Esai “Merajalelanya Akronim Gaul” Karya Rizka Farahiya

Artikel kali ini, kami akan menayangkan salah satu kiriman dari pembaca kami dari Universitas Indonesia, Rizka Farahiya. Selamat menikmati.

Merajalelanya Akronim Gaul

oleh : Rizka Farahiya (Universitas Indonesia)

Siapa yang belum mengenal kata puskesmas, iptek, atau tilang? Tentu, hampir seluruh masyarakat Indonesia dewasa mengetahui kepanjangan dari akronim tersebut. Bahkan kata-kata tersebut sudah jelas tata cara penggunaannya. Namun, apakah mereka juga mengetahui kepanjangan dari kuper, gercep, atau murmer? Apa makna dan bagaimana cara penggunaannya? Belum tentu.

Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata. Biasanya, akronim dibuat dengan menggabungkan dua suku kata atau lebih yang setelah digabungkan akan membentuk sebuah kata baru. Selain itu, akronim juga dapat dibentuk dari gabungan huruf awal yang dapat dibaca menjadi kata, contohnya SIM (Surat Izin Mengemudi) dan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Intinya, ketika sebuah singkatan dapat dibaca menjadi kata, itu adalah akronim.

Lantas, mengapa ada akronim seperti kuper, gercep, atau murmer? Inilah bukti beragamnya bahasa di negeri ini. Bahasa Indonesia bersifat produktif dan dinamis. Artinya, kosakata dalam bahasa Indonesia akan selalu bertambah dan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, ada kemungkinan bahasa Indonesia akan mengalami penambahan kosakata baru dan ada pula kosakata yang hilang atau tenggelam karena sudah tidak digunakan lagi.

Kuper (kurang pergaulan), gercep (gerak cepat), dan murmer (murah meriah) hanyalah segelintir kata akronim zaman sekarang. Penutur dari akronim tersebut biasanya kaum muda  atau remaja. Masih banyak akronim lain yang sering digunakan, seperti baper (bawa perasaan), caper (cari perhatian), mager (malas gerak), malming (malam minggu), pulsek (pulang sekolah), soljum (solat jum’at) dan ultah (ulang tahun).

Akronim-akronim tersebut muncul dan berkembang dalam pergaulan anak remaja, biasanya siswa dan mahasiswa. Faktor yang memicu kemunculannya antara lain, kebiasaan anak muda yang cenderung menyingkat frasa yang dianggapnya panjang menjadi satu kata yang unik dan/atau belum ada. Setelah itu, akronim tersebut banyak digunakan dan meluas di pergaulan anak muda. Pada akhirnya, akronim yang sesungguhnya adalah rangkaian kata, sudah dianggap seutuhnya sebagai sebuah kata baru yang sangat biasa digunakan dalam pergaulan anak muda.

Kemunculan akronim-akronim tersebut sejujurnya bukan suatu kesalahan. Pada intinya, hal tersebut membuktikan bahwa bahasa Indonesia, benar adanya bersifat produktif. Kata atau akronim gaul ini secara tidak langsung juga turut menambah kosakata baru dalam pengetahuan bahasa kaum muda. Meskipun begitu, bahasa juga bersifat dinamis yang terus berubah. Contoh langsungnya adalah akronim kuper yang saat ini mulai jarang digunakan, sementara baper sangat berkebalikan. Kuper mungkin sangat sering digunakan pada masa sebelum hari ini, karena bahasa bersifat dinamis, akan berubah dari waktu ke waktu.

Penggunaan akronim gaul yang terlalu sering terkadang membuat kaum muda tidak menyadari bahwa masih ada kata tandingan untuk akronim tersebut. Contohnya, untuk baper dapat disandingkan dengan sensitif. Keduanya memiliki makna mudah tersentuh sehingga berubah perasaannya. Biasanya kata tersebut digunakan dalam situasi ketika seseorang menganggap serius sebuah candaan, atau menilai terlalu dalam sebuah perbuatan. Beberapa dari mereka bahkan sangat mungkin tidak benar-benar memahami makna dari akronim yang mereka tuturkan. Pergaulan kaum muda cenderung saling mempengaruhi. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang hanya sekadar mengikuti yang lainnya.

Fenomena akronim gaul yang cukup luas berdampak pada kehidupan sosial dan bermasyarakat. Salah satu kemungkinannya ialah anak muda tidak lagi menggunakan kata tandingan, dan selalu menggunakan satu kata atau akronim tertentu. Pada akhirnya, anak muda juga menggunakan akronim tersebut dalam lingkungan yang tidak sesuai. Misalnya, saat berbicara kepada orang yang lebih tua atau anak kecil yang tidak mengerti dengan akronim yang mereka gunakan. Hal tersebut perlu dihindari, karena dapat memicu kesalahpahaman.

Ada sebuah peristiwa yang mengaitkan kaum muda dan bahasa. Terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, peristiwa tersebut adalah Sumpah Pemuda. Hal tersebut tertulis dengan sangat jelas dalam poin ketiga Sumpah Pemuda, yakni Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Masihkah kita mampu mengingatnya?

Sebuah ikrar yang dilantangkan dengan rasa penuh kecintaan terhadap bangsa ini, seluruh pemuda pada saat itu menyatakan kebanggaannya akan bahasa Indonesia. Sumpah ini dibuat dengan tujuan untuk menyatukan seluruh pemuda dari berbagai daerah yang terbiasa menuturkan bahasa yang berbeda-beda. Pada hakikatnya, sumpah ini hanya menuntut seluruh pemuda untuk menjunjung satu bahasa, bahasa Indonesia, di antara bahasa daerah yang begitu beragam. Setelahnya, sumpah itu yang dipegang teguh dan dijadikan acuan dalam berbahasa, tetapi tidak sampai saat ini.

Fenomena akronim gaul adalah salah satu contoh yang membuat kita bertanya, masihkah bahasa Indonesia dijunjung dan mempersatukan? Akronim gaul memang masih menggunakan bahasa Indonesia, tetapi sudah tidak mengandung nilai dalam Sumpah Pemuda. Akronim gaul yang cenderung digunakan kaum tertentu justru menggambarkan adanya perbedaan atau batas dari bahasa itu sendiri. Hal tersebut tentu tidak mempersatukan dan bertentangan dengan arti atau makna dari poin ketiga Sumpah Pemuda.

Kaum muda pada saat Sumpah Pemuda diikrarkan, begitu mencintai dan bangga dengan bahasa Indonesia. Mereka menjanjikan sebuah pengabdian, menjunjung sebuah bahasa yang diyakini akan menyatukan seluruh masyarakat Indonesia. Kaum muda pada saat ini, mungkin sudah lupa dengan Sumpah Pemuda. Mereka memilih menggunakan istilah bahasa asing, pertanda bahasa Indonesia mungkin tidak lagi dijunjung. Satu lagi, mereka sangat suka menyingkat sesuatu. Mereka memilih membuat akronim, kemudian menggunakan akronim yang mereka hidupkan dalam lingkungan mereka, yang mungkin akan menenggelamkan makna sebenarnya dan mematikan pemahaman lingkungan lain.

Masihkah kamu, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia?

Rizkka Farahiya merupakan seorang mahasiswi Sastra Indonesia FIB UI. Pecinta warna biru, suka laut tapi tidak bisa berenang.

This entry was posted in Bahasa and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>