Cerpen “Sang Kehilangan” Karya Ariqy Raihan

Cerpen keempat dari salah satu pembaca kita yang cukup aktif mengirimkan karyanya untuk Sastranesia. Sahabat, inilah cerita pendek dari Ariqy Raihan, Sang Kehilangan.

Sang Kehilangan

Muhammad Ariqy Raihan

Telisik hujan menghujam jutaan rindu yang mengendap di hati, memahat kembali kenangan yang lama runtuh karena pekat hitam bernama Kegelapan. Sudah lama hati ini dipenuhi oleh kegelapan, mengunci jiwa dari kenangan yang hampir saja membusuk. Perlahan, tiap rindu itu meresap dalam jiwa. Membuka gembok dan menghapus kegelapan di dalam hati untuk selamanya.

Kehilangan. Jika kau bertemu dengannya, katakan, aku ingin bertemu. Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang kucintai. Sudah lama rindu ini memuncak, semenjak Kehilangan mengambil mereka semua. Meninggalkanku sendirian di sini, di antara awan abu-abu dan kabut pekat yang siap merangkulku pergi dari hidup ini.

***

            Kehilangan. Begitu aku memanggilnya. Aku bertemu pertama kali dengannya ketika angka sepuluh masuk dalam hitungan semenjak awal kehadiranku di dunia ini. Kehilangan mengetuk pintu rumah dengan hangat, menyapaku dengan senyuman, dan ia ingin bertemu Ayah dan Ibu. Begitu katanya, ketika aku membuka ketukan pintunya sore itu. Mempersilahkan Kehilangan masuk ke dalam rumah dan membiarkannya bertemu Ayah dan Ibu.

Malam pun tiba. Gelap lebih pekat ketika itu. Entah bagaimana caranya, Kehilangan menemukanku di kamar tidur milikku sendiri. Padahal, ini kedatangan pertamanya ke rumah. Dia ingin bicara, bisiknya di telingaku. Aku menolehkan wajah ke arahnya, ada senyum manis tergurat di bibirnya. Dia akan segera pergi, ujar Kehilangan padaku saat tangan kurus ini mulai menarik selimut dan melipatnya perlahan. Ia duduk di bahu kasurku. Ia menepuk pelan ruang kosong di sampingnya, memintaku untuk duduk bersamanya di sana. Aku memindahkan tubuh ke samping Kehilangan dan bisa kurasakan perlahan tangannya meraih kepalaku dengan lembut dan menyandarkan ke bahunya.

Tangan kecilku tak sebanding dengan miliknya. Ia tampak begitu nyata di balik jubahnya yang lebih mirip kabut daripada pakaian normal yang digunakan manusia. Aku bahkan tak pernah tahu siapa dia sebenarnya. Kehilangan menceritakan sebuah cerita padaku, menggerakkan jarinya ke udara kosong, menunjuk sebuah rasi bintang yang berpendar di luar jendela kamarku.

Bintang itu adalah benda paling indah sedunia, katanya. Aku setuju dengan Kehilangan. Ibu pernah bilang, jika suatu hari nanti aku harus pergi ke sana, menemukan sepotong cintanya yang sengaja ditinggalkan di sana. Bahwa aku harus tahu, cinta seorang Ibu takkan pudar oleh malam ataupun pagi. Bintang tak pernah menghilang. Karena cinta seorang Ibu begitu tinggi yang siapapun takkan mampu meraihnya, kecuali aku.

Aku hanyut dalam dekapan perasaan yang begitu dalam pada Kehilangan. Pelukan eratnya begitu menghangatkanku. Aku teringat sebuah pertanyaan yang lupa kuajukan padanya. Mau apa kau di sini? tanyaku. Kehilangan sedikit terperanjat, namun dia pun tersenyum. Aku hendak bertemu Ayah dan Ibumu, nak, jawab Sang Kehilangan. Untuk apa? tanyaku kembali. Kehilangan pun bungkam dalam sepersekian detik yang terasa puluhan jam bagiku. Ada yang menahannya untuk menjawab.

Kehilangan pun beranjak dari atas kasur. Dia menopangkan beban tubuh pada lututnya, dan mengenggam kedua tanganku. Dengan senyuman paling hangat sedunia yang pernah aku lihat, dia perlahan menyobek bungkamnya. Ucapnya, suatu hari nanti, akan tiba waktunya aku untuk mengerti segalanya. Tentang mengapa dirinya berkunjung ke rumah sore tadi. Dia meninggalkan keraguan dan berjuta penasaran dalam benak. Dia melepas genggaman telapak tangannya dari milikku, dan melangkah keluar kamar. Bergegas menembus hujan di luar sana yang kemudian menjadi terasa begitu menyayat.

Tepat ketika hujan menelan jejak Sang Kehilangan dari pandanganku, ada perasaan berbeda melanda. Perlahan, aku seolah merasa ada yang menusuk dada ini dengan belati yang tak terlihat. Sakit ini seperti tak beralasan, karena tak ada penyebab yang masuk pada logika. Sakit ini mengundang bulir air mata untuk jatuh melewati celuk mataku yang berakhir pada berwarna kehitaman ketika aku selesai dengan semua kesedihan ini.

Aku tak lagi mendengar suara Ayah dan Ibu yang tadi sedang terlibat dalam percakapan hangat di kamar mereka. Ya, sebelum Kehilangan datang, aku masih sempat mendengar suara tawa Ayah yang lebih mirip suara orang tersedak oleh minuman. Kemana mereka? batinku meracau tak keruan.

Ayah? Ibu? panggilku di depan pintu kamar mereka. Tak ada jawaban.

Ayah? Ibu ? panggilku di depan pintu kamar mereka. Tak ada jawaban.

Ayah? Ibu? panggilku lagi di depan pintu kamar mereka. Tak ada jawaban. Ada secarik kertas terselip di bawah pintu.

Jadilah lelaki yang kuat, setelah membuka pintu ini. Carilah aku jika kamu menginginkan jawaban.

Akupun membuka pintu itu. Hujan pun jatuh di wajah.

***

            Hujan sore ini terasa lebih indah dari hujan yang turun sebelumnya. Bahkan dalam sepanjang memoriku merekam seperti apa rasa hujan di dunia ini. Hari ini aku bisa mendengar jelas alunan bulir-bulir jatuhnya yang ditelisikkan begitu kelu. Mengetuk sebuah relung tempat ruang bernama hati meresap di dalamnya.

Aku menatap batu pualam di hadapanku. Ada alasan mengapa aku kembali ke kota ini, yang lama sudah kutinggalkan. Kota yang sudah mengambil segalanya dari hidupku. Sebuah kota, dimana Sang Kehilangan ada di dalamnya.

Terakhir kali melihat pualam ini, hati ini bergejolak tak keruan, menumpahruahkan kenangan paling sedih yang pernah dimiliki olehku. Memutar semua kepingan memori selama sepuluh tahun kebersamaanku dengan Ayah dan Ibu dulu.

Batinku menolak untuk ditenangkan. Ada, perasaan marah yang tak terungkapkan dan mengendap menjadi sekeping dendam. Mengutuk diri sendiri, mengapa dulu Sang Kehilangan dipersilahkan masuk ke dalam rumah?

Ada tangan yang menepuk bahuku sejenak dan mengajak syarafku untuk memutar tubuh dan menoleh ke belakang. Sosok bertudung abu-abu berdiri tepat di belakangku, membawa sekeranjang bunga. Sosok itu perlahan mulai menaburkan bunga di atas sepetak tanah tempat pualam itu berada, yang sudah ditumbuhi rumput-rumput hijau. Sepetak rumput itu sudah dipotong rapih, dan hujan sore ini pun membasahinya dari kekeringan.

Sosok bertudung abu-abu itu melempar diam untuk beberapa menit. Demi hujan yang tak pernah turun setelah sekian bulan lamanya, aku berani bersumpah jika sosok itu tak pernah asing bagiku. Hatiku berkata dengan jelas, jika sosok itu adalah sosok yang sama dengan yang dahulu pernah mengetuk pintu rumahku. Mengetuk pintu kebodohan yang tak pernah terbuka sebelumnya.

“Kaukah itu, Kehilangan?” ucapku, menengadahkan wajah ke arah sosok di balik tudung abu-abu itu.

“Kau berhasil menemukanku, nak.” Sang Kehilangan menjawabku dengan senyuman lirih. Ada perasaan campur aduk disana. Antara bahagia, iba, atau bahkan amarah. Juga sedih. Perasaan kami berdua saling terpaut, bercampur di udara kosong. Membuat tubuh ini tak lagi merasa pada hujan, hanya tersisa antara aku dan jawaban atas secarik kertas lima belas tahun lalu.

“Mengapa harus butuh lima belas tahun untuk menemuiku, nak?”

“Aku butuh waktu yang tepat untuk menemuimu. Bukankah, kau, yang bilang akan ada waktunya untukku mengerti arti dari semua ini? tentang malam itu, kan?”

Sang Kehilangan tersungkur dalam bungkam. Dia menundukkan wajahnya, seakan hendak mengakui penyesalan atas kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya. Dia ingat, lelaki dihapadannya ini hanyalah seorang anak berusia sepersepuluh abad ketika itu. Masih terlalu kecil baginya untuk tahu kebenaran dari semua ini.

Sang Kehilangan mengeluarkan sepotong amplop putih yang kelihatannya sudah sedikit menua. Sudah ada kerut dan seratnya sudah agak kekuningan, ketika aku merobek amplop itu. Sudah berapa lama ia menyimpannya di kantong jubah lusuhnya itu? Ah, sudahlah. Akupun membaca surat itu.

Kamis ketiga, pada bulan ke empat. Sore ini senja sedang indahnya berada di ambang langit. Namun, aku harus menyayat hati seorang pemuda hari ini.

Pemuda ini, dia masih rapuh. Seperti secarik kertas yang begitu lemah dan tak bermakna. Menceritakan sesuatu yang menyakitkan hatinya secara langsung sama saja seperti membakar potongan kertas tersebut. Sakit terasa dan kemudian menjadi abu di udara kosong. Dia belum cukup kuat. Suatu hari nanti dia pasti akan mencariku.

            Pada saat itu tiba, akan kuceritakan padamu, nak. Tentang malam itu. Pada saat kau mengizinkanku masuk untuk menjemput kedua orang yang sangat kau cintai dalam hidupmu. Aku tahu, ini adalah keputusan terbodoh yang harus kuambil. Mengambil mereka di usiamu yang ke-sepuluh serasa membunuhku sendiri. Apadaya, Takdir memintaku untuk melakukannya.

            Kau tahu, Takdir, kan, nak? Sosok yang mengguratkan tiap detil cerita hidupmu. Bagian lain dari sisi tak logis di semesta ini. Dia memintaku untuk menjemput Ayah dan Ibu mu dan membawanya ke atas sana, ke langit ketujuh. Takdir ingin kau menjadi anak yang kuat secepat mungkin.

            Kamu tak usah khawatir, Ayah dan Ibu mu tak pernah melewatkan satu haripun untuk tak melihatmu selama lima belas tahun ini. Indah, bukan? Mereka bahkan tetap menyayangimu walaupun tak ada lagi ada persatuan antara raga dan jiwa mereka.

            Sekarang, lihat ke atas sana. Apa yang kau lihat, nak? Simpan jawaban itu bersamamu. Simpang di kenangan manapun yang kausuka. Bahkan, kau bisa menggunakan itu untuk menghapus kegelapan di hatimu.

-Kehilangan, untuk lima belas tahun yang akan datang.

            Sebuah bulir jatuh menghujam serat kekuningan itu. Membasahi tulisan indah yang menguntai di dalamnya. Bulir itu mengundang bulir-bulir lain jatuh melalui kedua celuk mataku, perlahan mengairi pipi dan kemudian jatuh menghujam kertas.

Sial, dia tahu bahwa hari ini aku akan datang padanya. Bahkan, dia sudah membuat surat ini di hari kedatangannya, dulu. Aku mengerti mengapa aku membiarkan empat belas tahun berlalu. Takdir sudah mengatur agar aku bertemu dengan Kehilangan di tahun kelima belas. Aku bahkan hanya bisa tertawa kecil bodoh di antara hujan dan senja yang saling membelah dengan selarasnya.

Sekarang aku mengerti jawabannya. Bahwa, kehilangan bukan akhir dari segalanya. Ketika rasa menyerah mulai menyertai, ada sesuatu yang harus terus diperjuangkan. Mencapai titik yang sudah dituliskan Takdir kepadaku untuk bertemu Kehilangan.

Akupun bangkit dari topangan badanku pada lutut, mengucapkan salam terakhir dan terindah untuk batu pualam yang berdiri kaku. Berdoa di tengah hujan, semoga apa yang kupanjatkan hari ini sampai pada langit ketujuh, tempat Ayah dan Ibu mengawasiku. Perlahan, aku melangkahkan kaki menyurusi jalan yang penuh ranting yang berbunyi gemeretak ketika aku menginjaknya.

Semoga, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir kita, Sang Kehilangan. Sampai jumpa di Langit Ketujuh.

-          SELESAI  -

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>