduk melihat dan memperkirakan semuanya tak akan habis oleh ribuan turunan kami. Kalian tahu? Kampung ini tak lebih dari sebuah daerah sub-urban yang dulunya tak dihuni. Nenek moyang kami malah tinggal di seberang kampung, melewati sungai-sungai kecil yang mengular. Sekumpulan orang dari negeri seberang datang. Entah dengan judul ekspedisi apa, namun mereka memastikan di seberang sungai akan dihuni oleh orang-orang kaya. Kekayaannya tidak akan mampu tertukar zaman dan waktu.”

“Sontak saja nenek moyang kami gemetar, mereka seolah tidak percaya dengan bangsa asing yang mencoba menerka-nerka rawa di seberang. Ada jalan pikiran seorang nelayan yang tak bisa menurut dengan pria asing yang bersih tampilannya, mengenakan arloji serta jas yang cukup rapi. Mereka orang-orang dari sebuah perusahaan besar dari negeri lain. Janjinya akan mengeluarkan dari perut bumi, lautan emas hitam yang tak pernah diketahui orang-orang. Nenek moyang kami pun kebingungan, tatkala wajah-wajahnya dihadapkan pada perintah negeri. Di negeri kami, setiap orang asing yang mengajak menjadi kaya raya tak boleh ditolak. Siapapun itu, mereka harus rela menampakkan senyum terbaik di hadapan bangsa asing berjas tersebut. Begitulah nenek moyang kami merelakan kampung seberang, yang merupakan pemakaman generasi terdahulu dari mereka. Di sana ratusan makam sudah menyatu dengan akar-akar pohon beringin”

“Nenek moyang kami, duduk berlama-lama di atas sampannya. Ia menangguk kesedihan, di antara bubu yang dipasangnya di tengah arus. Pelan-pelan nenek moyang kami, melihat satu demi satu pohon-pohon ditebangi, makam-makam pun digali hingga tak lagi terperi rasa pedih mendengar gesekan tulang dengan besi-besi yang menggaruknya. Ada mesin algojo-algojo yang datang untuk meraung lalu menumpahkan lumpur-lumpur dan menggantinya dengan minyak-minyak.”

“Saat itu pula lah, semua berubah arah. Nenek moyang kami pindah ke kampung seberang. Sampai pada generasi kini, saat tulang-belulang mereka pun sudah hilang. Ya inilah kampung kami.”

“Dan bagaimana hari kelam itu? ketika kematian datang ke kampung kami? semuanya berawal ketika aku pulang dari kampung seberang, setelah mengunjungi keluarga disana. Sepanjang jalan hanya ada keheningan, kepai angin menjejak di pohon-pohon kelapa, namun tiba-tiba semakin dekat dengan rumahku terdengar suara ledakan. Ya ledakan tangisan, bukan ledakan dari yang lain. Orang-orang menangis, meraung, mencela siapa saja yang mendekatinya. Amarah mereka sudah ditanam, tampak dari mata yang membangkang.”

“Ada kepulan ragu di kepalaku, menyoal asal mula tangis yang membuat buncahan emosi meliar di kepala mereka. Serempak, satu demi satu alunan itu menghentikan langkah. Aku tak berkedip melihat wajah-wajah mereka. Persis sebuah pengulangan dan terus melakukan gerakan itu, tak ada sakit di wajah dan tubuh mereka. Aku tak yakin tangisan yang keluar dari sorot matanya bukan karena sakit, namun lebih kepada sebuah hal yang belum juga bisa kuungkap.”

“Malam itu cahaya begitu remang, hanya ada beberapa rumah yang masih ingat untuk menyalakan lampunya. Pelan-pelan aku duduk di sebuah kursi panjang, merasakan ada aura yang berbeda hari ini. Darah yang mengucur ke seluruh penjuru. Orang-orang yang sesak dengan melukai diri sendiri. Aku sudah coba untuk menahan mereka untuk tidak mengulangi penyiksaan terhadap tubuhnya sendiri, apa daya. Aku pun harus dimaki dan dicela olehnya hanya karena menghentikan ia membenturkan kepalanya yang terus berdarah ke tiang besi.”

“Langit begitu mendung, setelah gerimis memutar. Ada kawanan angin yang menyerbu kampung kami. Ia menyelip di antara suasana kegelisahan yang bergumam di hatiku. Aku bingung hendak bertanya dengan siapa. Perihal menuntaskan luka yang sedang mendera kampung kami. Aku pun terus berjalan, menelusuri jalan hingga ke ujung kampung, tepat di pinggir sungai. Entah kenapa aku merasa ada panggilan luar biasa dari nenek moyangku untuk berdiam disana melantunkan keluh kesah malam ini. Sepanjang perjalanan aku menemukan tubuh-tubuh yang rubuh. Ada yang menggeletar terkapar, dan anehnya semuanya sepakat untuk mengikuti tubuh-tubuh yang rubuh.”

“Mataku tak sanggup lagi melihat tubuh-tubuh tersebut. Mereka didominasi tubuh dewasa yang mulai ringkuh, namun anak kecil yang tak berdosa pun seakan angkat tangan untuk turut dalam nelangsa. Langkah gontai kakiku semakin kecil. Aku semakin tak sanggup melihat wajah mereka, kutundukkan kepala ini. Menerkam cacing-cacing tanah, yang sudah siap melahap tubuh-tubuh mereka. Satu demi satu suara tangisan mulai menghilang. Semakin terdengar sayup dari kejauhan. Suara itu tak lagi membuat gemericik di antara kesenyapan sungai.”

“Aku berdiri di pinggir sungai dan ada yang terlewat olehku. Ada sebuah speedboat datang dari ujung ladang. Orang-orang petinggi perusahaan rupanya. Aku pun bersiap lalu berdiri, menunjukkan rasa sopan. Mereka tampak masih mengenakan helm proyeknya. Ingin aku sampaikan padanya, bahwa kampung sedang mengalami kekacauan besar. Semua dilanda kesedihan tentang kepiluan, mereka semestinya tahu dan pergi memanggil bantuan kepada orang-orang diluar kampung.”

“Speedboat itu memelan lalu menepi, lantas aku pun mendekati mereka. Aku bingung hampir semua dari mereka merupakan petinggi perusahaan pengeruk minyak bumi kami. Mereka sangat lengkap, ditambah beberapa kotak yang tersusun rapi di bagian belakang. Tuan hendak kemana? Singgahlah sebentar disini ada kekacauan hebat. Orang-orang menangis dan melukai dirinya sendiri Tuan.”

Bibirnya bergeletar. Lidahnya kelu. Ia tak bisa mengucapkan banyak kalimat dan tidak seperti biasanya. “Aku harus pergi, ini bacalah surat ini”

“Lantas speedboat itu pun langsung tancap gas dan meninggalkan aku sendiri di tepian dermaga. Aku ribuan pertanyaan di kepalaku. Apa yang membuat ia pergi dengan sangat cepat dan hanya meninggalkan pecahan gemercik di tengah kesengsaraan. Aku pun duduk mengambil jarak dari bibir sungai. Disana aku membuka amplop dan membaca secarik kertas di dalamnya. Bagiku membaca di saat seperti ini tidak begitu penting, apalagi suasana kalap dan cahaya yang remang.”

Kumulai dari sebercak tulisan, “Krisis ini semakin besar dan sumber minyak bumi di daerah ini sudah habis. Maka dengan ini perusahaan ditutup dan segala hutang perusahaan ditanggung kekayaan karyawan.”

“Pasal inilah yang membuat guratan kilat di kepala. Kelebat petir menggema meski tak hujan. Kampungku yang dahulu disebut sebagai langit yang tak akan habis mengucurkan hujan kini menjadi ompong. Pernyataan gila apa yang sedang kubaca di kertas ini. Semua yang kami miliki, tanah kami yang kaya akan minyak bumi. Aku yakin mereka sedang bersandiwara, tapi sandiwara tidak akan sesadis ini membuat orang-orang rubuh dan menangisi hartanya. Mereka, orang-orang kampungku sedang menangisi takdir mereka tentang ramalan kekayaan. Mereka lupa perihal hujan tak akan terus turun, sebab masih ada musim kemarau yang bakal datang di kemudian.”

“Di pinggir sungai ini aku duduk melihat bercak darah memenuhi sungai-sungai. Suara semakin hilang. Warna pun memerah saga, dan naik hingga ke dadaku. Aku tenggelam dalam kerakusan. Kampung kami tentang ladang dan disini kami dimakamkan. Kami mati dalam kedangkalan. Tanah yang tak lagi menyemburkan api abadi. Mati sendiri atas nafsu yang melupakan takdir Tuhan. Lantas aku terngiang tentang nenek moyang, pesan-pesan yang kami lupakan. Menjaga tanah bukan menyengsarakan tanah.”

“Saya pikir cukup dan sudah menceritakan semuanya Pak. Silahkan hukum mati saya Bapak Hakim! Saya sudah siap.”

Rian Harahap adalah alumni Magister Pendidikan UNRI. Menulis cerpen di beberapa media cetak dan online.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>