“Empu” Rendra, Alternatif Baru bagi Wajah Kebudayaan

Tulisan ini merupakan tulisan dari Emha Ainun Nadjib yang dimuat oleh Kompas pada 22 April 1975 dan dibukukan dalam Rendra, Ia Tak Pernah Pergi. Sebuah tulisan legendaris tentang Wahyu Sulaiman Rendra dan sepak terjangnya, terutama lewat Bengkel Teater yang banyak mencuri perhatian kala itu. Selamat menikmati.

***

Pemimpin kaum laki-laki Athena bertanya kepada ratusan lelaki di hadapannya:

Apakah mental kalian mental tempe?

Tidak! –Jawab mereka tegas- mental kami bukan tempe bukan tahu. Mental kami adalah mental mentega!

Lho kok mentega?!

Habis apa?

Mental kalian harus mental baja. Sebutlah: mental baja! Pemimpin kaum wanita Athena bertanya kepada ratusan wanita di hadapannya:

Apakah mental kalian adalah mental tempe?

Bukan! –jawab mereka tegas- mental kami bukan tempe bukan tahu. Mental kami adalah mentega!

Bagus!!!

Potongan dialog ini akan kita temui dalam lakon Lysistrata yang akan dipentaskan oleh Bengkel Teater-nya Rendra, 26 dan 27 April di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Juga berbagai temperamen lain, kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan laku bahkan gambaran pola-pola berpikir kaum wanita dan pria Indonesia akan tercermin dalam naskah Aristhopanes yang disadur oleh Rendra itu. Image Padepokan dengan karakteristik sang Empu kembali mewarnainya, sebagaimana “Antigone” menjadi khas Indonesia oleh gerak-gerak silat. Bau-bau kesenian pribumi Jawa, tari, musik (kenal Jaran Kepang?) bahkan dialek, “di-bengkel-kan” dengan menelusupkan reference mereka sehingga menjadi lebih variatif dan manis – meskipun hari-hari taraf latihan Bengkel Teater baru pada penciptaan/pencarian pola vokal, pola watak, serta stylisasi keseluruhan.

Beruntunglah kalian yang di Jakarta, bisa selengkapnya menyaksikan penampilan grup teater –yang kepadanya diarahkan mata kamera seluruh pihak yang berkepentingan dengan dunia perteateran- secara istimewa. Di Yogya para pecandu drama hanya bisa menyaksikan latihan-latihan Bengkel tiap sore, sepotong-sepotong. Tanpa setting, kostum, lighting, totalitas acting para pemain seperti yang akan tampak di TIM. Ada beberapa keuntungan menggiurkan ketika menyaksikan latihan-latihan Bengkel bersama ratusan muda-mudi, anak-anak, orang-orang tua di Ketanggungan. Tetapi setidak-tidaknya ungkapan keseluruhan dari pentas yang utuh, Yogya tak bisa menyaksikannya. Kecuali mungkin pra-general repetisi. Namun kesempatan yang sama, suasana, dan momen yang sama, di TIM, Yogya ‘nampaknya’ tidak bakalan menyelenggarakannya.

Rendra menjadi milik Yogya, kebanggaan Yogya, bahkan membuat kota itu menjadi lebih berwibawa. Orang-orang Yogya pun akrab dengan Rendra, sekurang-kurangnya dalam batin. Anak-anak muda, pelajar, mahasiswa, terutama seniman-seniman muda, semua tidak mampu menghindari kharisma Burung Merak itu, untuk kemudian mewujudkan cintanya dalam berbagai sikap simpati, dukungan, kekaguman, atau umpatan-umpatan dan grundelan-grundelan. Untuk nonton Lysistrata harus disisihkan uang beberapa ribu buat naik kereta Senja ke Jakarta. Beberapa yang lain, yang punya ‘tradisi’ tak punya duit, terpaksa harus ngutang ke sana ke mari, buat nonton ‘tetangganya’ di Jakarta.

Urusan saya adalah mencipta

Sesudah Antigone dilarang pentas di Yogya bulan Februari, suasana mengatakan bahwa menunggu Rendra pentas di Yogya adalah Menunggu Godot. Ada situasi yang remang-remang tapi ‘menjamin’ bahwa Rendra tak mungkin bermain di Yogya, jika harus lewat izin yang berwenang. Sedang lewat wadah kampus UGM misalnya, pengalaman pentas Mastodon dan Burung Kondor di tahun 1973 merupakan alasan yang menarik bagi Rendra untuk menolaknya.

Soal-soal pelarangan di sini sudah berkenalan dengan baik dengan para seniman-seniman pentas, bahkan sudah merupakan kasus semi tradisional yang akrab. Beberapa kawan menyatakan kasus itu ada motivasi dan latar belakang yang mirip dengan malapetaka-malapetaka yang menimpa Alexandre Solzhentysin, Anatoly Kuznetsov, atau Leon Trotsky di Rusa, sekurang-kurangnya dalam kadar yang lebih ringan. Tapi saya bilang tidak. Alasan saya, Rusia bukan Indonesia!

Terhadap larangan-larangan, Rendra semula juga frustasi. “Frustasi adalah unsur hidup,” katanya. Rendra mengakui mengalami ‘shock’ –seperti ketika ia menjadi termasyhur untuk pertama kalinya. Orang-orang berkerumun, mengelu-elu, bahkan ada gadis yang menabraknya, menciumi menjilati tubuhnya. Rendra terkejut bukan alang kepalang. Spontan ia melepaskan diri dari kerumunan itu dan berlari masuk WC. Bermenit-menit ia ‘lemes’ di dalamnya. Merenung-renung. Melihat-lihat diri sendiri. Akhirnya ia sadar kembali. “Yaah memang mereka kagum pada saya!” katanya, meskipun disebutnya juga “Saya takut pada popularitas”.

Kini pun Rendra tak frustasi lagi. Kepribadiannya yang besar dan kesadarannya terhadap kepribadiannya, membawa Rendra untuk mengatasi keadaan-keadaan, tidak kompromi pada keadaan-keadaan. “Dilarang dan tidak itu urusan Pemerintah. Urusan saya adalah mencipta dan mencipta!” Tradisi dan kesadaran mencipta tetap terus hidup di Bengkel Teater.

Dan kalau tadi saya sebut ada keuntungan lain yang menggiurkan ialah betapa ada kenikmatan batin yang tersendiri, ada godaan rangsangan, ketika melihat kegiatan harian Bengkel Teater dari dekat, dan mencoba sedikit terlibat dalam suasana di mana kesadaran cipta terus dihidup-hidupkan.

Akal sehat, hati nurani dan integritas pribadi

Beberapa saat berada di tengah-tengah murid-murid Rendra, di tengah kegiatan dan segala tingkah lakunya, beberapa saat sesudahnya beromong-omong dengan Rendra –terasa bahwa suasana itu menyuguhkan sesuatu yang lain bagi gerak dan laku orang-orang kreatif maupun masyarakat umum yang ada di luar lingkungan itu; terasa ada alternatif baru bagi wajah ‘kebudayaan’ kita selama ini.

Datanglah sekali waktu ke Ketanggungan, sebuah kampung sunyi di pojok kota Yogya. Memasuki gang di antara jalur pagar yang berupa semak-semak kecil, dan sampai ke satu lingkungan yang ‘khusyuk’ dan meditatif. Halaman luas dengan pepohonan tinggi merangsangmu untuk bersedakap, memejamkan mata, ‘bersembahyang’ dan bersujud dalam batin. Beberapa puluh pemuda/i yang luwes akan menyambutmu dengan senyum yang bersemangat. Luwes gerak tubuhnya, luwes cara bersikap, dan keseluruhan pertemuan itu mengatakan kepadamu tentang proses perwatakan mereka yang dididik untuk senantiasa intens, jaga, dan mengatasi apapun di sekelilingnya. Di atas lantai dingin ruang depan rumah Rendra, mereka bersila, kepada tunduk di bawah pembawa Empu-nya yang duduk anggun di hadapan mereka –tapi tertopang di atas kesadaran pribadi masing-masing mereka. Suasana hening dan memancarkan mimik, sinar wajah yang merdeka dan dewasa.

Intensitas itu juga intensitas latihan-latihan mereka, merupakan ilustrasi dari kata-kata Rendra: “Di Bengkel terutama diajari bagaimana lebur dalam kodrat alam semesta dan dalam kehendak Tuhan Yang Maha Besar”. Tiga tiang pokok yang dipelihara dan diperkembangkan adalah hukum akal sehat, hati nurani dan integritas pribadi.

Perwujudannya bisa kita lihat dalam ‘Kurikulum Musim Hujan’ yang diajarkan di Bengkel Teater. Unsur akal sehat, dimanifestasikan dalam pelajaran Logika. Integritas pribadi diungkapkan dalam Ilmu Sosial, Antroplogi Budaya, Sejarah Kebudayaan, Bahasa Inggris, Teknologi Elementer, Popular Science. Sedangkan hati nurani, diekspresikan lewat pendidikan pengalaman Kebatinan, Improvisasi, Alam Semesta. Sementara itu ilmu silat, Pertukangan dan Pertanian yang dikhususkan pada Kerja Ladang, bisa diduga merupakan kelengkapan yang dimaksud untuk mendukung apa yang ingin diciptakannya oleh Rendra: suasana Padepokan, dengan seorang Empu yang memimpinnya secara moral dan material. Adapun Empu di Ketanggungan itu adalah bernama Empu Rendra.

Kurikulum ini merupakan alternatif bagi sekolah-sekolah kesenian di Indonesia yang oleh Rendra dikatakan tak ada yang memadai. Rendra tak percaya bahwa ASRI, AMI serta sekolah-sekolah seni lainnya akan mampu membuat langkah-langkah yang berarti bagi prestasi-prestasi seni. Kurikulum sekolah-sekolah tersebut menurut Rendra telah terlalu berorientasi ke Barat, tapi Barat yang mengalamai dekadensi. Sedang Empu ini memandang bahwa sekolah seni terutama harus mengajarkan mata-mata kuliah yang bisa melatih kepekaan jiwa, pembentukan kepribadian –yang harus melewati peristiwa-peristiwa meditasi, pengajaran yoga, dll. “Dulu Empu-empu juga begitu” kata Rendra.

Pola ke-empu-an

Disamping itu kecenderungan untuk menghidupkan pola ke-empu-an, adalah juga alternatif bagi kaum intelektual, para seniman kreatif, terutama yang selama ini nampak bahwa keterlibatannya dalam seni kurang merupakan suatu keterlibatan hidup –artinya kurang total, kurang jenuh, kurang utuh pribadi- senimannya.

Secara analogis, sebenarnya Rendra berpendapat bahwa yang cukup bagi kreativitasnya, jika konsepsi-konsepsi meditasi yoga kembali ke desa belum merupakan kebutuhan yang disadari. Akibatnya mengarah ke pemudaran vitalitas, pemandulan kesadaran pribadi, yang akan menyeret untuk tenggelam dalam arus keadaan, arus zaman, kehendak zaman –di mana ia tidak berbuat apa-apa, tidak berperan apa-apa, tidak berperan apa-apa sebagai orang kreatif. Rendra menyebut keterseretan itu sebagai kompromi. Padahal kompromo adalah pantangan baram bagi orang-orang kreatif yang semestinya mampu mengatasi zaman, menciptakan suasana-suasana, momen-momen dalam menegakkan tga tiang pokok di atas.

Lebih jauh lagi, sinyalemen Rendra itu menunjuk ke arah sementara orang kreatif yang basah kuyup dalam gejala-gejala anarkisme, perjuangan-perjuangan non kreatif, atau kepada sementara orang yang lain yang beku dalam frustasi dan tak mampu berbuat apapun kecuali menggerundel, mengumpat-umpat. Padahal, “orang kreatif mengemban tugas mempertahankan hukum akal sehat, hati nurani dan integrasi masyarakat”. Maka resep Empu Rendra: “Untuk keperluan itu mereka harus berlatih untuk lebur dengan alam, melatih diri bersujud, bersujud raga, pikir dan sukma. Kaum intelektual, para seniman, harus kembali ke desa!”

Khusus tentang pembentukan kepribadian yang disebut Rendra, saya teringat pada konsepsi orang Yogya lainnya yang mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya pada sekolah-sekolah Seni, karena pendidikan pada dasarnya harus menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian seutuhnya. Umbu Landu Paranggi, orang tersebut, berpendapat, jika suatu pendidikan tidak berasas dan bertujuan seperti itu, “bukan pendidikan namanya!” –dan penyair asal Sumba itu memang menerapkan konsepsinya dalam lingkungannya yang hidup di Yogya: Persada Studi Klub.

Ia mengutip kata-kata AG. Hughes dan EH. Hughes bahwa “Apabila kita berbicara tentang pribadi, kita mengingat perkembangan segala segi dari keutuhan seseeorang: keyakinannya, perkembangannya, moralnya, intelektualitasnya, estetika, dan perkembangan fisiknya” –yang tercermin juga dari ragam mata pelajaran dalam kurikulum Bengkel Teater.

Perubahan Kebudayaan

Kita juga melihat, konsepsi-konsepsi yang tampil langsung dalam tindakan-tindakan Bengkel itu merupakan kelengkapan otentik dari apa yang pernah ditawarkan oleh Rendra ketika Kaum Urakan berkemah di Parangtritis tahun 1971. Misalnya, tindak tanduk anak-anak Bengkel yang sangat hormat pada tanggungjawab dan bersikap dingin terhadap godaan tanggungjawab dan bersikap dingin terhadap godaan anarki, yang ditegakkan tidak dengan peraturan, tapi dengan menciptakan tuntutan keadaan; atau ketika Redra menolak kebeiasaan masyarakat kita yang akan menegakkan moral dengan menekankan pada sikap otoriter dan doktriner.

Dan Rendra konsisten dengan penolakannya itu. Bau-bau otoritas sangat dihindari dalam kehidupan Bengkel –sebab otoritas hanya milik Tuhan, dan kalau tangan manusia yang memegangnya, jelas mengakibatkan bencana-bencana.

Saya anggap apa yang dihidupkan Rendra itu merupakan rentetan dari tawaran-tawaran konsepsi terdahulu. Rendra tetap Jose Karosta yang dalam Mastodon dan Burung Kondor menyatakan bahwa perubahan haruslah perubahan kebudayaan. Dan kelangsungannya hidup padepokan Empu Rendra adalah titik mulia yang merintis perobahan tersebut, yang tentu saja berlangsung amat lambat –karena satu cultural lag yang kodrati.

Alternatif-alternatif Empu Rendra terdengar bukan sesuatu yang baru, dan mafhumlah jika ada yang mengatakan itu bukan alternatif apa-apa bagi sikap budaya kita. Tekanannya di sini saya kira tidak terlampau pada konteksinya, sebab setiap seniman, setiap cendekiawan telah mafhum pada pikiran-pikiran itu. Kita harus lebih melihat pada kesudahan tindakan –bahwa Empu Rendra dan murid-muridnya telah memulai tanpa menunggu kelengkapan-kelengkapan fasilitas yang tetek bengek. Bahwa Empu Rendra tidak membiarkan konsepsi-konsepsinya sekedar merupakan teori-teori yang muluk dan berada di atas menarik gading, untuk kemudian terlihat oleh kesimpangsiuran tingkah laku masyarakat sebagai akibat tiadanya keseimbangan antara laju peradaban material dan gerak lamban peradaban yang non-material.

Setidak-tidaknya kaum intelektual, para seniman, harus menjawab ucapan Rendra –dengan ucapan dan tindakan- tenaga-tenaga kreatif yang ada sekarang umumnya belum berbuat apa-apa. Mereka kabur keanginan, diombang-ambingkan oleh suasana. Bukan mengatasi dan menciptakan suasana.

Emha Ainun Nadjib

Budayawan

Kompas, Selasa, 22 April 1975

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Sastra and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>