Cerpen – Terjebak Angan

Cerpen – Terjebak Angan

Kubuka mata, sinar matahari menyelinap disela tirai. Hari Selasa ya? kumulai lagi rutinitas pagi sebelum berangkat ke kampus. Mandi, pakai baju, bersiap, dan berangkat. Berulang-ulang dan itu cukup memberi kesenangan tersendiri bagiku.

“Hah! kuliah lagi” dengusku.

“Sial! kesiangan lagi” umpatku sembari berlari menuju kampus.

“Hosh! Hosh!” kuambil nafas tersengal sambil berlari menuju kampus.

Beruntunglah dosen belum masuk ke kelas.

“Kesiangan lagi kamu?” tanya Ucup yang duduk disebelahku.

“Iya nih, habis ngerjain tugas sampai malem ucapnya sambil mengeluarkan buku di tas.

Tumben kamu udah sampai jam segini?” balasku.

“Hehehe! lagi semangat nih aku hari ini. Entar aku ceritain di kantin ya” ujar ucup dengan cengiran khas nya.

“Oke deh” balasku mengakhiri pembicaraan ketika dosen masuk.

Akhirnya selesai juga pembelajarannya. Aku benar-benar sudah mengantuk.

“Kawan, ayo ke kantin” ajak Ucup seraya merangkul bahuku.

“Ayo deh! aku juga udah laper banget” balasku.

Kami pun berjalan menuju kantin. Sesampainya di kantin.

“Kamu pesan aja apa yang kamu mau, aku bayarin semuanya. Pilih sepuasnya” ucap Ucup sambil duduk.

“Wiih! lagi banyak duit nih. Habis dapat transferan ya?” kataku seraya meletakkan tas.

“Adalah! udah sana pesan” balas Ucup sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Kami pun beranjak untuk memesan, setelah itu kami dengan lahap makan karena memang sudah terlalu lapar rasanya.

“Kawan ada yang mau aku kasih tahu ini, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya” ujar Ucup memulai cerita.

“Iya, apaan sih?” balasku cepat.

“Gue habis menang judi online kawan, dapat 25 juta aku” bisik Ucup sambil tersenyum.

“Gila kamu! yang bener? banyak banget” ucapku terkejut.

“Iya benar, aku cuma modal 5 juta jadi dapat 25 juta. Kamu coba dah, siapa tau aja kamu beruntung” ucap Ucup sambil meyakinkan aku.

“Enggak ah, takut aku” balasku.

“Aelah! cemen banget kamu. Coba kamu pikirkan bisa beli apa aja yang kamu mau” kata Ucup membujuk.

“Iya, iya, aku bisa beli Hp baru yang aku idam-idamkan. Lagian sebentar lagi kamu bakal dikirim jatah bulanan” batinku.

“Gimana ya?” ucapku ragu.

“Pikirin dulu deh, nanti kalau kamu mau aku ajarin caranya” kata Ucup dengan semangat sekali.

 

 

Selama perjalanan menuju kos, aku terus memikirkan kata-kata Ucup. Aku bisa dapat banyak uang jika menang, tapi jika kalah bagaimana. Hal itu yang membuatku bimbang. Sesampainya di kos, kubaringkan tubuhku sembari berfikir.

“Tut, tut, tut” bunyi ponsel.

“Assalamualaikum Ayah” ucapku sambil memegang Hp.

“Waalaikummussalam, nak Ayah cuma mau bilang Ayah sudah kirim uang bulananmu” ucap Ayahku menjelaskan.

“Terima kasih Ayah” ucapku senang.

“Iya, kuliah yang benar disana. Jaga iman dan akhlakmu. Jangan berbuat hal-hal yang merugikanmu nak” ujar Ayahku memberi nasihat.

“Baik Ayah, sekali lagi terima kasih” balasku”.

“Ya sudah, Ayah mau ke masjid dulu ada acara. Assalamualaikum” pamit Ayah. “Waalaikumussalam” balasku.

Uang sudah ditangan, semakin bimbang hatiku rasanya. Main, tidak, main, tidak. Sungguh pusing. “Jika aku menang aku bisa beli Hp, aku juga bisa beli baju dan sepatu” batinku. Kubuka handphone lalu ku telepon Ucup.

“Tut, tut, tut” terdengar nada tunggu.

“Iya, halo” ucap Ucup di seberang telepon.

“Cup, gimana caranya main judi online? aku mau coba” tanyaku.

“Nah itu baru temen aku, coba dulu kamu pasti bakal seneng” ujar Ucup.

“Iya! gimana cepet” kataku tak sabar.

“Oke, gini nih” kata Ucup sambil menjelaskan.

Aku mulai mengakses web judi online. Tangan gemetar, sungguh aku takut sekali. Tapi aku terus memberanikan diri. Aku mulai gabung dan bermain. Keringat sudah membasahi dahi. Tangan tak berhenti untuk menekan layar Handphone. Aku sangat serius melakukan permainan ini karena aku sudah mempertaruhkan semua uang bulanan yang aku punya. Detik demi detik terlewati, menit berganti menit, jam berganti jam.

“Oh! Tuhan, aku hancur aku benar-benar hancur. bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? bagaimana?” kataku panik.

Aku kalah, uangku lenyap. apa yang harus aku lakukan. “aarrrgghhhhhh” teriaku seraya memukul kepala. Aku benar-benar frustasi. Apa yang harus aku lakukan. Uang kos, uang makan semuanya sudah lenyap tak tersisa. Bagaimana aku bertahan hidup disini. Bagaimana aku harus memberitahu Ayah.

Aku terdiam, termenung di dalam kamar kos. Aku benar-benar hancur. Tak kurasakan lagi lapar, lelah, dan basahnya keringat. Rasa takut sudah mencengkeram, rasa takut sudah memenuhi jiwa dan raga. bagaimana aku bisa menghadapi Ayah. aku telah mengecewakannya. bagaimana aku bisa mengatakan kepada Ayah. Aku takut! aku benar-benar takut.

Jam telah menunjukan pukul 8 malam, bagaimana ini.

“Apa aku harus mengatakannya kepada Ayah” batinku sambil menimbang-nimbang Handphone. Akhirnya kubulatkan tekad untuk menelpon Ayah.

“Tut, tut, tut” kutunggu Ayah mengangkat dengan perasaan takut.

“Assalamualaikum nak” salam Ayahku diseberang telepon.

“Waalaikumussalam Ayah” jawabku dengan suara bergetar.

“Ada apa nak? kenapa suaramu begitu? kamu sakit?” tanya Ayah khawatir.

“Oh! Tuhan bagaimana aku harus mengatakannya, Ayah pasti kecewa terhadapku” batinku. “Nak?” tanya Ayah tak mendapati jawabanku.

“Ayah! ampuni anakmu yang tidak berbakti ini, ampuni aku Ayah. Aku benar-benar dibutakan, aku khilaf Ayah” jawabku sembari menangis.

“Ada apa nak? tenangkan dirimu, jelaskan kepada Ayah apa yang telah terjadi” jelas Ayahku dengan tenang.

“Ayah! uang makan, uang kos semua habis Ayah semuanya lenyap” tangisku.

“Kenapa bisa begitu nak? kamu kecopetan atau apa?” tanya Ayahku masih dengan nada tenang. “Aku, aku, aku kalah judi online Ayah. Ampuni aku Ayah ampuni” jawabku dengan suara bergetar.

“Astagfirullah” kaget Ayahku. “Sejak kapan nak! sejak kapan kamu masuk kedunia maksiat itu? itu akan menjadi uang haram nak. Uang haram yang bisa masuk ke daging dan darahmu” ucap Ayahku.

“Ampuni aku Ayah! ampuni, aku tidak akan mengulang itu lagi Ayah. Ampuni” tangisku. “Bukan kepada Ayah kamu harus memohon ampun, kepada Allah nak, kepada Allah lah kamu harus mohon ampun. Kamu telah menyimpang dari jalan-Nya. Jujur Ayah sangat kecewa terhadapmu. Bertobatlah nak” terang Ayah lalu memutus sambungan telepon.

Aku tahu Ayah sangat kecewa terhadapku, marah terhadapku. Aku menangis tergugu didalam kamar kos. Menyesali semua yang telah kuperbuat. Pukul 9 malam, aku berangkat menuju masjid di dekat kos. Kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat taubat. Sekali lagi aku menangis tergugu, memohon ampun berkali-kali kepada Tuhan, berjanji tidak akan mengulangi bahkan mendekati hal-hal yang dilarang oleh-Nya lagi.

Sesampai di kamar kos, aku berbaring sambil berfikir. Bagaimana aku melanjutkan hidupku diperantauan ini. Aku pasrahkan semua kepada mu ya Allah. Kuputuskan untuk tidur.

“Tut, tut, tut” Handphone ku berdering menampilkan nama Ayah.

“Assalamualaikum Ayah” ucapku.

“Waalaikumussalam nak” jawab Ayahku.

“Ada apa Ayah menelfonku malam-malam begini?” tanyaku.

“Ayah sudah kirim lagi uang bulananmu, gunakanlah dengan baik nak jangan lagi kau berbuat hal-hal yang tidak beradab” terang Ayahku.

“Ya Allah! terima kasih Ayah! terima kasih. Aku berjanji tidak akan mendekati hal-hal seperti itu lagi. Maafkan aku Ayah” ucapku.

“Iya nak, jadikanlah ini sebagai pembelajaran hidup. Jangan kamu mengulang kesalahan untuk yang kesekian kali. Karena sesungguhnya orang yang jatuh dalam kesalahan yang sama berulangkali adalah orang yang celaka nak, orang yang menyia-nyiakan waktu hidupnya” terang Ayahku bijak.

“Iya Ayah, aku mengerti. Aku tidak akan mengulang kebodohan kesekian kali Ayah. Sekali lagi terima kasih” balasku penuh perhatian.

“Yasudah, tidurlah ini sudah malam. Besok kamu harus kuliah lagi. Assalamualaikum” pamit Ayahku.

“Waalaikumussalam” ucapku seraya memutus sambungan telepon.

Aku tersenyum, Allah telah memberikan jalan-Nya kepada hamba. “Terima kasih Ya Allah, engkau telah memberikan bantuan-Mu lewat Ayah. Engkau selalu menolong hamba-Mu yang memasrahkan diri. Aku tak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Terima kasih” batinku sungguh-sungguh. Aku pun menutup kedua mata, dengan hati yang semakin dekat kepada-Nya.

***

Hairul Imam

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: