Gustave Flaubert, Bapak Kesusastraan Modern

Sekarang, mungkin nama Gustave Flaubert tidaklah begitu akrab di telinga kita. Dia mungkin tidak seakrab Stephen King, Sir Conan Doyle, ataupun Agatha Christie, namun Gustave Flaubert memiliki masa emasnya sendiri. Sumbangsihnya dalam dunia sastra telah membuat sastra berevolusi pada zamannya. Bahkan, saat ini saya bisa bilang, jika tidak ada karya dari Gustave Flaubert, kita tidak akan menikmat karya-karya indah dari Djenar Maesa Ayu ataupun Ika Natassa, bahkan… Dewi “Dee” Lestari.

***

Gustave Flaubert (1821-1880) adalah seorang pengarang besar Perancis yang karyanya dikagumi di seluruh dunia. Pengarang putra seorang dokter ini amat perasa, bahkan seringkali terbawa arus lirisme. Ia menulis Nyonya Bouvary sangat realistis, karena pelukisannya melalui observasi atas kejadian-kejadian dan keadaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Begitu realistisnya ia melukiskan kehidupan dalam Nyonya Bouvary, menggambarkan rangkaian peristiwa-peristiwa sensual dan yang aib sebagai sesuatu yang wajar, menelanjangi moral tokoh-tokohnya tanpa tedeng aling-aling, sehingga karyanya ini saat itu dinilai melanggar norma-norma kesusilaan dan agama. Maka pada tahun 1857 Flaubert dituntut di muka pengadilan.

Dengan cemerlang Flaubert dapat membela dirinya, dapat meyakinkan pengadilan dan masyarakat, bahwa buku bacaan seperti Nyonya Bovary itu justru menyebabkan orang-orang takut berbuat dosa. Dan ketakutan akan beban penyesalan yang tak kunjung habis seumur hidup itu akan membimbing orang ke jalan yang benar.

Emile Zola menganggap Flaubert dengan karyanya itu telah mengadakan revolusi. Sedangkan beberapa penulis besar, antara lain Kafka, Henry James, James Joice, dan lain-lain, dengan rendah hati mengakui dirinya sebagai “pewaris” Flaubert.

***

Tiga paragraf di atas adalah blurb yang saya ambil dari buku Madam Bouvary yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Winarsih Arifin pada tahun 1990. Dan memang karya ini adalah karya terbesar dari Flaubert. Karya yang penuh dengan cerita realis, bumbu sensual yang dianggap melanggar susila keagamaan pada waktu itu, dan tentu saja, konflik yang mencekik pembaca.

Madam Bouvary adalah karya besar yang sekaligus menjengkelkan Flaubert. Bagaimana tidak? Karya ini begitu laku keras di pasaran karena Flaubert disidang di depan pengadilan. Dia berhasil membantah semua tuduhan itu dan membuktikan diri tidak bersalah, tapi tetap saja dipersalahkan secara tersirat oleh orang-orang. Dan tidak berbeda jauh dengan masa ini, di mana sensasi adalah jualan yang paling laku, buku Madam Bouvary ini menjadi sangat laku karena kasus Flaubert itu.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, ketika formalisme muncul terutama di roman baru, akhirnya Flaubert diakui sebagai Bapak Kesusastraan Modern. Sastranya begitu banyak dibaca kembali oleh para sastrawan besar setelahnya. Tak heran, sastrawan terbesar yang kita kenal: Kafka, Henri James, James Joyce, Vargas Llosa -dan percayalah, masih banyak lagi- menyatakan diri sebagai “pewaris-pewaris” Gustave Flaubert.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>