CERPEN (SAJADAH MERAH USANG)

Oleh : Amplitudo

 Setiap kali ikhsan memandang sajadah yang tergantung diruangan musholla rumahnya itu ia selalu ingat dengan kakeknya. Sajadah merah manggis yang diberikan oleh kakeknya sewaktu ikhsan masih kelas 6 madrasah ibtidaiyah. Kini ikhsan yang sudah menjadi guru agama islam di kampungnya, hanya bisa termenung melihat sajadah yang kusam dan hampir robek itu.

Kakeknya bernama abdul ahmadi, seorang guru ngaji di kampung.

Kakek pernah bercerita pada ikhsan soal sajadah yang ia beli dari pasar melati desa tempatnya tinggal dahulu sewaktu tinggal di desa sungai limun:

“Aku membelinya dari sahabat lama. Bukan masalah jumlah uang yang besar atau kecil. Bahkan, jika dibandingkan, uang itu dengan persahabatan kami tidaklah seberapa.”

“Apakah Kakek ke Pasar Melati benar-benar ingin membeli sajadah atau hanya ingin bertemu dengan sahabat lama?” tanya ikhsan waktu itu.

“Dua-duanya. Kami sudah lama tidak bertemu. Dan dengan membeli sajadah dari dagangannya, aku berharap akan menjadi kenangan yang tak pernah kulupakan. Perihal menjaga tasbih miliknya sama artinya dengan menjaga persahabatan.”

“Memangnya apa yang terjadi dengan sahabat kakek?”

“Berita terakhir yang kudengar: ia sudah tidak berjualan di pasar lagi, karena bangkrut, dan kios dagangannya di gusur oleh petugas karena dianggap menyalahi aturan dengan membuka kios di tepi jalan pasar. Mulai saat itu, aku tidak tahu ke mana perginya. Sudahlah, ikhsan, jangan ngobrol terus. Mari kita lanjutkan hafalan juz 30 mu.”

Kakek abdul bukan ulama, bukan pula syekh yang terkenal di dunia. Ia hanya kakekku sekaligus perawat ladang yang punggungnya kala siang disabet panas matahari. tetapi, soal berzikir, jangan ditanya. Walau ia tidak mengumbar rutinitas berzikir setiap hari berapa kali kepada orang lain, aku tahu betul bibirnya selalu basah oleh pujian-pujian kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Aku seringkali menghabiskan waktu malam di rumah kakek abdul. Rumah yang sederhana berdinding anyaman bambu dan beratapkan daun nipah. Di sekelilingnya rumpun-rumpun bunga aneka warna menghiasi. Aku harus melalui jalan setapak yang masih tanah dan sunyi untuk sampai di rumah Kakek. Di rumah itulah aku mendapatkan kenyamanan yang tak bisa kudapatkan di dalam rumah orangtuaku sendiri sekalian belajar ilmu tajwid dengannya.

Kakek pernah menegurku.

“Jangan terlalu sering ke mari, ikhsan. Seorang anak yang tumbuh bersama kedua orang tua lebih baik dari pada bersama kakek dan neneknya.”

“Maaf, Kakek. Ini tidak sesederhana seperti yang kakek duga. Aku pun ingin sekali menghabiskan waktu malam di rumah bersama ibu dan bapakku. Namun, rumahku selalu kosong. Mereka baru pulang setelah aku tertidur. Bahkan, ketika aku menunggu mereka hingga larut malam, tak juga kutemui kebersamaan yang bisa menghangatkan hubungan kami.”

Kakek mengangguk. Setelah itu, ia tidak pernah mengungkit diriku yang selalu hadir menemaninya di rumah. Kadang kala di waktu libur, aku bisa seharian penuh di rumah Kakek . Sampai aku hafal benar bagaimana kebiasaan Kakek dan nenek.

Setiap pagi sebelum berangkang ke ladang, Kakek selalu menyempatkan diri membaca kitab-kitab yang pernah ia pelajari dari guru ramli seorang tetua agama yang disegani di kampungnya. Menunaikan shalat Dhuha dua rakaat.

Kalau hujan mengguyur, Kakek bisa sepagian penuh duduk di teras menatap hujan turun seraya menikmati ubi tebus dan sambal terasi buatan nenek.

 

Sewaktu selepas diajari kakek mengaji, ikhsan bertanya perihal sajadah itu

“Mengapa kakek memberikan sajadah itu kepadaku kek, Bukankah itu dari sahabat kakek? tanyaku pada saat itu kakek lagi mengulangi hafalan Surah Ar-Rahman. Ia sempat menegurku.

“Kakek lagi mengulangi hafalan kakek, san”
Aku diam. Mungkin kakek melihat aku diam dan seperti menyesal ia bercerita

Kakek selalu melafadzkan kalimat shodaqallahul’adzim tiap kali ingin berbicara atau mengubah dari keadaan bibir melantunkan ayat suci Al-Quran menjadi omongan biasa.

“Tidak ada waktu khusus untuk mengistilahkan kebiasaanku ini, ikhsan. Jika kau pernah bersahabat, pasti kau merasa lebih cinta apabila kau menggunakan barang yang dititipkan oleh sahabatmu.”

“Tapi, sajadah itu Kakek yang beli. Bukan titipan.”

“Transaksi bersama seorang sahabat, tidak peduli betapa besar atau tak berharganya di hadapan orang-orang, akan menjadi bermakna kepedulian dan titipan rasa. Dengan itu, hubungan persahabatan selalu terbangun dari waktu ke waktu. Walau barangkali tidak pernah bertatap wajah dalam wakatu bertahun-tahun hingga di antara keduanya terpisah oleh ajal. Lalu doa-doa yang akan membenarkan.

Aku mendengarkan

“Kelak jika kau mempunyai sahabat kau akan mengerti arti barang pemberian dari sahabat. Maka dari itu kakek memberikannya kepadamu, ikhsan, supaya engkau menjaga persahabatan, karena sahabat adalah aset buatmu.

 

*Amplitudo (Teluk Melano, Kayong Utara)

AMPLITUDO adalah nama pena dari seorang pria yang berasal dari sebuah desa di kayong utara. anak kedua dari dua bersaudara, pernah kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Pontianak namun hobi dalam menulis fiksi 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>