Cerpen “Wahyu Tumiba” Karya Fajar Laksana

WAHYU TUMIBA

Oleh Fajar Laksana

Jamaah telah berkumpul dan menghadap tepat ke arah pohon beringin yang diselimuti kain putih. Kemudian tempayan berisikan dupa dan menyan dinyalakan, menyebarkan aroma wewangian mistis. Mantra-mantra dirapal, bahasa mati dihidupkan kembali melalui media berupa sebuah buku yang terbuka didepan Pandhita. Angin sejuk berputar di atas kepala seluruh orang kerasukan oleh suara detak jantung mereka sendiri. Kemudian hening…..

Penglihatanku menjadi samar, mungkin karena kepulan asap dupa dan menyan yang memenuhi ruangan. Sebenarnya sulit bagiku untuk menerima sekaligus memahami apa yang sedang terjadi sebab tidak ada satupun hal yang menurutku dapat ditelaah secara logis. Dupa dan kemenyan tak lebih hanya sebuah pengharum ruangan, bunga-bunga yang indah itu juga tak lebih hanya sebagai penyegar mata dan kepulan asap yang mengudara kuanggap sebagai sarana untuk mencegah datangnya nyamuk. Pandhita yang memakai pakaian putih tak lebih agar jamaah dapat mengetahui dirinya apabila ia hilang entah kemana lagipula tentu saja orang-orang yang menjadi pengikutnya akan mencari sampai mati kalau memang junjungannya menghilang. Lalu yang terakhir, buku dihadapan Pandhita hanya sebuah petunjuk tata cara berdoa. Begitulah pemahamanku yang menurutku tepat, satu-satunya yang belum bisa kupahami ialah doa-doa aneh yang menurut salah satu anggota Pesanggrahan mengatakan sebelumnya bahwa saat mereka melakukan ritus maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Kuna.

Sebelum ritus dimulai sempat kutanyakan pada salah satu anggota Pesanggrahan tentang apa yang sebenarnya mereka kerjakan didepan pohon beringin bersarung putih itu. Semua detail dari ritus yang ada harus kuketahui sebab nantinya akan kugunakan sebagai bahan penulisan naskah drama. Kalau bukan karena desakan dari kawanku, sama sekali aku tak akan pernah mendatangi tempat ritus ini. Tidak masuk akal, menggelikan dan sangat memprihatinkan. Pada era modern masih saja ada orang yang masih melakukan ritus kuno. Rasanya ingin segera pergi tapi sayang sekali sudah terlambat.

“Maaf pak, sebenarnya apa tujuan dari ritus yang akan bapak lakukan nanti ?” Tanyaku pada seorang pengunjung pria yang sudah senja.

“Untuk menyelamatkan umat manusia, nak.” Jawabnya penuh takdzim.

“Menyelamatkan dari apa ?”

“Dari garis takdir Sang Hyang Cipta.” Dengan tegas pengunjung tua itu menjawab.

“Bukankah kalau memang berniat menyelamatkan harus melakukan sebuah tindak nyata ?” Rasa penasaranku semakin memuncak, mengingat pernyataan fiktif si pengunjung.

“Hahaha, benar nak yang kau katakan, tapi sayangnya sekarang orang-orang memilih untuk bertindak nyata dan malah lupa untuk meminta. Maka sudah menjadi tugas kami untuk memintakan harapan mereka pada Sang Pencipta.” Kemudian ia berdiri untuk menyambut salah seorang tuanya yang ternyata lebih tua darinya.

Di dalam kepulan asap yang memenuhi ruangan aku tercenung dengan jawaban bapak tadi. Pernyataannya yang terakhir membuatku melakukan refleksi terhadap pengalaman spiritualku. Apa yang dikatakan bapak tadi tidaklah salah, hampir semua orang terpaut pada intensitas usaha tanpa mengimbangi dengan doa. Mungkin karena hal itulah yang menjadikan ambisi dan obsesi seseorang menjadi menggila tanpa mau tahu batasan tertentu.

Tiba-tiba terdengar cuit seekor burung yang suaranya tidak asing bagi masyarakat sekitar. Suara dares, seekor burung yang telah begitu setia menjadi tangan kanan Izrail. Begitu dekat suaranya, bisa jadi ia sekarang tengah hinggap di salah satu dahan pohon beringin yang sedang dihadap oleh orang-orang, kutelisik dengan mataku tapi gelapnya sekeliling membuatku kesulitan untuk mencari posisi hinggap burung dares tersebut. Rasa takutku menyeruak, nasib siapa yang kini tengah berada diujung usia ? Suaranya makin lama makin nyaring, orang-orang tak bergerak sedikitpun, mata mereka tetap memejam erat. Aku masih saja ketakutan, pikiranku berusaha mengatakan bahwa burung dares itu hanya sedang lapar sehingga bercuit begitu keras. Tapi tetap saja ketakutanku tak terbendung, ia mengaliri seluruh pembuluh darah. Asap kepulan dupa dan kemenyan memperparah situasi, aku mulai panik. Dalam kepanikan hanya ada satu orang yang menjadi penyebab, yakni seorang kawan yang juga seorang pengikut Pesanggrahan. Kuingat kembali tawarannya.

“Apa kamu punya kenalan yang bisa membahas secara mendalam tentang ramalan ?” Tanyaku beberapa hari pada kawan yang menggeluti dunia kebatinan tersebut.

“Untuk apa ?” Ia menelisik.

“Naskah, aku akan membuat naskah tentang suatu ramalan.” Jawabku antusias karena kejaran deadline.

“Ramalan yang mana yang akan kau bahas dalam naskahmu ?”

“Tentang Prabu Erucokro.” Keyakinanku bertambah karena ada sinyal kuat yang diberikan.

“Wah, berat sekali itu.”

“Lantas bagaimana ?”

“Besok hari Kamis malam Jemuah Legi, ikutlah denganku.” Ia menawariku dan aku tak akan menolaknya.

“Kemana ?”

“Ikutlah saja, jemput aku dirumah, akan kupertemukan dengan seseorang yang menurutku cukup memahami tentang ramalan itu.” Lalu dia pergi begitu saja.

Maka disinilah aku, berakhir dengan kondisi yang serba mencekam. Sedangkan kawanku, ia sedang dalam keheningan tanpa takut tanpa ragu. Suara burung dares menjadi cepat. Salah seorang anggota Pesanggrahan tiba-tiba tersungkur jatuh, disusul dengan dua orang lagi ikut jatuh. Kali ini ketakutanku benar-benar terbentuk sempurna.

Kalau tahu begini jadinya, tentu bukan ramalan Jawa yang akan kubahas. Lebih baik kupilih saja Michel Nostradamus sebagai bahan dasarku untuk menulis naskah. Pandhita yang membaca pelan mantra-mantranya mulai mengeraskan suara bersaut-sautan dengan burung dares yang hinggap diatas dahan pohon beringin. Mereka saling berbicara, saling bertukar cerita. Seluruh orang masih diam, sedangkan aku mulai berdiri berniat meninggalkan tempat, kalau ada sesuatu yang terjadi aku tinggal lari begitu saja. Suara Pandhita menjadi berat dan penuh amarah, burung dares ikut meladeni juga. Mungkin Pandhita itu keturunan Solomon King, sehingga bisa bicara dengan bahasa binatang. Kuurungkan keseriusanku untuk menulis naskah tentang Ramalan mengenai Prabu Erucokro, benar kata kawanku, terlalu berat.

Pandhita seketika menjadi hening, suara burung dares kembali normal. Tapi entah benar atau tidak yang kulihat, sebuah sorot cahaya menerpa ruangan. Kemudian secara koor orang-orang menembang Jawa. Badanku lemas, mencoba membalik badan dan berlari tapi tidak bisa. Lalu seseorang yang mengikuti ritus jatuh terjerembab bersamaan dengan berhentinya koor tembang Jawa. Kulihat dengan seksama, ternyata kawanku yang jatuh terjerembab. Jamaah mendatanginya, begitupun dengan Pandhita. Seorang bapak-bapak menarik lenganku untuk ikut mendekat.

“Mari mas, dhawuh telah jatuh, titah telah tiba, wangsit sudah diturunkan !” Dia membisik di telinga kananku.

“Wahyu apa ? Wangsit apa ?” Aku tergeragap karena tidak mengerti apapun.

Kuturuti saja perkataan bapak-bapak yang menyeretku, meskipun takut setidaknya aku bisa menemukan sesuatu. Orang-orang berkerumun, Pandhita memangku kepala kawanku yang jatuh terjerembab. Suara kawanku berubah menjadi berat, kucari suara burung dares yang sedari tadi bercuit ria, tapi hilang entah kemana, sepertinya ia telah pergi. Dugaanku salah, burung dares itu ternyata bertengger tepat disamping kawanku yang jatuh lemas terjerembab tadi. Kucoba untuk mengusirnya, tapi dicegah oleh orang-orang. Pandhita mengajaknya berbicara.

“Dititipkan padaku sebuah titah Hyang Gusti.” Suaranya meraung-raung.

“Apa itu ?” Pandhita bertanya penuh rasa hormat.

“Disini ia akan muncul, disana ia akan muncul. Ia akan muncul dimana-mana !” Jemari kawanku menunjuk berputar-putar.

“Lalu siapa sebenarnya dia ?!”

Putaran jemari kawanku diturunkan, lalu dengan tegas menunjuk orang-orang yang hadir satu persatu. Penuh ketegasan, jari telunjuk menuding semuanya, termasuk aku. Beberapa saat kemudian kawanku tak sadarkan diri, Pandhita mengusap dahinya. Orang-orang diam seketika, begitu juga aku. Prabu Erucokro yang dikatakan oleh Michel Nostradamus berasal dari pulau yang diapit tiga lautan, yang dikatakan oleh Prabu Jayabaya sebagai keturunan Wali ternyata salah. Prabu Erucokro tidak kemana-kemana dan Prabu Erucokro adalah diriku sendiri. Maka kuhapus plot dramatik yang sebelumnya sudah kususun begitu rapi, kuganti dengan cara pandang kawanku yang kesurupan.

 

Mojokerto, 03 Juli 2016

TAMAT

 

 

DATA DIRI

Nama               : Fajar Laksana

TTL                 : Mojokerto, 12 November 1995

Alamat            : Jl. S.Parman 18, RT.01/RW.06, Ds. Modopuro, Kec. Mojosari

Kab. Mojokerto, 61382

No.Telp           : 0857-3071-8300

Medsos            : fb – Fajar Laksana / ig – Prabhata.laksana

 

Mahasiswa prodi Sastra Jawa, FIB, UGM. Kebanyakan aktif pada kegiatan teater serta kerap mengadakan acara kebudayaan tingkat lokal, menjadi salah satu anggota pergerakan kebudayaan Prosa dan aktif sebagai pamomong gerakan pemuda Jawa JawaSastra.

 

 

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>