[CERPEN] Tanpa Judul

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Aku mempunyai seorang kakak, ia sudah bekerja sekarang. Aku tinggal bersama nenekku, Ibuku bekerja sebagai PRT di daerah lain. Ayahku meninggalkan kami sejak aku masih kecil, ketika kakakku masih TK. Aku dan kakakku terpaut dua setengah tahun. Kami dua saudara yang amat berbeda kakakku lebih gaul, ia mempunyai kulit yang lebih cerah daripada aku, ia juga mudah bergaul dan banyak dikenal orang. Berbeda dengan diriku aku mempunyai kulit yang lebih gelap darinya, aku juga mempunyai kumis tipis di atas bibirku dan itu membuat aku tidak percaya diri. Aku juga dikenal pemalu oleh sebagian orang sehingga aku juga mempunyai teman yang lebih sedikit. Ya beginilah aku. Sekarang aku sudah duduk kelas 3 SMK, dan sudah menjalani UN kini saatnya menunggu pengumuman kelulusan. Ini adalah saat-saat yang mendebarkan dalam hidupku. Ya aku berharap sekolahku lulus 100% dengan nilai yang memuaskan. Aku berharap aku bisa membuat orang tuaku bangga, aku berharap bisa membuat ibuku naik ke atas panggung. Walaupun kemungkinannya sangat sedikit karena akupun saat mengerjakan ujian merasa sangat kesulitan. Kini aku sudah berusia 17 tahun lebih dan aku belum pernah merasakan bagaimana mempunyai seorang pacar. Yah kadang aku terlalu memikirkan hal itu. Bagaimana tidak ? adek kelasku yang lebih kecil dariku saja sudah mempunyai pacar masa aku belum sih ? Kadang aku berpikir apa aku ini terlalu jelek sehingga belum ada cowok yang naksir sama aku. Tapi aku juga kadang sadar untuk apa mikirin masalah cowok kan jodoh udah ada yang nentuin. Yah begitulah manusia kadang tidak pernah merasa bersyukur atas apa yang Tuhan beri. Aku juga kadang berpikir untuk meraih cita-citaku, untuk memikirkan masa depanku, aku berharap bahwa kelak aku bisa menjadi orang yang sukses dan bisa berguna bagi orang lain, dan satu lagi aku bisa membahagiakan orang tuaku di hari tuanya kelak. Sering aku menangis mengeluh ketika aku mengingat teman-temanku aku merasa bahwa hidupnya selalu bahagia, mau apa langsung beli mau ini itu tak perlu pikir lama-lama langsung beli. Mereka bisa dapetin apa yang mereka mau, mereka cantik, banyak yang suka bahkan ngehits. Berbeda denganku aku harus berpikir dua kali untuk membeli sesuatu memang sih ibuku tidak pernah melarangku untuk membeli yang aku ingin jika itu memang dibutuhkan dan bukan hanya untuk memenuhi keinginan saja. Ibuku selalu bilang jika aku ingin sesuatu bilang  saja pada ibu ia akan membelikannya untukku jika itu masih mampu dibelinya. Tapi aku tidak seperti itu dengan melihat keadaan ibuku yang sudah berumur ia masih harus bekerja jauh dari keluarga dari anak dan ibunya ia selalu berjuang menahan sakit, menahan air mata. Sebenarnya ia tidak tega bekerja jauh dari nenek yang sudah tua, bekerja jauh dari anak-anaknya. Tapi ia selalu mencoba untuk kuat ia bertekad bahwa anak-anaknya harus sekolah minimal sampai SMA lah. Dan kini impiannya terwujud aku dan kakakku bisa sekolah sampai SMK. Aku dan kakakku bisa seperti teman-teman yang lain. Kembali ke masalahku, sampai sekarang aku belum mempunyai teman cowok yang akrab, aku tidak tau apa sebabnya. Apa karena aku terlalu pendiam, pemalu, tertutup ataukah ?? Kadang aku berpikir bahwa anak cowok itu hanya ingin berteman dengan cewek-cewek yang cantik dan gaul. Aku sering merasa minder, ketika aku bersama teman-temanku yang cantik-cantik mereka sering diajak ngobrol, bercanda, dan cerita-cerita dengan anak cowok. Sedang aku ? Aku hanya diam, diam, dan diam. Itulah yang membuat aku iri kepada teman-temanku yang lain. Aku merasa sepertinya aku tidak diperhatikan, aku hanya dipandang sebelah mata oleh mereka. Aku berpikir bahwa sepertinya tidak ada yang mengenalku. Mereka hanya mengenalku karena kakakku saja. Jarang dari mereka yang mengenaliku karena diriku sendiri. Aku kerap mengeluh, merasa bahwa ini semua tidak adil. Kenapa ? Kenapa harus aku ? Aku ingin bisa seperti mereka, mereka yang cantik dan banyak dikenal orang , merekan yang gaul dan disukai banyak orang. Kalian tau ? Aku dulu pernah mengagumi kakak kelasku dan aku seperti bertindak konyol hanya untuk bisa dekat dengannya. Aku seperti tidak punya malu tidak punya harga diri sebagai seorang perempuan. Apa karena aku waktu itu tergolong masih kecil sehingga belum terlalu memikirkan tentang harga diri? Ataukah aku yang bukan hanya mengaguminya ? Aku tak tau dan aku tidak ambil pusing soal itu. Waktu itu aku masih duduk di kelas 1 SMK dan kebetulan tidak hanya aku yang mengagumi kakak kelasku itu yah dia adalah Dani dia seorang anggota bantara (pramuka) dan temanku yang juga mengaguminya adalah Rena. Karena kak Dani juga, aku dan Rena menjadi dekat dan bersahabat. Tapi kita tidak pernah menganggap bahwa kita saingan tapi kita hanya seru-seruan bareng menikmati masa-masa sekolah ini. Kita melakukan hal-hal konyol bareng untuk bisa dekat dengan kak Dani. Kita sangat menikmati ketika kita sering mengganggu kak Dani, mungkin membuatnya malu, dan mungkin membuatnya membenci kita. Hingga pada akhirnya karena kak Dani yang terlalu cuek dan tidak bisa ditebak, Rena jadian sama temannya kak Dani yaitu Alfi. Dan saat itu juga aku merasa bahwa kak Dani sebenarnya menyesal karena telah menyia-nyiakan Rena. Mungkin ia sadar bahwa ia mulai menyukai Rena. Mungkin karena kebetulan ataukah tidak setelah beberapa hari Rena dan Alfi jadian kak Dani sakit hingga harus dirawat di RS. Mengerti akan hal itu akupun berpikir bahwa mungkin memang kak Dani cemburu pada Alfi dan menyesal sehingga terus memikirkan Rena hingga jatuh sakit. Karena pikiranku itu aku jadi berpikir bahwa aku harus melupakan kak Dani, aku tidak boleh mengganggu hidupnya lagi. Tapi percuma, aku masih belum bisa untuk berhenti memikirkannya , berhenti mengganggunya, dan itu membuatnya semakin membenciku. Aku seringkali meminta maaf padanya tapi juga sering mengulanginya dan itu sepertinya membuat kak Dani hafal dengan hal tersebut dan ia tidak memperdulikan hal itu. Akupun sering berjanji bahwa aku tidak akan mengganggunya lagi, tapi percuma pada akhirnyapun aku masih saja mengganggunya. Beberapa bulanpun berlalu dan kak Dani kini telah lulus dan aku masih tetap mengganggunya, hingga pada akhirnya aku bertekad untuk tidak mengganggunya, untuk tidak peduli dengannya lagi. Memang beberapa bulan aku sudah bisa melakukannya. Tapi lagi lagi lagi aku belum bisa melupakannya. Bahkan hingga saat ini, hampir satu tahun setelah kelulusannya aku tak pernah melihatnya secara langsung hingga hampir aku lulus SMK ini aku tetap saja belum bisa melupakannya. Aku masih mencari tau tentang kak Dani saat aku sendiri. Memang di depan teman-temanku aku berusaha untuk menutupi perasaanku, aku berusaha  untuk tidak peduli dengan kak Dani lagi. Tapi tapi Tuhan tau Tuhan tau apa isi hatiku sesungguhnya Ia tau bahwa sebernarnya aku masih mempunyai perasaan yang sama, sama seperti ketika pertama kali aku mengaguminya. Kini aku masih mempunyai kontaknya di bbm, ketika aku mengirimkan pesan padanya jawabannya pun masih sama ‘why?’, hanya itu jawaban yang ia berikan padaku. Aku pernah berpikir kenapa aku diperlakukan seperti itu ? Aku hanya ingin bisa dekat dengannya seperti ia dekat dengan teman-temannya yang lain. Suatu ketika Rena bilang bahwa ia pernah ditanyai kak Dani ‘setelah lulus mau kerja apa kuliah?’ saat itu aku mulai sadar aku mulai sadar bahwa memang aku tidak berarti apa-apa bagi kak Dani. Mungkin ia sudah tidak mengerti denganku. Saat Rena bercerita sebenarnya hatiku cemburu, kenapa ? Kenapa ia tak pernah mencari tau sesuatu tentangku ? Apa ia sangat membenciku? Kini aku akan berpikir kembali berpikir untuk maju, memikirkan masa depanku. Aku masih bingung setelah lulus nanti aku harus kuliah ? atau bekerja ? Kadang aku pikir aku harus bekerja , aku harus membantu orang tuaku setidaknya aku harus bisa membeli keperluanku dengan uangku sendiri mungkin itu akan meringankan beban ibuku. Tapi disisi lain aku juga ingin melanjutkan pendidikanku ke universitas, aku ingin bisa membuktikan meskipun aku berasal dari keluarga yang sederhana tapi aku bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi tapi tanpa membebani orang tuaku, ya aku membayar biayanya sendiri. Ada seorang guru yang sepertinya sangat menginginkan aku untuk kuliah, ia selalu menyarankan dan menasehatiku agar aku melanjutkan pendidikanku. Dan aku sangat beruntung dan bersyukur ternyata masih ada seorang guru yang peduli denganku. Karena aku berpikir bahwa tidak ada guru yang memperhatikan diriku di sekolah, dan ternyata aku salah. Meskipun hanya satu tapi setidaknya ada yang masih peduli denganku, “terimakasih ya bu”, hanya itu yang aku bisa katakan. Sebentar lagi kelulusan dan aku memutuskan untuk bekerja dulu tahun ini, aku percaya bahwa jika Tuhan menghendaki aku untuk kuliah, pasti aku bisa kuliah. Aku berharap meskipun  tahun ini aku belum bisa melanjutkan, tapi tahun depan aku bisa melanjutkan belajar ku ke universitas dengan biaya sendiri. Dan aku masih bisa membantu orang tuaku. Ada satu hal yang sampai saat ini masih mengganjal dipikiranku yaitu tentang Ayah. Ayah dimana ayah? Apakah ia sudah tiada? Ataukah ia masih hidup? Jika ia masih hidup kenapa ayah tidak pernah menjengukku apakah ia lupa bahwa ia mempunyai 2 anak perempuan di sini ? Ayah, aku ingin seperti teman-temanku aku ingin bisa merasakan kasih sayangmu. Pikirankupun kembali ke masa depanku, masa depan setelah aku lulus SMK. Aku belum mendapat panggilan untuk bekerja, aku sangat memikirkan hal itu. Bagaimana tidak ? Temanku banyak yang sudah bekerja. Mungkin bulan inipun ada yang sudah mendapat gaji. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang ku bayangkan dulu. Aku mulai khawatir. Apakah lebaran tahun ini aku sudah bekerja ? Atau masih di rumah saja ? Yang kerjaannya hanya makan, nonton tv, bersih2 rumah,  dan tidur. Dan itu bisa membuatku tambah gendut. Aku pikir aku ingin bekerja itu karena aku ingin bisa membeli produk-produk kecantikan. Aku ingin merubah penampilanku agar lebih baik lagi lebih cantik seperti kakakku dan aku tidak hanya dipandang sebelah mata. Tapi sepertinya itu adalah hawa nafsu. Tapi itu akan aku jadikan semangat bila sudah bekerja nanti. Tapi tetap satu tujuanku, Aku bekerja karena aku ingin membantu orang tuaku aku ingin bisa membanggakan dan membahagiakan mereka. Aku ingin ibuku merasa bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Aku ingin ibuku dan nenekku merasakan kebahagiaan di hari tuanya. Tapi satu hal lagi masalahku aku tidak tau cita-citaku menjadi apa. Cita-citaku selalu berubah bahkan hobi,minatpun aku belum tau. Mulai dari cita-citaku ingin menjadi guru, dokter, penyanyi bahkan artis yang kurasa itu tidak mungkin deh. Tapi yang penting cita-citaku itu menjadi orang sukses dunia akhirat itu aja deh. O iya ada satu lagi pertanyaan dariku ‘kapan ya aku bertemu dengan laki-laki yang menjadi pacar dan jodohku?’ tak perlu dipikirin Tuhan yang mengatur segalanya. Hidup, mati, jodoh, rezeki sudah ada yang mengatur. Kita hanya perlu menjalani hidup ini yang tidak abadi. Kita hanya perlu menikmatinya dengan rasa syukur. Impianku satu lagi aku ingin  bisa jalan2 keliling dunia gratissss. Terimakasih kawan sekian. Sayang kalian. Salam Semangat menggapai impian dan cita-cita jangan menyerah.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>