Cerpen “Sihir Ibu” Karya Muhammad Apriadi

Pagi ini Ihsan beraktivitas seperti biasanya. Dengan mengendarai sepeda motornya, ihsan melaju di jalanan hendak ke kampus, ia bersyukur karena  jalanan sudah terlihat lengang karena bukan lagi jam masuk kerja kantoran. Saat tiba di trafic light ihsan baru ingat ia bergumam dalam hati :
“O ya, hati ini ada mata kuliah pak tarjo, kelompoknya iryan presentasi nih.

Terlihat ihsan cengar cengir mengukir senyum angkuh seperti meremehkan.
“Aku akan permalukan Iryan di kelas, sudah kupersiapkan pertanyaan untuknya. Heh”

Ihsan adalah seorang mahasiswa yang cukup pandai, aktif di dalam kelas, tapi karena itu para temen kelasnya menjauhinya.

Sampai di lingkungan kampus, ihsan menuju tempat parkir fakultas, memarkirkan kendaraannya. Berjalan di lorong fakultas menuju ruangan kelas, ihsan berjalan tanpa menyapa siapapun.
Begitu tiba di kelas, rupanya semua teman kelasnya sudah berkumpul untuk mengikuti mata kuliahnya pak Tarjo yang mengampu mata kuliah Filsafat barat. Ihsan memilih duduk paling depan karena hanya cuma disitu kursi yang kosong.

Dilihatnya Irwan dengan kelompoknya susah duduk di depan bersiap mempresentasikan materi kelompoknya. Tak lama berselang Pak Tarjo Masuk, seperti biasa pak tarjo hanya membawa kopi bercangkir fliptop yang bisa dibawa kemana-mana, duduk dan membuka pelajaran, langsung mempersilakan kelompok Irwan untuk mempresentasikan makalahnya, yang bertema “Eksistensialisme” filsafat barat.

Setelah menjelaskan apa itu Eksistensialisme dan bagiannya, tiba sesi tanya jawab. Pak Tarjo mempersilahkan para mahasiswa untuk bertanya. Dengan cepat Ihsan mengacungkan tangan berharap pak Tarjo memilih dirinya untuk bertanya, dan dosen tua itu memperbolehkan ihsan untuk bertanya.

Dan mulai ihsan bertanya ihsan dengan bersemangat. Tampak Irwan berkeringat menyimak jejalan pertanyaan dari Ihsan.
Saat menjawab Irwan kelihatan gugup dan akhirnya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Kelas pun bubar, Ihsan tetap asyik dengan dirinya sendiri tanpa bercengkrama dengan temannya. Saat teman-temannya bertanya untuk mengajaknya mengikuti organisasi intra dan ekstra kampus ia juga menolak dengan alasan buang-buang waktunya, lagian menurutnya ia sudah pintar.

Begitu pulang ke kost, terdengar Handphone nya berdering, dan itu dari sang bunda. Ihsan pun bergumam

“Ah, bunda ngapain ia nelpon disaat aku lagi capek begini. Tanpa pikir panjang ia langsung mereject telpon dari sang bunda.

Telpon dari sang bunda, bunda yang melahirkannya dan mencukupi keuangan kuliahnya, dengan perasaan jengkel mematikan hp.

Ihsan tertidur dan menunjukan pukul 2 sore. Tak lama berselang terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, seperti orang panik. Ia kenal suara itu, suara bu darmin, ibu kostnya.

“Ada apa bu? Dengan mata masih sayu
“Kamu ada masalah apa? Wanita paruh baya itu bertanya dengan ihsan dengan wajah setengah ketakutan.
“Emang ada apa bu, kok kelihatan panik?
“Itu ada dua orang polisi datang ke kost bertanya apakah ihsan pratama tinggal disini, katanya.
“Hah? Polisi?

Dengan perasaan bingung, ihsan berjalan kedepan kost diikuti bu darmin.
Terlihat dua orang polisi berperawakan sedang dan yang satunya sedikit gemuk.
Polisi agak gemuk itu bertanya :
“Apa benar anda adalag ihsan pratama? Pemilik akun media sosial ini? Polisi itu menunjukan foto hasil Screenshoot kepada ihsan.

Dengan terkejut ihsan berkata :
“Iya pak
“Mari ikut kami ke kantor”
“Apa salah saya? Pak
“Anda telah dilaporkan oleh seseorang karena, dituduh mencemarkan nama baik dengan membuat hujatan yang menimbulkan kebencian.

Sebelum berangkat ke kantor polisi ihsan, dipersilakan untuk menggati pakaian, dan mandi terlebih dahulu. Tampak pada saat mau masuk ke mobil mata ihsan merah berkaca-kaca menangis.

Tiba di kantor polisi, ia digiring dimintai keterangan oleh polisi.

“Kamu tau kamu telah membuat status di media sosial mencemarkan nama baik dan membuat kesan kebencian
“Emang kenapa pak? Dengan wajah masih menunjukan rasa bersalah dan mata merah
“Kamu terjerat UU ITE, kamu tau siapa yang kamu hujat itu?

Ternyata adalah salah satu anggota kongres dewan yang sedang di rundung kasus.

Dengan tersedu-sedu ihsan menunduk tanpa bicara. Menyesali perbuatannya.
Ihsan teringat ibunda nya dan mulai menelpon.

“Hallo. Suara wanita itu. Terkejut mendengar ihsan terisak tangis ia bertanya. Ada apa nak?
“Saya masuk kantor polisi bunda.
“Hah, ada urusan apa kau masuk kantor polisi? Kau mencuri? Tawuran?

Setelah percakapan itu ibundanya memutuskan untuk ke kota melihat anaknya itu, jarak desa ke kota sekitar 50 kilometer.
Setelah sekitar satu jam ibundanya hanya bisa menangis melihat anaknya di ruangan sedang duduk tertunduk menangis.

“Kau kenapa nak? Dengan suara lembut itu tampak wanita itu mengucurkan air mata.

Dan ihsan menceritakan mengapa ia sampai berurusan kepada polisi.

Diruangan itu tampak tidak ada polisi satupun karena pergantian shif malam. Dan ihsan diperintahkan untuk menginap di kantor polisi di temani bundanya. Sampai menunggu pelapor datan besok.

Sang bunda pun berkata :

“Sekarang aku mengerti betapa hidupmu tidak bahagia, nak. Keaalahanmu sendiri, tingkahlaku mu sendiri, kau bersikap egois.

“Ampun bunda.., ihsan menangis di samping bundanya ditemani suara nyamuk sunyi ruangan itu

Sang bunda yang tegar itu tidak dapat dicegah bicara. Kata-katanya mencekam, menggigilkan urat syaraf sampai ke ujung-ujung.

“Asalkau tau, yang kau hadapi ini. Berapa kali bunda mu ini katakan : belajarlah berterima kasih, belajarlah bersyukur.

Suaranya yang lembut itu menderu menyambar , lebih perkasa dari petirnya sang dewa yunani yang terkenal itu.

“Telpon dari bundamu pun jarang engaku angkat, jarang menghubungi balik. Sms pun tidak. Padahal aku ingin mengetahui kabar anakku seminggu sekalipun tidak mengapa. Mengapa engkau jarang sekali memberi kabar ke bunda. Sekarang kau malah dapat masalah seperti ini.

“Ampun bunda.

“Seorang ibu selalu mengampuni anaknya. Biarpun anak itu seperti kau, yang baru membangun kesengsaraan baginya sendiri. Aku datang terpanggil oleh kesengsaraanmu.

“Ampuni saya bunda, selama ini sibuk

“Kau selalu ku ampuni tanpa kau pintapun, begini dekat kau terus memanggil-mqnggil. Dikejauhan kau tak pernah dengarkan pekikanku.

Ihsan menyeka air matanya dengan tangan, tanpa ia sadari ia menangis  tersedan-sedan. Dan tampak dua orang polisi sudah berada di dalam ruangan. Ihsan tampak sedikit malu.

Setelah beberapa menit, waktu menunjukan pukul 9 malam, dan ihsan diperintahkan untuk menghadap polisi itu.

“Ada kabar baik bu.
“Gimana pak
“Orang yang melaporkan ihsan sudah mencabut gugatannya. Mungkin setelah mengetahui ihsan baru berstatus mahasiswa yanh kuliah secara beasiswa, munkin karena kasihan.
Dan ia berpesan supaya, tidak lagi asal ceplas ceplos di media sosial yang menyebabkan orang lain tersinggung dan marah.

Di ruangan polisi itu tampak sang bunda yang tegar itu menangis diikuti ihsan

“Alhamdulillah, ucap sang bunda.

Mereka pun pulang. Sang bunda menginap di kostnya ihsan diantar oleh polisi menggunakan mobil.

Apriadi (Amplitudo)
Teluk Melano, 22 Desember 2016 (Spesial Hari Ibu)

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>