(Esai) Estetika Seni dan Universalitas Islam

(Esai) Estetika Seni dan Universalitas Islam

Penulis: Muhamad Thorik

(Pengamat sastra mutakhir Indonesia, peneliti historical memories Indonesia)

KITA merinding ketika menyaksikan orang-orang Korea Selatan – mayoritas Nasrani – menangis saat menyaksikan penampilan Nissa Sabyan melantunkan “Ya Maulana” beberapa waktu lalu. Mengapa mereka sampai menangis ketika mendengar alunan lagu bernafaskan Islam yang bertema tentang keagungan Tuhan semesta alam? Jawabannya tak lain dan tak bukan, bahwa ribuan orang Korea itu tengah menikmati suatu keindahan universal dalam karya seni agung yang melampaui batas-batas ruang dan waktu. Itulah efek menakjubkan dari suatu karya dan kreasi seni, di saat capaian-capaian katarsis mampu menggetarkan kalbu, menggelorakan jiwa, menembus relung-relung dan rasa kemanusiaan yang mendalam dan bersifat universal.

Sebelumnya, Nissa Sabyan juga telah berhasil menggetarkan kalbu dari ribuan pemirsa America’s Got Talent,hingga menembus angka puluhan juta di kanal YouTube hanya dalam beberapa pekan saja. Padahal, lagu-lagu yang dilantunkannya terhitung klasik dan lawas dalam khazanah musik-musik gambus maupun salawatan dalam tradisi Islam. Tapi ketika dibawakan oleh suara merdu nan indah menawan, sanggup melampaui batas-batas hingga menembus dan membuka pintu-pintu langit sekalipun.

Di sisi lain, lalu muncul pertanyaan, mengapa banyak materi-materi agama yang disampaikan para dai dan mubalig, tapi tidak mencapai titik katarsis yang merasuk dalam relung jiwa, melainkan suatu sikap resisten yang cenderung berseberangan dengan panggilan hati nurani.

Jangan Meremehkan Keindahan

Baiklah, akan ceritakan tentang orang tua dari seorang gadis cantik dari Bali – berkasta brahmana – mengurungkan niatnya untuk menikahkan anak dengan seorang pemuda muslim dari Banten, hanya karena ia pernah mendengar lantunan azan dengan suara serak dan sember dari pengeras suara di sebuah masjid.

“Suara apakah itu?” tanya ayah sang gadis.

“Itu suara panggilan untuk bersembahyang bagi umat Islam?” jawab pemuda sang calon suami.

“Seperti itukah suara panggilan untuk bersembahyang?” katanya heran.

Kisah yang saya sampaikan ini, jangan lantas ditafsir macam-macam, seolah-olah saya adalah orang yang sepakat agar pengeras suara ditiadakan. Saya hanya mengajak dialog yang lebih mendalam tentang syiar dan dakwah agama yang harus disampaikan meliputi tiga unsur, yakni kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

Suara muadzin di masjid tersebut barangkali niatnya baik dan benar, tapi tidak mengandung unsur keindahan, hingga dampaknya cukup membahayakan juga. Kurang lebih sama bahayanya dengan kualitas karya seni yang seringkali memuat ending yang chaotik dan absurd. Barangkali niatnya ingin menghibur pembaca dengan kemampuan linguistik dan kekayaan metafora yang dapat menciptakan katarsis dan menggugah jiwa. Hingga pembaca merasa bersedih, menangis, frustasi, bahkan tak jarang melakukan tindakan bunuh-diri yang disebabakan suatu karya sastra.

Saya cukup terpesona dengan kajian intelektual Supadilah (dari aktivis Indonesia Membaca), khususnya ketika beliau membedah karya sastra Pikiran Orang Indonesia (POI) tentang dualisme sejarah bangsa. Bahwa sesungguhnya konstruksi pemikiran dan imajinasi yang dibangun penguasa tidak bersifat langgeng dan abadi. Ia akan terhempas oleh dialektika ruang dan waktu. Beda dengan karya sastra yang lahir dari ketelitian dan ketekunan membaca alur sejarah bangsa. Penulisnya tidak terlampau memusingkan utak-atik bahasa yang puitis, yang cenderung dirasa enak oleh penciptanya sendiri. Tapi, dalam kajian Supadilah, novel tersebut seakan menawarkan unsur kebaikan dan politik hati nurani.

Di samping tarik-ulur plot dan jalan cerita, pesan moral yang disampaikan menyangkut kelakuan rezim otoriter, pemberontakan pemuda, suara-suara kebenaran dan keadilan, hingga ending yang menarik, sudah cukup membawa pembaca akan pentingnya nilai-nilai moral dan humanitas tinggi.

Unsur keindahan dalam karya sastra memang sehaluan dengan estetika musik dan film. Meskipun tetap kita harus berpegang pada prinsip orang-orang bijak, bahwa adakalanya keindahan itu disampaikan hingga menggugah jiwa, tanpa adanya nilai-nilai kebaikan dan kebenaran di dalamnya. Di sinilah perlunya kehati-hatian seorang penulis, bahwa apa-apa yang mereka goreskan melalui pena, kelak akan menjelma sebagai makhluk hidup yang akan dimintai pertanggungjawaban terhadap penulisnya. Apakah berdampak positif bagi pembaca (pendengar) ataukah sebaliknya?

Dakwah yang Humanis

Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengklasifikasi beberapa kategori dakwah yang mengena sasaran di hati publik. Seandainya dakwah itu disampaikan dengan penuh anarki dan kekerasan, jangankan bagi non-muslim yang mendengarnya, bahkan bagi muslim yang kualitas imannya baik, akan sulit ditangkap dengan hati nurani. Mungkin bagi akal yang tidak sehat mudah saja diterima, tapi toh bersifat temporer, akan mudah terhempas oleh perjalanan waktu.

Dalam soal ini, Abraham Lincoln, ketika berjuang keras menghapus jejak primordialisme dan perbudakan Amerika berkata, “Para penguasa zalim dapat saja membangun sejarahnya sendiri dalam beberapa waktu, serta dipercaya oleh orang-orang bodoh, tapi mereka takkan sanggup mencipta sejarah yang abadi, juga tak mungkin dipercaya oleh manusia-manusia berkualitas.”

Karena itu, kualitas syiar dan dakwah Islam di era milenial ini harus betul-betul mengena sasaran di hati publik. Tidak cukup menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan kebenaran, tapi juga unsur keindahan yang tidak kalah penting. Adakalanya klub pendakwah memperebutkan ladang rezeki, bergerombol ramai-ramai masuk televisi. Tapi selama yang satu tidak menjelek-jelekkan yang lain, itu baik-baik saja. Yang kita khawatirkan adalah pendakwah yang hanya menyampaikan materi berdasarkan pesanan golongan atau partai politik, lalu berkoar-koar menganggap pihak lain sebagai PKI, kafir, penipu, munafik dan seterusnya.

Tipikal pendakwah semacam itu punya kemampuan yang lihai dan jitu untuk mengorek-ngorek kesalahan orang lain, termasuk kelompok yang tidak sepaham dengannya. Ia pintar memanipulasi jamaahnya untuk sibuk menilai dan menyalahkan pihak lain. Ia juga mahir dalam soal mengelabui umatnya, agar menjelek-jelekkan kelompok dan jamaah lain. Kecuali hanya satu yang tidak pernah diajarkan kepada jamaahnya, yakni bagaimana mereka harus membaca dan menilai dirinya sendiri.

Tipikal dakwah semacam itu, dengan mengajak penganutnya agar menjadi manusia penakut dan pembenci, sementara kaumnya dinilai paling soleh dan suci, sama sekali tidak menarik bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat, dan sama sekali tidak menimbulkan ketertarikan dari pihak luar terhadap kebesaran dan keagungan ajaran Islam. Dalam hal ini, kita mengingat hadits Nabi yang memprediksi adanya suatu kaum yang menganggap solatnya paling benar sambil menjelek-jelekkan solat orang lain. Mereka juga menganggap puasanya paling sah hingga menjelek-jelekkan puasanya orang-orang lain. “Jenis manusia semacam itu, telah keluar dari agama Islam, seperti melesatnya anak panah yang keluar dari busurnya,” demikian sabda Nabi.

Terkait dengan keindahan dakwah melalui karya seni yang mengandung unsur rima, irama, dan harmoni, terkadang suatu masyarakat membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mencerna dan memahaminya. Karena itu, dibutuhkan kesabaran yang tinggi dalam menanggapinya (baca: “Sebaiknya Menanggapi Kritik Sastra” di www.kawaca.com).

Setiap pekerja seni maupun pendakwah Islam, tak usah khawatir jika nilai-nilai kebaikan yang disampaikannya belum diterima oleh kebanyakan orang. Sebagaimana penulis novel Pikiran Orang Indonesia pernah memberikan visi yang mengandung metafora, “Anda tidak perlu memahami buku sastra sekarang. Mungkin tahun depan Anda baru paham, atau mungkin sepuluh tahun yang akan datang…” ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: