(Cerpen) Senyum Teteh

Tersenyumlah, dan kamu tidak akan pernah tahu, hal positif apa yang kamu berikan kepada orang yang melihat senyum manismu itu, wahai hawa…

***

“Mau makan apa A’?”

“Nasi telur ya Teh[1].”

Aku terpekur sendirian di sebuah warung burjo dekat kosku. Warung burjo adalah semacam warung masakan rumah yang sedang booming di daerah Joglosemar[2]. Burjo merupakan singkatan dari Bubur kacang ijo, tapi menu yang disediakan tidak hanya bubur. Ada nasi telur, nasi sarden, nasi sayur, mie, dan berbagai macam makanan rumahan lainnya. Tak lupa, berbagai minuman sachet juga dipersiapkan untuk disajikan kapanpun ada yang meminta. Mungkin semacam warung Tegal (warteg) kalau di Jakarta.

Bedanya, Kalau Warteg biasanya dimiliki oleh orang Tegal, maka burjo biasanya digawangi oleh orang-orang dari Jawa Barat terutama Kuningan. Memang, ada segelintir orang Yogya yang juga mencoba mencari peruntungan dari bisnis Burjo ini, namun jumlahnya masih dibawah Burjo asal Kuningan dan Jawa Barat.

Karena itulah, setiap aku makan di Burjo, aku terbiasa memanggil penjaga laki-laki dengan sebutan Aa’[3] dan Teteh untuk yang perempuan.

Dan di Burjo dekat kosku ini, Burjo dijaga oleh dua orang wanita muda yang bersemangat di siang hari, dan dua orang lelaki kekar di malam hari.

Aku menduga, jika mereka sedang tidak jaga, pastilah mereka tidur. Karena memang, kegiatan mereka sehari-hari selalu berkutat bersama minyak goreng dan air panas yang menjadi senjata mereka untuk menyambung hidup.

Biasanya, orang yang membuka bisnis Burjo ini adalah orang-orang berkeluarga yang tidak begitu kaya, lalu melakukan urbanisasi ke kota Yogyakarta. Karena mereka tidak terlalu kaya, mungkin anak-anaknya pun terpaksa tidak sekolah, seperti dua teteh yang menjaga burjo ini sekarang.

Teteh yang pertama sedikit gemuk dan pendek, namun berkulit putih dan berwajah bersih, serta memiliki rambut yang cukup indah. Menurutku, dia termasuk orang yang cukup cantik. Apalagi jika sudah mendengar logatnya, benar-benar lucu dan menggemaskan. Mirip cherrybelle mungkin.

Sedang Teteh yang kedua, sedikit lebih kurus dan juga lebih pendek dari yang pertama, kulitnya juga tidak seputih Teteh yang pertama, namun bagiku, bentuk badannya terlihat lebih proporsional. Dan sama saja, dari segi wajah, Teteh itu terbilang cantik.

Aku menduga usia mereka masih di bawah dua puluh tahun. Dan mereka tidak sekolah, apalagi kuliah. Di usia semuda itu, mereka sudah menjadi semacam orang yang mandiri dan tahu, apabila mereka tidak bekerja, mereka tidak akan bertahan hidup.

“Nasi telurnya, sayurnya lengkap A’?” suara si Teteh yang gemuk dan putih menyadarkanku dari lamunan yang tak sengaja datang.

“Emm, emang sayurnya ada apa aja Teh?”

“Ada sop sama oseng-oseng tempe A’, enak loh A’, masing anget, hehe.” Kata si Teteh sambil tersenyum. Manis.

“Yaudah deh Teh, lengkap aja, tapi gak usah pake sambel ya Teh, lagi gak enak nih perutku buat makan yang pedes-pedes.”

“Ahh, si Aa’ mah emang gak pernah makan pedes dari dulu, huw.” Lagi-lagi Teteh tersenyum kepadaku.

Aku bukannya tertarik secara picisan kepada si Teteh yang memang secara fisik sangat menggoda ini. Sejujurnya, aku tidak sekedar melihat fisiknya saat mengatakan bahwa dia itu manis. Bukan wajahnya yang membuat dia terlihat manis saat tersenyum, tapi cara dia tersenyum.

Ya, jika seandainya posisiku sama dengan dia, tentu aku tidak akan semudah itu tersenyum. Bagaimana tidak? Terjebak dalam rutinitas yang membosankan di dalam ruangan pengap berukuran 4x3m, tentu bukanlah perkara yang menyenangkan. Bagaimana mungkin seseorang masih bisa tersenyum saat menjalani hal mengerikan seperti itu?

Tapi kenyataannya, hari ini aku melihatnya. Melihat Teteh yang jelas-jelas dapat mengulum senyum dengan manis dan tanpa beban di tengah kepungan asap dan gemericik minyak goreng yang tentunya sakit jika terkena kulit. Melihat Teteh yang jelas-jelas ceria dan mengumbar kebahagiaan di dalam sempitnya ruangan beratapkan asbes yang membuat gerah sepanjang hari.

Ya, dia tersenyum dan bahagia. Setidaknya itulah yang kutangkap.

Ajarilah aku teh, bagaimana kamu dapat bahagia dengan kehidupanmu ini?

Kamu bisa saja menangis setiap hari, meratapi nasib, dan bekerja dengan malas-malasan karena takdir yang terkesan tidak adil ini. Kamu bisa saja marah kepada kami semua, pelangganmu yang kebanyakan adalah mahasiswa manja dengan segala fasilitas instannya. Kamu bisa saja memasang wajah cemberut kepada semua orang, untuk mengatakan kepada mereka betapa tidak beruntungnya dirimu.

Tapi kamu tidak melakukannya. Kamu tetap tersenyum…

Mangga[4] A’ nasi telurnya.” Akhirnya pesananku siap juga, setelah menunggu kurang lebih lima menit. Dan tetap, kuterima piring berisi pesananku dengan senyum yang menghiasi wajah si Teteh.

Kulihat nasi bertemankan sayur dan telur yang masih hangat ini dengan penuh gairah. Kelaparanku seharian ini akhirnya akan terpuaskan oleh masakan enak ini. Kulahap makananku dengan cepat dan bernafsu. Padahal dulu Ibuku harus bermain pesawat-pesawatan dulu denganku agar aku mau memakan nasi ayam masakan beliau. Namun sekarang, aku dapat melahap nasi telur ini dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Roda kehidupan memang berputar kawan.

Setelah selesai makan, kuteguk air putih gratisan yang tetap segar. Rasanya enak sekali, seakan-akan semua beban kehidupan telah hilang. Membuat kepenatan yang tercipta saat berkutat dengan berbagai buku di perpus fakultas menjadi sirna. Membuat aku sejenak bisa menikmati hidupku yang telah lama hilang gara-gara sebuah makhluk kejam yang bernama skripsi datang ke dalam hidupku.

Aku memang sedang dipusingkan oleh berbagai masalah kuliah yang menderaku. Sudah memasuki semester 9 dan belum menemukan judul yang cocok untuk skripsiku. Aku kini semakin dikejar-kejar oleh waktu untuk menyelesaikan studiku, untuk membahagiakan ibuku.

Namun pada kenyataannya, aku masih belum memiliki motivasi yang bulat. Aku masih takut akan apa yang kulakukan nantinya setelah lulus. Mau jadi apa aku?

Apakah jadi seorang pegawai kantoran? PNS? Wirausahawan? Atau malah menjadi pengangguran? Ahhh! Aku takut!

Namun, senyum dari teteh mengubahnya.

Melihat Teteh yang selalu tersenyum dalam kesusahan hidupnya. Melihat Teteh yang selalu ceria dan tidak berfokus pada kesedihannya. Melihat teteh yang menikmati hidup yang bagi sebagian orang tidak nikmat itu. Membuat aku sadar.

Aku bukanlah orang paling susah di dunia.

Jika teteh masih bisa tersenyum bahagia di dalam kemuraman burjo yang penuh asap rokok, mengapa aku tidak bisa?

Haha, ternyata memang benar kata orang, inspirasi bisa muncul dari mana saja. Termasuk sekarang, berkat senyum teteh, wanita cantik yang tegar dalam menghadapi kerasnya hidup, aku menjadi bersemangat kembali.

Mungkin kamu tidak berniat apa-apa saat tersenyum kepadaku…

“Apa aja A’ belinya?”

Mungkin bagimu, itu hanyalah sebuah ekspresi biasa yang tak berarti banyak…

“Jadinya empat setengah[5] A’

Tapi senyummu itu telah membangkitkan semangatku, dan mungkin juga ratusan orang lain yang datang ke Burjo ini.

“Ini kembaliannya A’, makasih ya A’.

Senyummu, ya, senyum manismu.

“Mari A’.”

Sekali lagi, bukan bentuk senyummu yang membuatku suka, tapi caramu tersenyum.

Yogyakarta, 5 April 2012



[1] Panggilan perempuan yang lebih tua di sunda

[2] Jogja Solo dan Semarang

[3] Panggilan laki-laki yang lebih tua di sunda

[4] Silahkan dalam bahasa sunda

[5] 4500 rupiah

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to (Cerpen) Senyum Teteh

  1. Pingback: Senyum Teteh | Kisah Cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>