H.B Jassin Penyelamat Sastra Indonesia (Melawan Plagiatisme)

Di samping kritikus sastra, dokumentator, penerjemah, redaktur, dan lain-lain, hemat saya, H.B. Jassin adalah juga pembela sastra Indonesia, sebagaimana terlihat pada pelbagai kesempatan.

Sekitar tahun 1953 dan 1954 muncul isu krisis sastra di Indonesia. Isu ini bermula dari S. Takdir Alisjahbana tahun 1951, berlanjut ke simposium yang diselenggarakan Sticussa bulan Juni 1953 di Amsterdam, dan kemudian bergema kembali dalam simposium yang diadakan pada Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, 5 Desember 1954.

Mereka yang berpendirian adanya krisis sastra dalam sastra Indonesia mengatakan bahwa sastra Indonesia pada saat itu sedang dilanda kelesuan, impasse. Antara lain mereka mendasarkannya pada tidak adanya dihasilkan roman-roman besar.

Jassin justru membantah keras isu itu. “Apa yang dilihat orang sebagai krisis, saya kira hanyalah satu pergolakan sewajarnya dalam satu masyarakat yang sedang mencari perimbangan-perimbangan baru dan nilai-nilai baru dalam cara-cara hidup baru,” kata Jassin.

Dengan menunjuk pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, M. Balfas, Riyono Pratikto, S. Rukiah, Rusman Sutiasumarga, Saleh Sastrawinata, Bakri Siregar, Aoh K. Hadimadja, Utuy T. Sontani, Trisno Sumardjo, Sitor Situmorang, dan lain-lain, yang terbit tahun 1951, 1952, dan 1953, akhirnya Jassin sampai pada kesimpulan: “Jalan buntu kesusastraan tidak ada. Kesusastraan Indonesia tidak pernah berhenti tumbuh dan kita sama sekali tidak bicara tentang impasse.”

***

Isu lain yang muncul tahun 50-an dalam sastra Indonesia adalah plagiat Chairil Anwar. Pelbagai karangan yang terbit saat itu menuduh Chairil sebagai plagiator (penjiplak).

Pada dasarnya, Jassin tidak pernah mengingkari bahwa Chairil Anwar telah mengumumkan sajak-sajak saduran (“Rumahku”, “Kepada Peminta-minta”, “Orang Berdua”, dan “Krawang Bekasi”) dan terjemahannya (“Datang dara hilang dara” dan “Fragmen”) atas namanya sendiri, dengan tidak mencantumkan nama pengarang aslinya. Kemudian Jassin mencoba menjelaskan, Chairil Anwar melakukan perbuatan yang memalukan itu karena “penyakitnya yang banyak makan ongkos dokter”. Seperti menggugat, akhirnya Jassin mengeluarkan pertanyaan retoris. “Apakah hukuman sejarah pada penyair Chairil Anwar yang diakui telah membarui kesusastraan Indonesia tapi di samping itu telah melakukan kesalahan plagiat? Apakah karena beberapa plagiat beberapa sajak, semua sajaknya yang asli pun harus dianggap tidak lagi bernilai? Dan apakah karena itu harus dicopot predikat pelopor Angkatan 45?”

Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata dijawab sendiri oleh Jassin: “Bagi Chairil saya tidak bisa menutup pintu hati saya, apalagi saya tahu bahwa kemampuannya tidak hanya mencuri. Kekhilafan haruslah dipisahkan dari nilai manusia sebagai keseluruhan. Dan ini buat saya tidak hanya berlaku bagi Chairil Anwar, tapi juga bagi orang lain.”

***

Soal jiplak-menjiplak muncul kembali dalam sastra Indonesia tahun 1962. Kali ini yang dituduh karya jiplakan adalah novel Hamka. Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939). Novel ini dituduh sebagai jiplakan dari novel Al-phonse Karr, Sous les Tileuls (1832), yang diterjemahkan Luthfi Al-Manfaluthi ke bahasa Arab dengan judul Madjdulin (dan kemudian diterjemahkan A.S Alatas ke bahasa Indonesia dengan judul Magdalena, 1963).

Jassin tidak membantah adanya “kemiripan plot” dan “pikiran-pikiran yang mengingatkan pada Magdalena”, namun menurut Jassin, pada Hamka “ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri”. Dan setelah memaparkan persamaan-persamaan adn perbedaan-perbedaan yang ada pada Tenggelamnya Kapal van der wijck dan Magdalena, Jassin berpendapat: “Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot, dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri. Anasir pengalaman sendiri dan pengungkapan sendiri demikian kuat, hingga tak dapat orang bicara tentang jiplakan, kecuali kalau tiap pengaruh mau dianggap jiplakan.”

Dengan tegas Jassin berpendirian bahwa Tenggelamnya Kapal van der wijck bukanlah saduran maupun terjemahan (harfiah atau bebas) dari karya Karr/Al-Manfaluthi.

Diambil dari buku H.B. Jassin: Paus Sastra Indonesia Karya Pamusuk Eneste

Bersambung ke H.B. Jassin pembela sastra Indonesia.

HB JassinWikipedia: Hans Bague Jassin (31 July 1917 – 11 March 2000), better known as HB Jassin, was an Indonesian literary critic, documentarian, and professor.

This entry was posted in Tokoh and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to H.B Jassin Penyelamat Sastra Indonesia (Melawan Plagiatisme)

  1. Pingback: H.B. Jassin Pembela Sastra Indonesia 2 (Membela Sastrawan) | SastraNesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>