[CERPEN PEMBACA] Tentangku dan Seorang Penulis Patah Hati

Oleh:
Ilkhas Suharji  

Di sebuah meja kecil warna coklat kayu terplitur dengan berbagai corat-coret tulisan tangan usil yang menodainya, oh bagiku bukanlah menodai tapi memberikan nilai seni keindahan karya pena manusia. Aku tergeletak tiada daya kecuali ketika angin yang sedikit kencang itu menghempasku, membuka lembaran demi lembar tubuhku. Di sampingku juga tertidur sahabat setia yang biasa memberikanku tato tubuh dengan kalimat-kalimat sastra atau dengan lukisan kata kegalauan dari tuannya, tuannya adalah tuanku juga.

-

Sudah lebih dari sebulan ini tubuhku tak tersentuh sedikitpun oleh sang tuanku, padahal biasanya tak seharipun terlewati kecuali tubuhku pasti terjamah olehnya. Jujur aku memang merindukan saat-saat dimana aku bercinta dengannya, tertawa bersamanya, atau bercerita tentang hari-hari yang ia lalui, atau keluhan-keluhan tentang cinta, atau saling berfikir mengenai suatu topik, atau menuangkan gagasan kreatif dunia, atau juga berpuisi ria. Aku jadi ingin menangis merasakan kondisi diriku saat ini. Apakah aku sudah termakan oleh ganasnya waktu dan tergilas perubahan zaman? Ataukah hadirku yang telah tergantikan oleh sosok lain yang lebih cantik dan menarik?

-

Sejatinya memang tak ada hak bagiku untuk mengeluhkan hal ini, atau sebenarnya tiadalah suatu hal yang perlu dikeluhkan, sesungguhnya keluhan hanyalah akan membawa diriku dalam kebencian. Tapi, setidaknya bolehkah aku menyuarakan isi hatiku, rasa yang kini kujalani, rasa sepi, seolah tak berguna, tak berarti, lalu untuk apa aku ini ada? Oh Tuhan, tanpa ku sadar ataupun sebenarnya sadar tetaplah kini aku mulai mengeluh, aku merindukannya Tuhan, Salahkah?

-

Haruskah aku memerankan diri sebagai Danau Air Mata seperti dalam kisah legenda, danau air tawar segar yang mengubah isinya menjadi air asin seperti airmata karena merindukan sosok Narcissus, seorang muda yang sebelumnya setiap hari berlutut di tepi danau untuk mengagumi keindahan diri sendiri melalui pantulan bayangannya di hamparan air seperti cermin dan terpesona oleh dirinya sendiri hingga suatu pagi ia jatuh ke dalam danau itu dan tenggelam. Haruskah aku menjadi danau itu dengan kini menangis tersedu merindukan tuanku yang dulu sering juga menuliskan pujian-pujian untuk dirinya sendiri. Apakah tuanku sebenarnya juga seperti Narcissus yang mengagumi dirinya sendiri dan pada akhirnya tuanku melebur masuk ke dalam tubuhku? Seperti halnya Narcissus tenggelam ke dalam danau. Apakah mungkin seperti itu? Ah, aku hanya pandai menduga-duga, sejatinya tentang tuanku hanya ia sendirilah yang tahu pastinya.

-

Kerinduanku ini membuatku bingung, aku bagaikan nelayan yang kehilangan arah, harus apa dan bagaimanakah diriku ini? Bahkan di malam ini, ketika kesunyianpun masih tetap membisu, semilir angin malam menusuk sum-sum masuk melalui ventilasi jendela, dan langit yang penat tanpa hadirnya rembulan dan gemintang, malam gelap, pekat. Aku masih tetap kosong dan hampa, tubuhku masih putih bersih dan aku kini menginginkan noda itu, noda hitam yang keluar dari ujung benda tumpul sahabat intimku, yang tentunya digerakkan oleh tuanku.

-

Bagiku, apalah guna putih bersih tanpa cinta, ternoda dan kotor kadang lebih baik kiranya, ingin rasanya aku beri rangsangan padanya untuk bangkit bernafsu mencumbuiku dengan ganasnya bergumul dengan kata-kata, hingga nantinya klimaks dan mengejakulasikan gagasan-gagasan penting dalam rahimku dan selanjutnya kulahirkan menjadi buah karya yang membahana.

-

***

-

Pagi mulai meraba cakrawala, kulihat cahaya mentari itu dari balik lubang bening atap rumah, genting kaca yang membuatku tahu adanya ia. Tuanku bangun dari alam mimpinya tapi tetap belum menyapa, tak seperti sebelum sebulan yang lalu, biasanya setiap membuka mata ia langsung mencariku, membubuhkan cinta melalui tinta padaku. Entah apa salahku? Atau apa yang terjadi pada dirinya? Hal seperti bagaimanakah yang mampu membuat ianya berubah? Otakku telah penuh berdesakan tanda tanya.

-

Ku pandangi gelagat tuanku, tingkahnya yang tanpa mencuci muka terlebih dahulu sudah memegang berita harian, ‘headline news’ dari koran itu adalah persoalan kebijakan presiden terhadap gembong narkoba warga negara asing yang akan di eksekusi mati. Juga protes dari berbagai kalangan masyarakat terhadap keambiguan penetapan hukum pada kasus yang membentrokkan antara polisi dan komisi pemberantasan korupsi. Lalu berlanjut dibukanya lembar ke halaman olahraga, berita kemenangan tim sepakbola favoritnya di pentas liga champions eropa membuatnya tersenyum puas.

-

“Ayolah! Sebentar saja tak mengapa, lihatlah aku minimalnya! Aku mohon.” Jeritku mengemis perhatian dari Tuanku.

-

Ia bangkit menuju ke arahku, semakin dekat dan dekat, terasa detak jantungku semakin kuat meronta. Akankah ia kembali memeluk erat tubuhku dan mencium gemas bibirku lalu meremas lembut dadaku, ataupun cukup dengan mengecup keningku dan beri belaian mesra dari jemarinya untukku? Ah, rupanya ia terus berjalan melewatiku, bahkan tak sedikitpun tatap matanya jadi milikku. Kesal semakin rasanya, perasaan bersalah semakin menghantui, padahal apa salahku? Beginikah juga yang seseorang rasakan ketika dirinya tiada berarti, tak terhargai? Ingin rasanya aku bunuh diri saja, kalau aku tak segera menyadari bahwa aku ini hanyalah benda mati seperti yang manusia pikirkan, padahal mereka tak menahu bahwa akupun bisa merasa frustasi jika terus tak digauli, jika aku hanya tergeletak tak berisi goretan ‘mangsi’, bahkan kadang aku sampai cemburu pada tembok yang bergambar graviti menghiasi ruangan ini, atau buku milik bocah taman kanak-kanak yang hanya berisi lukisan abstrak dari corat-coret krayon warna-warni.

-

***

-

Di sudut meja penjual nasi untuk sarapan atau minum sekaligus istirahat, tersaji teh hangat beserta nasi yang telah terlumuri minyak panas beserta bumbu-bumbu penyedapnya, aku sudah duduk dari tadi menantinya, bukan menanti pengganjal perut di pagi ini, tetapi menanti seseorang yang bisa menemaniku setiap hari, untuk sekedar duduk disampingku dan atau bercerita padaku tentang hari-hari yang dijalaninya.

-

Sudah dari satu lebih setengah tahun yang lalu aku menjalani kesendirian, tanpa sosok pengingatku terhadap janji Tuhan, katanya manusia itu tercipta dengan berpasang-pasangan, tetapi aku masih saja sendiri, ya aku tahu mungkin ini memang cobaan untuk kesabaranku, mengikhlaskan diri dalam kesendirian dan sepi.

-

Menyentuh kehangatan piring yang menghantarkan panas dari nasi yang berwarna kecap, serta hangat kuku gelas berisi air kecoklatan hasil asimilasi zat-zat kimia, tetapi itu semua tak mampu memberiku tahu sebagai kehangatan karena hatiku yang masih saja dingin, sedingin embun pagi di musim salju, tanpa seorang kekasih.

-

Perlu waktu lama bagiku untuk menghabiskan sajian di pagi ini, seperti lamanya diriku menantikan pujaan hati yang kelak bersamaku mengarungi indahnya samudra kehidupan, dengan lika-liku ombak masalah yang pasti kan terselesaikan, hingga bersama berlabuh di pulau kedamaian surga. Memang suasana disekitarku ramai secara indrawi penglihatan, tapi runguku tetap saja sunyi, hanya dentang jarum jam sajalah yang bisa kudengar, tidakkah itu terlalu memilukan?

-

Aku sudah hampir saja putus asa dan beranjak pergi dari tempatku mendudukkan tubuh yang meringkih dalam kesendirian ini, andaikan saja tak kudengar suara cantik yang merambah dari pita suara bibir manis itu melalui gelombang penghantar dan menelusuk ke gendang telingaku. Refleks saja hatiku seketika bergemuruh bagai gejolak riak air terjun yang tak karuan kiranya, menyadari bahwa suara itu datang pastilah dari sosok hawa ber-raga bidadari dan berhati penuh cinta, dan ketika kutolehkan pandanganku, benarlah, dia adalah dia yang menjadi ‘Eros’ hatiku ini.

-

Ah, tapi dialah yang membuat sepi jiwaku dari adanya bahagia, keyakinanku yang telah lama terbangun menjadi istana yang kusebut ‘kastil cinta’, hancur lebur karenanya. Harapanku menjadi keping-keping putus asa, setelah ia tolak cinta suciku di malam itu, saat bintang dan bulan membersamai kita berdua dalam indahnya harmonika alam raya.

-

Malam itu menjelang fajar, disaat berdua dalam duduk yang ia bersandar di bahuku, aku kira itu momen yang tepat.

-

“Ketika aku mencintaimu dengan sepenuh kesemuaanku, apakah kau kan membalasnya dengan cita-cinta?” Ungkapku hadapannya beriringkan suara-suara binatang malam.

-

Mulutnya membisu, suaranya hanya desahan nafas saja, ia lepas sandarannya, matanya menatap rerumputan yang mulai mengembun, dan diamnya berfikir menjawabku, serta aku hanya menunggu sembari melihat gemintang di angkasa, sementara semilir angin gunung tiada hentinya mencoba bekukan urat-urat nadiku.

-

“Apakah kiranya kau tak mengindahkan permintaan rasaku? Ataukah diammu ini sebagai tanda penyambutan cinta?” Ku tegaskan suara memandangnya yang hanya menunduk diam.

-

Ia bangkitkan wajahnya memandangku dengan senyum yang dipaksakan, “Jangan seperti itu ya. Aku ingin kita seperti ini saja! tidak lebih.” Kulihat rautnya berubah melankolis penuh iba, mungkin ia melihat ekspresiku yang datar. “Maafkan aku”. Tukasnya lalu bangkit meninggalkanku sendiri, ia kembali ke tenda bergabung dengan teman-teman, aku masih duduk dengan hati kecut, masih kurang mengerti atau sebenarnya aku tau inilah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan, dan wajah datarku semakin kaku tersapu derasnya angin yang tiba-tiba membawa kabut kepiluan.

-

Bayang-bayang kenangan pahit itu terhenti ketika tanpa kusadari pemilik suara itu telah sampai di depan meja makanku dan ia menyapa.

-

“Hai”. Sapanya dengan senyum itu, iya, senyum itulah yang manis tapi mematikan, meski tetap selalu kurindui.

-

Aku hanya membalasnya dengan senyum getir yang dipaksa bermanis, meski malah menjadikan semakin canggung. Ia duduk di meja depanku setelah memesan menu, karena hanya itulah tempat yang masih tersedia, dan dengan suasana mati, aku tetap diam, begitu juga yang ia lakukan.

-

“Sendirian sajakah dirimu?” Tanyanya mencoba mencairkan suasana.

-

“Iya, seperti yang kau lihat ini, kau juga?” Jawabku dengan masih berwajah datar.

-

“Tidak, aku sedang menunggu seseorang, aku ada janji.” Wajahnya menolah-noleh menunjukkan pencarian sosok yang ditunggui.

-

“Ooh seperti itu.” Tanggapku cuek saja, sambil mengaduk es teh.

-

Ia diam, akupun sama, tak lama setelahnya datang seorang lelaki sebaya denganku duduk dan berada disampingnya. Tidak terlalu tampan tetapi menunjukkan sosok elit mapan yang rapi dan mengesankan, ia tundukkan kepala sopan kepadaku, akupun balas dengan hal yang sama. Aku diam dan kuambil buku dalam tas berpura-pura membacanya tapi sebenarnya fokus mendengarkan dan sesekali memperhatikan mereka.

-

“Gimana kamu kuliahnya disini ndugh?” Tanya lelaki itu padanya, panggilan ‘ndugh’? Setahuku itu adalah panggilan sayang dari seorang kepada wanita yang menandakan suatu kedekatan.

-

“Biasa saja, mas sendiri? Bagaimana dengan kuliahnya mas di Jogja?” Jawabnya dengan manja, tak biasanya kulihat ia sesenang itu.

-

Obrolan mereka semakin asyik saja berbanding terbalik denganku yang semakin membara terbakar kecemburuan yang seharusnya aku tak punya hak untuk itu. Dari yang mereka bicarakan, aku bisa mengetahui bahwa lelaki itu adalah mahasiswa jurusan hukum di perguruan tinggi ternama di Jogja. Aku yang tak kuasa lagi menahan gejolak amarah ini, beranjak berdiri menjauh dari keduanya, menuju kasir kantin, membayar dan pergi. Sekilas aku masih melihat mereka berdua dari belakang, dan sepertinya adaku memang tak berarti baginya. Ia masih asyik bercanda ria dengan lelaki yang aku yakini adalah kekasihnya.

-

***

-

Memang hati tak mudah berpaling dari kecintaannya, meskipun yang dirasakannya hanyalah duka dan rundung lara, seperti halnya ngengat yang tak bisa berpaling dari cahaya lampu kota, meskipun yang dirasakannya hanya panas menyengat tubuhnya. Kecintaanku pun sama, aku mencintainya meski hatiku terluka, aku menyayanginya meski ku tahu dia telah berpunya.

-

***

-

“Besok ada diskusi tentang ‘perempuan TKW’ di kampus, engkau bisa ikut?” Tanyaku padanya lewat pesan elektronik.

-

“Oh terimakasih atas infonya, tapi sayangnya aku tidak bisa mengikutinya mas, besok aku akan ke jogja” balasnya.

-

“Acara apa ke sana?”

-

“Acara hunting touris bersama anak-anak bahasa, pertama ke borobudur dahulu di magelang, lalu ke mallioboro jogja”

-

“Ooh, ya sukses saja buat acaranya, jangan lupa oleh-olehnya ya!” Candaku.

-

Tak ada balasan dari dirinya,

-

Beginikah diriku, seperti tak punya malu sahaja terhadap perempuan anggun itu. Inikah cinta, yang hanya perasaan utamanya sampai membutakan logika. Jika aku harus jujur, tentunya aku harus mengakui, secara logika ia telah berpunya, ia juga selalu membatasi diri dariku, mencoba menghindariku, tetapi dasar akunya saja yang bermuka baja. Tak peka terhadap suasana atau malah tak mau menerima kenyataan yang ada.

-

Senja melambai-lambai di ujung langit kelana bermega jingga, di saat itu juga derita jiwa kembali terasa, sebuah pemberitaan dalam media sosial yang biasa aku guna, tepat sekali, pemberitahuan itu memang dari akun miliknya, ia baru saja mengunggah sebuah foto bersama lelaki yang kulihat beberapa hari yang lalu itu, semakin jelas memberitahukan padaku bahwa lelaki itu memang kecintaannya, foto itu berlatar sebuah tempat ternama di jogjakarta dengan suasana yang menandakan hari menjelang gelap, tentu saja itu adalah peristiwa yang baru saja terjadi, dalam gambar itu si lelaki memberikan bunga mawar merah dan dia dengan tersenyum bahagia menerimanya. Sakit, tentu saja jawabannya adalah sangat untukku, kenapa harus terus menerus seperti ini, akupun tak mengerti, kenapa aku masih saja terlelap dalam tidur panjang dan mimpi indah tentangnya.

 

-

“Hei, kenapa raut wajahmu seperti itu? Seperti tak punya semangat hidup saja kau ini, kenapa? Ada masalahkah?” Tanya sepupuku, melihatku yang tertunduk lesu.

-

“Tidak, mungkin aku hanya kecapaian saja, aku mau istirahat sebentar, bisa kau tinggalkan aku sendiri?” Jawabku.

-

“Baiklah, semoga tak menjadi masalah untukmu” Katanya beranjak meninggalkanku.

-

Kembali kutekuri apa yang telah banyak aku lakukan untuknya, bukan berarti menyesali apa yang telah terjadi, tetapi hanya ingin kembali mengulang andaikan waktu itu tidak aku nyatakan rasa cintaku, karena semenjak kejadian di puncak gunung perahu itu, jarak antara diriku dengannya semakin terasa merenggang, aku ingat kembali sms sesaat setelah kembali turun kebawah dari puncak.

-

“Maaf, tapi aku merasa seperti dijebak oleh kalian, aku takut, aku jadi tidak suka lagi bersama kalian.” Sms nya saat sampai di lapangan bawah di pos dasar pemuncakan.

-

“Kenapa? Apa ada yang salah dari kita?” Tanyaku heran, kenapa juga ia katakan lewat sms tak beranikah untuk diucapkan secara langsung, ataukah memang ini untuk privasi berdua, ah wanita memang penuh tanda tanya.

-

“Apa kau tak menyadari? Seolah-olah semua temanmu juga temanku saling mempengaruhiku supaya dekat denganmu, dan pada akhirnya kau nyatakan juga rasamu, maaf aku sangat menghargai rasa cintamu padaku, tapi caranya tidak seperti ini, jujur aku tak suka” Balasnya lagi.

-

“Maafkanlah aku, sumpah aku tak tahu jika mereka seperti itu, dan aku pun sebenarnya tak ingin ungkapkan rasaku ini jika ku tahu akan begini pada akhirnya, sekali lagi maafkanlah jika kau tak menyukai hal ini, anggaplah saja tidak pernah terjadi hal seperti itu”.

-

“Apa? Semudah itu kau menyuruhku menganggap hal ini tak pernah terjadi? Apa kau tak tahu, setiap kejadian adalah membekas  seperti paku yang ditancapkan pada tembok, kalaupun paku itu telah dicabut, tentunya masih ada bekas yang tak bisa dikembalikan seperti semula”.

-

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku minta maaf dengan semua ini, sungguh aku tak pernah merencanakan seperti yang kau kira”. Sekali lagi aku menjelaskannya lewat sms, ketika kulihat pandangnya yang ada di depanku di atas bak mobil jenis colt terbuka dalam perjalanan pulang, ia hanya diam acuhkan diriku, sepertinya memang ia sangat kesal padaku.

-

“Sudahlah, abaikan” tukasnya.

-

Lalu semenjak itu, ia menjauh dariku, seperti menjaga atau membatasi jarak ketika bertemu, hanya akhir-akhir ini saja ia mau menyapaku, akupun sama, aku malah tak tahu apa yang harus aku lakukan ketika sedang bersamanya. Canggung dan tentu saja sedikit ada perasaan kecewa karena ia tolak cintaku dan dengan tanpa alasan yang jelas ia menyudutkanku. Tetapi hati memang tak bisa dibohongi, aku masih tetap mencintainya, dan bahkan sampai kini ketika aku tahu ia telah mempuyai kekasih, aku masih tetap mampu untuk memberinya kasih cinta, walaupun masih hanya derita yang selalu aku terima.

-

***

-

Apakah benar kiranya, seorang yang kita fikirkan lebih dari satu jam di waktu siang dalam sehari, akan muncul dalam mimpi di tidur kita malam harinya? Ataukah hanya kebetulan saja alam bawah sadar akan memunculkan bayangan seseorang yang telah masuk begitu dalam di jiwa? Ah, apakah itu penting bagiku? Tetapi memang benar jika aku merasa sangat bahagia ketika dia hadir dalam mimpiku malam tadi.

-

Sulit aku jelaskan bagaimana secara detail kronologis kejadian dalam mimpi itu, ia bersama keluargaku di mobil untuk mengantarkanku, saat itu aku di wisuda. Haha, sangat bahagianya diriku hingga ketika ia sampai di jalan untuk kembali ke rumahnya, aku memanggilnya. “Elaaa!”, tetapi ia belum juga menoleh, baru ketika dua kalinya aku panggil ia menoleh dan aku katakan “Elaaa, makasih ya sudah mau datang.” Ia tak berikan jawaban, hanya senyum manis berhiaskan gingsul khas kecantikannya. Dan itu saja sudah membuat bahagiaku lebih dari apapun.

-

Sementara mungkin di luar sana ia sedang bercanda mesra bersama kekasihnya, berbahagia dengan seseorang yang bisa membuatnya bahagia, mungkin juga orangtua mereka sudah saling setuju dengan hubungan mereka berdua, mungkin pula sudah ditentukan kapan waktu untuk keduanya memasuki mahligai penggetar ‘arys, tahun depan muingkin, atau menunggu setelah keduanya wisuda. Ah, tapi tak bolehlah aku berpemikiran sedemikian negatifnya, aku tak boleh mematikan impian teragungku untuk bersamanya meski kini hanya tinggal harapan, oh tapi apakah itu negatif? Bukankah jika seperti itu berarti si pemuda sainganku itu benar-benar serius padanya dan bukan untuk main-main? Aku cintainya tapi aku juga tak boleh terlalu egois untuk bisa memiliki ia sepenuhnya, apalagi sampai berharap agar Tuhan cabut saja nyawanya agar tak ada oranglain yang bisa memilikinya selain diriku, toh ia juga bisa sangat bahagia bersamanya. Tapi bukankah aku juga sangat mencintainya? Bahkan, ketika aku memandangnya, mataku seperti bisa katakan bahwa hanya dialah satu-satunya wanita yang sangat aku impikan untuk membangun istana cinta bersama. Egoisme hatiku mengatakan bahwa hanya akulah satu-satunya orang yang sangat besar mencintainya,  tak ada orang lain selain diriku yang mampu mencintai ia sepenuhnya.

-

Kuambil buku catatanku, tak kuhitung berapa lama aku meninggalkannya, mungkin ia juga merasakan kesepian -sesepi diriku. Baiklah! Pagi ini, aku akan kembali memasuki dunianya.

-

***

-

Pagi itu ketika embun suci belum menguap termakan sinar mentari, juga ketika kokok ayam belum lama berhenti, ia mendekatiku. Apakah ini sudah menjadi waktunya, waktu bagiku terjamah olehnya? Tidak, aku jangan terlalu berharap, aku takut akan sakit yang kurasakan seperti halnya kemarin, ketika harapan semakin tinggi maka semakin tinggi pula derita yang aku rasai. Tapi harusnya aku berani menanggung segala apa yang terjadi, aku wajib menjaga harapan itu dengan landasan cinta, ketika derita berdasar cinta maka ia takkan terasa, sebagaimana derita bunda manusia mengandung bayinya yang dirasa hanya bahagia.

-

Ia semakin mendekat dan merengkuh tubuhku, membuka lembar demi lembar isiku yang masih banyak kekosongan berapologikan kebersihan, badanku terasa bergetar disentuh olehnya, ingin rasanya aku berlari keluar rumah dan berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan kelegaan rasa bahagia yang selama ini menyesak di dada, sebagaimana teriakan cinta yang biasa dilakukan gadis perawan ketika dimabuk asmara. Lalu ia mengambil sahabatku si pena dan menggoreskan tato aksara yang selama ini kurindui.

-

“Wajah jingga itu masih menampar awan senja! Saat muka gelap membayang di angkasa! Tapi tenang sayang, raut terang penuh cinta itu, esok pagi datang menghapus duka.

Di akhir kisah kita nanti, ku hanya mampu berharap, cinta kita takkan pernah berakhir.

Biarkan kita terbang dan berpisah untuk sementara, menggapai impian masing kita, lalu kemudian bukit indah itu mempertemukan sekembalinya kita.”

-

Entah, itu puisi atau apa, dan untuk siapa pun juga aku belum mengetahuinya. Tapi semenjak itu Aku memang terus dibawa oleh tuanku kemanapun ia pergi, singgasanaku adalah ruang kecil yang kadang sesak bersama saudara sebangsaku yang lain, juga beberapa perlengkapan yang selalu diusungnya. Aku bahagia, bisa kembali bersamanya.

-

-

-

(Digubah di Wonosobo_13 September 2016)

 

 

Profil Penulis:

Ilkhas Suharji lahir di kota dingin Wonosobo, tepatnya di desa Talunombo kecamatan Sapuran, pada 16 April 1995. Ia aktif di Teater Banyu Wonosobo dan menjadi Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater & Sastra Getir (Gerakan Tirta) Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>