Globalisasi untuk Icha

Matahari siang di Yogyakarta tak pernah kompromi. Panasnya selalu sama, cukup untuk membuat para pemakai jalan raya menjadi ngebut dan ingin segera sampai tujuan. Tak terkecuali aku. Dengan mengendarai Supra Fit kesayanganku, yang kudapatkan dari hasil kerja keras ayahku tercinta. Aku bergegas menuju kampus. Anak kuliah semester 5 sepertiku memang sedang asik-asiknya kuliah. Apalagi, aktivis sepertiku, kegiatan berjubel dan antri untuk dilakukan. Namun aku senang, karena memang untuk itulah kita hidup, untuk berkarya. Kita masih muda kawan.

Lampu merah, dan sebagai pengendara yang baik, aku ikuti peraturan yang ada. Kuhentikan motorku tepat di belakang marka jalan. Aku berhenti di perempatan MM UGM. Salah satu perempatan padat di Jalan Kaliurang.

“Mbak, minta uangnya mbak..” dua anak kecil menghampiriku dengan tatapan memelas. Yang satu laki-laki, berbadan cukup besar, dan dekil. Sedang yang satunya lagi juga laki-laki, namun berperawakan lebih kurus dengan potongan rambut emo ala kangen band. Membuatku miris.

Tak kubalas sapaan mereka. Aku hanya melambaikan tangan kosong. Sebuah isyarat bahwa aku tidak akan memberikan apa-apa dan menyuruhnya segera pergi.

Aku bukannya anti beramal. Aku suka beramal. Tapi ini masalah ideologi. Memberikan uang recehan pada anak-anak kecil di jalanan adalah sebuah kesalahan. Dengan mudahnya kita memberikan uang kita, mereka akan mengira mencari uang itu adalah hal yang gampang dan tidak perlu perjuangan. Cukup minta sana-sini, maka uang akan muncul sendiri. Jika mental itu terbawa sampai mereka dewasa, bukankah negeri ini akan semakin terpuruk?

Jika memiliki uang lebih, bukankah lebih aman jika kita sumbangkan pada dinas sosial? Untuk selanjutnya, uang itu digunakan mengurusi anak-anak jalanan agar lebih memiliki masa depan. Pokoknya, prinsipku tidak akan berubah, selalu analisa dengan matang sebelum bertindak.

***

“Sekarang kita sudah memasuki globalisasi sepenuhnya! Pasar tradisional terbukti tidak akan mampu bersaing dengan perusahaan retail dengan modal raksasa!” Ungkapku ngotot.

“Globalisasi yang kamu bicarakan itu, baru menyentuh sedikit masyarakat di Indonesia saja. Pada kenyataannya, masih banyak rakyat yang belum terpapar teknologi globalisasi. Jika industri pasar tradisional ditekan terus seperti ini, mau makan apa para pelaku ekonomi mikro itu?” Suara mas Iwan meninggi. Dia memang tidak suka jika pemikirannya tidak diamini oleh orang lain.

Aku tidak habis pikir dengan orang ini, mengapa dia masih membela mati-matian ketradisionalan yang nyata-nyata tidak mampu menghidupi orang banyak? Jika kita terus terpaku pada sifat tradisionil yang picik seperti ini, Indonesia tidak akan pernah maju.

“Sekarang kita tahu, Indonesia adalah pengguna internet no 4 terbesar di dunia. Selain itu juga merupakan pengguna facebook terbesar kedua di dunia. Apakah yang seperti itu masih sebagian kecil?”

“Yang kamu lihat itu hanya dari sudut pandang menara gading saja!”

“Akuilah mas, kita sudah memasuki globalisasi sepenuhnya. Perdagangan bebas ACFTA juga sudah resmi ada di Indonesia. Kita harus sadar, jika Indonesia tidak bergerak menuju kapitalis, Indonesia akan semakin terpuruk!” Kuungkapkan argumenku dengan percaya diri. Soal debat, aku adalah orang yang teguh dan penuh data. Meskipun wanita, namun aku tidak akan kalah berdebat.

Dan setelah itu, perdebatan pun terus berlangsung. Mas Iwan masih tidak mau mengalah, begitupun aku. Aku semakin merasa, bahwa acara diskusi dan kajian ini semakin mendekati debat kusir. Ah, biarlah, yang penting aku tidak boleh kalah, itu saja. Ini masalah ideologi bung!

Hingga akhirnya, suara adzan Maghrib menyadarkan kami perihal waktu. Kita sadar bahwa waktu kita sudah habis. Dan sayangnya, pertemuan kali ini tidak menghasilkan kesimpulan yang memuaskan. Namun inilah seni dari kajian dan diskusi, semuanya dilihat dari berbagai sisi.

***

Sholat adalah obat mujarab bagi pikiranku yang panas setiap kali selesai diskusi. Entah mengapa, dalam setiap basuhan air wudhu yang kuambil, terasa kesejukan yang mengalir sampai ke otak. Membuat pikiran menjadi segar lagi, dan siap untuk beraksi kembali. Namun tidak selesai sampai di situ. Sensasi saat kita bersujud lebih dahsyat lagi. Aliran darah yang mengalir ke kepala kadang membuat perasaan khusyuk bertambah 3x lipat. Saat bersujud, kita akan ingat siapa diri kita, siapa Tuhan kita, dan untuk apa kita diciptakan. Ya, kita diciptakan hanya untuk satu tujuan, menyembah kepada Allah.

Namun, tentunya yang dimaksud dengan menyembah bukanlah terbatas pada Sholat dan Syahadat saja. Saat kita akan menyembah Tuhan, itu artinya kita harus memilik tenaga yang cukup untuk sembahyang. Bagaimana caranya? Tentunya dengan menyambung hidup secara halal. Selain itu kita para manusia juga memiliki satu amanah besar, menjaga bumi ini.

Sayangnya, kata ‘khalifah’ di bumi ini selalu dimaksudkan untuk laki-laki. Padahal, sudah banyak bukti bahwa laki-laki merugikan bumi ini. Mengapa?  Mengapa laki-laki harus dianggap lebih utama dibanding wanita?

Aku selalu benci terhadap laki-laki jaman sekarang yang berpoligami. Apalagi yang dinikahi adalah wanita cantik dan muda yang menawan hati. Seakan-akan poligami adalah pintu untuk pemuas nafsu laki-laki yang begitu besar. Padahal, banyak kasus yang menunjukan nafsu wanita juga bisa lebih besar dari laki-laki, dan laki-laki tidak berhasil memuaskan pasangannya. Apakah dengan keadaan seperti itu, lantas wanita diperbolehkan berpoliandri? Tidak boleh. Ya, aku tahu itu.

“Sar…” kudengar suara lembut memanggilku dari jarak yang tanggung. Ternyata mas Ustadz Fajar. Aku biasa memanggilnya begitu, karena dalam kelompok kajian kita yang bertemakan keilmuan secara umum ini, dia selalu berhasil mengkaitkannya dengan ilmu agama. Baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Dia lumayan masuk dalam kategori cowok idaman versiku, apalagi wajahnya juga lumayan ganteng, hehe.

“Kenapa Mas?” Jawabku dengan lirih. Aku dan dia sama-sama tahu, suara adalah aurat bagi wanita. Dan bagi dia yang memegang teguh agama, tentu bukan hal yang aneh jika aku melirihkan suaraku walaupun berbicara di musholla yang lumayan ramai. Tapi perlu diingat, suara lirih itu bukan suara mendesah yang bisa bikin laki-laki nafsu, itu beda! Innamal a’malu binniyaah…

“Kami dari jajaran senior BEM departemen kehumasan melihat, dek Sari ini memiliki potensi yang besar. Dan sepertinya, kamu sudah harus ikut kegiatan BEM yang lebih besar lagi. Besok pas Idul Adha kita akan mengadakan bakti sosial dan menyumbang hewan kurban di Samigaluh, Kulon Progo. Asal Dek Sari tahu saja, kader baru yang kita ajak hanya 5 orang. Hal in terkait keterbatasan dana dan akses ke Desa yang sulit, sehingga kita ingin mengadakan acara dalam skala kecil dulu. Apalagi, ini pertama kalinya kita masuk ke desa itu. Walaupun tidak membawa misi rahasia apa-apa, bisa saja warga tetap sulit untuk terbuka. Karena itulah, hanya para petarung sejati yang kita ikutkan dalam kegiatan ini. Dek Sari berani?”

Penjelasannya  yang panjang lebar dan penuh makna membuatku takjub. Cara dia mengakhiri kata-katanya juga membuatku takjub. Dia tidak memohon ataupun menyuruhku, tapi menantangku. Semua orang yang berambisi pasti akan mengiyakan ajakan itu. Dan ya, aku orang yang berambisi.

Aku akan mengikuti acara idul Adha di Desa Sami Galuh tiga minggu mendatang!

***

Ternyata, jalan menuju Sami Galuh sungguh terjal. Motor kita harus benar-benar bekerja ekstra keras untuk dapat sampai di tempat tujuan. Tak heran, waktu awal keberangkatan, Mas Fajar meminta aku untuk membonceng Rendi. Padahal, setahuku Mas Fajar tidak suka melihat ada cowok-cewek berbeoncengan. Setelah melihat dan mengalami jalanan yang luar biasa ini, aku baru tahu alasannya.

Awalnya yang kita hadapi hanyalah jalan terjal yang cukup tinggi. Bukan masalah, aspal yang menjadi dasar jalan membuat kita tetap bisa berjalan dengan tenang. Namun, semakin mendekati desa, kita semakin ternganga melihat jalan yang ada. Batu lepas yang gampang berpindah tempat menjadi dasar ban motor kita untuk melaju. Apalagi, saat itu hujan, sehingga jalan menjadi becek dan semakin mengerikan. Cahaya bulan yang tidak bersinar seterang biasanya juga semakin mempersulit langkah kita.

Untungnya, kita masih dilindungi oleh Yang maha kuasa. Kita selamat sampai tujuan.

Di tempat ini, kondisinya jauh dari Yogya. Jalannya tidak datar, melainkan naik turun dan tidak rata. Jangankan naik motor, jalan kaki saja susah. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan mereka sehari-hari di tempat ini.

“Makan dulu Sar…” Suara lembut khas dari kak Rina. Seorang anggota senior BEM yang juga memakai jilbab besar. Jauh berbeda denganku yang menggunakan jilbab seadanya. Jilbabku memang kecil, dan seringkali rambutku terurai keluar. Namun akhir-akhir ini sudah semakin jarang keluar, berkat aku potong rambut.

Aku pun memutuskan untuk ikut makan bersama keluarga BEM yang lain, juga dengan beberapa warga. Dari keluarga BEM ada kak Rina, Kak Lastri, dan juga Kak Maya yang merupakan anggota senior BEM. Dari mereka bertiga, hanya kak Rina yang mengenakan jilbab. Sedang dari anggota BEM yang masih junior, ada aku dan Pratiwi. Pratiwi berbadan tegap dan besar. Meskipun dia wanita, namun dia sudah mendapat sabuk biru melati satu di Tapak Suci. Sebuah aliran silat yang terkenal di kalangan Muhammadiyah. Ya, dia seorang penganut Muhammadiyah. Untungnya tidak ada masalah, apapun aliran kami, yang penting sekarang kami bersatu bersama dalam semangat berbagi.

Warga yang ikut makan sendiri ada 4 orang. Mereka adalah Bu Surtiyem dan anak-anaknya. Cewek semua. Kita memang sengaja memisahkan wanita dan pria sebanyak mungkin. Sebisa mungkin kita jangan sampai bertemu. Kecuali dalam hal-hal darurat seperti takbiran malam-malam, atau sholat. Sedang untuk rangkaian acara, kita usahakan agar tidak sama. Itu semua merupakan gagasan dari Mas Fajar.

“Kita memisah putra dan putri bukan karena apa-apa. Tapi dengan pemisahan ini, Insya Allah akan meminimalisir hal-hal yang tidak penting yang mungkin akan terjadi nantinya.” Ungkap mas Fajar waktu itu.

“Maksudnya hal tidak penting tu apa Mas?” Tanyaku.

“Kita semua kan tahu Dek, waktu putra dan putri bertemu dan ngobrol, pasti waktu terasa cepat dan rasanya ingin ngobrol terus. Lagian, kita gag bisa pungkiri, bahwa virus merah jambu masih menghinggapi dengan deras setiap aktivis yang ada di lingkungan kampus. Entah itu dalam organisasi umum, agama, atau bahkan koperasi.” Sekali lagi, aku hanya bisa takjub mendengar jawaban dari Mas Fajar.

Dan saat sudah berada di TKP seperti sekarang, memang yang dikatakan mas Fajar masuk akal. Dengan lebih sering berkumpul dengan wanita-wanita hebat seperti kak Rina dan kawan-kawan, kita merasa pekerjaan jadi lebih fokus. Aku merasa, pengabdian yang coba kita lakukan sekarang tidak ternodai oleh keinginan untuk kelihatan cantik dan menawan di depan lawan jenis. Hal yang lazim dialami oleh pemudi seperti kita.

Kita justru benar-benar mengerahkan setiap tenaga untuk mengabdi. Ikut bersih-bersih di Desa. Silaturahmi ke berbagai tempat untuk mensosialisasikan kegiatan yang akan kita adakan. Dan kemudian, mempersiapkan bazar dengan sungguh-sungguh. Benar-benar menguras tenaga, tapi kami fokus. Itulah yang membuatnya jadi menyenangkan.

Oh iya, di Sami Galuh ini, aku bertemu dengan  seorang kawan baru. Namanya Icha. Dia anak kecil dan lucu. Giginya ompong beberapa, mungkin karena malas sikat gigi. Tubuhnya mungil dan lucu. Kalian tahu apa yang sering dilakukannya? Menyanyikan lagi seven icon! Yah, itulah potret jaman sekarang. Bahkan anak kecil di desa terpencil pun sudah dapat mengakses informasi hiburan yang ada di kota-kota besar. Sekali lagi, pemikiranku tentang globalisasi benar. Aku semakin yakin, dengan perjalanan panjangku di desa ini, teori globalisasi yang aku usung telah terbukti. Indonesia sudah tersentuh globalisasi secara utuh, dan kita harus bersiap menghadapinya.

Saat pulang ke Yogya nanti, akan kujelaskan pada Mas Iwan bagaimana  potret globalisasi yang ada itu sebenarnya.

Sebelum itu terjadi, hari ini aku akan membungkus dan mempersiapkan barang dagangan bersama Icha. Sedangkan wanita-wanita yang lain sibuk mengurusi persiapan takbiran. Yang putra? Berkonsentrasi untuk mengajar TPA. Kita semua memiliki peran masing-masing. Setiap orang yang hadir berusaha untuk berkontribusi. Itulah yang seharusnya dilakukan dalam setiap kegiatan, saling bersinergi.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku akan mengunjungi rumah Icha. Sepertinya seru, karena aku belum pernah ke sana dan belum pernah bertemu ibunya. Aku tak mengharapkan rumah yang ‘wah’, karena namanya juga orang desa, jadi ya rumahnya paling tidak akan terlalu beda dengan rumah di sekitarnya.

Namun, alangkah kagetnya aku ketika sampai di rumah Icha.

“Silahkan masuk mbak Sari!” Suara riang Icha menyadarkanku dari lamunan yang sempat mendera. Mungkin karena shock melihat kondisi rumahnya yang sungguh memprihatinkan. Rumahnya hanya terbuat dari kayu rapuh yang terkesan tidak kuat. Atap seng yang bertumpuk-tumpuk membuatnya makin terlihat ‘sederhana’. Dan dari luar, sudah terlihat lantai yang beralaskan tanah akan menyambutku.

“Iya Icha!” Seriang mungkin, kucoba membalas kesopanan gadis mungil yang ceria ini. Walaupun sesungguhnya, hatiku sesak akan kenyataan yang baru kudapati ini.

Aku dan Icha pun masuk. Dan suasana di dalam, benar-benar membuat hatiku makin teriris, kondisinya sungguh memprihatinkan! Tidak hanya beralaskan tanah, dindingnya pun masih berupa batu bata yang memang sengaja tidak dijadikan tembok. Mungkin karena kesulitan ekonomi. Atapnya pun banyak lubang, menandakan bocor yang pasti terjadi saat hujan turun. Sekarang aku tahu, mengapa Icha lebih senang berteduh di masjid saat hujan turun menyapa desa Samigaluh.

Sugeng Rawuh Mbak Sari. Selamat datang mbak Sari.” Dari balik kamar yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai kamar, ibu Icha muncul. Dia terlihat agak tua untuk ukuran ibu yang memiliki anak sekecil Icha. Uban sudah terlihat di kepalanya, dan keriput menjadi penghias wajah sayunya. Dia mencoba ramah terhadapku, namun dibaliknya, aku merasakan penderitaan dan kelelahan yang panjang dari sinar matanya.

Dengan gaya basa-basi ala Yogya, aku balas sapaan beliau. “Inggih, Ibu, matur suwun. Hehe.  Iya ibu, makasih, hehe.” Meskipun hati masih shock, aku tetaplah aktris yang cukup ahli untuk beramah tamah. “Ini nih bu, saya sama Icha mau bungkusin barang-barang buat bazaar murah nanti.” To the point, itulah aku.

“Oh, iya, kemarin Icha sudah bilang kok. Sini, Ibu bantuin juga ya?” Balasnya. Ramah.

Akhirnya, kami pun mempersiapkan dagangan untuk bazaar bersama-sama, sambil bercerita tentunya. Dari perbincangan singkat ini, aku tahu kalau ternyata sebenarnya Icha memiliki seorang kakak perempuan yang dua tahun lebih tua dari aku. Sayangnya, dia meninggal setelah mengalami kanker payudara yang cukup parah dua tahun yang lalu. Dengan kata lain, saat seumuran denganku saat ini.

“Dokter bilang penyebabnya stress dan salah pola makan. Rasanya cukup aneh sih, apalagi saya tidak memiliki riwayat kanker seperti itu.” Kata Ibu Icha, yang bernama Sumirah. “Sebenarnya kematian Siti bisa dicegah kalau dilakukan operasi Mbak. Tapi biayanya terlampau mahal.” Sambung bu Sumirah.

“Kami yang rakyat kecil dan jauh dari pusat pemerintahan seperti ini ya cuma bisa pasrah Mbak. Pemerintah boleh bilang sudah mengupayakan kesejahteraan dan jaminan kesehatan untuk semuanya. Tapi nyatanya? Bahkan mau mengobati Siti saja harus ngurusin administrasi yang ribet dulu, padahal waktu itu kondisinya sudah sangat kritis.” Aku merasakan nada sedih dari kata-kata bu Sumirah barusan. Globalisasi menyentuh semua orang? Batinku dalam hati. Entah kenapa terasa sesak di hati.

“Makanya, aku seneng kakak-kakak mau datang kemari.” Tiba-tiba, suara kecil Icha menimpali. Hanya saja, kali ini tidak terdengar seceria biasanya. “Bukan saja karena kakak-kakak itu seumuran sama Mbak Siti, tapi juga karena kakak-kakak itu baik.” Sakit hatiku mendengar ucapan Icha barusan. Baik? Tak tahukah dia bahwa aku datang ke sini dengan membawa ambisi pribadi semata?

“Icha seneng, bisa bermain bersama kakak-kakak yang dari kota. Seumur-umur, Icha belum pernah megang yang namanya henpun yang bisa dipencet layarnya, hehe.” Tawa yang datar, penuh kesedihan. Kurasa. Sekali lagi kata-kataku terngiang. Globalisasi menyentuh semua orang? Perih.

“Kalau biasanya, Icha bingung mau ngapain di rumah. Setiap hujan, pasti bocor. Mau main, jalan ke rumah Joko aja capek banget. Habis jalannya naik turun gitu sih.” Ternyata, keceriaan yang selalu terpancar itu…

“Mau ke Sekolah juga udah ndak bisa. Walaupun pas kelas dua kemarin Icha juara tiga di kelas, tetep aja Ibu bilang, Icha udah gag boleh ke sekolah lagi.” Kulirik wajah Bu Sumirah, buliran air terlihat menggenang di kedua sisi matanya. Tak salah lagi…

“Biaya sekolah makin naik mbak, sementara saya yang kerja sehari-hari cuma jadi buruh tani udah gag sanggup. Mau utang juga bingung, wong utang yang dulu-dulu saja belum dibayar.” Tiba-tiba Bu Sumirah menimpali. Dan kali ini dengan nafas yang patah-patah, suara yang sesenggukan, dan air mata yang mengalir lancar. Sedih!

Aku tak tahu apa yang membuat mereka bisa sebegitu terbuka padaku. Mungkin karena aku terlihat ‘baik’ di mata mereka. Atau mungkin, karena beban hidup mereka yang semakin berat. Aku tak mengerti…

Mengapa jadi begini?

Bukankah Icha bahkan sudah bisa menyanyikan lagu seven icon?

Bukankah itu berarti dia juga ikut menikmati perkembangan jaman?

Bukankah????

“Tapi begitu kakak-kakak datang ke desa Icha, Icha jadi seneeeeeng banget!”

Bukankah globalisasi…

“Icha langsung gag bosen lagi…”

Sudah…

“Icha bisa main-main sama kakak-kakak. Dikasih permen…”

Menyentuh…

“Pokoknya Icha seneng!”

Semua orang???

Aku melihat tawa Icha. Tulus. Polos. Apa adanya. Ahh, betapa aku sangat iri dengan senyum manisnya. Yang bahkan gigi-gigi yang hilang pun tergantikan oleh rona bahagia yang alami.

Tak tertahankan lagi, tangisku keluar. Hari ini, di depan mata seorang Icha dan Bu Sumirah, mataku terbuka. Segala logika dan cara berpikir seorang otak kiri telah tergeser. Perasaan mengambil alih. Dan aku sadar…

Globalisasi belum menyentuh semua orang!

***

 Hari ini, matahari kembali menyerang kota Yogyakarta dengan panasnya. Aku merasakan, setiap jengkal kulitku terasa sudah mengeluarkan keringat. Dan lagi-lagi, aku tertahan di lampu merah perempatan MM UGM, tepat di belakang marka.

“Mbak, minta uangnya mbak…” Dan lagi-lagi, kulihat dua orang pengemis cilik menengadahkan tangannya kepadaku. Dengan tatapan nanar mereka melihatku, berharap aku akan memberikan apa yang mereka mau.

Melihat mereka tak pelak membuatku ingat akan Icha. Gadis cilik yang kutemui di Samigaluh dua pekan silam. Senyum tulusnya. Keceriaan sesaatnya. Dan nasib malangnya. Bagaimana keadaanmu setelah kita tinggalkan, Icha?

Dan hari ini, tanpa mengingat-ingat lagi ideologi dan rasionalitas yang kupegang selama ini. Aku merogoh sakuku. Menemukan uang seribu rupiah, dan kuberikan kepada dua pengamen cilik itu. Sekilas, aku melihat senyum mereka.

Ya, hanya sekilas…

Yogya, 16 Desember 2011

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>