[CERPEN] The Vulnerable Dinda Karya Nisa Yulianti

[CERPEN] The Vulnerable Dinda Karya Nisa Yulianti

The Vulnerable-Dinda

Dinda yang dahulu, terbiasa memilih teman.  Dia tidak akan mau berurusan sedikit pun dengan orang brengsek. Saya ingat betul, waktu itu ada seorang teman SMA kurus yang menyukai dia, tapi jangankan menerimanya dalam hati, Dinda hanya mencibirnya dalam hati. Ketika teman si kurus berkata bahwa si kurus tidak akan mendapatkan Dinda karena Dinda terlalu baik buatnya, mau tak mau Dinda menyetujuinya dalam hati. Kemudian, hari hari berlalu, entah ada apa dengan kesehatan penglihatan para murid-murid wanita, si kurus menjadi rebutan antara salah satu teman dekat Dinda dan adik kelasnya. Tidak sampai disitu, si kurus mengkhianati teman Dinda, membuatnya menangis hampir setiap hari. Saat itu Dinda sangat bersyukur bahwa dia telah menjadi wanita rasional. Kemudian waktu kelulusan SMA tiba, tahun demi tahun berlalu, tersiar kabar bagaimana si kurus dan si adik kelas akhirnya menikah dengan berbagai kisah kontroversinya. Dan teman saya yang menangis hampir setiap hari dulu? Masih terlunta-lunta dengan kegalauannya. That’s it!

Begitu cerita si kurus. Bagaimana dengan cerita Dinda? Tentu dia menjalani tahun-tahun cemerlang. Universitas terbaik, pergaulan terbaik, nilai yang lumayan baik, gemerlap dunia perlombaan akademis, dan menjadi incaran pria baik-baik, sholeh, pintar, jujur dan setia. Hidupnya terlalu mulus dan manis, sampai ia lupa menghargai sebuah jalan baik. Ia merendahkan arti seluruh kebaikan itu. Mencampakkan pria baik, meninggalkan amanah, mencibiri jenuhnya berteman dengan anak baik. Dia mulai tergiur pilihan-pilihan yang spontan, berbahaya dan penuh misteri.

Waktu-waktu sulit mulai ia hadapi. Kegagalan, pengkhianatan, dipermainkan. Dia masih tidak sadar kenapa semua bisa jadi begini. Dia terus menyalahkan situasi. Dinda mulai merasa ia ingin pergi jauh, memulai semuanya dari awal. Ya, dia pergi jauh, kembali ke kota kelahirannya. Kesepian, penyesalan, kekesalan, seluruhnya menghantuinya. Ia tidak mampu menikmati hari-harinya. Suatu hari seorang pria datang. Hei, dia adalah teman SMA Dinda, yang semasa SMA tergabung dalam sebuah perkumpulan dengan kegemaran yang sama, dimana murid pada kisah di paragraf pertama juga tergabung. Sewaktu SMA, Dinda tidak akan menggubris kedatangan lelaki semacam itu, malah kalau bisa Dinda akan mengambil perisai besi dan  masker wajah (karena dia bahkan tidak akan sudi membaui mereka). Namun, Dinda yang baru justru menikmati kesempatan itu, dengan berbagai pembenaran, seperti ‘mencoba tidak ada salahnya’, ‘tidak semestinya menghakimi sebelum mengenal dekat’ dan ‘mungkin dulu aku yang terlalu berlebihan’ juga ‘mungkin mereka sudah menjadi lebih baik sekarang’ bahkan “mungkin aku bisa merubah mereka menjadi lebih baik’. Hahaha, how pity and vulnerable she is.

Kemudian, bencana itu dimulai. Si lelaki mendekatinya, memberi hari-hari manis selama beberapa hari. Tidak disangka-sangka, vulnerable Dinda membuka hatinya lebar-lebar untuk si pria, mempersilahkan si pria masuk ke dalam hatinya sampai kedalaman yang dalam, kemudian mengikat si lelaki disana. Teman-teman si lelaki menjadi promotor yang baik, memberikan pertunjukkan yang apik. Vulnerable Dinda merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, dan berkata akan menerima si lelaki  dengan segala kekurangannya. Much worse, she even thought that she will be able to change the guy into a better person. What an innocent sweet crazy woman! Hahahaha

Tersebutlah seorang pria besar, merupakan bagian dari perkumpulan itu. Ia menjadi pemeran promotor utama. Dia yang paling banyak menyuarakan pembenaran dari sikap-sikap mereka. Beberapa hari setelah Dinda mencicipi rasanya jadi wanita paling bahagia di dunia, si lelaki mulai menampakkan wajah aslinya, menanggalkan kehati-hatiannya. Mulai tampak jelas jurang yang besar di antara dunia nya dan Dinda. Dinda tidak akan sanggup dengan besarnya perbedaan itu, dan memang dia tidak sanggup. Bermodal sikap manis yang didapatnya dari si lelaki, ia berharap si lelaki mau berubah, menyebrangi jurang dan menuju standar Dinda. Tentu si lelaki menolak. Hey, buat apa? Hidupnya begitu bahagia dengan kekeluargaan yang erat dan saling menyokong di perkumpulannnya itu. Ya, hidupnya memang tidak sempurna, tidak mendapat kesuksesan seperti anak-anak baik dari sekolahannya dlu, tapi dia punya sahabat dan saudara yang kesetiannya sempurna, dan ada batang-batang rokok yang bisa menghilangkan semua ketidak sempurnaan hidupnya. Jadi, menyebrang dan pergi ke hidup yang rumit dimana Dinda tinggal? Hey, tentu itu bukan pilihan.

Dinda ditinggalkan. Dinda merasa hancur. Dinda tidak sanggup mengontrol dirinya. Ia memohon berkali kali pada lelaki dengan spesies yang dia kutuk dahulu. Dia mencoba mencari kedamaian dari si Pria besar. Pria besar berperan sangat baik. Memberikan pembenaran kisah, bagaimana si lelaki punya alasan mulia dari keputusannya meninggalkan Dinda. Kemudian Dinda merasa senang berada di dekat pria besar. Si Pria besar pun mulai memberikan kalimat-kalimat manisnya, sikap-sikap heroiknya, percikan-percikan cinta.

Dua kali. Dua kali Dinda terjatuh pada kawanan yang dahulu tidak masuk dalam jangkauan warasnya. Dinda  begitu bersyukur bisa merasakan lagi jadi wanita paling bahagia di dunia. Janji janji surgawi di terimanya. Tentang kesempurnaan memilliki lelaki pejuang, pelindung, suportif, romantis, setia dan tulus cintanya. Dia tidak butuh yang lain lagi, tidak butuh apapun lagi, hanya butuh kelanggengan dengan si Pria besar. Meskipun banyak tanda tanyanya yang tergabung dalam suatu tanda Tanya besar, bahwa si lelaki mengawali hubungan dengan Dinda dalam status berpacaran dengan yang lain, dan mulai mengungkapkan perasaannya pada Dinda saat katanya ia telah memutuskan hubungannya dengan pacarnya yang sudah dibersamai 10 tahun lebih.

Si Pria besar terus memberikan harum manis hidup, Dinda jatuh sepenuhnya tanpa ia bisa kendalikan. Sementara, si Pria masih mempertahankan atribut-atribut kisah cintanya yang katanya telah lalu di berbagai media sosial. Dinda yang sudah memulai memiliki harap mengungkapkan kegusarannya mengenai itu. Si pria besar dengan sigap menjawab kegusaran itu dengan kalimat manis ‘Jangan banyak pikiran, fokus pada impianmu. Percayalah, di pertemuan kita yang terdekat aku akan menghapus seluruhnya di hadapanmu’. What a gentleman! Dinda memaku nama si Pria dalam hatinya.

Esoknya, manis masih terasa sangat manis, bahkan lebih manis. Lusanya, satu per satu janji yang dikeluarkan mulut manis si pria besar mulai disia siakan. Dinda mulai banyak menunggu, menanti, menerima pembatalan janji. Tapi Dinda masih punya perasaan itu. Ia berfikir, inilah saatnya ia belajar dewasa, memahami kekurangan pasangan, memahami kesibukan pasangan. Tapi kemudian sedikit rasionalitas Dinda yang tersisa berbicara, tentang bagaimana semuanya tidak rasional. Dinda kemudian membuat sebuah keputusan yang dia hampir tau pasti ujungnya akan kemana. ‘jika di pertemuan terdekat si pria besar tidak menghapus jejak kisah cinta yang katanya telah lalu’, ia akan menyudahi hubungan ini.

Malam saat keputusan itu dibuat, adalah malam yang sulit dan panjang bagi Dinda. Ia tidak mampu menahan ketakutannya, bahwa sakit hati akan ia alami lagi. Di tengah tangisan dalam hati, Si pria besar bermulut manis menghubunginya, mengucapkan kata sayang. Dinda merasa hatinya terhibur, ia pun mengambil kesempatan untuk mendapatkan ketenangan setidaknya untuk semalam itu. Ia meminta pada pria besar, untuk berjanji lagi bahwa pada pertemuan terdekat ia akan menghapus jejak kisah cintanya, sebagaimana janjinya di hari-hari sebelumnya. Tentu, the ‘gentleman’ menyanggupi bak ksatria.

Tibalah waktu pertemuan itu, Pria besar menghampiri rumahnya pada waktu yang diundur 2 jam dari waktu awal janji pertemuan. Dia datang setelah membuat Dinda menunggu 2 jam. What a wasted time. Si pria besar datang dengan sekotak makanan yang seperti penuh cinta. Dinda sangat bahagia melihat sosok itu. Mereka berbincang hangat, segar dan penuh cinta. Kemudian Dinda menagih janji si Pria, Dinda memulai babak yang paling ia takutkan. Seperti diduganya, jawaban si Pria menarik senyum Dinda. Senyum Dinda untuk pria itu sudah hilang sejak saat itu. Si Pria menyampaikan 1000 alasan dan pembenaran mengenai ketidak mampuannya memenuhi janjinya malam itu. Alasan utamanya adalah ia tidak membawa smartphone yang berisi aplikasi media sosial yang menjadi perdebatan. Si pria besar berjanji bahwa sepulangnya dari pertemuan ini, tidak lebih dari pukul 9 malam semuanya akan sudah dihapus. Dinda menyampaikan kekecewaan dan keraguannya, namun berkata bahwa semuanya akan ditentukan pada apa yang akan dilihatnya di pukul 9 nanti. Dia juga mengucapkan, bahwa apa yang akan dilihatnya pada pukul 9 malam nanti akan memberikan kesimpulan akan seperti apa sikap perkumpulan yang selalu si Pria Besar bangga-banggakan dalam memegang JANJI. Si pria besar setuju. Ia menginjak pedal gas mobilnya dengan kuat.

Menit-menit menyakitkan bagi Dinda. Ia berupaya tidak membuka smartphonenya sebelum pukul 9. Pukul 9 kurang 5, Dinda tidak dapat menahan lagi. Ia membuka facebook pria besar. Status ‘in a relationship with ****’ masih ada, foto-foto sebagian besar sudah hilang, kecuali di bagian bawah. Kemudian dia melihat instagram, disana tidak tersedia fitur status relationship, namun soal foto, hasil pengamatannya sama. Pukul 9 tepat Dinda mengeceknya lagi, hasilnya sama. Ia kecewa, bagian paling utama, yaitu status relationship tidak dihapus. Padahal itu bagian paling krusial dan paling cepat dihilangkan. Ia tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya pada si pria besar. Si pria besar hanya meminta dengan singkat agar Dinda bersabar.

Dinda menjalani sisa malam dengan tangis. Ia dibodohi lagi.

….

….

….

Pagi tiba, Dinda teringat bagaimana semalam Si Pria besar berusaha meyakinkan Dinda bahwa si Pria besar amat serius dengan hubungannya dengan Dinda. Katanya “Tanyakan saja pada orang yang pernah dekat dengan ku, bagaimana sikap ku jika serius dengan seseorang!” Pagi itu Dinda memutuskan untuk bertanya pada salah satu kenalannya yang juga merupakan mantan pacar si Pria. Kisahnya pun menakjubkan. Si mantan pacar dahulunya juga dibohongi mengenai kisah berakhirnya hubungan si pria besar dengan wanita yang sama, dan ia dikhianati beberapa bulan. Bersyukurlah Dinda, karena ia hanya mengalaminya satu minggu. Lebih buruknya lagi, kisah yang dipaparkan si mantan sangat berbeda jauh dengan kisah yang pernah dituturkan si pria besar pada Dinda mengenai si mantan.

Apakah Dinda benar-benar telah bersyukur ia hanya menjadi target kebohongan seminggu? Tidak benar-benar bersyukur, Dinda masih menangis sejadi-jadinya dalam ruangan tertutup. Sampai ia lelah, dan berusaha menyalurkan energinya pada tulisan.

 

PROFIL SINGKAT

Nama                                    : Nisa Yulianti Suprahman

Tempat/Tanggal Lahir     : Bandar Lampung, 6 Juli 1991

Pekerjaan                           : Karyawan Swasta

Hobi                                       :  Menulis

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: