[CERPEN] Takdir Tidak Menunggu Karya Nia Halverson

[CERPEN] Takdir Tidak Menunggu Karya Nia Halverson

TAKDIR TIDAK MENUNGGU

Sometimes there is no next time, no second chance, no time out, sometimes it is now or never.

 

Leo berusaha mengabaikan deringan ponsel di sampingnya, berusaha keras mencoba fokus dengan tugas kantor yang membuat kepalanya berdenyar. Alih-alih menjawab ponsel itu, ia malah menyentak ponselnya, mengeluarkan baterainya dan melemparkannya dengan kasar ke dalam laci meja kerjanya.

Ia bosan, ia pusing harus berlagak peduli sementara apa yang didengarnya hanya basa-basi semata. Tugas kantornya mulai menggunung. Bukannya bermaksud egois, pula, ia bekerja bagi mereka. Bagi penganggu yang selalu haus kabarnya setiap hari—keluarganya. Leo berharap mereka sadar kalau Leo butuh konsentrasi serta waktu sendiri untuk mengerjakan tanggung jawabnya sebagai salah satu karyawan di perusahaannya.

Ia tak ingin membuat kecewa atasanya, apalagi membuatnya dipandang remeh karena lagaknya yang tak beres. Ia ingin terlihat baik, ia ingin membuat mereka bangga memiliki karyawan seperti dirinya. Tidak ada yang bisa menghalau ambisinya. Karena Leo harus sukses, dan ia akan mewujudkannya.

Mungkin ia boleh sedikit santai setelah sabungan itu diputusnya sepihak. Namun, ternyata deringan lain menyentuh gendang telinganya. Sekonyong-konyong asistennya melengos masuk dengan telephone matrix digenggamannnya. Ia memasang mimik panik, sesuatu yang dianggap Leo dramatis namun tak pernah diacuhkannya.

“Maaf Pak Leo, Ibu Bapak di kam—”

“Abaikan saja telephone itu Mi, dan transfer uang pada mereka. Seperti biasa, pasti itu yang mereka minta.”

“Bukan Pak—” Mia—asisten molek itu menghela nafas pendek, jenuh akan sikap atasannya yang selalu berasumsi seenak udel.

“Ayah Anda masuk rumah sakit, dan keadaannya sedang kritis sekarang.” Kalimat itu seolah sebuah tamparan kilat yang tiba-tiba menyengar permukaan wajahnya. Leo tertegun sejenak, namun napasnya tidak sestabil sebelumnya. Ia meremas pelipir sebuah buku yang terboek terbuka hingga renyuk.

“Tolong pesankan saya tiket, sekarang,” katanya dengan bibir bergetar. Asistennya mengangguk sekali sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan.

Leo mencoba mengendalikan emosinya, meski ia tahu itu tak bisa benar-benar berhasil. Matanya memejam keras, tangannya mengepal erat, ada sesuatu yang ia ingin muntahkan dari perasaan dadakannya itu. Ada gejolak nyeri yang membuatnya gusar. Ia harus bergegas dan mencari kabar kebenaran itu. Dengan gerakan gesit Leo menyentak jas kantor yang ia sematkan di hanger stand dan melengos keluar. Meninggalkan tugas-tugasnya yang menumpuk.

 

Melepas beberapa menit sejak meninggalkan kantornya, Leo meluncur dengan mobil pribadinya menuju bandara. Sudah terlukis arai mimik wajah ayahnya yang terbaring dengan lemas di suatu ranjang, sudah terlukis wajah-wajah penuh iluh yang membuat hati kerasnya melumer bagai tersengat matahari beribu-ribu celcius.

Ia merasakan betapa detik-detik waktu perjalananya sungguh sangat mengganggu, sungguh menyita waktu. Ia ingin lekas tiba dan bersua dengan sanak saudaranya, serta orang terkasihnya yang kini sudah menantinya lama. Leo mengusap air mata yang tak sadar ia jatuhkan dengan lengan tangannya dan berlari terseok-seok menuju halaman rumahnya . Ia tak sempat menghubungi mereka, Leo lupa ponselnya yang ia lempar kasar ke dalam laci mejanya karena merasa terganggu. Saat kakinya menginjak teras, sesosok gadis berwajah nyaris mirip dengannya sekonyong-konyong berhambur memeluknya, ia tersedu di bahu abangnya. Leo pun mengusap punggung adik perempuannya itu dan membisikan kata-kata penenang. Ia sadar ia sendiri tak sekuat itu, meski kata-kata penyemangatnya membuat adiknya berhenti tersedu untuk sejenak.

“Abah sakit keras Abang. Kenapa kau baru datang sekarang?” katanya, membuat Leo seolah tertusuk gada runcing di mana-mana. Ia sudah merasa terganggu sejak 3 hari yang lalu dan bodohnya ia tak menanggapinya. Kini Leo merasa benar-benar menyesal.

“Maaf Putri, Abang terlalu sibuk dengan pekerjaan di Jakarta.”

“Ini yang sebenarnya Abah khawatirkan sejak Abang memutuskan pergi merantau. Kini, apa yang bisa Abang lakukan untuk menebus semuanya?” titik-titik kecil itu kembali mengisi mata bulat Putri.

“Maafkan Abang Putri. Abang tahu Abang egois, tapi Abang di sana untuk kalian, untuk mencukupi kebutuhan kalian,” kalimat itu membuat Putri semakin meribak.

“Mereka tidak pernah memakai uang Abang, tidak sepeser pun.” Pengakuan itu membuat Leo terkesiap. Ia mengikuti emosi adiknya, namun lekas mengusap butir yang bergumul di ekor matanya.

“Abang akan ke rumah sakit sekarang,” katanya akhirnya. Ia mengusap puncak kepala adiknya dan mengecupnya. “Jaga rumah baik-baik,” Putri mengangguk, menurut.

***

Hal pertama yang Leo dapati saat ia masuk brangkar orangtuanya adalah sosok ibunya yang meneduhkan, namun wajahnya diliput kesedihan. Ia menghampiri ibunya dan memeluknya erat.

“Abah?” ia melontarkan kalimat yang mendepak hatinya—rasa linu yang tertahan. Uminya mencoba membuat mimik setenang mungkin.

“Ia masih koma, Sayang.” Katanya. Leo tak perlu berlagak tegar lagi. Tentu kabar ini menganggunya. Dan yang sangat membuatnya tersentuh adalah…, meski Uminya serta keluarganya ia perlakukan tidak baik, mereka masih menyebut kalimat ‘sayang’ dimburit kalimat itu. Hal yang membuat Leo tak habis pikir tentang kasih sayang orangtua yang menurut banyak orang tak pernah habis.

Uminya mengulurkan jemarinya dan mengusap air bening itu dari wajah Leo. “Kau harus tegar, kau harus kuat, seperti Abah yang sekarang sedang berjuang untuk kita.”

“Abah tak seharusnya berjuang sendiri.”

“Kita di sini ada, bersama-sama untuk mendoakannya.” Kata ibunya. Membelai lembut rambut anaknya yang sudah lama ia rindukan.

“Sekarang, shalatlah dan doakan Abahmu,” nasihat Uminya. Leo mengangguk, dan Uminya memberinya senyuman.

Sebelum ia meninggalkan brangkar, Leo melimbai menuju ranjang abahnya, mengecup kening abahnya dan dan berbisik. “Abah, Leo merindukan Abah. Lihatlah Abah, Leo sudah di sini, Leo di sini untuk Abah. Leo akan menunggu Abah bangun dan tersenyum menyambut Leo. Abah. Bertahanlah, Cepatlah sembuh. Leo yakin Abah bisa melaluinya.” Uminya menyentuh pundaknya dan mengecup puncak kepala Leo dengan lembut. Leo pun menoleh pada Uminya, berpesan agar uminya tetap tinggal dan menjaga abahnya baik-baik. Terpancar mimik culas ketegaran dari binar mata Leo. Ia tahu ia sudah terlalu lancang hadir sekonyong-konyong setelah menyelam di dunia antah barantah tanpa kabar. Namun ia berharap kesempatan menghampirinya. Mempertemukannya dengan orang yang berjasa dalam hidupnya, mempertemukan dengan orang keras yang dibaliknya selalu membuat portal perlindungan baginya, mempertemukannya dengan seorang hero sejati dalam dunianya. Abah adalah sosok yang hebat, di mana sikap kerasnya menyimpan emosi namun tingkahnya menyampaikan kebaikan sejati.

“Kenapa Umi tidak mau menggunakan uang Leo? Leo bekerja keras untuk kalian Mi, untuk bisa mebuat kalian bahagia.” Umi Leo memicing, memandang anaknya tajam.

“Bukankah sudah Abah bilang pada malam terakhir kau meninggalkan rumah?” Leo tak menjawab, ia menekur dalam. Sadar setelah sekejap flashback pada masa lalunya.

“Ketahuilah Nak, bagi kami kau lebih berharga dari semua harta yang kau berikan. Kami tidak ingin kau berfikir kami kekurangan, kami pula tidak ingin bahagia sementara kami tidak benar-benar menginginkan kebahagian semacam itu. Abahmu, Abahmu sakit-sakitan Nak. Ia bisa saja setiap saat meninggalkanmu. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu, bahkan uang pun tak akan bisa terhitung untuk menebusnya.” Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Leo, matanya mulai berat digenangi air mata.

“Ini bukan hal yang aku inginkan, Umi. Kenapa aku harus memilih?” Leo mengusap dahinya asal, pening. Ibunya mendesah pendek, ia tahu perasaan anaknya, dan ia bahkan tidak layak menahannya tetap tinggal sementara dia sudah menjadi orang di Jakarta.

“Jika memungkinkan, jika kamu tidak keberatan, tinggallah di sini barang semalam. Meski Abah tidak menyambutmu, setidaknya, cobalah tinggal untuk menemaninya.” Leo tak berfikir dua kali, ia mengangguk mantap. Dan bulir air mata itu pun menuruni pipinya, ia tersedu di pundak uminya.

 

***

Tepat pukul 02: 04 AM. Leo mulai menyadari suatu hal ganjil terjadi. Ia bangkit dari duduknya di ruang tunggu dan mendapati dokter serta suster rumah sakit berlarian panik. Ia tergeming beberapa saat, menerka-nerka beberapa hal dalam pikirannya. Hingga kedatangan Uminya menjawab semuanya. Ia mendatangi Leo dengan mimik sendu dan buru-buru memeluk anak lelakinya itu.

Leo tak perlu bertanya apa yang terjadi, karena emosi Uminya menjelaskan semuanya. Ia membantu Uminya duduk di bangku dan mengusap bahunya lembut. Menunggu hingga Uminya membuka mulut.

“Abahmu, Nak,” ia berhenti dan mengalirkan air matanya lebih deras. Meremas dadanya—menahan sakit. Ia tak melanjutkan kalimatnya dan suatu reaksi terjadi padanya. Ia jatuh pingsan dalam pelukan Leo.

Harkat mungkin bisa membuat orang gelap mata, harkat mungkin bisa membuat seseorang mengabaikan arti emosi relasi, harkat mungkin kesesatan yang memabukkan. Leo merasa benar-benar bodoh, menjadikan dirinya terhimpit dalam kehebatan yang menghancurkan emosi terdalamnya. Kini, setelah kesempatan pergi…, ia hanya punya kenangan untuk bisa ia simpan, ia hanya punya perasaan linu saat sekonyong-konyong teringat. Impresi yang membuatnya bakal kalang kabut sesekali.

Haru biru dalam hati Leo adalah sebuah penjelasan kenapa ia tetap di sini. Meski ia harus menyaksikan keluarganya melepas orang tercintanya dengan cucur air mata, dan dadanya seolah tertusuk-tusuk. Ia menahannya, dan berjalan lemas menuju brangkar di mana didiami sebuah jasad yang amat ia banggakan.

Ia meremas tangan rapuh itu dan mengecupnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya.

“Keputusan mendapatkan balasan. Kasih yang tak terbalas telah meninggalkan emosi untuk dikenang, dan senyum kerinduan itu akan tetap menjadi rindu yang tak sampai. Abah, semoga Abah tenang di sana. Leo tahu Leo banyak menyakiti Abah, Leo banyak mengecewakan Abah, Leo telah berdosa banyak dengan menyia-nyiakan kesempatan silaturami kita. Leo bahkan belum sempat mengatakan maaf, Leo belum sempat mengatakan terima kasih. Abah, Leo tahu Leo egois, dan Leo tidak tahu apa yang benar-benar Abah butuhkan. Kini, setelah Leo mengorbankan waktu dan tenaga Leo mengurusi harta, Abah pergi. Abah, andai Leo tahu Abah mengharapkan Leo lebih dari semua yang sudah Leo berikan, mungkin Leo sudah meninggalkannya sejak dulu. Leo nakal, Leo tidak mendengarkan Abah. Maaf Abah, Maafkan Leo sudah membuat Abah kecewa, maaf…,” Leo mengusap air matanya dengan punggung tangan, kemudian menarik kain putih ditangannya dan menutupi wajah Abahnya. Hatinya lemas, napasnya berat. Kini ia hanya akan mengenang tanpa memiliki kesempatan nyata melihat Abahnya tersenyum menyambutnya. Yang menunggu telah pergi, meninggalkan kenang, dan pesan yang menancap dalam qalbu. Fatalitas adalah ketetapan yang entah kapan akan diterima mereka yang hidup, dan Leo sadar itu. Ia akan menerima takdir ini meski sejujurnya hatinya berat melepasnya pergi. Hatinya merintih merindukan kesempatan, dan menyadari ia tak akan merasakan perasaan yang sama setelah kepergian Abahnya dalam waktunya yang tersisa.

 

THE END

 

Nia Halverson hanya sebuah nama pena. Sulung dari dua bersaudara ini sekarang tinggal di Bekasi, bekerja di sebuah perusahaan retail. Karya antologinya yang pernah terbit di antaranya ; Terima Kasih, A Paper of Hope (2012), Penerbit Sastramoeda dan Should I…? Serta Visionary yang terbit pada tahun 2014 Penerbit Ellunar.

 

 

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: