[Cerpen] Tentang Pertemuan Karya Dela Septariani

PERTEMUAN PERTAMA

Pagi hari ini adalah pagi yang berbeda dari pagi yang ku  jumpai beberapa waktu yang lalu.

Kenapa begitu? Sebab pagi ini aku berada ditempat  yang baru, suasana baru, dan teman  baru .

Iya, aku saat ini sudah duduk di bangku perkuliahan.

Seragam putih abu-abu yang ku kenakan kemarin sudah berganti dengan pakaian  biasa.

Dengan penampilan yang sederhana barangkali terlihat lugu.

Ah iya, aku mana bisa berpenampilan seperti mereka. Bisa berada disini saja aku sudah luar biasa bahagia.

Aku juga tidak begitu perduli dengan hal demikian.

Pagi hari ini aku berangkat sangat  pagi.

Satu jam sebelum mata kuliah dimulai aku sudah berada dikampus.

Iya begitu menggebunya semangatku.

Aku begitu bahagia walau harus menunggu dengan waktu yang cukup lama.

Sampai akhrinya menungguku sudah  berakhir,

Saatnya aku masuk perkuliahan di ruang software 2.

Dan disanalah jumpa pertama ku dengan dia.

Pertama kalinya aku bertemu dengannya

Ketika itu aku tidak tau kenapa dia ada disana.

Aku sempat merasa keheranan.

Siapa sih dia? Ngapain sih duduk disana bukannya itu tempat dosen mengajar? Apa dia ditugaskan untuk mengawasi kami? Apa iyasih, kalau iya kenapa teman-teman  sekelasku tidak perduli bagaimana kalau nanti diberitahukan pada dosen bahwa ketika itu suasana kelas kami ramai.

Aku masih bingung dengan semua  pertanyaan-pertanyaan diotakku. Aah entahlah.

Hingga kemudian dia keluar dari ruangan dan  tidak lama kemudian  dosen datang memulai perkuliahan.

Aku juga tak perduli mau siapa dia, kenapa dia berada di ruangan ini.  Yang terpenting aku bisa focus kuliah.  Hingga sendirinya aku tau kalau dia adalah  seorang teknisi. Ahiya wajar saja kalau dia berada diruangan  ini memang tugasnnya berada disini. Kenapa aku harus heran  kalau  setiap pagi selalu menjumpai dia sedang duduk dikursi  itu, memang tugasnya mengontrol keadaan ruangan ini untuk memasatikan apakah baik-baik saja atau tidak. Ah begitu lugunya aku hal begitu saja aku tidak tahu.

Lucu sekali, untung saja aku cepat tahu sebelum  nanti muncul dugaan tak terkira.

Oh dia salah satu teknisi disini?

Dan ketika itulah menjadi pertemuan pertama ku dengan dia.

 PERTEMUAN II

Siang hari ini dengan suasana yang  tampak berbeda. Iya tentu saja pasti berbeda kini aku sudah berada di semester dua perkulihanku.

Yang dimana akan ku jumpai tugas-tugas yang mulai menumpuk. Bertemu dengan matakuliah yang mulai sulit. Barangkali juga akan bertemu dengan dosen yang killer.

Aah ketakutan-ketakutan itu terus menghantuiku.

Namun  ada  satu hal yang tetap sama dengan semester satu kemarin yaitu dimana aku  kembali menjumpai  dia. Bedanya  kali ini tentu saja tidak lagi dengan ketidaktahuanku tentang mengapa dia berada diruangan yang sama denganku.

Sebab ini sudah menjadi pertemuan-pertemuan yang kesekian kali dengan dia.

Bedanya pertemuan  hari ini diruangan yang berbeda dengan pertemuan pertama ku dengan dia.

Ahiya sebenarnya ada pertanyaan yang muncul diotakku. Kenapa dia ada diruangan  ini?

Bukannya dia sebelumnya berada di ruangan  itu.

Ah entahlah aku tak begitu memikirkan hal ini.

Toh itu juga tidak penting untukku.

Pertemuan kedua yang tak bermakna.

 PERTEMUAN III

Saat ini  masih dengan suasana yang sama,

keadaan kelas yang sama, teman-teman yang sama.

Namun ada sedikit hal yang berbeda kali ini.

Dia yang  sebelumnya memang kehadirannya ada tapi seoalah tak terlihat tak juga begitu diperdulikan menjadi begitu diperhatikan.

Saat ini namanya seringkali terucap disetiap obrolan ku dengan teman dekatku. Dia selalu menjadi topic disetiap bercandaan kami. Entahlah akhir-akhir ini dia seringkali menjadi pembahasan pada pembicaraan kami.

Tetapi semua yang aku lakukan ini tak terkecuali hanya bercanda.

Iya,  hanya sekedar bercandaan  tak ada  niat yang muncul dari hati.

Lagipula saat ini hati ku masih dengan  hati yang lama, perasaan yang lama, seseorang yang lama: masa lalu.  Ahiya, setengah hatiku masih tertinggal dengan dia yang dulu.

Tetapi dipertemuan-pertemuan ku dengannya kali ini,

ada beberapa hal yang  ( tidak)  kusukai.

Siang hari itu, ketika aku sedang  serius menyelesaikan program yang sedang kubuat tiba-tiba dia duduk tepat disampingku.

Dia pikir aku senang bisa duduk bersebelahan dengan seorang lelaki yang ‘katanya’ memiliki  senyuman manis itu.

Tentu saja tidak,  ini malah sangat mengangguku.

Bagaimana tidak menggangguku, yang tadinya aku bisa tenang ini berganti menjadi salah tingkah.

Aah entahlah, tiba-tiba jantungku berdetak begitu kencang tak seperti biasanya.

Apalagi ketika ia mengajakku berbicara.

Iya anggap saja dia ingin mengajakku bicara, apalagi kalau bukan?

Ketika itu aku dengan hati berdegub kencang yang  seolah ada gempa bumi  didalamnya, dia tanpa bersalah bicara: “Emang kamu tinggal dibaturaja?” Tanya-nya. “Nggak, Emang kenapa? Jawabku dengan nada cuek. “Itu kenapa dibuat baturaja?” Tanya-nya lagi. “Ya emang kenapa, terserah ku lah” jawabku tak perduli dengan pandangan tetap focus pada layar computer.

“Huh. Maksudnya apa nanya-nanya begitu, emang nya tidak boleh ngisi alamat yang bukan alamat sebenarnya lagian ini program saya jadi suka-suka saya dong mau buat seperti apa” bicara ku dalam hati dengan wajah kesal.

Dia dengan rasa tak bersalah diam saja dan entah apa yang sedang ia kerjakan dengan computer dihadapannya itu, mengerjakan sesuatu hal yang memang penting atau hanya sekedar alasan.

Pertemuan disiang itu berkakhir dengan hati yang bercampur rasa. Aah entahlah tadinya hatiku kesal jadi berubah berbunga-bunga ditambah lagi teman-temanku menggoda “ciyee yang didekati dia” jadinya aku semakin  melayang.

Di hari selanjutnya di siang hari seperti biasanya jadwalku bertemu dengannya.

Dan entah kenapa berawal dari kejadian kemarin hatiku tak seperti biasa bila bertemu dengannya.

Duh jangan aneh-aneh lagi harapku dengan hati yang gelisah. Bagaimana tidak gelisah niat ingin focus dengan matakuliah sedang otak harus melawan hati yang terus menerus berdegub kenjang.

Ditambalagi dosennya sedang sibuk mengurus kakak tingkat yang sedang menyelesaikan tugas akhir,  jadinya kita belajar sendiri dulu.

Aah seperti kesempatan saja bagaimana tidak semakin gelisah.

Untung saja hati bisa mengendalikan, untung saja materi-materi dipapan tulis mampu menyita habis pikiranku, untung saja pratikum yang harus ku selesaikan lebih menyita otakku, jadinya dia tersingkirkan.

Dengan pikiran yang galau menyelesaikan program yang  lebih galau lagi dibanding memikirkan dia tapi kabar baiknnya dia sama sekali tak besemayam diotakku saat ini.

Dengan wajah yang begitu serius dengan pandangan yang focus menatap layar computer  tiba-tiba keyboard yang sedang kugunakan tak berfungsi.

Ya tuhan, keyboardnya eror sedang pikiran setengah mati pusing memikirkan program yang sedari tadi tidak jalan.

Mana mungkin aku memanggilnya mana mungkin aku bicara padanya. Aah tapi apalah daya.

Terpaksa aku harus meminta bantuan padanya.

“Pak keyboard saya eror” bicaraku dengan nada lembut. Aah ini bukan lembut melainkan aku tak berdaya bicara padanya. Hal yang sedari awal ku hindari malah aku harus berinteraksi dengannya.

Dia dengan wajah tenang memeperbaiki keyboard yang berada didekatku sedang jantungku sepertinya merasa lebih nyaman bila harus berdetak lebih kencang seperti ini.

Akhirnya selesai, hatiku tenang dan mulai melanjutkan program yang harus kuselesaikan.

Aah maksudnya apa diam berdiri dibelakangku?

Duh ngapain dia berdiri belakang ku?

Dia tidak tau apa kalau aku grogi,  aku tidak suka dia dia berdiri disana, duh please dong pergi, bisa-bisa salah tingkah lagi ini.

“Kenapa?” tanyanya tanpa berdosa.

Ya Tuhan, mendengar suaranya semakin membuat hatiku bergemucak.

“Duh ngapain sih nanya-nanya” gemerutu ku dalam hati. “ Kenapa dengan programnya?” Tanya-nya lagi dengan hati tenang. Iya dia tenang sedang aku begitu tidak nyaman. “Nggak mau jalan” jawabku santai.

Hah? Santai? pura-pura santai, maksudnya.

“Salah rumus, mungkin” Kata-nya lagi.

“Iya tau, tapi yang bener gimana?” jawabku dengan nada tak suka dengan pikiran kacau berusaha mencari solusi mengapa program ku tidak jalan dari tadi.

“Tuh bisa” Suaranya muncul lagi.

Ternyata dia masih berdiri dibelakangku.

Duh bisa tidak sih pergi saja, silahkan duduk manis ditempatmu dan jauh-jauh dariku.

Walaupun sebenarnya posisi tempat duduknya berada dekat di belakang posisi tempat dudukku.

Ahiya, yang penting jangan berdiri tepat dibelakangku.

“Bukan gini, ini tuh salah seharusnya gini gini” jawabku sambil sok tahu menjelaskan.

Padahalkan pasti lebih tahu dia.

“Oh, terus gimana?” lagi-lagi dia bicara

“Ya nggak tau, emang kamu gak bisa bantu?” sepertinya darahku sebentar lagi mau naik nih.

“Aku nggak bisa”. jawabnya dengan nada santai seolah tak bersalah. (Emang tidak salah sih)

“Kok nggak bisa sih? Kan situ sudah pernah belajar”

Jawabku dengan nada mulai kesal.

“Beda, Nggak belajar kek gitu” jawab-nya lagi.

“Yaampun, ngapain dari tadi berdiri dibelakangku sok mau ngajarin padahal nggak bisa ngebantu” bicaraku dalam hati dengan wajah yang semakin kesal.  Cepatlah berlalu aku benar-benar tidak nyaman lagi disini.

Aku dengan hati yang sedikit kecewa masih berusaha menyelesaikan program.

Duh akhirnya selesai, duh akhirnya waktu perkuliahan selesai. Senang sekali rasanya:

Senang bisa keluar dari ruangan pergi jauh-jauh darinya.

Aah yakin? Barangkali benar begitu tapi ada rasa senang lainnya lagi buktinya ada seutas senyuman sederhana yang mampu ku perlihatkan setelah keluar dari ruangan.

Pertemuan yang (manis) menyebalkan untuk kali ini.

Pertemuan yang sedikit mulai bermakna.

Hanya sedikit dan barangkali tak membekas.

PERTEMUAN IV

Di pagi hari yang begitu cerah, secerah hatiku saat ini. Iya aku begitu bahagia sebab tidak terasa sudah satu tahun aku berada dilingkungan ini.

Berada disekitar orang-orang yang begitu baik, menikmati susah senang dibangku kuliah,

merasakan kesibukkan dengan tugas-tugas kampus dan bergabung di organisasi kampus, bercengkrama dengan hujan dan terik matahari disetiap perjalananku. Berangkat pagi, dimana jalan-jalan masih tertutup embun dan pulang hingga larut sore kadang ditemani adzan magrib di tengah perjalanan dengan sekeliling mulai tampak gelap.

Ah iya, sudah dua semester aku kuliah dan hingga hari ini aku dituntut untuk menjadi wanita kuat dan pemberani. Jalan-jalan sunyi yang konon katanya horror, hutan-hutan kecil, tikungan tajam, jalan-jalan berlubang, terik matahari yang menyengat kulit, gerimis hingga hujan lebat ditambah angin kencang , petir dan gledek. Mengucapnya saja tubuhku gemetar apalagi menghadapi kenyataanya dan iya itu semua akan terus ku hadapai dalam dua tahun kedepan.

Ah iya, aku kan wanita tangguh, wanita pemberani,  hal semacam itu tak akan menggoyahkan api semangatku dalam menuntut ilmu.

Sebenarnya bukan ini yang ingin ku bahas tapi melainkan tentang pertemuanku dengannya.

Mulai hari ini tidak akan ada pertemuan-pertemuanku dengannya seperti biasa sebab dalam satu semester ini aku tidak ada perkuliahan diruangan yang ia bertugas.

Ada sedikit rasa galau tapi aku tak begitu perduli. Bukannya itu malah bagus, aku bisa focus dengan matakuliah tanpa harus melawan kegelisahan hati yang seringkali kurasakan tiba-tiba bila bertemu dengannya.

Aku juga tetap bisa bertemu dengannya hanya saja tidak selama seperti biasa

Barangkali aku akan bertemu dengannya ketika aku ingin masuk kelas atau aku akan melihatnya tak sengaja dipagi hari ketika ia baru saja tiba dikampus.

Iya, seperti yang ku alami terakhir ini.

Pertemuan-pertemuan singkat ku dengan dia: walau tidak setiap hari dapatkan.

 PERTEMUAN V

Pagi hari yang tampak begitu berbeda.

Mulai dari wajah yang mulai kelelahan dengan tugas-tugas kampus yang mulai menumpuk, matakuliah yang mulai menyitah habis otak ditambah lagi kesibukan-kesibukan berorganisasi.

Kali ini waktuku tak lagi tersisa untuk hanya memikirkan sesuatu yang tak begitu penting: termasuk dia. Iya, mulai dari semester kemarin yang terbiasa tanpa ada pertemuan dengannya membuat dia begitu tersingkirkan dari otakku.

Bahkan pertemuan singkat dengannya di lingkungan kampus tak lagi bermakna.

Sejauh ini tidak ku jumpai lagi hati yang tiba-tiba berdetak kencang atau wajah yang mulai memerah ketika bertemu dengannya.

Mata yang dulunya tak mampu menatapnya berganti menjadi tak perduli lagi walau dia sedang berada didekatku.

Sikap yang biasanya seringkali salah tingkah berganti menjadi sikap yang tenang-tenang saja.

Ahiya, dia begitu tersingkirkan.

Saat ini hatiku sudah kembali netral seperti sediakala aku bertemu dengannya.

Tapi hal yang tak terduga oleh pikiranku, tak sedikit kuharapkan terjadi pada semester ini.

Ternyata untuk semester ini aku kembali bertemu dengannya seperti pertemuan-pertemuan yang bermakna dulu.

Mulai hari ini aku harus melihat senyuman malu-malunya lagi.

Bertemu dengannya dalam waktu yang lumayan panjang.

Ini tandanya ada kesempatan yang akan terjadi untuk berinteraksi dengannya. Bagaimana tidak? Dalam satu semester ini mana mungkin aku tak memerlukan bantuannya. Syukur-syukur sih tidak ada.

Tapi kabar baiknya aku menanggapinya dengan tenang-tenang saja.

Hatiku mulai bisa bersahabat untuk kali ini.

Ahiya, di pertemuan-pertemuan awal aku nyaman-nyaman saja.

Aku bertemu dengannya disetiap dua kali perkuliahan dalam satu minggu .

Sesekali menatapnya dengan biasa-biasa saja.

Tanpa sengaja melihat senyumnya dengan sikap tak perduli.

Pernah sekali tertangkap oleh mataku ia yang sedang menatapku: mataku dan matanya saling menatap dalam hitungan detik kemudian  mataku terburu mengalihkan pandangan.

Aah sialnya semakin sering pertemuanku dengannya mulai muncul perasaan aneh itu lagi bahkan lebih aneh dari yang kurasakan diwaktu dulu.

Dan hari ini ada satu kejadian kesalahpahamanku tentangnya yang menimbulkan satu pernyataan yang menyusutkan percayadiri ku.

Aah iya ketika itu temanku meminta master kepadanya dengan menggunakan flashdisk ku dan tidak sengaja aku melihat dia yang sedang senyum-senyum sendiri menatap layar laptopnya.

Aah entah apa yang sedang ia lihat hingga baginya terlihat lucu.

Huh. Dia senyum-senyum lagi bahkan sekilas senyum lebar seolah menertawakan.

Apa yang sedang ia lihat dilayar laptopnya?

Apasih yang dia tertawakan?

Peranyaan-pertanyaan itu muncul di otakku.

Hingga pemikiran tak terduga muncul di otakku

Apa dia sedang melihat tugas undangan pernikahan ku yang sengaja ku buat untuk melengkapi tugas salah satu matakuliah? Apa iya? dia sedang menertawakan isi undangan ku? Dia menganggap lucu undangan yang ku buat? Apa iya sih dia berani buka-buka file yang ada di flashdisk ku? Aah tidak mungkin”.

Pemikiran-pemikiran yang aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa aku menuduh dia seperti itu.

Aku tidak tahu apa dugaanku benar atau tidak benar sama sekali.

Ah entahlah. Anehnya sahabatku yang beda jurusan denganku tahu tentang hal ini.

Aku sendiri tidak tahu darimana dia mengetahui perihal ini.

Bukannya aku bercerita perihal ini hanya dengan sahabatku yang saat itu berada didekatku.

Apa mungkin dia yang menceritakannya.

Aah tapi kurasa tidak mungkin.

Entahlah, aku mulai tidak mengerti.

Teman-temanku mulai menggodaku lagi.

Bahkan mereka terang-terangan menggodaku  dengan meyebut namanya dihadapan banyak orang.

Aah mulai dari kejadian itu aku semakin malu bertemu dengannya.

Bukan lagi sekedar jantungku berdetak lebih kencang atau sikapku yang seringkali salah tingkah melainkan aku sudah tak berani lagi bertemu dengannya.

Semenjak hari itu aku bukan lagi sekedar bercandaan ku tentangnya tapi ini mulai muncul dari hati.

Aku mulai memikirkannya tidak hanya saat bertemu dengannya tapi disetiap kesendirianku.

Seperti di kesunyian malam, bayangannya tiba-tiba hadir dibenakku.

Rasa ingin tahu lebih mengenai dia seringkali memaksaku untuk mencari tahu.

Keinginan-keinginan untuk bisa bertemunya seringkali kurasakan setiap hari.

Terlebih lagi seminggu penuh dari kejadian hari itu aku tak bertemu dengannya.

Bahkan diruangan yang semestinya aku pasti bertemu dengannya tapi aku benar-benar tidak melihat wajahnya. Entah dimana dia ketika itu .

Hatiku mulai gelisah, mataku seringkali mencari-cari dimana posisinya berada tapi nihil aku tidak menemukannya.

Hari-hari tanpa adanya pertemuan dengan dia tapi hatiku sepertinya semakin memuncak.

Rasa rindu seketika hadir dibenakku: Aah aku benci sekali perihal ini.

Rasaku kali ini berbeda dengan apa yang kurasa pada pertemuan-pertemuanku dengannya dulu.

Bukan lagi hal biasa atau sekedar bercandaan seperti dulu tapi ini benar-benar datang dari hati.

Yang terkadang aku tak mampu menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku saat ini.

Bukan lagi rasa aneh seperti yang ku rasa dulu melainkan seolah lebih special.

Rasa kekhawatiran muncul pada hatiku sendiri.

Apa ini bisa disebut dengan jatuh hati?

Hah? Apaiya aku jatuh hati dengannya?

Jangan… Ini tidak mungkin.

Aku tidak ingin perasaan ini berjalan lebih jauh terlebih lagi rasaku bertolak dengannya.

Aah pasti sakit sekali.

Hal aneh lagi yang kutemukan setelah kejadian kemarin.

Setelah satu minggu tak bertemu dengannya,

kini hari pertama aku bertemu dengannya lagi.

Tapi apa yang ku dapat?

Yang seharusnya pertemuan itu lebih lama tapi yang ku dapat adalah pertemuan yang lebih singkat.

Dia hanya masuk sebentar diruangan seperti hanya memastikan keadaan kelas apakah baik-baik saja atau tidak dan setelah itu dia terburu untuk keluar.

Aah iya barangkali ia memiliki kesibukkan lain diluar ruangan ini .

Akhir-akhir ini setiap kali pertemuan ku dengannya selalu saja begitu.

Tampaknya dia begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Pertemuan-pertemuan singkat bahkan kadang aku tak bertemu dengannya.

Semua seolah seperti menjauh.

Sepertinya Allah sedang menghindarkan dia dariku.

Sedang hatiku semakin hari semakin tampak berbeda.

Semakin hari hati ku selalu ingin tahu tentangnya.

Rasa rindu padanya seringkali kujumpai disetiap kesunyian malam.

Apa iya sejauh ini aku menyukainya?

Oh tuhan, ku mohon jangan buat hatiku terjatuh lagi.

Aku takut bila aku benar-benar menyukainya.

Aku takut bila nanti aku berharap padanya.

Aku takut bila nanti kecewa yang benar-benar meyakitkan yang ku temukan.

Hari-hari yang kurasakan terlihat begitu berbeda.

Pertemuan-pertemuan ku dengannya seperti harapku atas jawaban dari rasa rinduku.

Pertemuan-pertemuan ku dengannya seperti kebahagiaan yang terbayarkan atas keinginan-keinginan ku ingin selalu melihatnnya.

Tapi dibalik semua itu tersimpan rasa yang begitu tak menentu seolah sedang kebingungan tak tau arah jalan pulang: begitu galau sekali.

Rasa rindu memaksa ingin bertemu sedang hati menolak keras sebisa mungkin tak perlu bertemu.

Bertemu dengannya? Bukannya akan membunuh rasa rindu tapi melainkan akan menumbuhkan titik rindu yang semakin mendera.

Apa aku harus menyalahkan waktu  atas pertemuan-pertemuan ku dengan dia ?

Atau aku harus menyalahkan rasa ini?

Aah iya rasa ku tidak salah hanya saja cara ku yang salah.

Duhai kamu yang selalu aku rindukan.

Yang selalu aku harapkan kehadirannya.

Andai kamu tahu perihal semua rasa ku ini.

Tapi yang terjadi adalah ketidaktahuan kamu tentang aku.

Ketidaktahuan kamu mengenai semua rasaku.

Tapi aku akan memilih untuk tetap diam daripada harus membicarakan kemudian kamu menjadi tahu dan tetap tidak memilihku.

Pertemuan-pertemuan kali ini begitu membekas dan memaksaku untuk memilih tetap diam:

diam dan mengenang.

Tentang Penulis

1.      Nama                           :  Dela Septariani

2.      Tempat/tanggal lahir     : Panggal-Panggal, 15 September 1997

3.      Jenis kelamin               : Perempuan

4.      Status                            : Mahasiswa

5.      Agama                         : Islam

6.      Alamat                         : Baturaja, Sumatera Selatan

7.  Website / blog                :  delaseptariani.blogspot.com

* Seorang perempuan yang sedang belajar. Menyukai hujan dan senja.

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>