Esai Sastra: Pulang

Esai Sastra: Pulang

Untuk Jakarta, dan segala keriuhannya.

 

Lagi – lagi salju kembali turun.

 

Ia hanya bisa diam, pikirannya melayang entah kemana. Mungkin terbawa angin musim dingin yang bertiup terlalu kencang.  Cuaca di kota ini terlalu aneh buatnya — ada hari – hari dimana matahari bersinar terlalu terik,  hingga panasnya membakar kulitnya yang sudah terlalu cokelat. Namun di hari – hari lainnya, hanya ada angin yang siap siaga, entah itu untuk membelai bulu kuduknya dengan lembut, atau malah justru menghempaskannya dengan kuat ke berbagai arah. Rasanya perubahan cuaca di kota ini memang dengan sengaja ingin bersaing dengan kecepatan perubahan suasana hatinya yang belakangan ini memang sudah kacau.

 

Jujur saja, ia juga tidak tahu apa yang membuatnya ingin melempar diri ke dalam pesawat untuk terbang 3,181 mil jauhnya, kembali menuju rumah. Mungkin ia ingin kembali menyicip masakan pedas yang sudah jarang ia temukan belakangan ini, atau mungkin ia rindu bunyi klakson dan teriakan pedagang asongan — suara – suara yang dulu ia hindari. Entah apakah memang kerinduan itu sudah begitu kuatnya menancap di hatinya, atau karena memang ia terlalu lelah bergulat dengan sepi sehingga ia bisa merindukan hal – hal yang dia benci.

 

Padahal, kalau ditelisik lebih jauh, ia lebih senang hidup di negara baru ini. Penduduk aslinya ramah dan sopan, lingkungannya bersih dan rapi. Persis seperti bayangannya tentang negara idaman yang dulu selalu ia mimpikan saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Disini pun dia tidak mengalami kesulitan dalam berteman — ia justru mendapatkan sahabat – sahabat yang menyayanginya seperti ia menyayangi mereka. Tak ada yang kurang dan tidak mengenakkan dalam kehidupan barunya disini. Seharusnya ia bahagia.

 

Seharusnya.

 

Sungguh, ia kira ini hanyalah rasa rindu sejenak yang akan raib saat ia menutup mata di malam hari, namun ternyata keinginannya untuk kembali menjejakkan kaki di ibu pertiwi terus menggelora di dalam benaknya bahkan saat ia kembali membuka mata di pagi hari. Kerinduannya menendang, berputar, menggeram seperti bayi yang tak sabar ingin dilahirkan. Lucu juga rasanya, mengingat bagaimana dirinya yang dahulu dengan antusias menunggu waktu kepergiannya dari pangkuan ibukota sekarang mulai merongrong untuk kembali lagi.

 

Mungkin sekarang ia mulai bisa melihat hal – hal kecil yang biasa ia lihat di ibukotanya hilang tak berjejak di negara baru ini. Seperti bagaimana rangkaian lampu jalan dengan kerlip jingganya berubah menjadi lampu neon kuning yang lebih terik, atau bagaimana alunan gitar pengamen jalanan yang biasanya diiringi nyanyian nyaring pemainnya berganti menjadi kord repetitif dari program komputer. Terlalu banyak hal – hal yang berubah, hilang dimakan jarak dan dikeluarkan lagi menjadi rupa asing yang berusaha ia terima.

 

Ia rindu rumah. Memang, ia rindu setengah mati. Namun di tengah kerinduannya itu, ada satu pertanyaan menunggu ingin dijawab. Apakah ia, setelah dihadapkan dengan seluruh rangkaian peristiwa baru dan hal asing di tanah baru ini pun, menemukan kembali kenyamanan yang ia rindukan dari tanah kelahirannya? Secara sekarang definisi rasa nyamannya telah berubah seiring kepergiannya. Ia takut, saat ia kembali pun rasa yang ia dambakan sudah lekang dimakan waktu dan kisruh ibukota yang tak pernah berhenti.

 

Lagipula, apa gunanya pulang kalau akhirnya rumah tak lagi memberi rasa nyaman? Ujungnya rumah hanya akan menjadi kerangka beton kosong tak bernyawa, barangkali karena nyawanya sudah merasuk entah kemana. Keraguannya menempatkannya tepat di tengah – tengah — terlalu rindu untuk pulang tapi terlalu takut kehilangan rumah. Sedihnya, ia tak lagi dapat memilih mana yang lebih baik di antara kedua pilihan yang dulunya dapat ia pilih dengan mudahnya.

 

Ya karena pada akhirnya, pulang tak lagi berarti kembali ke rumah bagi dirinya.

 

 

Profil Singkat Penulis:

 

Mahasiswi asal Jakarta yang sedang terdampar di satu kota kecil di Jepang, dimana ia berusaha untuk mengejar mimpinya sebagai penulis.

Bagaimana pendapat anda?

%d bloggers like this: