[CERPEN] Yang Terhormat Karya Usman Hermawan

[CERPEN] Yang Terhormat Karya Usman Hermawan

YANG TERHORMAT

Usman Hermawan

Tak ada yang lebih terhormat kecuali jabatan sosial yang bernama ketua RT (Rukun Tetangga). Begitu yang dikatakan salah seorang tetangga saya dengan nada setengah berkelakar. Hal itu tidak salah, meskipun juga tidak sepenuhnya benar. Sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah kebenarannya adalah sikap positif warga terhadap orang yang menjabat ketua RT. RT, seolah menjadi semacam gelar akademik yang melekat pada nama seseorang yang menjabatnya, seperti gelar dokter.  Tidak lengkap jika menyebut seorang ketua RT hanya menyebut atau memanggil namanya.  Jika menyapa dengan menyebut namannya juga terasa kurang sopan. Pak RT! Begitu lazimnya orang memanggil. Bagi yang tidak lagi menjabat ketua RT tetaplah dipanggil RT. Bahkan bagi seorang yang sudah almarhum masih saja orang menyabutnya RT, seperti almarhum RT Sidik. Seolah orang takut kualat jika tidak menyebut RT di depan namanya. Bahkan terhadap kuburannya orang menyebutnya kuburan RT Sidik.

Bagi sebagian orang, terutama di kampung saya, jabatan ketua RT adalah takhta. Kata takhta sering diparalelkan dengan harta dan wanita. Ketiganya bisa menjadi cobaan berat bagi seseorang. Terutama bagi orang yang berpendidikan rendah bahkan tidak pernah masuk SD, menjadi ketua RT itu suatu kehormatan.

Namun tidak banyaknya orang yang bersedia menjadi ketua RT, alasannya selain karena dianggap merepotkan juga tidak ada gajinya. Kabarnya, ketua RT saya pernah dijanjikan akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Itu sekitar tiga tahun lalu. Sampai cerita ini disusun, belum ada realisasinya.

Seorang tetangga saya mengidentikkan RT dengan kepanjangan “Rugi Terus.” Tidak salah juga pelesetan itu.   Jika dilaksanakan dengan baik sesungguhnya menjabat ketua RT tidak kalah mulia dengan seorang kiyai. Tapi sayang, sang kiyai kampung kami tidak pernah membahas tentang ketuamaan menjabat ketua RT dari segi agama. Saya pikir, menjadi ketua RT tidak lebih sedikit pahalanya daripada duduk diam di majlis taklim. Surga sebagai balasan untuk ketua RT tidak pernah dibahasnya di pengajian, sehingga sedikit sekali orang yang berminat menjadi ketua RT.

Ada istri yang mengancam menggugat cerai setelah suaminya terpilih menjadi ketua RT. Saya kira hal semacam ini tidak akan terjadi jika ustazah di majlis taklim memberikan pengertian kepada para istri bahwa istri yang membantu suami menjalankan tugas sebagai ketua RT akan mendapat balasan surga.

Hanya orang terpilih dan mempunyai kesanggupan yang bisa menjadi ketua RT. Ketua RT dipilih dengan cara musyawarah dan mufakat. Orang yang terpilih terbilang spesial. Latar belakang pendidikan tidak menjadi penjamin untuk terpilih menjadi ketua RT. Pendidikan saya terbilang tinggi, tapi ketika diikutkan dalam bursa pemilihan ketua RT hanya mendapat dua suara dari lima puluh dua kepala keluarga yang hadir. Yang mendapat suara terbanyak justru Sanusi, seorang yang sekolahnya hanya sampai kelas lima SD. Pendidikan tidak menjamin seseorang untuk terpilih dalam bursa pencalonan ketua RT. Hal ini dimungkinkan karena pemilihnya lebih banyak yang tidak ‘makan’ bangku sekolahan. Sesungguhnya menjalankan tugas ketua RT yang paling penting adalah kemauan, bukan kepintaran.

***

Tokoh kita dalam cerita ini berada di wilayah RT lain. Nama bekennya Kloyor, RT Kloyor. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan dan tidak mau belajar secara otodidak, sehingga sampai usia kepala empat dia masih tetap buta huruf. Maklumlah, dia produk tahun 1970-an.  Tak ada rotan akar pun jadi. Begitulah mulanya dia terpilih jadi ketua RT. Pendidikan tidak menjadi syarat seseorang menjadi ketua RT di kampung saya. Dia terpilih berdasarkan kepantasan menurut ukuran kebanyakan pemilihnya.

Semasa remaja jiwa sosialnya memang tampak dominan. Dia selalu berada di garda terdepan pada setiap urusan sosial, seperti mencarikan sumbangan bagi warga yang sakit, membantu kepanitiaan berbagai hari besar keagamaan dan nasional, bahkan ikut menggali lubang kuburan saat ada kematian. Semua itu dilakukannya tanpa pamrih. Sebagian orang menilai hal itu sebagai sikap yang bodoh, tapi dia tidak peduli. Yang dia sadari adalah justru kebodohannya sendiri yakni buta huruf. Dulu ketika sekolahnya baru kelas satu sekolah dasar dan mengajinya masih alif-alifan  ayahnya tutup usia. Sekolahnya terbengkalai. Dia pun tak punya keinginan untuk belajar. Buta hurufnya itu terbawa hingga dewasa. Namun dia tidak buta angka. Angka yang tertera di uang rupiah dia tahu. Berhitung dia bisa, berapa pun jumlah uangnya.

Sejak berumah tangga dia jadi perhitungan, segala sesuatu selalu dinilai dengan uang. Jiwa sosialnya pun luntur. Mungkin karena tuntutan hidup berkeluarga. “Perbawa anak!” cetusnya setiap kali diprotes orang karena sikap materialistisnya. Baginya itu pilihan, tak seorang pun yang bisa melarang dia bersikap demikian. “Semua ada harganya!” katanya. Sebagian orang menilai bahwa dia sedang belajar menghargai diri sendiri.

Sepeninggalan mendiang ketua RT yang telah menjabat selama lebih dari dua puluh tahun, terjadilah kekosongan. Tugas-tugas ketua RT sementara ditangani oleh ketua RW. Upaya ketua RW untuk mencari calon penggantinya mengalami kesulitan. Semua warga yang dibujuknya untuk jadi ketua RT menolak. Suatu saat, ketua RW mengundang warga untuk mengadakan musyawarah pemilihan ketua RT. Hadirlah seluruh warga laki-laki dewasa di balai warga. Terjadilah saling tunjuk. Setiap orang yang ditunjuk menolak dengan kalimat: Jangan saya! Berbeda dengan sikap ketika ada pembagian uang politik dari seorang calon anggota legislatif. Saat belum kebagian omongnya: Buat saya mana?

Karena sulit mendapatkan keputusan akhirnya ketua RW mengambil inisiatif dengan menawarkan Kloyor. “Bapak-bapak, sepertinya mayoritas pro kepada saudara Kloyor. Bagaimana kalau dia saja kita jadikan ketua RT, setuju?”

“Setuju!” Seluruh yang hadir menjawab serempak dan lantang. Suasana gaduh seketika.

“Jangan saya, jangan!” tampik Kloyor.

Beberapa orang mendorong-dorongnya agar dia beranjak ke depan.

“Ayo sambutan Kang Kloyor!” cetus seseorang penuh gurau.

Ketua RW berusaha tampil berwibawa. Diusapnya pundak Kloyor. “Silakan Saudara Kloyor menyampaikan sambutan!”

Seperti terkena energi hipnotis Klotor menurutinya.

Setelah mengucapkan salam mulailah dia bicara. “Masih banyak bapak-bapak yang lain yang lebih pantas untuk menjabat sebagai ketua RT di lingkungan kita. Apalah artinya saya, Bapak-Bapak tahu sendiri, saya mah apalah! Masih ada yang lebih pantas dari saya.”

Suara hadirin kian bulat mendukungnya. “Tenang Kang Kloyor, urusan surat menyurat saya siap bantu!” cetus warga mencoba memberi dukungan.

“Tapi kalau semua menunjuk saya,” lanjut Kloyor,”saya tidak bisa menolak. Terima kasih atas kepercayaan ini. Tolong nanti bantu dan awasi saya agar tidak korupsi.”

“Huh, apanya yang dikorupsi Kang?!”

Seluruh hadirin merasa bersyukur karena tidak dipilih. Mereka pulang dengan perasaan lega.

Terpilihnya Kloyor sebagai ketua RT menyisakan perdebatan kecil di warung kopi.

“Hari gini ketua RT masih buta huruf!”

“Ente mau jadi ketua RT, Cid?”

“Amit-amit!”

“Karena tak ada gajinya?”

“Bukan cuma itu. Tekor biaya, tekor tenaga. Penjualan tanah sudah tidak ada sekarang mah. Apa yang diharapkan?”

“Namanya tugas sosial, Cid. Bagi si Kloyor mungkin suatu kehormatan.”

“Kehormatan taik kucing! Jangan harap deh. Siapa yang mau hormat dengan RT fakir miskin.”

“Ah, tidak segitunya kali! Lihat saja nanti kalau ada acara peringatan Isra Mikraj. Pastilah secara khusus pembawa acara menyebutnya: Yang terhormat Bapak Kloyor, ketua RT 03. Tidak mungkinlah disebutnya Yang tidak terhormat.”

“Bisa diamuk hadirin itu.”

Sampean jangan merendahkan begitulah terhadap ketua RT. Masa bakti ketua RT tiga tahun, nanti bisa dilakukan pemilihan kembali. Siapa tahu sampean ditakdirkan menjadi ketua RT.”

“Yeah, ogah!”

“Ada yang tidak bisa ditolak jika takdir berbicara.”

“Memangnya jadi ketua RT takdir? Nasib! Lihat saja orang-orang yang tampak lebih berderajat, mana mau mereka jadi ketua RT.”

“Termasuk sampean kan?”

“Kalau saya karena… ya karena belum nasib!”

***

Tugas-tugas ke-RT-an dijalankannya dengan baik. Ketika ada warga yang meminta surat pengantar untuk membuat KTP ke kelurahan dia tinggal memberikan formulirnya. “Isi sendiri!” katanya. Dia tinggal menandatangani. Sebelum menandatangani dia pura-pura membaca lalu mengangguk-angguk seolah mengerti isi bacaan. Walaupun tidak terampil baca-tulis, tapi menulis tanda tangan dia mahir.

Popularitas Kloyor sebagai ketua RT kian menanjak. Kepercayaan dirinya pun meningkat. Pada setiap rapat di kelurahan  dia selalu tampil mengajukan pertanyaan atau masukan. Dia jadi dikenal banyak orang. Para ketua RT sekelurahan jadi mengenalnya.

Kloyor selalu tampil perlente, jauh dari kesan kumuh. Selalu ada pulpen di sakunya. Rambutnya tersisir rapi dan berminyak. Arloji selalu lekat di lengan kirinya. Sepatunya selalu bersih mengilat. Hampir setiap hari dia berangkat dari rumah. Saya pernah mendapatinya berkali-kali di kantor kelurahan sedang berbincang-bincang saja dengan para staf. Tapi kalau dia sering pulang larut malam lalu ditanya istrinya, alasannya pasti ada urusan bisnis. Bisnis, begitulah istilah yang dipakainya. Dia terlibat urusan percaloan tanah dengan koleganya sesama ketua RT dan para makelar lainnya. Dia sering kebagian jatah uang dengar dari kolega yang bisnisnya meledak.  Suatu ketika, keberuntungan menghampirinya. Meledak pula bisnisnya. Dia pun berbagi dengan yang lain.

Setelah berani berbisnis timbul pula keberanian lain pada diri Kloyor. Itu karena dia punya uang dan bergaul denga para pemberani. Hampir sepekan dia tidak pulang. Saat pamit kepada istrinya dia pergi untuk urusan bisnis.  Istrinya percaya.

Kinerja Kloyor mencapai puncaknya pada tahun kedua. Setelah itu pelan-pelan melorot. Dia sering sibuk dengan urusan bisnis. Tugas-tugas ke-RT-annya terbengkalai.

Setoran dana iuran pembangunan masjid dari wilayah yang dipimpinnya sering nihil setiap Jumatnya. Jadwal ronda malam tidak dijalankan warga akibat tidak adanya pengawasan ketua RT.

Sampai habis masa jabatannya warga enggan mengadakan pemilihan ketua RT yang baru untuk menggantikan Kloyor. Dengan demikian Kloyor dianggap otomatis menjabat ketua RT pada periode kedua. “Yang terhormat Bapak RT Kloyor, ketua RT 03.” Namanya masih disebut pembawa acara dalam peringatan maulid atau isra mikraj di masjid jami. Dia tersanjung, terlebih ketika dai penceramah menyebut namanya. Bahkan mendoakannya,  “Semoga bapak RT Kloyor pun menjadi penduduk surga di akhirat kelak.”

“Amin!” sambutnya gembira. Dia merasa dihargai. Namun perasaan bersalah karena telah mengabaikan tugas merambati hatinya.

Penceramah dengan jok-jok yang menghibur membuat hadirin berbahagia.

Di tengah gelak tawa hadirin, Kloyor dikejutkan oleh kadatangan istrinya. Dia diminta pulang saat itu juga. Seketika perhatian hadirin beralih kepadanya. Penceramah berhenti bicara dalam beberapa jenak.”Ada apa?”

“Keluarganya ada yang sakit!” cetus hadirin.

Kloyor meninggalkan acara. Seketika hilang sikap hormat istrinya.

***

Keadaan tegang.

“Sekarang akui, kamu kawin lagi kan?!”

“Tidak.”

“Dasar manusia tidak tahu diri!”

“Ini foto siapa? Istri mudamu kan? Ini anak siapa?”

“Bukan anakku. Itu anak dari suami pertama.” Kloyor keceplosan.

“Nah, berarti betul kan ini istrimu?”

“Dari siapa itu?”

“Tidak penting foto ini dari siapa?”

“Kamu telah berbohong. Bisnis, bisnis, ternyata main gila dengan perempuan lain sampai menikah dan punya anak. Aku tidak terima! Ceraikan aku sekarang juga! Ini rumahku. Tanahnya pemberian orang tuaku. Sekarang kamu boleh pergi dari sini!”

Kloyor tidak bisa mengelak.

Esok harinya Kloyor datang ke rumah saya. Matanya kuyu, langkahnya gontai seperti tentara kalah perang. Dia meminta dipinjami sejumlah uang. Saya bimbang, antara memberinya dan tidak. Saya masih ingat, utangnya satu satengah juta rupiah kepada saya  sejak dia jadi ketua RT belum juga dibayar. Kalau ditagih jawabnya janji melulu. “Nanti kalau bisnisnya meledak!” katanya.

Akhirnya dengan berat hati saya katakan, “Saya turut prihatin atas masalah keluargamu, Te. Bukannya aku tidak punya uang. Uang sih ada, tapi mau dipakai bayar SPP kuliah anakku. Kalau tidak bayar sekarang dia terancam tidak bisa ikut ujian.”

Dia tidak memaksa. Selanjutnya dia pergi entah menyasar siapa lagi.

Seseorang telah membocorkan rahasia kawin sirinya. Orang itu tak lain adalah lawan bisnisnya, sesama calo tanah yang juga ketua RT di kampung lain.[]

 

 

 

 

USMAN HERMAWAN lahir  di Tangerang, 11 Februari 1970. Lulus dari SPGN (Sekolah Pendidikan Guru Negeri) Tangerang 1989, Lulus S1 dari IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA) 1994 dan lulus S2-nya 2006. Empat puluh lima cerpennya pernah dimuat di harian Satelit News Tangerang (2010-2014). Sejumlah cerpen lainnya pernah pula dimuat di Horison Online dan harian Banten Raya, majalah sastra Horison (edisi Februari 2016). Buku kumpulan cerpennya bertajuk Perempuan 75 % (2011), Anak Angkat Matahari (2012), Perjumpaan Malam (2014), Lelaki dari Masa Lalu (2016), Penantian Ibu (2017). Cantik, Sejumlah Catatan Perjalanan (2017). Sejumlah cerpen lainnya termuat dalam antologi.

E-mail: usmanhermawan@yahoo.co.id.

Website:

www.kompasiana.com/usmanhermawan

https://seword.com/author/usman

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: