Cerpen “Pembuat Keputusan” Kolaborasi Ariqy dengan Devi

Pembuat Keputusan

Penulis: Muhammad Ariqy Raihan dan Hasdevi Drajat (kolaborasi)

 

Seberkas sinar matahari menusuk masuk melalui jendela, menembus ke arah kepala kasurku. Sebuah notifikasi di aplikasi chatting muncul. Randy mengirimkan sebuah pesan berantai yang membuat mataku kembali menyala seratus persen. Radiohead kembali mengadakan konser di Jakarta!

Aku bergegas ke kamar mandi. Randy menyuruhku bertemu di Taman Menteng, tempat aku, dia, dan sesama member komunitas menulis di Tumblr berkumpul. Aku jebyar jebyur di kamar mandi sembari menyenandungkan Creep dan High and Dry. Dua lagu kesukaanku.

Dua puluh menit kemudian, aku sudah seperti sediakala di pagi hari. Kemeja flanel, celana joger, dan sepatu kets butut kesayangan. Aku menderu motor menuju tempat pertemuan.

***

“Dri!” Randy berteriak memanggil namaku dari kejauhan. Di sana, lelaki berambut klimis itu sedang selonjoran di atas rumput menggunaan tikar dengan Rivan, sang ketua komunitas. Mereka tampak kompak dengan kaus hitam polos dan celanan jeans belel.

“Halo!” Tinju kami bertiga diadu —begitu cara kami memberi salam—dan kemudian aku mengambil posisi di tengah.

“Radiohead dua minggu lagi!” Randy berseru penuh semangat. Diikuti dengan Rivan.

Kami bertiga memang penggemar berat band ternama asal Inggris itu. Pertemuan kami di komunitas ini setahun yang lalu memang seperti sudah takdir; tiga kepala yang merindukan hal yang sama. Terakhir kali Radiohead mengadakan konser di Indonesia sudah enam tahun lalu. Waktu selama ini lebih dari cukup membuat penggemarnya rindu itu melihat mereka kembali tampil.

Bahkan sebuah komunitas penggemar Radiohead sempat mengadakan aksi gila-gilaan agar Radiohead mau kembali ke Jakarta.

“Ya, mereka mengumpulkan massa secara total 1000 orang untuk memainkan aransemen lagu High and Dry bersamaan!” Randy mengenang event yang terjadi empat bulan lalu.

Rivan terkekeh, “Gila mereka memang. Mereka membawa sendiri semua alat musik yang ingin dimainkan; gitar, bass, drum, ataupun vokal. Mereka berkumpul di GBK dan menyanyikannya tanpa latihan sekali pun!”

Ya, aku tahu itu. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang di Itali saat mereka mengingkan The New Found Glory kembali tampil dengan memainkan lagu “The Pretender” secara serempak. Persis di GBK, setiap orang bebas membawa alat musik yang ingin dimainkannya. Ataupun hanya sekadar ingin bernyanyi saja, cukup membawa mic sendiri.

Melihat video itu aku sangat merinding. Seperti di GBK lalu. 1000 orang! They’re freakin’ insane. Keduanya berbuah hasil manis. Italia berhasil, Indonesia juga berhasil.

“Aku tak bisa mengumpat diriku sendiri sangking senangnya pas nonton video konfirmasi kedatangan mereka ke sini bulan lalu.” Randy masih bersemangat membahasnya. Ya, Randy takkan pernah bosan—sama sepertiku—jika sudah membicarakan band yang memang sudah disukainya dari kecil ini.

Namun, aku tak bertahan lama di Taman Menteng. Ibu menyuruhku menjemput Aya—adik perempuanku—di Depok, tempat dia melanjutkan kuliah.

***

“Re, besok aku ikut ke Bogor dong,” Aya menggelayut di bahuku. Adik kurang ajar memang, tak sopan. Bercanda, deng. Jarak kami walaupun dua tahun, tapi aku membiarkannya memanggil namaku langsung selama itu terus mengakrabkan kami.

“Ya, terserahmu. Ada apa memang? Sudah liburan, kan? Aku semester ini tidak ada kuliah, jadi tak ingat kalender,” tukasku. Aya menggelengkan kepala.

“Tidak, aku mau main ke tempatnya Inna, sahabat SMA-ku, udah lama ga ketemu, Re.” Aya, yang baru masuk semester 3 itu, menjelaskan. Aku mengangguk saja.

Tetiba ponselku berdering. Randy menelepon.

“HOI, RE!” teriaknya. Aku berjengit.

‘Eh! Santai dong, kupingku jadi sakit ini!” protesku kepada lelaki urakan itu. Sopan santun yang dia kenal hanya mengantre saat makan atau di toilet. Ketika mengucapkan salam di rumahku juga termasuk.

“Aku sudah beli tiga tiket konser Radiohead, bagian VIP.”

“Eh tunggu,” sergahku. “Hei, kan, aku bilang aku baru bisa minggu depan. Uangku baru ada setengahnya.”

“Santai saja, bisa nyicil tanpa bunga kok!” Randy terkekeh dari seberang sana.

“Sialan kau!” balasku terkekeh. Kemudian panggilan diputuskan. Aku melenggang ke kamar dengan debar yang menggebu. I’m creep, I’m weirdo, what the hell am I doing here? I don’t belong here.

Aku menyenandungkan Creep.

***

“Kau yakin di sini rumahnya?” tanyaku pada Aya, saat kami berhenti di depan sebuah rumah berwarna pink muda di Bukit Cimanggu City.

“Ya, memangnya mengapa, Re?” tanyanya balik.

“Hei, ini rumah sahabatku sewaktu kuliah tingkat pertama dulu!”

Aya mengernyitkan dahi. “Ah, masa?”

Gadis berambut kemerahan sebahu itu memencet bel. Tak berapa lama, muncul seorang gadis seumuran Aya, tapi rambutnya hitam. Hidungnya tajam. Dia memeluk Aya. Kemudian menatapku keheranan.

“Relyn,” ujarku memperkenalkan diri. Dia balas menjabat tanganku. “Kakaknya Aya.”

“Oh, ayo masuk.” Gadis yang disebut Inna itu mempersilakan. Wajahnya begitu mirip dengan sahabatku itu.

Sesampainya di ambang pintu, aku merasa nostalgia. Interior rumah ini tak begitu banyak berubah. Sofa cokelat tua di ruang tamu, jam dinding di ruang tengah, dan ornamen-ornamen yang menghiasi ruang tamu dan tengah. Seorang lelaki menghampiri kami. Dia terkesiap.

“Relyn!” dia menjabat tanganku.

“Aldo!” balasku, “Sudah lama sekali! Feel nostalgic.” Aku terkekeh.

Setelah itu, kami banyak berbincang. Aku memang sudah lama sekali tak bertemu. Terakhir kali setelah kami naik ke tingkat kedua dan sibuk dengan kesibukan di jurusan masing-masing. Aku mengambil Ekonomi yang sebenarnya tak terlalu padat. Sementara Aldo yang masuk di jurusan Agronomi sibuk dengan kuliah dan penelitian lapangannya.

Aldo tak banyak berubah. Hidung tajam dan alis tebal, yang membuatnya dulu digilai teman-teman perempuan. Beda denganku yang biasa-biasa saja. Hanya saja, Aldo sekarang lebih gempal. Aku sangat kenal dengan lelaki ini. Dia adalah teman pertamaku di tingkat pertama. Tingkat persiapan di mana semua mahasiswa di semua jurusan digabung dan dibagi ke banyak kelas untuk mendapatkan jenis mata kuliah yang sama sebelum akhirnya di tingkat berikutnya mereka masuk di jurusan masing-masing.

“Hei, minggu depan aku wisuda, loh. Datang dong.” Aldo memberitahuku penuh semangat. Hal terbaik bagi manusia adalah ketika melihat sahabat lamanya kembali dan hadir di suatu acara yang sangat penting baginya.

“Oh, iya? Wah selamat atas sarjananya!” seruku. “Dateng lah, masa enggak.”

Kemudian kami terlibat perbincangan nostalgia. Perihal kabar teman-teman kelas lain yang sejurusan dengannya atau tentang gadis-gadis yang dulu diincarnya di kelas, dan hal-hal konyol yang kami lakukan di kelas dulu. Tak berapa lama kemudian, Aya memberi kode kepadaku untuk permisi pulang. Aldo kemudian mengantarkan ke pintu depan.

“Jangan lupa, Relyn,” tukasnya. Aku menganggukkan kepala di balik helm full face.

***

Sepanjang perjalanan pulang, ada sesuatu yang mengganjal pikiraku. Namun entah apa itu. Malam itu aku mengajak makan Aya di kantin Barokah, di samping kampus. Selama makan, aku masih merasakan hal yang sama. Pada saat aku menyendok suapan terakhir perkedel, pikiran yang mengganjal itu luruh.

“A!” pekikku, tepat ketika sadar pikiran apa yang mengganjal itu. Aya terkejut. Dia memasang muka sebal.

“Apaan, sih! Kaget tahu!” protesnya, diikuti beberapa pelanggan lain yang juga terkejut.

“Tunggu di sini, Ya.” Aku beranjak ke luar kantin. Aku memencet nomor Randy.

‘Halo, Randy. Konser Radioheadnya kapan, ya?” tanyaku

“Minggu depan. Hei, kauharus datang! Aku sudah mengantre selama empat jam tahu di GBK!”

“Eh …,” jawabku sedikit ragu, “baiklah ….”

Aku memutuskan panggilan itu. Kembali ke dalam kantin. Tidak mungkin. Jadwal konser dengan wisuda Aldo ternyata sama. Pikiranku kembali terganjal. Kalau begini jadinya, bakalan pusing. Dua-duanya sangat penting bagiku. Tak mungkin aku melupakan hari paling pentingnya Aldo, dia teman pertamaku di kampus. Bagiku itu sangat penting. Radiohead juga penting.

Ah, sial mengapa harus serumit ini?.

***

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>