Distorsi (A)fektif

Distorsi (A)fektif

 

By: F. Dewo Prianggo

Di Bawah angin malam
Jiwa ini terasa sesal dan mencekik
Hingga hati menyesak hancul lebur
Menangis kering, air mata enggan membantu

Kisah ini terlalu bisu hingga tak terdengar tawa lagi
Terdiam pilu menyesakan hati
Aku masih disini
Ditempat dimana aku merasakan asa bersamamu
Sekaligus tempat dimana aku mati terbunuh

Hei kemarilah
Hunuskan pedang itu dari sarungnya
Lalu tancapkan pada aku yang berlinang duka
Jangan ragu lakukan segera
Benturkan kepala ini pada karang bila kau mau
Aku sungguh rela, iyaa aku rela….

Aku tak akan melawan
Semesta tau, bahwa aku tak salah
Hanya dirimu yang mampu membuatku rela dihakimi walau aku tak bersalah
Karna aku ingin merubah amarahmu menjadi tawa yang PUAS
Puas tertawa menyaksikan penderitaanku
Puas tertawa menyaksikan kematianku
Aku memang tak akan pernah pantas dan layak

Bola mata ini sudah kau congkel dari tempatnya
Kaki dan tanganku juga sudah kau patahkan
Tetesan darah dari leher yang kau gorok kemarin sudah mulai membusuk,
tapi Tahukan kamu aku tetap Mencintaimu
Hidup tetap dilanjutkan, Asa tetap dijuangkan dan namamu selalu tersemat dalam lantunan Doaku….

#JurnalJuang
Yogyakarta, 31 Desember 2018

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: