[CERPEN PEMBACA] “Perenggut Takdir” Karya Nia Halverson

Sebuah kisah cinta. Mungkin.

Nia Halverson berhasil membuat karya yang menarik untuk dibaca. Cerita pendeknya kali ini sederhana, tapi manis. Bisa jadi, setelah membaca cerpen ini, kita akan memiliki keinginan untuk membeli buku-buku yang menampilkan namanya sebagai penulis.

Sahabat, selamat menikmati, cerpen karya Nia Halverson. :)

PERENGGUT TAKDIR

 

Gilang gemilang jingga itu nyaris kandas ditelan bumi. Menyisihkan kesenyapan dalam siluet yang memendar dan menyayat iris mata.

Aku begidik tatkala desauan semilir angin sawah menggerayangi kaki telanjangku. Rasanya aku sudah berdiam di sini cukup lama, namun belum nampak wajah menawan gadis desa yang kupuja itu. Mungkin jika aku diminta menghitung angka, sudah berjuta angka yang melesat dari mulutku. Dia memintaku menunggu selepas Ashar untuk bersua di sini. Di pelipir jalan dekat pematang yang baru panen. Entah aku yang terlalu berharap atau memang aku yang bodoh—menugurinya sampai nyaris gelap, sementara janji itu telah dilengserkan oleh waktu. Apa aku masih harus menunggu—kepastian yang ‘tak kunjung terjawab?

Aku mendesah kecil, meringis kecewa. Ini bukan hal yang aneh bagiku. Menunggu dan kecewa. Gadis bernama Hasti itu memang terlalu tinggi untuk digapai. Bahkan, mungkin ada berpuluh pria lain yang mau menunggunya, menunggu lebih lama untuk bisa mendapatkan hatinya. Dan aku hanya bajing kecil yang tak mampu berayun cukup tinggi untuk menyentuh bintang.

Mendesah untuk yang ke sekian kalinya, akhirnya membuatku beringsut. Kaki telanjangku aku tapak di antara rerumputan dan tanah setengah basah. Katakan, mungkin aku terlalu rakus menginginkan sebuah hati, hingga waktu aku perjuangkan, dan gigil pun aku sanggupi. Entah, menjarahnya dari takdir yang Tuhan desaukan itu seperti mencoba mencuri selimut dari seorang tunanetra. Mungkin aku yang terlalu pandir.

“Damar,” sayup-sayup suara bak beledu menggerayangi indera pendengaranku. Sejenak aku tergeming. Aku balikkan tubuhku dan sesosok serupa Dewi Sumbadra menyentakku. Ia tergeming membelakangi kilau sinar senja. Gadis pujaanku telah datang.

“Aku datang.” Katanya, membuatku sedikit menutupi rona merah pada wajahku. Respon lain yang membuatku tak sanggup mengontrolnya adalah degup kencang yang datang dari pusat vital diriku.

“Aku takut kamu sudah pergi. Beruntung, Tuhan masih mengizinkan aku melihatmu di sini.” Terselip senyum kecil di sana.

Aku masih tak menyahutnya. Hanya mengamatinya dengan tatapan berkaca-kaca dan rasa terenyuh yang dalam. Aku mendamba gadis ini, mendambanya hingga aku sadar aku bahkan rela menjeburkan diri ke sungai demi selendangnya yang terarung hanyut. Gadis yang membuatku gila ini telah merebut separuh napasku dalam ketidakwarasanku. Dan kini semuanya terbayarkan, meski aku agak sangsi dan nyaris meninggalkannya di belakang demi jalan lain yang lebih logis. Aku menunduk, menyimpulkan satu senyum yang aku yakin membuatnya sedikit merasa lega.

Sekonyong-konyong sebuah pelukan aku dapati. Rasa gigil itu tak aku rasa lagi. Aku memdekapnya erat. Merasakan tekstur brokat di antara jemariku. Aku menciumi wewangian melati dari roncean di sanggulnya dan betapa aku berharap hari ini, senja ini aku miliki ia yang seusai senja nanti ia akan menjadi nyonya wali kota.

Tuhan, rasanya ini tak adil. Seorang gadis yang tumbuh bersamaku selama lima tahun, gadis yang setiap pagi  tak pernah aku lewatkan senyum menawannya, gadis yang setiap hari menungguiku menggarap sawah—ia yang aku kagumi dari ketidaksanggupanku pada akhirnya tidak menjatuhkan jemari tangan lembutnya untuk aku kecup.

Tubuhnya sangat indah—semampai, mungkin hanya hari ini saja aku bisa melihatnya melenggak-lenggok dengan bebas. Perpegangan pada langkan ia mendahuluiku sementara mulutnya bercericip ria. Aku mendapati nada sendu meski ia berusaha menceritakannya dengan senyuman.

“Pak Darkan akan memboyongku ke kota Mas. Aku akan merindukan semua ini.” Katanya, matanya beralih ke arah matahari yang meluncur ke bumi, nyaris kandas.  Desau angin, cericip burung pipit membuatnya memejam—menikmati dari apa yang akan ia rindukan.

“Kau tidak merindukanku nanti?” kalimatku sontak membuat mata indahnya terbuka, ia menoleh dan tersenyum.

“Aku lebih rindu kamu, melebihi seisi jagad raga.”

“Aku bukan orang yang sanggup menggenggam duri dalam jemari Hasti. Andaipun aku sanggup, aku tak yakin kau bisa hidup dalam cengkeramanku.”

“Kata-kata gombalmu, harus aku kubur di mana agar tidak terasa pahit saat memikirkannya?” aku mendapati gumpalan air bening dari ekor matanya. Terlalu banyak emosi yang bergejolak di antara kami. Dan semakin pembicaraan ini terjun terlalu dalam, akan semakin rawan emosi kami. Aku tidak ingin perpisahan kali ini membuatnya menangkap kesalahpahaman yang akhirnya membuat ia membenciku. Aku maju sejengkal menyelentik butiran tetes air matanya yang kini sudah meluncur.

“Semoga kau menemukan sakinahmu dalam pernikahan ini. Aku akan tetap di sini saat kau membutuhkanku, dan masih dalam tunggu yang mungkin akan panjang.”

“Jangan pernah menghitung musim, jangan pernah menghitung umur. Semuanya akan berjalan maju, namun aku ingin hatimu di tempat yang sama.”

“Aku tidak bisa menjanjikan itu Hasti. Namun, kamu tahu jawaban yang tepat dari hatiku akan perasaanku untukmu. Senja ini akan menjadi saksi kita. Saksi perpisahan kita.”

“Aku masih ingin merasakan napasku bersamamu.”

“Tuhan tahu kau akan bahagia bersamanya, Has. Dia akan membuatmu halal untuknya, hal yang tak mampu aku penuhi mengingat kantong celanaku sendiri.”

“Maaf Damar. Maaf sudah egois.” Kalimat itu mengakhiriku melihat mata indahnya. Kami tak lagi bersirobok, alih-alih tubuhnya telah melekat denganku. Aku merasakan wewangian ala pengantin itu lagi, hal yang membuat dadaku terasa nyeri. Iluh kecil menjawab semuanya. Ia tersedu dalam isak, sementara air mataku teredam dalam ketegaran yang aku kontrol. Aku akan merindukan ini; pelukannya, senyumnya, wewangian khas tubuhnya, mata indahnya dan kalimat-kalimat puitis jawaban perasaannya untukku. Dia surgaku yang tak tertakdirkan untukku.

Kami terbuai dalam dunia kami, hingga…, entah sadar atau diambang ketidaksadaran, sayup-sayup aku menemukan sesosok sintal dengan pakaian dari bahan taffela, serupa warnanya dengan milik Hasti. Sorot matanya membidikku, membuatku seolah di tampar badai. Ia penyebabnya, ia sang perenggut takdirku.

 

THE END

 Nia Halverson hanya sebuah nama pena. Sulung dari dua bersaudara ini sekarang tinggal di Bekasi, bekerja di sebuah perusahaan retail. Karya antologinya yang pernah terbit di antaranya; Terima Kasih, A Paper of Hope (2012), Penebit Sastramoeda dan Should I…? serta Visionary yang terbit pada tahun 2014 oleh Penerbit Ellunar.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>