(Esai) Sastra Barat dan Sastra Islam

(Esai) Sastra Barat dan Sastra Islam

Oleh Hafis Azhari
(Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

Kajian mengenai tokoh-tokoh sastra Barat yang kadang anarkis dan tanpa kompromi laiknya Doktor Faust (Wolfgang Goethe), memang agak riskan untuk dibicarakan secara gamlang dan terbuka. Tetapi, tak apalah supaya pembaca semakin berwawasan hingga menciptakan situasi krisis, yakni suatu fase pada saat manusia mulai sadar dirinya, serta menyadari bakat dan kemampuannya yang paling vital.
Dunia sastra yang secara filosofis dan sosiologis telah banyak menerangi manusia modern yang berjiwa Promotheus, telah berani bereksplorasi seakan mencuri api dari kahyangan para dewata. Begitupun obsesi dan ambisi Doktor Faust yang tak mengenal batas bagi nafsu petualangannya. Fenomena ini nampak mempesona, pionir menggugah jiwa, bergelora mencipta hari depan seakan-akan tanpa rasa khawatir dan takut.
Tetapi jangan lupa, sisi psikologis yang nampak pada watak dan karakter Faust yang kesepian. Sunyi dan hampa, karena ulah dirinya dalam meniadakan Tuhan. Lalu, muncullah penemuan seorang pakar dan ilmuwan biologi modern, Jacques Monod, berikut dalil-dalil yang dikemukakannya: “Bumi dan seluruh isi semesta, flora dan fauna, terlebih lagi manusia, hanyalah salah satu hasil kebetulan saja dari suatu proses kebetulan dan perbenturan serba kebetulan menuju kepada sesuatu yang serba kebetulan. Evolusi setiap jenis makhluk tidak terencana sebelumnya sampai kepada titik akhir sang makhluk muncul di permukaan bumi. Setiap perkembangan dalam biosfer terjadi karena penghantaran genetis yang salah sentuh, serba kebetulan belaka, dalam penanganan yang keliru bahkan peniruan yang selalu salah.”
Dalil-dalil yang dikemukakan itu sungguh mengancam filsafat idealisme yang menempatkan sosok manusia sebagai sentrum dan titik pusat di jagat raya ini. Apalagi bagi para ustad dan mubalig yang – mohon maaf – dimungkinkan pencarian rizkinya dari aktivitas mengajar dan berdakwah. Tak terkecuali para penulis sastra Islam sekelas Fuadi, Habiburrahman, Helvi Tiana hingga Okky Setiana. Boleh jadi di antara mereka akan protes keras sambil mengelus dada di depan Mamah Dedeh, lalu menghela nafas dalam-dalam: “Astaghfirullah, jadi bagaimana dengan kita yang sedang menjadi khalifah di muka bumi, kalau segala hal yang terjadi adalah proses serba kebetulan semata? Bagaimana dengan kita yang jungkir-balik ngalor ngidul mengurusi umat, sementara negeri akhirat dianggap tidak ada? Lalu, di mana letak sorga dan para gadis-gadis muda bidadari cantik yang dijanjikan itu?”
Sebagai ekspresi pergulatan pemikiran dari manusia post-industrial yang tetap ingin menjaga nilai-nilai religiositas, penulis mencoba mengungkap pergumulan antara idealisme dan eksistensialisme Barat, dalam novel sederhana Perasaan Orang Banten (POB). Menurut saya, adalah keliru bagi kaum intelektual, akademisi maupun praktisi pendidikan pesantren, yang menulis di harian lokal maupun nasional, lalu menganggap bahwa novel tersebut tergolong sastra Islam. Jika mereka menyebut novel Habiburrahman El-Sirazy atau Okky Setiana Dewi sebagai novel Islam, hal itu bisa dibenarkan. Tetapi, di sini saya ingin tegaskan perbedaan antara sastra Islam dengan sastra yang bicara tentang masyarakat Islam. Nah, kategori yang kedua itulah novel POB bisa digolongkan.
Kristen sebagai agama mayoritas dunia, yang penganutnya mencapai 2,4 milyar penduduk (sementara Islam 1,8 milyar), berikut kemajuan budaya dan peradaban Barat selama berabad-abad, memang tak bisa dipungkiri. Sastra Barat  yang tergenangi oleh nafas para pemikir dan filosof di negerinya, sangat memiliki andil dalam proses pemekaran peradaban mereka. Sebut saja beberapa nama, misalnya Nietzsche, Sartre, Steinbeck, Chekov maupun Octavio Paz, dapat disarikan tentang beberapa hal dari pola pikir mereka mengenai ide-ide sekularisme maupun atheisme. Memang bukan tanpa sebab pemikiran dan sikap yang secara konsekuen mereka anut, karena memang paham atheisme itu bersifat universal. Ada di wilayah manapun, dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun. Tak terkecuali di kampung Jombang atau di dusun pelosok perkampungan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Para penulis sastra Islam ditantang pada wawasan universal, yang membuat mereka harus berani keluar dari “tempurung keislamannya” (out of the box). Hal ini bukan berarti Anda harus keluar dari agama Islam, lalu menjadi murtad dan kafir. Tetapi, wawasan Anda harus diperluas hingga mengatas indera dan melanglang buana. Berani berkeperimentasi dan berimajinasi setinggi langit. Jangan melulu berpijak di bumi sambil mengelus-elus membanggakan peradaban kampungnya.
Misi yang ingin kita sampaikan bersama adalah nilai dakwah yang berkualitas. Syiar untuk mengajak manusia di jalan kebenaran, atau memanusiakan manusia. Tetapi, bahasa yang kita pakai harus berpijak pada software sastra yang bersifat universal. Jangan cuma bisa dipahami oleh masyarakat muslim saja, lantaran term-term yang dipakai, setting lokasi dan penentuan waktu, seolah milik umat Islam saja. Padahal, di negeri-negeri Timur Tengah yang notabene tanah kelahiran Islam pun masih banyak bangsa-bangsa yang berpijak pada penentuan waktu yang terorganisir secara universal (dunia Barat).
Pada banyak karya sastra Barat, nampak sekali jenis atheisme Nietzsche yang vulgar dan blak-blakan. Mereka menghayati secara konsekuen bahwa Tuhan tidak ada. Hal ini tercermin dalam tokoh-tokoh sastra yang dibangun Nietzsche sendiri, bahkan menghayati ketiadaan dan kematian Tuhan secara religius kemudian menjalani hidup dalam perspektif yang belum pernah ada tersebut. Selanjutnya, ada jenis atheisme yang tidak konsekuen dianut oleh mereka yang menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah mati, karena memang tidak pernah ada. Namun di sisi lain, atheisme jenis ini percaya pada pengganti-pengganti Tuhan, yakni kekuasaan akal dan rasio (intelektual-isme).
Kedua jenis atheisme ini sangat berat untuk diterima dalam kosmos sastra Helvy Tiana atau Fuadi, atau Gola Gong (yang belakangan karya-karyanya memeluk “Islam”) dan cenderung berkhotbah melulu, bahwa hidup ini hanya sekali, manfaatkan sebaik mungkin untuk beribadah, dan tujuan akhir hidup manusia adalah sorga atau neraka. Karena itulah, jamaah kami harus masuk sorga, dan entahlah mengenai nasib jamaah kalian. Sebodo amat.
Lalu, perhatikanlah jenis atheisme yang terakhir ini, yang secara diam-diam banyak dianut tokoh-tokoh dalam novel Perasaan Orang Banten, baik kalangan politikus, pengusaha kampung, tokoh agama, kaum selebritas, ibu-ibu pengajian hingga sang marbot penjaga masjid. Mereka percaya pada Tuhan yang hidup, namun mereka berpikir dan berprilaku seolah-olah Tuhan tidak pernah hadir di sisinya. Tipikal serupa terdapat pula pada semua kalangan agama, baik para pastor dan pendeta, maupun para biksu saleh di kuil-kuil kencana.
Baik, perlu dijabarkan mengenai atheisme yang terakhir ini. Bahwa dalam dunia sastra, khususnya Eropa dan Amerika Latin yang telah melahirkan banyak sastrawan peraih nobel, jenis atheisme inilah yang seringkali dipersoalkan dalam karya-karya masterpiece mereka. Misalnya pada karya Bertolt Brecht, Samuel Beckett, Gabriela Mistral atau John Steinbeck yang seringkali menokohkan rakyat marjinal atau masyarakat yang hidupnya sederhana, tanpa banyak berteologi maupun berfilsafat.
Namun, justru karena menolak untuk berpikir mendalam, dan maunya enteng, dangkal dan ringan saja, mereka tidak menyadari telah menanam pohon-pohon tanpa akar. Mereka tengah menggali lubang galiannya sendiri, seakan memintal jaring-jaring yang kelak akan menjerat dirinya sendiri. Memang sangat menarik narasi-narasi yang mereka suguhkan untuk membongkar atheisme terselubung ini, yang bagi para penikmat sastra Islam, barangkali merasa nyinyir dan gerah dibuatnya.
Jadi, bukan suatu gagasan atau rancangan plot yang muluk dan mengawang-awang, melainkan suatu kenyataan hidup sehari-hari, suatu realisme ringan, sambil melontarkan gugatan filosofis dan religius, hingga melahirkan katarsis lantaran suatu permasalahan gawat yang muncul di tengah masyarakat. Tragedi keluarga yang memilukan namun terkadang dikemas dengan humor-humor satir dan mengharukan.
Bila kita meneropong dan menganalisis karya-karya mereka, seakan kita hadir dalam lingkungan yang diceritakannya. Tema-tema yang ditampilkan begitu ringan dan sederhana, tetapi cara pengungkapan dan daya imajinasinya begitu dahsyat. Sebut saja, misalnya Najib Mahfudz atau Orhan Pamuk, mereka tidak banyak menulis sastra Islam melainkan sastra berkelas dunia (universal) yang bicara tentang masyarakat Islam. Boleh jadi menampilkan para tokoh yang berpakaian alim dan saleh, mengaku-ngaku ustad atau kiai, namun kelakuan dan perilakunya tak lebih dari seorang penganut atheisme kaum beragama tadi.
“Seorang sastrawan yang baik mesti dia seorang filosof juga, karena untaian kata-kata indah (nilai estetika), bila tidak disertai kandungan filsafat, ibarat pohon-pohon rindang namun tidak ada buahnya.” Demikian pernyataan Y.B. Mangunwijaya yang sehaluan dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya sastrawan kita yang beberapa kali masuk nominasi nobel untuk kesusastraan.
Pramoedya pernah menegaskan, hendaknya para penulis muda keluar dari tempurung-tempurung yang membelenggu daya nalar, yang sengaja dibangun oleh kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun. “Jangan terbelenggu oleh perspektif tunggal yang diciptakan oleh mereka, karena dalam sejarahnya, para penguasa itu selalu saja menjadikan kebodohan rakyatnya sebagai komoditas-komoditas politik belaka,” tandas Pramoedya Ananta Toer.
Demikian halnya dengan kebesaran Islam. Ia akan terasa keagungannya bila kita melihat secara obyektif dari kacamata kebudayaan dunia (universal). Tetapi, bila dilihat dari perspektif orang Islam secara internal, seringkali menjebak umat Islam pada pandangan eksklusif, truth claim, analisis pukul-rata, simplifikasi kesimpulan, yang menjerumuskan sebagian golongan kepada anarkisme dan radikalisme akhir-akhir ini. ***

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: