H.B. Jassin Pembela Sastra Indonesia 2 (Membela Sastrawan)

Merupakan lanjutan dari H.B. Jassin penyelamat Sastra Indonesia

Tahun 1968 timbul pula heboh sastra, yakni dengan munculnya cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipanji-kusmin dalam majalah Sastra edisi Agustus 1968. Di Medan majalah edisi ini disita Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, sedang di Jakarta kantor majalah Sastra didemonstrasi sekelompok orang. Dan karena Jassin (Sebagai penanggung jawab majalah Sastra) tidak mau mengungkapkan orang yang bersembunyi di balik nama Kipanjikusmin itu, terpaksalah Jassin sendiri yang harus berhadapan dengan pengadilan.

Cerpen “Langit Makin Mendung” dituduh telah menghina  agama dan golongan tertentu. Walau demikian, di muka pengadilan Jassin berkata: “Saya berpendapat bahwa cerita pendek “Langit Masih Mendung” adalah hasil imajinasi, mempunyai dunia lain dan karena itu tidak bisa diukur dengan kaidah-kaidah agama.” Oleh karena itu, Jassin “dengan kesadaran minta perhatian buat perbedaan antara dunia imajinasi seniman dan dunia realitas dengan hukum positifnya, karena keputusan Saudara Hakim yang kurang tepat akan mempunyai akibat merugikan bagi masa depan kreativitas para seniman, bukan saja di Ibukota, tapi terutama di daerah-daerah”.

Dan dalam sebuah karangan di majalah Horison, Jassin menegaskan kembali pendiriannya: “… sesuatu karya mempunyai hak untuk merdeka, seperti seniman mempunyai hak untuk merdeka. Sesuatu karya haruslah dianggap sebagai alat penggungah pikiran, disetujui ataupun tidak disetujui isinya, masing-masing orang berhak untuk menyenanginya atai tidak menyenanginya, tapi orang tidak berhak menghancurkannya, seperti orang juga tidak berhak membunuh penciptanya”.

***

H.B Jassin pulalah yang pertama kali memproklamirkan bahwa dalam sastra Indonesia telah lahir angkatan baru, yakni angkatan 66, hampir bebarengan dengan lahirnya angkatan yang sama di bidang politik. Banyak orang yang kurang setuju dengan penamaan itu dan bahkan ada yang menolaknya sama sekali. Akan tetapi, nama yang dilansir Jassin itu hingga kini masih tetap beredar. Satu hal yang dilupakan para penentang Jassin itu, hemat saya, adalah kenyataan yang sukar dielakkan di Indonesia: bahwa peristiwa politik sering mempengaruhi peristiwa-peristiwa di bidang lain, termasuk bidang kesusastraan. Ini bisa kita lihat misalnya pada masa lalu, antara lain penamaan Angkatan 45, lahirnya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), munculnya Manifes Kebudayaan, dan lain-lain.

Dalam sebuah karangannya di tahun 1972, Harry Aveling menyatakan bahwa angkatan 66 tidak ada lagi. Tahun 1974 Aveling mengulangi kembali pernyataan itu, seraya mengatakan bahwa angkatan 66 telah digantikan oleh Angkatan Transisi yang antara lain ditokohi oleh Sutardji Calzoum Bachri, Darmanto Jt., Abdul Hadi W.M., Taufiq Ismail, dan lain-lain.

Dapat dipastikan, Jassin-lah yang paling keras menentang pernyataan Aveliing ini, sehingga Jassin merasa perlu mengatakan bahwa Aveling “perlu menelaah kembali pengantar Angkatan 66 dan membacai karangan-karangan yang dimuat dalam bunga rampai itu”. Dan kemudian Jassin menegaskan: “Angkatan 66 tetap hidup”.

***

Tanggal 8 September 1974 diselenggarakan acara “Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir” di Bandung. Dalam “Pengadilan” itu, Slamet Kirnanto mendakwa bahwa “kehidupan puisi Indonesia akhir-akhir ini tidak sehat, tidak jelas, dan brengsek”. Dan penyebabnya adalah Subagio Sastro Wardoyo, Rendra, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., dan eipgon-epigon mereka. Oleh sebab itu, Slamet Kirnanto ‘menuntut’ agar “Subagio, Rendra, Gonawan dan sebangsanya dilarang menulis puisi dan para epigon-epigonnya harus dikenakan hukuman pembuangan”.

Lepas dari serius-tidaknya “pengadilan” itu, ternyata acara itu mengundang banyak reakis, terutama dari mereka yang namanya disebut-sebut, seperti H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain. Itulah sebabnya, diselenggarakan acara “Jawaban Atas Pengadilan Puisi” di Fakultas Sastra UI tanggal 21 September 1974, dengan pembicara utama: H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono.

Mereka yang pernah mengikuti perdebatan/polemik mengenai ada-tidaknya krisis dalam sastra Indonesia tahun 50-an, sudah tentu dapat menduga bagaimana reaksi Jassin terhadap “pengadilan” tadi. Jassin justru membela penyair-penyair yang ‘dituntut’ Slamet Kirnanto agar “dilarang menulis” itu. Dan mengenai epigonisme yang dituduhkan Slamet Kirnanto, Jassin menanggapi demikian: “Bahwa ada kemungkinan persamaan-persamaan antara beberapa penyair seangkatan adalah suatu hal yang tidak terlalu harus disebabkan karena epigonisme, tapi karena adanya persekluargaan atau persenyawaan pikiran. Yang perlu diperhatikan ialah apakah ada pula perbedaan –perbedaan yang unik antara sesama mereka”.

Khusus tentang tuduhan adanya “Jalur persajakan Goenawan Mohamad-Sapardi-Abdul Hadi”, Jassin berpendirian: “… pastilah antara Goenawan Mohamad, Abdul Hadi, dan Sapardi Djoko Damono di samping persamaan-persamaan ada pula perbedaan-perbedaan. Dan apabila penyair saling membicarakan sajak-sajaknya, bukanlah berarti mereka saling masturbasi, tapi karena memang ada saling simpati karena saling mengenali dan saling menyenangi oleh adanya persamaan pikiran”.

***

Dari paparan di atas, jelas nampak peranan Jassin sebagai pembela sastra Indonesia. Dan sebagai pembela, Jassin bukan saja pembela yang gigih, tetapi bila perlu ia rela menjadi martir demi “klien”-nya. Yang terakhir ini misalnya nampak dalam perkara “Langit Makin Mendung”. Jassin bukan hanya membela cerpen “Langit Makin Mendung” dan dunia imajinasi (dan dunia seniman) secara keseluruhan, melainkan juga membela orang yang berlindung dibalik nama Kipanjikusmin itu. Di pengadilan Jassin berkata: “Bahwa Terdakawa (H.B. Jassin – PE) membela dan melindungi penulis (Kipanjikusmin – PE) adalah pertama karena menegakkan kode etik jurnalistik yang dijamin dalam Undang-undang Pers 1966 dan kedua demi keselamatan pengarang yang terancam jiwanya. Dan terutama karena menurut keyakinan saya, pengarang tidak bersalah.”

Suatu pembelaan yang hampir sempurna!

Diambil dari buku H.B. Jassin: Paus Sastra Indonesia oleh Pamusuk Eneste.

Your ads will be inserted here by

Easy AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot OR
Suppress Placement Boxes.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to H.B. Jassin Pembela Sastra Indonesia 2 (Membela Sastrawan)

  1. Pingback: Arti Kata Epigon | SastraNesia

  2. alfonsa says:

    Terima kasih.Ini sngat membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>