Cerpen “Lang Pa Cha” karya Ferry Fansuri

Lang Pa Cha

Oleh

Ferry Fansuri

 

Dingin dan gelap. Aku tak tahu berapa lama ada disini dan tak ingat apa yang terjadi dengan diriku. Aku tergeletak tanpa sehelai baju, udara malam menyelinap ke sela-sela tulang-tulang ini.Tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali, semua indera mati rasa tapi masih bisa merasakan bahwa aku hidup. Siapa aku dan mengapa ada disini? Kucoba mengingat-ingat, memeras otakku, sekelebat flash back melompat kesana kemari mencari jawaban memori. Tapi beberapa lama ku mencari jawabannya, tak kunjung muncul. Imaji-imaji yang tersaji tak lengkap dan kabur dihadapan mataku tapi dikit demi dikit itu muncul. Ada sejumput memori mulai berpendar dalam otak memompa tautan neutron menghasilkan bayangan masa lalu. Dan itu aku ingat.

Saat itu aku baru saja landing di bandara Suvarnabhumi,menikmati kebebasan dan menghirup udara sepuas-puasnya. Apakah kau tahu apa bedanya pelancong dan petualang? Seorang pelancong pasti menyiapkan segala sesuatu jauh hari, membuat agenda, list perjalanan, tiket, hotel dan semua hal. Tapi petualang beda, semua no plan just do it. Melakukan perjalanan buta tanpa persiapan apapun dan itu sekarang aku jalani, berawal dari tiket promo murah yang ku dapat dari agen online. Aku ambil tiket itu dan ranselku tanpa berpikir dua kali.

Menempuh perjalanan 4 jam dari Soekarno Hatta, sekarang aku ada disini di negara yang tak pernah dijajah oleh bangsa manapun dan beribukotakan Bangkok. Land of free, berbekal kaos oblong, celana butut dan beberapa dollar yang telah aku tukar ke bath. Kaki berbalut sepatu kanvas menyusuri jalanan milik Raja Bhumibol, terik matahari kala siang itu. Jalanan bangkok membara membuat keringat bercucuran diseluruh tubuh tak beda dengan Jakarta. Tapi yang kurasakan panas melebihi derajat celcius normal, mungkin aura maksiat sudah lama menjalar sisi-sisi kehidupan negara dimana prostitusi jadi daya tarik pariwisatanya.

Diantar oleh pengemudi Tuk Tuk ke hostel murahan di kota ini untuk merebahkan badan dan menghilangkan penat sehabis jetlag. Phatkong, supir Tuk Tuk yang mengantarku menawarkan sesuatu yang susah ku tolak.

Sir, first time in Bangkok? bicara bahasa Inggris dengan logat Thai.

Yes, its my first at here

“Tuan mau cari apa di Bangkok?”

“Wanita?”

“Lady Boy”

“Whiskey?”

“Mariyuana?”

Tawaran Phatkong ini tak jauh beda dengan turis guide pada umumnya, aku tak menjawabnya dan mengubris ocehannya. Semua itu pasti ditawarkan pada turis-turis berbau pelancong tapi itu tidak membuatku tertarik karena aku ingin mencari yang lain lebih menantang.

“Maaf tuan apa yang anda cari?, semua tawaran saya tidak membuat anda bergeming?”

“Tawaran kamu itu sudah umum, kalau itu banyak di Jakarta. Aku ingin melihat Bangkok yang beda” seruku semangat.

Phatkong terdiam, tampak wajahnya berpikir keras agar buruan turis yang akan memberikan Bath atau dollar tak lepas dihadapannya.

“Oh Tuan ingin sesuatu yang menantang dan tidak ada di tempat tuan”

“Tuan pernah mencoba Arak Bisa Ular?”

Hah..arak bisa ular baru aku dengar itu Apakah itu semacam obat kuat? Atau minuman keras? Dalam hati dan terus berpikir.

“Ini berbeda Tuan dan hanya di Bangkok”

“Apa itu Arak Bisa Ular?”

“Arak ini terbuat dari minuman frementasi beras berkadar alkohol tinggi dan dicampur bisa ular kobra. Jika meminum satu teguk saja, tubuh terasa terbakar hebat. Butuh stamina kuat untuk bisa bertahan karena itu antara mati atau hidup. Beranikah tuan mencobanya?”

Aku tercengang apa yang dijabarkan Patkong, itu layaknya minum racun mematikan. Aku cuman terdiam.

“Jika Tuan tertarik. Malam ini saya jemput di hostel.

Saat di kamar hostel aku sempat berpikir, apakah aku terima atau tidak? Tapi tujuan kesini menemukan hal unik dan berani, jiwa petualang bergelora bukan pelancong kacangan.

 

*******

            Tepat jam 12 malam, Phatkong mengedor pintuku. Kubuka dan diujung pintu Phatkong telah siap. Diantarnya aku mengelilingi Bangkok, menembus dingin malam dengan Tuk Tuknya. Lampu kota menerangi gedung-gedung tinggi, kota tak pernah tidur dan memberikan kenikmatan didalamnya.

Tuk-tuk Phatkong melesat mulus di jalanan Bangkok bak ngengat mencari temaran cahaya. Berhenti di suatu kawasan masih di tengah kota, hinggar bingar suara bercampur asap rokok dan bau alkohol menyatu disini. Tempat para hidung belang menghabiskan syahwatnya, dikenal PatPong. Icon pariwisata yang diandalkan Bangkok selain Pattaya tentunya.

Phatkong memarkir Tuk Tuk di pinggir jalan dan menyuruhku untuk turun. Ia berjalan memasuki gang-gang di PatPong, aku mengikuti dibelakang. Deretan café pub berjajar di gang tersebut, pandangan tertuju dibagian dalam. Wanita-wanita muda nan cantik hanya bercawat menari diatas meja diiringi musik DJ dan dibawahnya laki-laki bule teler memujanya. Ah..inilah angin surga duniawi.

Tapi bukan itu yang dituju oleh Phatkong, ia hanya memberikan kode untuk meneruskan jalanku dan memalingkan pandangan dari pesona PatPong itu. Terus menyusuri gang itu dan tibalah disebuh gudang diujung gang tersebut. Phatkong memberikan kode dalam bahasa Thai. Terbukalah pintu gudang itu perlahan, didalamnya sosok pria brewok dengan sekujur badan penuh tatto.

Kami dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya, terlihat didalamnya wajah-wajah sangar dengan tatapan tajam.

“Oh ini turis yang kau bicarakan Phat?” suara itu muncul dari kerumunan pria, lelaki perawakan kecil tapi wajah datar.

“Iya khun(pak) ini pelancong yang ingin mencoba minuman kita” jawab Phatkong menaruh hormat dalam kepadanya.

Orang itu menatapku dari ujung rambut sampai kebawah, menyelidiki dan matanya terus berputar menjelajahi.

“Kau tahu konsekuensi anak muda? Jika kau mencoba arak ini ada resikonya. Ini permainan kematian bahkan malaikat tak akan bisa menolongmu” tatapannya menusuk mataku dan membakar dalam jiwaku ini.

“Itu gunanya aku disini, jauh-jauh aku kesini hanya untuk mencoba yang berbeda dari negara tuan” sahutku enteng.

Lelaki datar tidak berkata-kata lagi, hanya menjentikkan jari. Kerumunan itu seperti dikode membuat lingkaran dan ditengah terdapat meja, diatas sebotol gelap dengan tutup kayu gabus diatasnya dan sebuah gelas kayu. Seeorang dari mereka membuka tutup botol itu, bau menyengat bangkai tercium aromanya. Dituangkan cairan itu ke gelas, tampak busa putih bergelembung disana.

“Silakan, tapi ingat ini satu kesempatan. Kau boleh mundur”

Aku tak berpikir dua kali, tak takut sama sekali. Ini hanya trik mereka menakuti tiap turis agar rahasia mereka tidak terungkap. Kusentuh gelas itu, tangan ini terasa panas. Minuman macam apa ini? Pikirku.

Kuletakkan ujung pinggir gelas itu menyentuh bibirku, sedikit mencicipi terasa hambar dan tiada rasa. Ini hanya akal-akalan mereka saja, arak bisa ular apaan..hoax.

Kutelan habis cairan itu sampai masuk dalam tenggorokanku, kuletakkan gelas itu dimeja  bagaikan tanda kemenangan. Kupandangi mereka satu persatu dan menyunggingkan senyuman.

Mereka malah membalas dengan kekehan tawa dari mulut mereka, kuseka mulutku dari sisa-sisa cairan itu. Tak hiraukan mereka, sesaat perlahan kumelangkah ke pintu keluar. Tiba-tiba tubuh ini jatuh ke lantai, kaki-kaki terasa lemas. Kenapa aku ini? Tubuhku kaku tak bisa digerakkan, jari jemariku terputus dengan syarafku. Apakah dari efek arak itu? Aku tergolek mati rasa, hanya bulat mataku nistagmus bergerak cepat tanpa sengaja dan diluar kemauanku. Gelap dan redup.

 

*************

 

Mata ini terasa berat untuk membuka, kelopak melekat bagai lem. Semua memori telah kuingat, cairan brengsek itu dan pria berwajah datar itu. Ingatan yang tersisa di area gudang itu, aku tak tahu beberapa lama pingsan. Kudapati diriku hanya bertelanjang di lapangan ini, diufuk sinar matahari membelah malam. Siluet pagi hari menerpa wajahku dan menerobos mataku hingga bisa kulihat sekelilingku.

Tampak tanah lapang, tidak ada bangunan apapun disekitarnya. Kulihat hanya sebuah tenda berdiri di ujung sana. Dalam tenda muncul dua pria berpakaian putih, bercakap-cakap bahasa thai dan lambat laun kudengar apa yang mereka bicarakan.

“Soy, jam berapa sekarang?

“Hampir jam tujuh Kay”

“Sudah waktunya melakukan upacara La Pa Cha*, kita tunggu lainnya”

“Benar, mereka belum datang. Kita tinggal menyiapkan keperluan untuk upacara itu”

Aku tak mengerti apa mereka ucapkan, keduanya mendekat ke arahku. Aku tak

berkata-kata, mulutku seperti terkunci, tenggorokkanku tercekik. Seorang dari mereka melirikku

“Kasihan pria ini, tidak ada indentitas dan pengenal apapun”

Apa yang ia bicarakan, aku punya nama dan paspor. Tapi kuingat-ingat kembali, sial semua aku tinggal di hostel itu. Pengin aku teriak tapi tubuh terbelenggu kaku.

Matahari sudah bergerak sepertiga diatas ubun-ubun, kerumunan manusia bermunculan diberbagai sudut. Mereka mengerumuni aku, mereka mulai mengerat tubuhku mulai dari ujung kaki sampai telinga.

Hei, apa yang kalian lakukan ?!! hentikan!! Tapi mereka tidak bisa mendengarku. Mereka membuat diriku terpotong dua bagian, sebuah gergaji membelahku. Menguliti, menyobek, mencincang dan menarik daging dalam organku. Bisa kulihat potongan-potongan tubuhku terpisah dimana-mana oleh mereka

Mereka tak tampak jijik, terbiasa dengan ini semua.

Semua tak tersisa dari tubuhku mereka kerat dan hanya meninggalkan tulang belulang disana.

 

Surabaya, April 2017

 

 

* Lang Pa Cha adalah sebuah ritual yang ada di Thailand berupa menguliti, mencincang, memasak dan memakan bangkai manusia. Lang Pa Cha sendiri diartikan “pembersihan dan merapikan pemakaman”. Umat Budha di Thailand lebih suka melakukan kremasi daripada mengubur karena memakan lahan pekuburan. Ritual tersebut dilakukan pada jasad-jasad tidak diketahui riwayat tanpa tanda pengenal atau tidak mempunyai kerabat sama sekali. Prosesi mutilasi mayat ini masih dilakukan pada masyarakat Prachaub Khiri Khan sebuah provinsi barat daya Thailand.

Tentang Penulis

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antologi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>