[Cerpen] Setelah Surat Terakhir yang Jujur

[Cerpen] Setelah Surat Terakhir yang Jujur

Setelah Surat Terakhir yang Jujur

Sebuah pagi. Sebuah tangis pecah. Kamar pintu terbuka tapi sudah terlihat rusak. Di dalamnya tak seorang penghuni pun terlihat. Tetapi seorang ibu di teras rumah tak dapat lagi menahan tangisnya. Dia hanya duduk dengan posisi yang lemas, tak berdaya. Kerut di wajahnya, penanda tua, menghadirkan iba.

Seorang lelaki datang. Wajahnya terheran-heran saat mendapati istrinya duduk. Raut di wajahnya juga terlihat khawatir. Kedua bibirnya bergetar, seraya bertanya:

“Ada apa? Ada apa kamu menangis?”

Perempuan itu tidak bereaksi. Dia masih dalam tangisnya. Dia tampak lelah untuk menjawab.

“Kamu ditanya bukannya menjawab. Ada apa?”

“Surat itu”, tangan tua perempuan itu menunjuk dengan gemetar pada sebuah kertas lusuh. Dia melanjutkan dengan terbata-bata: “aku menemukan dalam kamarnya”.

“Lalu?”

“Bacalah sendiri”

Lelaki tua itu tak segera membaca. Dia malah ngeluyur saja ke dalam rumah. Mendapati pintu kamar anaknya yang rusak, dia kaget.

“Kenapa pintu ini?”.

“Aku tadi yang merusakinya. Tadi dikunci. Aku tidak tahu dimana kuncinya”.

“Sekarang dia dimana?”.

“Aku juga tidak tahu”.

Lelaki tua itu tidak berbicara lagi. Dia berjalan ke sebuah kursi. Sebuah meja di depannya. Dia duduk. Pandangannya lurus menghadap ke arah barat. Tertuju pada kaca rumah. Nampak di luar rumah, sebuah sumur yang terlihat tak terawat. Warna dindingnya tak putih lagi. Telah dikaburkan warna lumut yang hitam. Berdampingan dengan sumur itu, di sisi kanannya, berdiri sebuah kamar mandi. Juga ditumbuhi lumut-lumut hitam dindingnya. Di sisi kirinya, berdiri sebuah langgar kecil yang dinding dan lantainya adalah kayu.

Mahluk kecil bernama kecapung melayang-layang hinggap di bibir sumur. Sebentar hinggap lagi di pintu kamar mandi. Hinggap lagi di bibir sumur. Hinggap lagi entah kemana. Terbang, terbang bebas. Di belakangnya sebuah deretan pohon-pohon yang dijalari tanaman cabbhi alas (cabe jamu). Begitu rimbun. Berbaris sampai tepi jalan.

Lelaki tua itu masih diam. Di tangannya kini sebuah rokok terbakar.

Pintu berderit. Dia menoleh. Istrinya masuk dan menghampirinya. Dia mengambil kursi di dekatnya. Diletakkannya surat yang lusuh di atas meja.

“Kamu belum baca suratnya?”, istrinya mengingatkan.

“Aku pasti tahu isinya”.

“Tau gimana maksudnya?”

“Dia pergi”.

“Tapi kamu tidak tau kan apa yang membuatnya pergi?”.

“Untuk apa kita mendengarkan alasannya. Saat dia memutuskan pergi. Sama artinya dia memutuskan untuk tidak mematuhi perintah kita sebagai orang tua”.

“Kenapa kita tidak membacanya?”.

“Saat dia memutuskan pergi, dia tidak lagi memperhitungkan martabat kita sebagai orang tua. Bagaimana kita bilang kejadian ini? Coba kamu pikir. Bagaimana kita harus bercerita pada calon tunangannya? Juga pada besan kita? Juga pada orang-orang di sekitar kita. Kita masih ingin mendengar pendapatnya? Sementara kita di sini ditinggalkan begitu saja. Dia tidak mempertimbangkan beban dan perasaan malu seperti apa yang harus kita berdua tanggung sebagai orang tua”.

Lelaki itu kembali menghadap ke arah barat. Nampak lagi burung-burung kecil hinggap di bibir sumur. Melayang-melayang diantara rimbun pohon yang daunnya bergoyang-goyang ditiup udara siang. Dua anak kecil bermain roda dan berlari-lari dengan ketawa. Dan sebentar mereka menghilang di balik rerimbun pohon.

“Aku tak pernah mengajarkannya melawan. Aku mendidiknya baik-baik. Aku menyekolahkannya. Tapi apa artinya semua ini?”.

Lelaki tua itu minta persetujuan istrinya. Tapi perempuan itu malah menjawab lain.

“Aku malah bingung. Jangan-jangan kita yang salah”.

“Mengapa kita menyalahkan kita sendiri, bu?”.

“Kita terlalu memaksanya. Kita selalu berfikir menurut kita. Anak-anak perempuan seusianya di lingkungan kita makin banyak yang mengejar pendidikan yang tinggi-tinggi. Tetangga kita sudah tiga orang yang lulus kuliah. Dia pasti menginginkan seperti anak-anak tetangga”.

“Pendidikan itu tidak perlu tinggi-tinggi, ibu. Asalkan diamalkan ilmunya”.

“Kan bapak tidak mengerti apa yang ada di pikiran anak-anak sekarang. Kita kan mikirnya menurut kita, bapak. Jangan-jangan kita memang ketinggalan jauh dari pikiran anak-anak sekarang”.

Suaminya tidak menanggapi. Dia malah diam. Tapi perempuan itu malah melanjutkan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Memang orang tua-orang tua macam kita kebanyakan hanya lulusan SD. Aku saja bahkan tidak lulus SD. Mana mungkin orang tua semacam kita bisa mengerti anak-anak sekarang. Dulu orang tua-orang tua kita tidak peduli pendidikan. Sudah besar sedikit, umur belasan tahun saja, sudah disuruh menikah. Kata mereka takut tidak laku. Takut ketuaan. Anak-anak sekarang tidak berfikir begitu. Mereka tidak takut ketuaan. Mereka tidak mengerti”.

“Dulu orang tua-orang tua kita cuma mengajari kita anak perempuan harus pinter masak di dapur. Pada saat anak laki-laki ikut ke sawah untuk membantu orang tua bercocok tanam, kita, anak perempuan, membuat masakan buat mereka dan membawanya ke sawah. Hidup kita dulu sederhana. Orang-orang dulu tak mengerti pendidikan tinggi-tinggi dan tak merasa perlu dengan pendidikan yang tinggi-tinggi”.

Perempuan itu melanjutkan:

“Aku pikir, sudah sampai pendidikan ‘aliyah’, itu sudah tinggi. Eh, dasar orang-orang dulu, ngga tau kalau ada pendidikan yang lebih tinggi lagi. Kuliah. Mereka mau jadi apa, orang-orang seperti kita mana tau. Kita hanya taunya mengolah sawah. Kalau musim lagi mendukung, kita menanam tembakau. Kalau musim penghujan, kita menanam jagung. Orang-orang seperti kita dulu mana pernah memegang bolpen. Sekali-kali iya. Tapi buat apa lama-lama. Orang-orang seperti kita tidak mengerti mau dibuat apa”.

“Kadang aku melihat dia, anak perempuan kita, membaca buku sampe malem. Dia ketawa-ketawa sendiri. Orang-orang seperti kita mana mengerti apa isinya. Orang-orang seperti kita pikir buang-buang waktu. Kadang aku melihatnya menulis sesuatu. Begitu semangat. Kadang dia dengan bahagia bercerita tentang pelajaran di sekolahnya. Orang-orang seperti kita mana bisa mengerti meskipun aku harus bangga dan bahagia melihatnya bahagia. Hmmm, anaknya pintar, cita-citanya tinggi. Sedang ayah-ibunya, orang seperti kita, mana mengerti apa-apa”.

Perempuan yang kelelahan dengan kesedihannya, wajahnya yang sembab, akhirnya berdiri dan sebelum meninggalkan lelaki itu, dia berpesan: “pak, jangan lupa baca suratnya, biar sekali-kali kita mengerti apa yang dimaui”.

Suaminya bingung. Tapi dia tak menolak. Diambillah surat itu. Dibukanya sebuah lembaran.

Bapak dan ibu!

Aku pikir surat kecil ini penting aku tulis. Biar bapak dan ibu tidak kaget. Aku tidak pergi kemana-mana. Aku minta maaf jika sudah membuat bapak dan ibu gusar. Aku hanya sedang memilih untuk mencari tempat yang lebih tenang. Di tempat itu, aku bisa berpikir lebih jernih. Aku bisa menghindari pertentangan-pertentangan kecil dengan ibu. Aku bisa memikirkan pendidikan. Aku bisa memikirkan masa depan.

Tapi lebih dari itu, surat ini ingin mengatakan secara jujur beberapa kesalahpahaman diantara kita: anak dan orang tua. Jujur, bapak dan ibu, banyak hal diantara kita yang berbeda dan mesti diluruskan beberapa kesalahpahaman antara kita.

Jika aku menginginkan pendidikan tinggi, ibu lalu mengatakan untuk apa tinggi-tinggi dan itu tidak penting. Itu artinya kita dipisahkan oleh sebuah jurang lebar sebuah zaman. Di masa ibu, pendidikan tinggi hanya sampai SD. Sekarang tingkat itu hanyalah pendidikan dasar. Bila aku bilang aku menginginkan kuliah, ibu lalu bilang, anak perempuan mau jadi apa, nanti-nanti juga di dapur. Ibu mencontohkan di zaman ibu dan membaca dari pengalaman ibu.

Dulu, memang benar, dan itu yang sering disampaikan ibu, anak-anak perempuan tak perlu tinggi-tinggi sekolah. Itu benar bu. Ibu selalu bilang tentang itu. Tapi itu dulu.

Dan, maaf, ibu dan bapak seringkali mengabaikan pendapat saya. Ibu dan bapak sering lupa dan menganggap aku melawan, tidak sopan, setiap kali aku berpendapat. Apa mungkin ini disebabkan seringnya petuah yang mengajarkan: setiap anak tak boleh melawan orang tua. Petuah ini baik tapi tak berlaku sewenang-wenang. Ada saatnya melawan dibenarkan. Sebab jika setiap pendapat anak haruslah ditolak, sementara ibu dan bapak tidak lepas dari kekeliruan, lalu siapa yang harus mengoreksi bapak dan ibu. Maaf, rasanya itu yang sering bapak dan ibu lupakan.

Bapak dan ibu, mungkin dulu, maaf, hidup di zaman dimana setiap anak hanya boleh mendengar pendapat orang tuanya dan tidak boleh berpendapat sebaliknya. Sehingga bapak dan ibu kaget setiap kali aku memberi pendapat balik. Bapak dan ibu tidak bisa membedakan. Sebab setiap kali aku memberi pendapat atau pertimbangan, itu dinilainya sebagai melawan. Dan setiap melawan hukumnya tidak sopan.

Bapak, ibu.

Aku tak pernah berfikir atau merasa benci terhadap bapak dan ibu. Jika aku melawan atau menentang, yang kulawan dan kutentang hanyalah pikiran-pikiran lama yang begitu kuat dalam sikap bapak terhadap anak-anaknya. Aku mengerti, kalian berdua pastilah tak perlu ditanya soal cinta dan kepedulian kepadaku. Kalian tidak membenci aku, putrimu yang sering melawan. Tapi putrimu, sejak kecil sudah dipertemukan dengan ilmu pengetahuan. Putrimu diajarkan pentingnya sekolah dan pendidikan. Putrimu diajarkan banyak hal yang belum membudaya di masa bapak dan ibu. Itu sebabnya putrimu tumbuh menjadi pribadi yang begitu berbeda dengan bapak dan ibu.

Bapak dan ibu, yang bijaksana adalah kita harus saling menerima pikiran-pikiran kita. Jarak perbedaan budaya dan tradisi keilmuan antara kita terlampau jauh dan salah satu cara menghindari percekcokan kecil adalah saling menerima dan memposisikan masing-masing kita dalam posisi yang setara: aku hargai pendapat bapak dan ibu. Sebaliknya bapak dan ibu menghargai saya.  

Surat itu tuntas dibacanya. Tapi bisakah dimengerti seluruh isinya? Bisakah diterima kebijaksanaan-kebijaksaan yang disampaikan seorang gadis perempuan yang selalu dianggapnya terlampau muda?

Disimpannya lagi surat itu di atas meja. Dia tetap diam tapi jelas gelisah. Burung di depannya masih terus bercericit dan hinggap dari satu tempat ke tempat lain.

Ciputat, 28 Juni 2017

Sulaiman. Baru Lulus S1 Sosiologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya memiliki kesukaan di dalam menulis cerita pendek. Kesukaan ini sudah dimulai sejak Madrasah Tsanawiyah.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: