Dugaan Jiplakan pada Karya Hamka

Dua buah tulisan Abdullah Sp di tahun 1962 telah mengawali heboh dalam kesusastraan Indonesia. Dalam kedua tulisan ini, Abdullah Sp menuduh bahwa novel Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (cetakan pertama tahun 1938) adalah jiplakan (= plagiat) dari novel pengarang Prancis Alhonse Karr, Sous les Tilleuls (1832), yang diterjemahkan Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi ke bahasa Arab dengan judul Madjdulin.

Hampir sepuluh tahun sebelum tulisan Abdullah Sp tadi, H.B. Jassin pernah menulis demikian: “Desas-desus yang sudah lama pula beredar di antara pengarang ialah mengenai buku-buku Hamka,  Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Mungkun desas-desus ini tidak pernah disampaikan kepada Hamka sendiri, sehingga beliau belum mendapat kesempatan memberikan penjelasan dalam hal ini”.

Di bagian lain tulisannya ini, Jassin menulis: “Kemudian Aoh membawa cerita. Di Kotaraja dia bertemu dengan seorang kawan yang mempunyai perhatian kepada kesusastraan Arab. Kawan ini memperlihatkan kepada Aoh satu buku tulisan Arab, yang bertitel Madjdulin, karangan pengarang Prancis Alphonse Karr, yang disalin ke bahasa Arab oleh Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi. Kemudian saya dengar pula dari Ali Audah bahwa Tenggelamnya Kapal van der Wijck memang saduran dari buku tersebut, yang dalam bahasa Prancis bernama Sous les Tilleuls”.

Akan tetapi, ketika tulisan di atas dibuat pada tahun 1953, Jassin tidak bisa berbuat apa-apa. “Menyesal sekali saya tidak mengerti bahasa Arab, dan buku bahasa Prancisnya pun belum saya temukan, sehingga saya masih tetap belum mengetahui cerita yang sebenarnya untuk bisa membandingkannya dengan Tenggelamnya Kapal van der Wijck”.

Dengan kata-kata ini, Jassin agaknya tidak mau gegabah mengeluarkan pendapat mengenai kasus Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Karena menurut pendapat Jassin, “kita harus berhati-hati menuduh seorang telah melakukan plagiat atau telah menyadur begitu saja”.

Atas jasa A.S. Alatas, diterjemahkanlah buku Madjdulin ke bahasa Indonesia dengan judul Magdalena pada tahun 1963. Seteleh terjemahan ini terbit, barulah Jassin berani mengeluarkan pendapat mengenai kasus Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Jassin tidak menyangkal adanya “kemiripan plot, ada pikiran-pikiran, dan gagasan-gagasan yang mengingatkan kita pada Magdalena”, namun dalam Tenggelamnya Kapan van der Wijck “ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri”. Dan setelah mengemukakan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang ada dalam Magdalena dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Jassin menyatakan: “Pada Hamka ada pengaruh AL-Manfaluthi. Ada garis persamaan tema, plot, dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasi sendiri. Anasir pengalaman sendiri dan pengungkapan sendiri demikian kuat, hingga tak dapat orang bicara tentang jiplakan, kecuali kalau tiap pengaruh mau dianggap jiplakan”.

Akhirnya, Jassin sampai pada kesimpulan bahwa “Tenggelamnya Kapal van der Wijck bukan jiplakan, karena bukan terjemahan harfiah ataupun bebas dari karangan Manfaluthi/Karr. Hamka bukanlah penjiplak yang tidak mempergunakan daya fantasinya, penjiplak yang hanya sekedar mengalih bahasa dan menyuguhkan terjemahannya sebagai ciptaan sendiri”.

Diambil dari Buku H.B. Jassin: Paus Sastra Indonesia karangan Pamusuk Eneste.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>