[CERPEN] Menyelami Kenangan Karya Dela Septariani

[CERPEN] Menyelami Kenangan Karya Dela Septariani

Menyelami kenangan

 

Malam hari ini hujan kembali turun. Ahiya akhir-akhir ini hujan memang selalu datang.

Ia datang membasahi bumi dan membuat tanaman menjadi segar. Dan malam ini bersama derasnya hujan, aku kembali mengenang-nya. Aah entahlah, seperti hujan dia akhir-akhir ini memang selalu datang di-dalam pikiranku. Bedanya ia membuat hati ku kering dan jiwa yang lelah. Bagaimana tidak lelah? Kenangan yang selama ini ku kubur dalam. Namun kembali hidup dan bersemayam di otak-ku. Ahiya aku seolah memutar kembali rekaman memori lama. Memori yang memiliki sejuta kenangan. Kenangan yang selalu ku usahakan untuk tak lagi ku ingat. Tapi nyatanya malam ini aku gagal, Kenangan itu kembali teringat jelas. Bagaikan seseorang yang telah lama kehilangan ingatan dan kembali menemukan ingatannya.

Aku kembali menyelami masalalu. Waktu memang seolah sengaja menyeretku kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih bersama dengannya. Iya sekitar empat tahun yang lalu. Waktu mempertemukan aku dengannya. Entah tak sengaja dipertemukan atau memang Allah sengaja mempertemukan. Tapi aku percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Dan setelah bertemunya dua orang asing yang awalnya saling tak perduli. Bahkan seperti tak saling menyadari bahwa adanya kehadiran masing-masing. Ternyata Allah mempunyai rencana lain, ia menciptakan sebuah rasa yang kala itu ku namai dengan cinta. Ahiya rasa itu tumbuh pesat dalam hatiku. Dan ternyata Allah juga menciptakan rasa itu didalam hatinya. Iya lebih tepatnya November 2013,

Dia menyatakan suatu perasaan yang memang selama ini ku tunggu. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana bahagia-nya aku kala itu. Senyuman kecil dengan hati yang berdegub kencang. Aku dan dia mengharapkan sebuah kebersamaan yang akan selalu terjaga.

Hari kian hari hingga berbulan-bulan yang ku lewati dengannya tampak begitu menyenangkan.

Terlebih lagi ketika ia memberikan sebuah pengharapan yang nantinya akan indah pada waktunya. Dia pernah menjanjikan akhir yang begitu bahagia, Dia membuat ku terbang setinggi angkasa menjadikan aku seolah seorang malaikat yang menjadi sayap pelindungnya.

Dia pernah bilang;

“Aku sangat bersyukur karena terlahir sebagai laki-laki normal

yang bisa melengkapi kekurangan mu,

aku sangat bangga bisa membuatmu bahagia karena dengan kehadiranku dihatimu.

Memiliki mu adalah hal yang terindah dalam hidupku.

Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa karena memilihku.

Bagiku kamu adalah sosok wanita yang sangat sempurna.

Aku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari hidupmu.

Dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik hanya untukmu.

Walaupun aku bukan yang terbaik”

Ya sebuah janji yang pernah ia tulis untukku. Dia juga pernah bilang bahwa ia takkan membuatku menangis dan bersedih karena perlakukannya padaku. Apalagi kalau meninggalkan ku dengan orang lain. Tidak akan pernah, tidak akan pernah terjadi. Ya dia memang selalu menjajikan sebuah kebahagiaan untukku. Dia juga pernah bilang kalau suatu saat  nanti ia terpaksa akan pergi, Namun akan kembali lagi untukku. Dia pergi sementara untuk menyiapkan kebahagiaan yang utuh. Aku juga berjanji padanya bahwa aku akan setia menunggu. Tapi sebelum waktu itu tiba dia sudah pergi terlebih dahulu dari sebuah kebersamaan yang katanya selalu akan ia jaga. Ya dia memang pernah bilang kalau rasa dihatinya tidak akan pernah hilang, Meskipun sakit, meskipun pahit, akan tetap ia pertahankan. Dan meskipun begitu banyak rintangan dan halangan tetapi tekadnya untuk bersamaku akan tetap kuat. Namun kelihatannya ia lupa atau barangkali ia kehilangan ingatannya. Ahiya, dia lupa akan janjinya. Semua-nya hilang..

Janji yang dulu terucap jelas sudah menjadi kalimat yang tak berarti. Dia benar-benar pergi bahkan tak akan pernah lagi datang untukku. Dia menghilangkan aku dari ruang tinggal dihatinya. Dia melenyapkan kenangan bersamaku di memori otaknya. Dia kembali menjadi orang asing seperti seorang yang tak saling mengenal. Barangkali dia memang benar-benar hilang ingatan. Dan aku…

Aku merasakan sakitnya sebuah pengharapan. Merasakan kekecewaan yang mendalam. Ahiya, aku akhir-akhir ini menjelma sebagai wanita yang tak peka. Memiliki hati yang seolah bagaikan karang-pantai bahkan memiliki daya ingat yang begitu kuat.  Bagaimana bisa aku seketika lupa. Atau aku harus berpura-pura tidak pernah ada dalam kehidupannya. Apalagi yang bisa ku pilih selain menjalani hari dengan penuh kegundahan. Hari-hari yang terlihat tak menyenangkan. Ya bagaimana lagi aku bisa terbang sedang sayap-sayap ku telah ia patahkan.

Aku benar-benar merasakan pahitnya sebuah pengharapan. Satu tahun berlalu perasaan itu masih tetap utuh. Harapan yang ku genggam dengan erat ku lepas dengan perlahan.

Sebuah rasa yang  kusimpan rapi segera ku bunuh. Aku memperjuangkan dengan sekuat tenaga untuk menghapusnya. Aku berusaha mengubur satu persatu kenangan tentang-nya.

Meski tak seluruhnya. Ya begitulah pilihan terbaik yang bisa aku lakukan. Sakit? Iya, benar-benar sakit. Dikhianati oleh seseorang yang pernah menjajikan banyak kebahagian.

Dia pergi, hilang dan tak menyisakan sedikitpun jejak selain kekecewaan. Ya dia memang seperti senja yang hadir sejenak membawa keindahan  dan kemudian pergi menyisakan ketiadaan. Bagaikan rerintik hujan yang hadir hampir tanpa suara.  Masuk tanpa mengetuk dan pergi tanpa permisi. Seperti sudah sepakat dengan benda yang menempel pada dinding.

Menjanjikan waktu  yang tak akan pernah berkhianat.  Membawaku melewati setiap detik kejadian yang tak pernah ku bayangkan hingga menyeretku pada jarak sejauh ini.

Tapi nyatanya apa? Ia seketika lupa bahkan benar-benar tak sedikitpun  mengingat tentang kehadiranku. Andaikan tidak ada waktu yang mempertemukan. Aku juga tak perlu merasakan pahitnya perpisahan. Aah, aku benci. Aku ingin pergi.

Satu tahun kembali berlalu. Aku perlahan mulai menghilangkan perasaan itu. Walaupun sebenarnya ia tak benar-benar hilang. Aku hanya mengubur kenangan bersamanya dan sesekali bisa ku ziarahi untuk ku ambil pelajaran atau hanya sekedar ku kenang.

Pada tahun kedua kehilangannya hatiku kembali terbuka. Bahwa sebuah kehilangan tak mesti ku benci. Barangkali dibalik kehilangan tersimpan sebuah keindahan.

Ya aku sudah memaafkannya. Aku tak lagi begitu mengharapkan kepulangannya untukku.

Ternyata dia tak benar-benar menyerupai hujan, Dia hanya mengambil sisi yang tak ku sukai dari hujan. Hanya seperti rerintik hujan yang datang tanpa diminta, Jatuh dengan perlahan namun meninggalkan jejak yang menyakiti. Menyita perhatian dan membuat menunggu dan kemudian pergi seketika tanpa permisi. Seharusnya ia mengambil sisi paling romantic dari hujan. Bahwa hujan selalu ingin kembali walaupun ia sudah merasakan bagaimana rasanya jatuh berkali-kali.

Ya aku tahu, aku salah.

Tapi dia juga salah.

Aku menyalahkannya.

Dan aku selalu terlihat salah dimata nya.

Barangkali aku seseorang yang ia kenal sebagai wanita yang pernah hadir dan menyakiti hatinya. Ahiya tiga tahun yang lalu sebelum ia memutuskan untuk benar-benar pergi ada pertengkaran hebat antara aku dan dia. Barangkali bagi-nya kehadiranku hanya membawa luka. Tapi dia tak pernah sadar bahwa akulah yang paling tersakiti.

Iya aku selalu ingin benar dan tak mau disalahkan. Dan barangkali dia pun begitu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya alasan dibalik keputusan yang dia ambil. Yang aku tahu bahwa ini begitu menyakiti-ku. Dia juga tak akan pernah tahu kenapa aku bersikap demikian. Seharusnya tak begini, Kalau sama-sama tak saling tahu kenapa harus saling bersikuat dengan argument masing-masing. Ya aku memang pernah berkali-kali meminta maaf dan ia pun dengan santai memaafkan. Tapi nyatanya hingga saat ini aku dan dia benar-benar seperti orang asing.

Aku tak tahu kata maaf yang terucap benar-benar muncul dari hati atau hanya sekedar lisan.

Hari-hari ku jalani dengan kegelisahan.

Aku kembali berusaha melupakan, memaafkan dan mengiklaskan. Di dua tahun berpisah dengan-nya aku memilih untuk benar-benar mengikhlaskan kepergiannya. Iya, dua tahun ini aku menjadi salah satu wanita dari sejuta manusia yang bersedih karena patah hati . Tapi haruskah aku menghabiskan hidup hanya untuk menjadi seorang wanita yang bersedih? Tidak, aku bisa kembali tersenyum bahagia. Karena sesuatu segera menyadarkan aku, bahwa bila memang dia sesuatu yang ditakdirkan Allah untuk ku, tentu dia tahu arah jalan pulang. Walaupun sebenarnya aku tak ingin lagi mengharapkan hati-nya. Namun aku akan tetap memberikan ruang tunggu untuk-nya. Dan bila memang dia tak akan pernah kembali. Aku akan mengekapakkan kembali sayap-sayapku yang sempat ia patahkan dan terbang pergi sejauh mungkin dari ruang tunggu yang selama ini masih ku simpan rapi untuk-nya. Ahiya, untuk apa lagi aku bertahan disana sedang dia tidak tahu lagi arah jalan pulang. Barangkali dia sudah menemukan tempat tinggal baru. Dan aku, aku akan terus berjalan. Bukannya orang-orang akan selalu dipertemukan diperjalanan dengan tujuan yang sama. Dan dalam penantian aku akan segera dipertemukan dengan seseorang yang memiliki tujuan yang sama denganku. Aku tak perlu khawatir perihal kehilangan. Bahkan dengan kehilangan aku mampu belajar bagaimana tentang mengikhlaskan, melepaskan, dan setelah merasakan sakit berkepanjangan aku bisa menjadi lebih kuat. Kehilangan pun bukan sekedar tentang bersedih. Iya memang, tidak bisa di pungkiri. Hati mana yang tak terluka bila kehilangan seseorang yang teramat disayangi . Iya aku tahu aku perlu proses yang panjang. Aku harus melewati waktu yang begitu panjang; Berhari-hari, berbulan- bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa benar-benar terlepas dari belenggu cinta ini . Aku harus menahan rasa kecewa yang mendalam bahkan harus membunuh rasa yang begitu sulit aku lakukan. Bagaimana bisa aku membunuh rasa cinta ini sedang untuk menguranginya sedikitpun aku tidak bisa . Aku masih bertahan dengan perasaan yang sama seperti pertama kali aku mencintainya . Aku melewati hari sendiri berteman dengan sepi. Aku menahan sakitnya sebuah pengharapan sendiri. Aku pun berjuang sendiri. Sedang dia seolah sudah menemukan kehidupan baru. Kehidupan yang sama sekali tidak ada aku didalam-nya. Dia yang kini sudah berbahagia tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana aku. Sesak rasa-nya ketika mendengar semua kenyataan ini; bahwa dia memang sudah tak memperdulikan aku lagi bahkan tidak ada lagi aku di ruang ingatan-nya. Hanya aku yang tertinggal sendiri disini. Aku benar-benar terpuruk hingga rasa ini menjadi mati. Iya, kamu mau tahu ? Aku tak perduli lagi dengan orang lain. Tidak sedikit-pun aku mencoba untuk membuka hati; hatiku telah ku tutup rapat-rapat. Tidak pernah aku mencoba untuk memikirkan orang lain; barangkali ruang otak ku sudah dipenuhi dengan semua kenangan tentang kita; iya, tentang aku dan kamu. Tapi melalui semua rasa pahit itu aku menjadi wanita yang kuat, aku bangkit dan kini aku sadar tak semestinya bila harus berlarut sedih. Aku berpikir bahwa yang ingin pergi biarkanlah ia pergi. Bila memang ditakdirkan untuk bersama: ia pasti akan kembali. Dan kini aku sudah mengikhlaskan. Aku sudah benar-benar tak ingin tenggelam dalam rasa yang salah. Aku harus bangkit untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku harus berbenah diri agar kemudian bisa bertemu dengan orang yang tepat dan diwaktu yang tepat.

Ahiya sebuah keputusan yang ku ambil pada satu tahun yang lalu, walaupun malam ini aku kembali mengenang-nya. Mengingat setiap rekaman memori bersama-nya. Seolah mengulang kembali setiap detik waktu bersama-nya. Barangkali mengingat-nya malam ini menjadikan aku lebih kuat. Bukan lagi hanya sekedar karang-pantai yang menunggu ombak datang membawa kabar dari-nya.  Ahiya dia memang harus tahu; aku tidak pernah membenci kenangan pahit di masa lalu dan aku juga tidak lagi mengharapkan-nya. Iya detik ini bibirku terpaksa tersenyum, hatiku berkata bahwa aku sudah bahagia dan aku memaafkannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata penulis

 

Nama saya Dela Septariani, kelahiran Panggal-Panggal, 15 September 1997, tempat tinggal Panggal-Panggal, Kec. Semidang Aji, Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Saya mencintai dunia sastra sejak duduk di bangku SMA namun baru mencoba menulis di akhir tahun 2016, berawal ketika saya menjelma menjadi wanita yang terlalu peka, peka dengan keadaan hingga menuliskan setiap kejadian yang di alami oleh hati pada lembaran kertas kosong. Tulisan-tulisan sederhana saya bisa dibaca di blog saya yang beralamatkan: delaseptariani.blogspot.com. Akun facebook : Dela Septa Riani.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: